
Aku menatap nanar pada mereka yang berbahagia, keputusan yang ibu buat memang tidak bisa lagi kunego. Ah, aku mengerti, orang tuaku sudah mulai menua, bagaimana mungkin aku akan kembali membebani mereka? Walaupun secara materi Mas Bian meninggalkan cukup banyak tabungan, dan usaha konveksiku cukup menjanjikan. Tapi, beban pikiran pasti tetap ada di pundak orang tuaku.
Inikah cara ibuku membebaskan diri?
"Sebaiknya akad nikah dilaksanakan secepatnya," kata Bu Aini, padahal ini sudah terlalu cepat, apa perlu dipercepat lagi?
"Silahkah diatur Bu," jawab ibuku, membuatku kecewa namun ibuku menolak menerima ketidaksetujuanku. Kenapa?
"Mba Mariam, terimakasih." Kini giliran Medina menatapku dengan mata yang basah.
"Selamat, ya!" ucap lelaki yang akhirnya aku ingat namanya, dia Mas Harun, kakak Mizan.
"Terimakasih, Mariam."
Andai mereka semua tahu, hatiku sudah ikut terkubur bersama Mas Bian. Bahkan, hati yang terisi oleh Mizan juga ikut terseret mati bersama belahan jiwaku.
"Aku melakukan ini hanya untuk Oktavia."
Akhirnya, setelah pembahasan yang aku tidak ingin dengar itu selesai mereka berpamitan. Aku hanya pasrah, hanya ibuku yang sibuk membahas ini dan itu.
"Mba ... anakku, Mariam ...." Aku menghambur ke pelukannya, melepaskan tangis ini, sekali lagi.
"Apa kamu marah sama ibu, Mba?" tanya ibuku sembari jemari-jemarinya mengusap lembut kepalaku, aku bisa apa, aku memilih diam.
"Sebenarnya, ibu sudah membahas perihal lamaran ini dengan bapakmu dan juga mertuamu, mereka mengatakan akan lebih baik jika kamu memiliki suami lagi, kami semua tahu bagaimana terpuruknya dirimu sekarang, Mba, kamu belum bisa menerima kenyataan, bahkan kamu cenderung menyalahkan Alloh, ibu khawatir."
"Apa harus secepat ini, Bu?"
"Alloh yang menghadirkan jodohmu lebih cepat, berprasangka baik saja sama Gusti Alloh, ibu sangat tahu kamu berduka, tapi terlalu diratapi juga kasian Mas Bian, kan?"
Aku berusaha tegar dan menghapus air mataku. Benar, tangisanku akan memperberat jalan Mas Bian. Aku harus bisa, mengikhlaskannya.
"Kamu masih tergoncang Mba, siapa tahu anaknya Bu Aini bisa membuatmu bangkit kembali, demi Oktavia."
"Baiklah, Bu." Aku menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Tapi, apa benar Mba? Kalau anaknya Bu Aini itu sudah lama suka sama kamu?"
"Iya Bu, dulu kita pacaran, tapi putus gitu aja."
"Ya sudah, malah baik, jodohmu enggak jauh-jauh Mba."
Kenapa aku harus marah, kecelakaan Mas Bian tidak ada hubungannya sama sekali dengan Medina dan Mizan. Dengan ataupun tanpa kemunculannya, kecelakaan Mas Bian akan tetap terjadi, karena itu adalah takdir.
Tapi, mereka seperti sedang tertawa di atas dukaku, mereka memanfaatkan musibah yang menimpaku. Medina, apa yang membuatmu nekat melakukan semua ini?
.........
Hari pernikahan pun tiba, hanya berselang 2 minggu dari pembicaraan kita tempo hari. Keluarga Mas Bian pun turut hadir, ada Ibu dan Bapak mertuaku, ah, mantan mertuaku, haruskah aku menyebut begitu? Mata mereka sembab, tapi senyum di wajah mereka terlihat merekah.
Apa hanya aku yang tidak bahagia di sini?
"Saya terima nikah dan kawinnya Mariam Maulidda binti Bapak Maulana dengan mas kawin tersebut, tunai!"
"Bagaimana para saksi?"
"Alhamdulillah!"
Air mataku jatuh seiring doa dari orang-orang yang kusayangi, keluargaku dan keluarga baruku. Aku memandang Oktavia yang tersenyum di pangkuan ibu Mas Bian, sama sekali tidak ada yang bersedih di pihakku.
Aku berhadapan dengan Mizan, suami baruku, cinta pertamaku yang seharusnya hanya menjadi kenangan. Mata kami saling bertaut aku menunduk untuk meraih dan mencium tangannya. Hatiku sesak seiring ingatan tentang momen pernikahanku dengan Mas Bian kembali berputar di dalam ingatanku.
Kemudian Mizan meraih puncak kepalaku dan menciumnya, “Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.” Setelah itu dia berpindah mencium keningku.
Hatiku mati rasa, Ya Alloh, perasaanku benar-benar telah ikut terkubur bersama Mas Bian. Tidak ada rasa senang atau debar-debar layaknya pengantin baru.
"Tersenyumlah, Mariam! Bukan untukku, tapi untuk semua yang berbahagia atas pernikahan ini," bisik Mizan lembut padaku.
Tatapannya hangat tapi hatiku masih beku, aku teringat kembali saat dulu.
"Mariam ... uhibbuki!" Pemandangan sejuk khas perbukitan menjadi saksi para remaja yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
"Uhibbuka ...," jawabku malu-malu, setelah itu kita saling berbalik arah dan lari meningalkan tempat itu, begitulah kisah konyol masa laluku. Hari-hari berikutnya kami habiskan dengan saling bertukar surat, saling memuji dan mengungkapkan cinta dalam aksara, atau sekedar bercerita aktifitas harian kami.
Semua berlanjut sampai SMA, batin kita terjalin kuat karena aksara yang menjadi perantara mengakarnya cinta ini. Kami tidak pernah benar-benar hanya berduaan saja dalam situasi apapun, kami selalu melibatkan orang lain ketika harus bertemu. Debar-debar cinta kami tercurah semua dalam bentuk narasi, semakin berdebar, semakin dalam, dan semakin nyaman.
Semua 'cie-cie' dari teman-teman kunikmati dan kuterima, aku menyukainya. Mereka pikir cinta ini hanya bercanda. Sampai akhirnya dia memilih pergi, jauh, dan sangat lama. Membuatku menunggu kemudian kecewa.
"Tunggu aku Mariam, aku pasti akan segera kembali untukmu!" janjinya padaku.
Kini dia benar-benar kembali, kita telah sama-sama dewasa, permasalahan yang kita hadapi pun bukan lagi PR Matematika atau Fisika, bukan pula hafalan Nadhom yang harus deadline akhir minggu. Poligami, adalah masalah terbesar kini.
Aku memaksakan bibirku untuk sedikit melengkung membentuk sebuah senyuman, aku berhasil, meskipun terlihat kaku.
Aku mengekor di belakang Mizan, berkeliling untuk bersalaman dan meminta restu. Aku melihat Medina dengan mata yang basah di sudut sana, apa mudah Din, melihat suamimu mengucapkan ijab qobul pada wanita lain? Kenapa kemarin kamu memaksa sekali?
Semua mengucapkan selamat, memberi nasehat, dan juga doa restu. Haruskah aku mendengar semuanya? Semantara aku tahu tidak ada yang benar-benar berdiri di pihakku.
Mizan berhenti lama-lama pada istrinya, aku tidak peduli aku memilih berbalik arah dan mencari keberadaan Oktavia. Gadis kecil itu sedang bersenda gurau dengan Eyang-eyangnya.
"Mama ...." Dia memelukku, aku membalasnya dengan erat, aku melakukan semua ini untuknya.
"Mama, Okta punya Papa baru ya? Sekarang Okta punya Mama, Papa, dan Bunda, ya?" tanya Oktavia dengan polos.
"Kata siapa sayang?"
"Kata Bunda Medina," ucapnya sambil tangan kecilnya menunjuk ke arah Mizan dan Medina, bukan hanya para orang dewasa yang Medina racuni, sekarang anakku pun sama
"Apa Okta seneng?"
"He'em ... Okta seneng banget Mah, Eyang Okta juga sekarang banyak."
Senyumnya mengembang, padahal dia sangat dekat dengan papanya. Sekarang dia bahagia.
'Apa kamu juga mudah melupakan papamu, Nak?' batinku.
Tiba-tiba Ibu datang dan membisikan kata-katanya padaku, "Berdamailah dengan keadaan Mba! Dengan dirimu sendiri!"
__ADS_1
....