Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Kondangan 2


__ADS_3

Mizan berpamitan dan segera pulang ke rumahnya, dia ingat pesan Medina untuk tidak pergi terlalu lama. Di jalan Mizan melihat Mariam sedang bicara berdua dengan Mala, Mizan berniat menemui Mariam terlebih dahulu.


Tiin ...


Mala dan Mariam nampak terkejut dan saling tatap.


"Assalamualaikum, Mar bukannya tadi pamit pulang? Apa Okta nggak nyariin?" sapa Mizan.


"Waalaikumsalam, Mar aku pulang dulu yah?" pamit Mala pergi sambil menepuk pundak Mariam beberapa kali.


"Zan, pamit dulu. Baik-baik ya kalian," ucap Mala sebelum berlalu.


Mizan menatap Mariam dan mengamati matanya yang sembab, ucapan Mala juga terkesan aneh, Mariam terus berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Mar, apa apa lagi?" tanya Mizan heran, 'bukannya kemarin Mariam yang dulu sudah kembali?' batinnya.


"Nggak papa Zan, aku lagi nostalgia aja sama Mala."


"Kenapa kamu nangis?"


"Enggak nangis, tadi kena debu," jawab Mariam klasik.


"Kenapa lagi? Bukannya semua udah baik-baik aja? Apa ada omongan mereka yang menyinggung kamu?" tanya Mizan sambil mengalah dan memilih turun dari motornya dan duduk bersama Mariam.


"Nggak Zan, nggak ada apa-apa!"


"Bicaralah Mar, kalau memang ada yang salah!" bujuk Mizan.


Bagi dirinya, Mariam selalu membuatnya jatuh bangun bahkan hanya untuk sekedar mengerti hati dan keinginannya. Dulu mungkin biasa saja, bagi laki-laki itu lah tantangannya. Tapi semenjak kehadiran Medina semua mulai terasa berbeda. Mizan mulai lelah mengejar hati Mariam, karena sudah terbiasa dengan Medina yang selalu terbuka dan mudah dimengerti tanpa harus banyak menebak dan banyak berlari. Kedua isterinya memang memiliki pribadi yang berbeda.


"Apa karena malam itu? Kamu menyesal? Atau karena kehamilan Medina?" tebak Mizan yang mulai kehilangan kesabaran karena Mariam selalu mengatakan tidak apa-apa.


"Mar? Katakan!"


"Aku menyesal datang kemari!" ucap Mariam.


"Apa?!"


Mariam menatap mata kekasihnya sejak bertahun-tahun yang lalu, meskipun kini telah bersatu jarak mereka seolah tak tertempuh.


"Kenapa?" tanya Mizan lagi, "ucapan teman-teman kita? Katakan apa yang salah?"


'Tentu saja aku yang bodoh, Mas Bian tentu akan tahu apa isi hatiku tanpa harus aku mengatakannya. Bagaimana aku mengharapkan hal yang sama pada Mizan?' batin Mariam.


"Aku menyesal karena ingatan tentang kamu, bahkan aku sedikit bodoh malam kemarin!"


"Mar! Istighfar! Aku memang sabar menunggu hati kamu terbuka, tapi bukan berarti kamu bebas berpikiran lancang seperti itu. Apapun alasan kamu pada malam itu, nggak pantas untuk kamu sesali karena kamu adalah hakku! Berdosa Mar, walaupun ucapan seperti itu hanya ada dalam pikiranmu." Mariam terkejut mendengar kata-kata dan nada bicara Mizan.


"Aku kurang apa Mar, padamu?" Mizan terlihat putus asa seolah hati Mariam tak tertembus. Mariam diam mengatur nafas sambil berpikir untuk merangkai kata dan mengumpulkan keberanian bicara.


"Kamu tahu, Zan? Lebih mudah menjadi isteri keduamu saat hatiku masih bimbang, masih belum menyadari bagaimana perasaanku yang sebenarnya, ketika hatiku masih meraba antara kenangan dan kenyataan ...."


"Saat kembali kemari, semua kenangan menjelma menjadi kenyataan, semua rasa-rasa yang kupertanyakan menjadi jelas, dan kebimbanganku hilang berganti dengan keyakinan. Tempat ini membuatku berani untuk meyakini bahwa aku masih mencintaimu," ungkap Mariam, keduanya saling pandang dan berlomba membaca hati masing-masing lewat tatapan mata.


"Lantas apa masalahnya, Mar?"


Mariam memandang lebih dalam pada mata Mizan yang mulai mengembun. Mariam tidak pernah meragukan perasaan Mizan padanya, tapi dia selalu meragukan dirinya sendiri.


"Masalahnya adalah tidak mudah membagi dirimu ketika aku sudah cinta, dan itu yang aku sesali, itu kesalahanku."

__ADS_1


Mizan sangat terkejut mendengar pengakuan Mariam, setelah kemarin pengakuan cintanya membuat dia bahagia dan merasa hidupnya telah sempurna. Kini, dirinya seperti dihadapkan pada jalan yang bercabang.


"Mar?!" Tangan Mizan memegang kedua pundak Mariam dengan ketidakpercayaan.


"Aku bukan Medina, Zan! Yang dengan hebat bisa berbagi cinta, bagiku lebih baik tidak memiliki daripada harus berbagi!" ucapan yang meluncur dari bibir Mariam semakin membuat Mizan kecewa, buliran-buliran bening di mata Mariam dibiarkan berjatuhan sementara dirinya sibuk mencerna apa maksud di balik ucapannya.


"Maafkan aku, Zan! Aku hanya manusia dengan segala keterbatasannya. Mungkin kamu menganggapku tidak bersyukur karena kamu dan Medina telah menyelamatkanku dari kesedihan yang dalam, tapi--"


"Belajar Mar! Belajar jalani ini semua apa adanya! Aku juga belajar, nggak mudah bagiku mengerti kalian berdua, aku berusaha adil, aku berusaha agar semua tetap berjalan baik, aku sudah berusaha Mar! Aku sudah berusaha!" potong Mizan dengan penuh emosi.


"Aku tahu pernikahan kita tidak lepas dari keinginan Medina, mungkin bisa jadi dia menginginkan pernikahan ini karena sadar dengan keterbatasan yang dia miliki. Tapi, aku tetap harus bertanggung jawab pada pilihan Medina, dia merasa terbatas juga karena kesalahanku."


"Keterbatasan yang mana, Zan? Dia bahkan sudah hamil."


"Astaghfirullohaladzim, Mariam!"


"Kenapa semua usahaku nggak pernah terlihat dimata kamu? Aku berusaha adil, hal yang nggak mudah, tapi aku berusaha untuk kalian berdua, andai aku bisa sudah kubelah tubuh dan hatiku agar kalian bisa puas dengan keadilan yang selalu kuusahakan!"


Mizan menangkupkan kedua tangan untuk menutupi wajahnya setelah menyelesaikan kata-katanya. Dirinya dikuasai emosi ketika Mariam dengan mudah mengatakan tidak bisa berbagi. Usahanya untuk adil seolah sia-sia.


"Maafkan aku, Zan!" Mizan menoleh pada Mariam, terlihat jelas Mariam yang masih mencintainya, "maafkan aku!" ulang Mariam.


Mizan berusaha mengatur kembali emosinya.


"Sudahlah, aku yang salah! Kamu tidak berdaya karena kamu mencintaiku."


"Tenangkan dirimu, pulanglah dan siap-siap besok kita segera kembali ke Bogor. Maaf karena membawamu kembali kemari, maaf karena sudah mengingatkanmu pada perasaan tentang kita."


"Hapus airmatamu, nggak enak nanti dilihat orang. Besok kita segera pulang," janji Mizan.


"Pulanglah Zan, Medina menunggumu!"


"Nggak Zan, aku pulang sendiri aja."


"Ayo Mar, jangan membantah, aku suami kamu."


"Zan, Medina sedang hamil. Emosinya sedang tidak stabil, mengertilah dirinya. Biarkan kuselesaikan masalahku sendiri, aku hanya harus berdamai dengan kenangan, beri aku waktu," tolak Mariam.


Mizan memandang Mariam dengan kecewa, dalam hatinya dia mulai membandingkan Mariam yang tidak segan menolak pendapatnya dan Medina yang selalu menerima apapun ucapannya.


'Aku lelah berlari Mariam, sementara kamu begitu senang berlari dan menjauh,' batin Mizan lelah.


"Mar, rumah tangga kita berbeda dengan yang lain. Karena kamu istimewa, kamu dan Medina berbeda dengan perempuan-perempuan lain di luar sana. Ayo berjuang bersama menjalani apa yang sudah menjadi pilihan kita sebaik-baiknya, aku harap kamu mengerti."


"Assalamualaikum," pamit Mizan pergi dengan sepeda motornya.


Mariam menatap nanar punggung Mizan yang menjauh, hatinya sesak dipenuhi kenangan manis tentang mereka berdua. Mariam kembali meraba hatinya.


"Pernikahan ini bukan pilihanku, Zan!" gumam Mariam.


🍀🍀🍀


Medina mondar mandir menunggu kepulangan suaminya di depan teras. Di sampingnya ada Bu Aini yang sedang minum teh sambil menemani menantunya yang tengah gelisah.


"Sudah toh Nak, ntar juga Mizan pulang."


"Iya Bu, tapi Medina khawatir, tadi Mas Musa bilangnya nggak akan lama-lama."


"Yah mungkin kebawa ngobrol sama temen-temennya yang lama nggak ketemu, sudah sini duduk nanti kamu capek."

__ADS_1


Medina dengan enggan menuruti perintah Ibu mertuanya.


"Apa Mas Musa lagi sama Mba Mariam ya, Bu?" tanya Medina, Bu Aini terlihat kikuk dengan pertanyaan menantunya.


"Coba saja di telphon, dari pada nebak-nebak."


"Biarin lah Bu, kasian juga Mba Mariam, harusnya ini jatah Mas Musa sama Mba Mariam malah mereka jadi repot-repot nyusulin Medina kemari."


Bu Aini tersenyum mendengarnya, keikhlasan menantunya untuk membagi suami memang tidak diragukan lagi.


"Ya sudah kamu tenang," ucap Bu Aini sambil menyodorkan kembali keranjang jeruk kesukaan Medina.


"Oh iya, besok kalian pulang, Ibu udah bicara sama Mba Lastri untuk ikut sama kalian, biar nanti dia bisa nemenin kamu pas sendiri, bisa bantuin kamu, dan jagain kamu."


Mba Lastri adalah salah satu pegawai di rumah Bu Aini.


"Apa nggak ngerepotin, Bu? Medina sehat kok."


"Sudah nurut aja, Mba Lastri orangnya enakan kok pasti cocok sama kamu, inget kamu harus jaga kandungan kamu baik-baik."


"Iya Bu, Medina pasti menjaganya dengan sepenuh jiwa."


"Ibu juga udah nyuruh Pak Bejo buat metikin jeruk-jeruk yang masih asem buat kamu,"ucap Ibu lagi.


"Makasih ya Bu, Medina malah ngerepotin."


"Iya Nak sama-sama, tadinya Ibu takut waktu kamu pulang kemari sendirian. Ibu takut terjadi sesuatu sama rumah tangga kalian, tapi pas Mizan sama Mba Mariam nyusulin kesini dan kalian terlihat baik-baik aja ibu lega, ibu bersyukur, malah sekarang Ibu mau punya cucu dari kamu, Alhamdulillah, Ibu bersyukur kalian bahagia dan bisa akur saling menyayangi."


Medina menelan ludah mendengar perkataan ibu mertuanya, dirinya memang pergi dalam keadaan yang tidak baik. Namun, belakangan dia mengerti emosinya menjadi sedikit berbeda dan tidak terkontrol karena pengaruh hormon kehamilannya.


Suara motor memasuki halaman rumah membuat Medina gembira. Mungkin saja kehamilannya kali ini membuat dirinya ingin lebih sering berada di dekat suaminya.


"Mas Musa pulang, Bu!" serunya riang, dia langsung beranjak menghampiri arah suara itu datang.


"Akhirnya Mas pulang juga," sambut Medina.


"Iya maaf lama," Mizan bahagia dengan sambutan hangat Medina setelah pertengkarannya dengan Mariam. Mizan memeluk isteri pertamanya dengan erat.


'Mariam memang bukan Medina, dan Medina memang berbeda dengan Mariam, aku tidak bisa memaksakan siapapun,' batin Mizan.


"Medina yang kangen, tapi kenapa Mas Musa yang meluknya kenceng banget?" tanya Medina.


"Maaf, Dek!"


Mariam yang membuat Mizan berlari, dan Medina yang selalu ada ketika Mizan ingin berjalan santai. Mariam yang dewasa, dan Medina yang manja.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2