Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Permintaan Mariam


__ADS_3

"Usianya sudah masuk minggu ke-12 Bu, semuanya bagus hanya saja tekanan darah ibu Mariam rendah cuma 80/50, nanti kita cek lagi setelah infus habis kalau sudah naik minimal 90/60 ibu sudah boleh pulang, tapi ibu harus banyak-banyak istirahat."


"Terimakasih, Dok," ucap Teh Desi begitu dokter meninggalkan ruangan.


Mariam terdiam, tanpa ekspresi. Saat Teh Desi memberitahunya tadi dia marah dan tidak percaya. Kini, dia telah mendengar semuanya langsung dari dokter. Dunia Baru yang dia impikan kini kembali gelap gulita.


"Mba Mariam ... yang kuat yah!"


"Aku pikir selama ini aku hanya konstipasi karena pola makanku yang buruk, aku begitu fokus pada usahaku sampai aku lupa memperhatikan perubahan yang ada di tubuhku sendiri," ucap Mariam dengan pandangan kosong.


"Bagaimana ini, Teh?" tanya Mariam buntu.


"Bicarakan baik-baik semua ini dengan Pak Musa, Mba," saran Teh Desi.


"Nggak Teh," tolak Mariam. Dia memaksa bangkit dan bersandar di bantalnya, Mariam meraih tangan Teh Desi dan memintanya duduk.


"Teh, bantu aku sekali lagi," ucap Mariam dengan memandang penuh harap pada Teh Desi.


"Hanya Teteh yang tahu perihal kehamilan ini, aku mohon ... rahasiakan ini dari mantan suamiku, dan dari Medina."


"Enggak bisa, Mba! Teteh nggak bisa ... ini hak anakmu Mba dan hak Pak Musa sebagai ayahnya untuk tahu bahwa dia juga punya anak di rahim Mba Mariam."


"Tapi dia telah menalakku Mba, dan aku nggak mau karena kehamilan ini Mizan berubah pikiran," paksa Mariam.


"Bukankah talak untuk wanita hamil itu nggak boleh, Mba?" tanya Teh Desi.


"Tetap boleh, dan masa iddah wanita yang ditalak dalam keadaan hamil adalah sampai dia melahirkan."


"Tapi Mba, ini nggak adil untuk anak dalam kandungan Mba Mariam, bagaimanapun dia punya ayah."


"Teh, aku mohon!" Mariam mempererat pegangan tangannya pada teh Desi, dan berusaha meminta bantuan dengan sepenuh hati.


"Mba ... cepat atau lambat kehamilan Mba Mariam akan diketahui orang, Mba nggak akan bisa menutupinya terus, apalagi anak itu pun akan lahir pada waktunya nanti, baik Mba Medina atau pun Pak Musa pasti akan tahu suatu saat nanti."


"Setidaknya sampai Mizan berhasil mengurus perceraian kami secara hukum, jangan sampai dia tahu, Teh. Selanjutnya akan kupikirkan lagi."


Teh Desi menerima permintaan Mariam dengan berat, selain khawatir pada kondisi Mariam dia juga memikirkan nasib usaha yang baru saja Mariam rintis. Selain tempat itu adalah tempatnya menggantungkan hidup, Teh Desi juga tahu tempat itu nyawa bagi Mariam.


🍀🍀🍀


Mariam berdiri menatap pantulan dirinya di cermin. Dengan balutan daster yang pas di tubuhnya memang terlihat jelas perutnya yang sedikit membukit. Rasa letih dan lelah yang selama ini dirasakannya selalu dia lawan dengan secangkir kopi.


Selain itu dia tidak merasakan apapun lagi, mengingat kesibukan yang menyita tenaga dan pikirannya selama ini.


Disaat Mizan bersedia melepaskan dirinya dan mengucap talak, justeru kehamilan yang dia dapat. Mariam mulai menangis, dia meremas dan memukul-mukul perutnya berulang kali, sebelum akhirnya tubuhnya merosot dan limbung.


"Aku nggak mau anak ini Ya Alloh," ratap Mariam di sela isaknya.


"Kenapa Engkau memberiku cobaan bertubi-tubi seperti ini?!"


"Aku tidak pernah berhenti dan terus berdoa agar di beri jalan keluar dari ikatan pernikahanku dengan mereka, kenapa Engkau memberiku anak ini disaat jalan keluar itu sudah di depan mataku, Ya Alloh .... "


"Aku tidak pernah seputus asa ini dengan doa-doaku, kenapa ... kenapa ... kenapa ...!" raung Mariam penuh kesedihan.


"Seharusnya malam itu tidak pernah terjadi ... !" sesal Mariam.


Teh Desi bergegas datang dari ruko ke rumah Mariam setelah mendapat kabar dari Lisa bahwa Mariam menangis seharian sampai membuat Oktavia ketakutan.


Tok tok tok


"Mba Mariam ... Mba ...!" Berkali-kali Teh Desi mengetuk dan memanggil di depan pintu kamar, namun tidak ada jawaban. Kemudian, Teh Desi menyuruh Lisa untuk mengajak Oktavia bermain di luar.


Setelah Okta pergi, Teh Desi memutuskan untuk masuk ke kamar Mariam. Mariam duduk bersandar di tembok dengan rambut yang diikat acak-acakan, sambil masih terus memukuli perutnya dan menangis.

__ADS_1


"Astaghfirullohaladzim ... Mba!"


Teh Desi berlari menghampiri Mariam dan menahan kedua tangannya untuk berhenti.


"Istighfar Mba, anak ini nggak bersalah."


"Anak ini nggak seharusnya ada, Mba. Dia akan mengacaukan semuanya," ucap Mariam.


"Istighfar Mba, istighfar!" ucap Teh Desi dengan suara keras dan membentak.


Mariam pun berhenti mencoba memukuli perutnya sendiri. Tubuhnya lunglai dan terus menangis penuh penyesalan. Teh Desi memeluk dan menenangkannya.


"Teteh tahu ini berat, tapi Mba Mariam harus kuat. Anak itu rezeki dari Alloh. Dan anak itu nggak punya salah apa-apa!"


Tidak ada jawaban dari Mariam selain tangisan, dia sadar apa yang baru saja dilakukannya itu salah.


"Mba Mariam harus kuat, kalau Mba Mariam begini teteh nggak punya pilihan lain selain memberi tahu Pak Musa atau orang tua Mba Mariam."


"Jangan lakukan itu, Teh!" ucap Mariam panik.


"Tapi teteh takut dosa kalau membiarkan Mba Mariam begini, apalagi kalau sampai terjadi sesuatu pada kandungan Mba Mariam, teteh pasti ikut merasa bersalah, Mba!" ucap Teh Desi dengan sedih.


"Jangan Teh, aku mohon!"


"Mba Mariam harus berjanji untuk kuat, jangan seperti ini!"


"Iya Teh, aku benar-benar khilaf."


Teh Desi membantu Mariam bangun dan memapahnya untuk kembali beristirahat di kasurnya. Teh Desi juga membantu Mariam merapikan kembali rambutnya. Wajah sendu dan bekas airmata masih terlihat jelas dan menyatu dengan wajah pucat Mariam.


"Mba Mariam harus bangkit, selain anak ini dan Oktavia ada konveksi yang membutuhkan Mba Mariam," ucap Teh Desi memberi semangat.


"Kenapa harus menjadikan ini semua sebagai beban, Mba? Seharusnya Mba Mariam menjadikannya sebagai semangat untuk lebih membuktikan bahwa keputusan Pak Musa melepas Mba Mariam itu nggak salah," lanjut Teh Desi mencoba mengajak Mariam untuk melihat ujian ini dari sudut pandang yang lain.


"Betul juga Teh, ah... kenapa aku berpikiran sempit dan pendek!"


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dan salam dari pintu depan. Teh Desi tergopoh-gopoh menuju ke pintu untuk mencari tahu siapa yang datang.


"Mba Medina?"


"Assalamu'alaikum, Teh Desi."


"Wa-waalaikumsalam," jawab Teh Desi terbata-bata, kedatangan Medina bersama Mba Lastri membuatnya gugup.


"Mba Mariamnya ada? Tadi Medina ke toko tapi katanya Mba Mariam lagi sakit, jadi Medina kemari." Medina mengutarakan maksud kedatangannya.


"Silahkan masuk Mba Medina." Teh Desi langsung menuju ke kamar untuk memberitahu Mariam siapa yang datang.


Tidak lama kemudian Teh Desi kembali menemui Medina dan menyuruhnya untuk masuk ke kamar Mariam.


"Makasih, Teh," ucap Medina seraya masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum," ucap Medina ragu.


"Waalaikumsalam," jawab Mariam sambil mencoba menunjukan ketegarannya.


"Mba Mariam sakit apa?" tanya Medina.


"Aku cuma kecapekan, nggak usah khawatir, nggak ada sesuatu yang serius."


Medina menatap wajah Mariam yang terlihat begitu kepayahan.


'Benarkah kamu baik-baik aja setelah ditalak Mas Musa, Mba?' batin Medina.

__ADS_1


'Kenapa wajah dan keadaanmu menunjukan yang sebaliknya?'


"Kenapa bengong, Din?" tanya Mariam membuat Medina tersadar dari pikirannya.


"Ada apa? Kenapa nyariin aku?" tanya Mariam lagi.


"Nggak papa, Mba. Cuma mau silaturahmi, tapi ternyata Mba Mariam sakit, jadi Medina jengukin kemari."


"Apa Mizan sudah mengatakan semua? Apa karena itu kamu mencariku?"


"Hem, sebetulnya iya. Medina merasa menjadi orang bodoh yang nggak tahu apa-apa sampai akhirnya kalian berpisah begini."


"Semua yang terjadi murni karena masalah kami, nggak ada hubungannya denganmu, jadi untuk apa kamu harus tahu dan terlibat," ucap Mariam.


"Jawaban kalian hampir mirip, dan... membuatku merasa semakin bodoh."


"Jangan membuat drama, Din."


"Mba Mariam nggak kelihatan baik-baik aja sekarang, kenapa Mba sampai meminta talak?"


"Bukan urusan kamu, Din! Tolong berhenti!"


"Tapi Medina merasa bersalah, Mba Mariam pastilah masih mencintai Mas Musa, begitu pun Mas Musa, jadi apa alasan kalian sebenarnya?"


"Aku muak dengan sikapmu yang selalu ingin tahu dan selalu ikut campur, berhenti, Din!" bentak Mariam.


"Dan Medina muak dihantui rasa bersalah karena harus ada diantara kalian, Mba!" seru Medina.


Mariam terdiam dan tidak habis pikir dengan jalan pikiran Medina.


"Maumu apa sekarang?" tanya Mariam putus asa.


"Mengakulah Mba, kalau Mba Mariam hancur dengan perpisahan ini, katakan kalau Mba Mariam menyesal," pinta MedinaMedina memojokkan Mariam, Mariam memandang Medina dengan wajah tidak percaya.


"Baiklah, aku mengaku. Aku hancur dengan perpisahan ini." Mariam menatap mata Medina.


"Bukankah kamu wanita baik? Isteri yang sholehah? Berhati malaikat?"


"Sekarang aku punya satu permintaan, yang harus kamu wujudkan!"


"Apa itu, Mba?" tanya Medina dengan ragu.


"Berjanjilah, kamu harus melakukannya!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


"


__ADS_2