
"Kamu mengorbankan kebutuhan Oktavia akan sosok ibu, hanya demi perasaanmu yang tidak mau dipoligami."
"Andai kamu memikirkan Oktavia dan masa depannya, kamu akan mengorbankan perasaanmu, dan mencoba bertahan."
"Anak tidak hanya butuh materi untuk tumbuh, Mba Mariam."
Mariam terdiam, tertampar oleh ucapan Bu Aini. Naluri keibuannya menjerit menyadari kesepian yang telah dialami Okta yang luput dari perhatiannya. Setelah Bian, ayahnya meninggal, setelah Mizan, abinya harus terputus hubungannya, dan kini dirinya yang sibuk bergelut dengan kehidupan.
"Terimakasih Bu Aini, sudah mengingatkan saya," ucap Mariam memecah keheningan diantara mereka dan berusaha tidak terpancing oleh Bu Aini.
"Maaf Mba Mariam, ibu nggak bermaksud apa-apa. Hanya saja ibu merasa nggak enak hati sama kamu dan keluarga kamu," tutur Bu Aini lagi.
"Bu ... saya ... tetap pada pendirian saya, jadi tolong jangan mencoba membujuk saya dengan membawa-bawa Oktavia. Saya sudah membaik dan tidak lagi depresi, sehingga keputusan saya layak untuk didengar." Mariam mencoba menegaskan keteguhannya sebelum Bu Aini mengorek lebih jauh.
"Lagi pula, ibu memiliki menantu yang luar biasa, Medina. Saya nggak bisa menyakitinya hanya demi kelangsungan hidup saya dan Oktavia. Kalau pun kebahagiaan yang akan saya dapat, tapi miris rasanya karena harus mengiris kebahagiaan wanita lain," ungkap Mariam.
"Ibu ... tolong mengerti saya, saya menyayangi Mizan dengan cara melepaskannya dengan orang yang sudah terbukti mencintainya dengan tulus. Percayalah, saya memang masih meniti kehidupan yang layak, tapi tidak secuil pun saya mengorbankan Oktavia."
Di balik tirai jendela, Musa berdiri dan mendengar semua ucapan Mariam. Tangannya bergetar, seiring hatinya yang berguncang.
"Berpisah untuk kedua kalinya denganmu, serasa mati dengan cara yang sama untuk kedua kalinya, aku yakin kamu pun menderita Mariam. Aku berjanji tidak akan membuatmu terlalu lama menderita," gumam Musa.
"Ibu ...," panggil Musa melangkahkan kakinya keluar. Mariam yang menyadari kehadiran Musa segera menghapus bulir bening yang sempat menghiasi matanya.
"Jangan persulit Mariam, kami minta maaf karena terpaksa menyembunyikan semua proses dari keputusan kami dari Ibu. Kami cuma nggak mau Ibu khawatir," ucap Musa berusaha menyudahi.
"Hem ... Ibu mengerti, ibu hanya mengetes keteguhan hati Mba Mariam. Tapi ... bagaimana pun janji tetaplah janji, izinkan ibu untuk tetap bertanggung jawab pada pendidikan putrimu, Oktavia."
"Maksud, Ibu?" tanya Mariam seraya berdiri dari kursinya untuk lebih leluasa memandang lawan bicaranya.
"Biarkan ibu menjaga dan mendidik putrimu, ibu sudah sangat menyayanginya, ibu bahkan sudah mempersiapkan pendidikan terbaik untuknya."
"Saya nggak bisa berpisah dengan Oktavia, Bu. Lagi pula usianya baru 5 tahun, disini juga banyak lembaga pendidikan yang bagus dan tidak kurang agamanya," tolak Mariam.
"Tapi kamu nggak bisa egois Mba Mariam, lagi pula Oktavia juga akan dekat dengan orang tuamu."
"Maaf, Bu. Saya nggak bisa," tolak Mariam lagi.
"Ibu akan menjaga dan menyayanginya Oktavia 24 jam."
"Disini dia juga dijaga 24 jam, Bu."
"Iya ... tapi oleh seseorang yang kamu bayar, sementara ibu akan menjaganya dengan dasar kasih sayang, menurutmu mana yang lebih baik?"
Mariam mencuri pandang pada Musa seolah meminta pertolongan.
"Bu--"
"Walaupun kalian sudah berpisah, Oktavia akan tetap menjadi cucu ibu. Tidak peduli nanti Mizan atau pun Harun sekali pun memberikanku 100 cucu, Oktavia akan tetap jadi cucuku." Bu Aini mencoba mengutarakan isi hatinya yang rindu sosok anak kecil.
Mariam hendak mendebat ucapan Bu Aini, tapi Musa segera memberinya kode untuk diam.
"Mariam ... nggak ada yang salah dengan permintaan ibuku, terlebih janji untuk menjaga dan menyayangi Oktavialah yang telah membuat orang tuamu luluh saat itu." Musa berbalik menatap Mariam dan mencoba menenangkannya.
"Tapi ... Oktalah satu-satunya alasanku untuk tetap waras!" ucap Mariam teguh pada pendiriannya.
"Iya, ibu bukan mengambil Okta. Hanya membantumu menjaganya, pahamilah ... ibuku menyayangi Okta!" bujuk Musa.
"Apa menurutmu aku nggak menyayangi Okta?" tanya Mariam emosi, pandangan mata mereka tanpa sengaja saling bertaut.
"Bukan begitu! Kamu adalah ibunya, dan akan tetap menjadi ibunya. Sementara ibuku harus melakukan sesuatu untuk hidup Oktavia agar bisa tetap menjadi neneknya."
__ADS_1
Mariam terdiam, tak kuasa lagi melawan. Pandangannya yang mulai berkunang diiringi sakit kepala yang akhir-akhir ini semakin sering dirasakannya. Mariam segera kembali duduk setelah merasakan keringat dingin membanjiri tubuhnya dibalik jilbab dan baju besarnya.
"Kamu baik-baik aja, Mar?" tanya Musa, Mariam hanya mengangguk.
Hati Mariam bimbang, haruskah dia membiarkan Oktavia bersama Bu Aini agar rahasia tentang kehamilannya bisa tetap terjaga?
Tangannya bersembunyi di balik jilbab dan memegangi perutnya, sebuah nyawa tengah menendang dengan keras di dalam perutnya. Biasanya Mariam hanya merasakan gerak halusnya.
'Apa kamu tahu dia abimu, Nak?' batin Mariam pilu.
"Baiklah," ucap Mariam.
"Aku mengizinkan Oktavia untuk tinggal dan dididik oleh ibu, dengan syarat Oktavia mau, dan tanpa paksaan. Jika dia tidak mau, artinya Ibu nggak bisa membawanya."
'Maafkan mama, setelah adikmu lahir, mama pasti akan melakukan apapun untuk mengambilmu kembali,' batin Mariam lagi, terbayang di pikirannya gadis kecil yang menjadi bayangan Biantara.
'Bu Aini pasti akan berubah hatinya setelah kehadiran anak Medina nanti!' Mariam terus menguatkan diri.
"Baik Mba Mariam, terimakasih," ucap Bu Aini seraya memeluk Mariam, suaranya tercekat menahan haru.
"Kamu anak yang baik, ibu doakan kamu akan mendapat jodoh yang baik juga nantinya. Tetaplah anggap aku ini ibumu walaupun jodohmu dengan anak ibu sudah berakhir," ucap Bu Aini sambil mengusap lembut punggung Mariam.
"Terimakasih, Bu ... maafkan saya kalau selama menjadi menantu ibu banyak salah dan khilaf, maaf karena saya sangat jauh dari harapan ibu."
"Sama-sama Mba Mariam, ibu juga minta maaf, tapi semua ini memang harus terjadi janganlah disesali, kita semua bisa mengambil hikmahnya."
"Iya."
"Jangan memutuskan silaturahmi, Mba Mariam. Tetaplah berhubungan baik."
"Insha Alloh, Bu."
Musa hanya terdiam dan larut dalam keharuan yang ada di hadapannya. Kedua wanita yang dia sayangi saling meratapi perpisahan yang harus terjadi. Di matanya Mariam memang telah sepenuhnya bijaksana, dengan membiarkan ibunya merawat Oktavia.
"Maaf, ibu sudah menyita waktumu. Terimakasih atas kebaikan dan kerelaan hati Mba Mariam."
Mariam segera berpamitan sebelum sakit kepalanya semakin memburuk, sebelum ada yang curiga pada dirinya. Mariam menghilang bersama deru mobil kecilnya.
"Kenapa Ibu melakukan semua ini?" tanya Musa.
"Janji tetaplah janji."
"Zan ... sejak kapan Mariam merubah gaya busananya?"
"Mizan nggak tahu Bu, baru kali ini Mizan ketemu Mariam lagi."
"Perasaan Ibu aja atau memang Mariam lebih berisi badannya sekarang?" ucap Bu Aini.
"Mungkin karena busananya," jawab Mizan.
"Oh ... Kamu apa juga melepas Mariam karena menyayanginya?" tanya Bu Aini, membuat kelu lidah Mizan.
"Iya ... bagaimanapun sekarang Medina adalah segalanya bagiku, Bu. Tidak ada lagi alasan untuk menahan Mariam untuk tetap tinggal sementara dia dan Medina sama-sama menyimpan luka." Musa mencoba mengutarakan hatinya.
"Mariam hanyalah kepingan rasa, sementara Medina ada cinta sejatiku, Bu."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ya sudahlah, mana isterimu? Ibu belum sempet berbincang dengannya."
Musa mengarahkan ibunya ke kamar untuk menemui Medina, yang sedari tadi gusar dan penasaran pada perbincangan ibu mertuanya dan Mariam.
__ADS_1
"Ibu ...," sapa Medina ketika menyadari Bu Aini masuk.
"Istirahat aja, Nduk!" ucapnya ketika melihat Medina hendak bangkit. Bu Aini menghampiri Medina dan duduk di tepi ranjangnya.
"Maaf ya, Nduk. Ibu sampe lupa nanyain kabar kamu dan cucu ibu, apa kalian sehat?"
"Kami sehat, Mas Musa dan Mba Lastri menjaga kami dengan baik. Ehm, apa Mba Mariam udah pulang?"
"Sudah, sekarang dia wanita yang sibuk."
"Iya, Bu. Usaha Mba Mariam maju pesat."
"Syukurlah!"
"Apa Mas Musa sudah memberitahu Ibu perihal rencana kami?"
"Belum, sepertinya Mizan lupa. Apa itu?"
"Setelah Medina lahiran Mas Musa berniat untuk pulang dan mencari pekerjaan di kampung saja. Biar bisa dekat dengan ibu."
"Oh iya? Kabar sebahagia ini Mizan lupa nggak ngasih tahu ibu?"
"Iya Bu, Insha Alloh Mas Musa ingin nemenin Ibu sama Bapak."
"Alhamdulillah kalau niat suamimu begitu, ibu seneng. Kapan kamu lahiran? Ibu jadi semakin nggak sabar."
"Kata dokter nggak sampe 10 minggu lagi Bu."
"Semoga lancar, dan sehat menantu sama cucu ibu."
"Aamiin," ucap mereka bersamaan.
"Oh iya, nanti Oktavia juga akan tinggal bersama ibu."
"Ok-oktavia?!"
"Iya."
'Apa maksudnya ini?' batin Medina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
🍀🍀🍀