
"Kalau Mizan nggak mau, lamarkan Mariam untukku saja, Bu."
Perkataan Mas Harun benar-benar mengejutkan kami semua, mungkin dia berniat bercanda dan hanya menggoda Mas Musa saja. Mas Musa yang berdiri di sampingku tiba-tiba merangsek ke arah Mas Harun dan melayangkan pukulannya.
Buuugkkk ...!
Pukulan Mas Musa tepat mengenai pipi kanan Mas Harun, sikapnya membuat kita semua semakin terkejut.
"Astaghfirullohaladzim ...!"
Mas Musa berusaha menguasai dirinya kembali, aku tidak menyangka Mas Musa bisa semarah ini, lepas kendali sampai harus memukul lawan bicaranya. Mas Harun mengernyit menahan sakit, tampak sedikit darah yang keluar dari sudut bibir kanannya.
"Mizan ... istighfar!" seru Ibu, Pak Iwan berinisiatif memegangi Mas Harun untuk mencegahnya melayangkan pukulan balasan, dan aku memegangi Mas Musa.
"Apa-apaan ini?!"
Tidak mungkin kalau Mas Harun juga menginginkan Mba Mariam, bukan?
Mas Harun hanya bercanda, bukan?
Kenapa Mas Musa semarah ini? Jangan-jangan ....
"Mariam ... gadis kecil yang menangis saat acara jerit malam di persami saat SMP itu, bukan?!" ucap Mas Harun seolah memastikan.
"Aku menyukainya juga, Bu. Kalau Mizan nggak mau, aku dengan senang hati akan menikahinya."
Mas Musa kembali emosi mendengarnya, Mas musa hendak melayangkan pukulannya kembali, beruntung kali ini Mas Harun sudah lebih siaga sehingga pukulannya meleset. Kami kembali panik dengan perkelahian ini.
"Kau ...?! Berhenti menginginkan semua yang menjadi keinginanku!" bentak Mas Musa.
"Oh ... aku dengar kamu memang dulu berpacaran dengannya, tapi sekarang kesempatan kita sama. Sepertinya Mariam butuh laki-laki yang tegas, bukan yang kebanyakan maju-mundur dan ragu-ragu." Mas Harun terus mengatakan hal-hal yang memprovokasi Mas Musa.
"Jangan harap bisa memiliki Mariam, dia bukan barang koleksi yang bisa kamu miliki hanya untuk menambah daftar pencapaianmu."
"Aku tidak begitu, aku memang pernah menyukainya, aku membiarkannya karena tahu dia berpacaran denganmu. Mungkin dulu aku kalah start, tapi tidak sekarang."
__ADS_1
"Sudah ... sudah ... kalian seperti anak kecil! Padahal kalian sudah dewasa!" Ibu berusaha melerai dan menyudahi pertengkaran kedua putranya.
"Ibu minta saja Mariam memilih siapa diantara kita," usul Mas Harun.
"Enggak, Bu. Jangan kali ini! Aku sudah banyak mengalah untuk Mas Harun, Ibu akan selalu memberikan semua kepada Mas Harun terlebih dahulu. Jangan kali ini, Bu, jangan Mariam." Mas Musa menolak mentah-mentah usul Mas Harun. Ibu sangat terkejut dengan ucapan Mas Musa.
"Maksud kamu apa? Ibu enggak pernah membeda-bedakan kalian, apa lagi mendahulukan Harun."
"Mungkin Ibu tidak sadar, tapi itulah yang selama ini aku rasakan, kali ini aku tidak akan mengalah."
"Bagaimana bisa tiba-tiba kamu tidak ingin mengalah, bukannya kamu yang tadi ragu-ragu dan tidak tegas." Mas Harun kembali menimpali ucapan Mas Musa.
"Itu bukan urusanmu, Mas!"
"Sudah ... sudah, bawa suamimu ke kamar, Nduk!" perintah Ibu padaku.
"Iya, Bu."
Aku menuntun Mas Musa ke kamar untuk menjauh, Mas Musa nampak sangat kalut dengan keadaan ini.
Kami saling diam, aku merasa terkejut, ternyata seperti ini hubungan Mas Musa dan Mas Harun yang sebenarnya. Mas Musa hanya manusia biasa, aku maklum dengan sikapnya yang penuh emosi.
"Dek ... maaf!"
"Untuk apa, Mas?"
"Semuanya ...."
"Medina nggak nyangka, ternyata bukan hanya suamiku yang menginginkan Mba Mariam. Lucu saja, dua orang laki-laki beristri, bertengkar memperebutkan seorang wanita."
"Iya, kami terlalu kekanak-kanakan, tapi kali ini mas tidak bisa membiarkan Mas Harun."
"Selama ini ... mas selalu mengalah, mas selalu hidup dalam bayang-bayang Mas Harun, hanya karena dia anak pertama dan aku hanyalah pengekor yang selalu dipaksa mengikuti setiap jejak pencapaiannya," ungkap Mas Musa mencoba menjelaskan situasinya padaku.
Aku teringat ucapan Mba Mariam, tentang ambisi Mas Musa bersekolah di luar negri hanyalah untuk mengalahkan pencapaian kakaknya, Mas Harun. Jadi, seperti ini ternyata, sekarang Mariam adalah objek pencapaian mereka berikutnya.
__ADS_1
Mas Musa yang benar-benar mencintai Mba Mariam tidak rela jika Mas Harunlah yang memiliki Mba Mariam. Tapi, Mas Harun mengatakan dia juga sudah menyukai Mariam saat dia SMP. Rumit sekali.
"Maaf Dek, mas harus begini, mas lebih ikhlas kalau Mariam dimiliki oleh yang lain, tapi tidak akan kubiarkan kalau Mas Harun yang memilikinya." Mas Musa akhirnya berani menatap mataku dengan keteguhan hatinya mengakui keinginannya untuk memiliki Mariam.
"Jadi, Mas setuju untuk menikahi Mba Mariam seperti keinginanku?" tanyaku memastikan.
"Iya ... boleh, Dek?"
Kini Mas Musa telah resmi meminta ijin dariku, aku hanya mengangguk lidah ini terlalu berat untuk menjawab walau hanya satu kata. Pertama kalinya Mas Musa benar-benar jujur mengakui isi hatinya, bukankah ini yang kumau? Tapi kenapa hatiku terasa perih?
Mas Musa mendekatkan dirinya padaku, kemudian memelukku, perlakuan yang selama beberapa hari ini hilang.
"Kalau Mariam setuju, mas akan berpoligami, kalau Mariam tidak setuju dan meminta untuk melepaskanmu, mas tidak akan melakukannya, bagaimana?" usul Mas Musa.
"Apa benar Mas Musa akan lebih memilihku dari pada Mba Mariam?"
"Iya."
Allohu Akbar ... aku bahagia, hatiku seperti tersiram air yang sangat sejuk dan menyegarkan. Tatapan Mas Musa kembali menghangat. Alloh benar, berbagi justru membuat kita menerima lebih banyak.
Aku semakin yakin dengan keputusanku, pada janji Alloh, balasan atas keikhlasanku adalah kebahagiaan, aku akan menggapai Ridho Alloh dengan Ridho suamiku.
Awalnya, aku sempat berpikir kalau kehadiran Mas Harun adalah jalan keluar dari kebuntuan cinta segitiga antara aku, Mas Musa, dan Mba Mariam. Namun sepertinya tidak, karena kehadirannya justru membuat Mas Musa berani mengambil keputusan. Tidak seperti selama ini, kebimbangannya membuatku terombang ambing dalam rasa ketidakpastian.
Kehadiran Mas Harun juga sekaligus memberi masalah baru, mereka memperebutkan Mba Mariam. Semua keputusan ada di tangan Ibu, siapa yang akan dia ajukan lamarannya kepada Mba Mariam.
Dengan lamaran dari Mas Musa tempo hari saja sudah membuat Mba Mariam terkejut dan sedih, bagaimana kalau dia tahu ada orang lain yang sama-sama ingin melamarnya. Terlebih keduanya sama-sama akan menjadikannya sebagai istri kedua, Mba Mariam bilang kalau dia tidak suka berbagi, apa lagi suami.
Semuanya menjadi rumit, di ruang tamu aku pun mendengar Ibu sedang mengintrogasi Mas Harun, dari nada bicaranya Mas Harun berusaha memperjuangkan keinginannya untuk melamar Mba Mariam.
Aku ikut prihatin pada hubungan kedua sodara ini, aku belum sepenuhnya mengenal sifat Mas Harun, namun sepertinya dia selalu mendapatkan apapun yang menjadi keinginannya. Ibu pasti sangat sedih dengan keadaan ini, tidak mudah baginya untuk membuat keputusan.
Kasian sekali Mas Musa, benarkah dia selalu dikalahkan oleh kakaknya?
Sekarang ibu akan memihak siapa? Akankah ibu kembali memenangkan Mas Harun?
__ADS_1
.....