
Pov Medina
"Din," panggil Ibu ketika aku dan Melisa sedang membereskan piring sisa sarapan kami, dan Mas Musa baru saja berangkat.
"Iya Bu, kenapa?" sahutku.
"Ibu mau pulang aja besok," ungkapnya.
"Lho kenapa mendadak Bu, tunggu seminggu lagi biar pas tanggal merah jadi Mas Musa bisa nganter Ibu pulang," usulku.
"Urusan Ibu udah selesai, bapakmu juga udah nyuruh ibu pulang terus, ibu udah biasa naik bus sama Melisa, nggak perlu dianterin segala," tolak ibuku.
"Iya Mba, Melisa juga udah numpuk tugasnya," timpal Melisa.
"Hem ... baiklah," ucapku sedih.
"Din, duduk sini Ibu mau bicara sedikit." Aku segera mencuci tanganku dan menyerahkan sisanya pada Melisa.
"Kenapa, Bu?" tanyaku seraya duduk di depannya.
"Kamu jangan banyak pikiran, biar hormon kamu seimbang. Kelemahan kamu hanya satu, belum hamil. Tapi selama wanita itu juga belum hamil, kamu masih punya kesempatan besar," ucap Ibu.
"Maksud Ibu?" tanyaku tidak mengerti.
"Nanti ibu kirimkan jamu-jamu biar kamu subur, jangan lupa suami kamu juga dikasih, tapi ingat dikasihnya pas jadwal nginep di sini jangan sampai salah nanti malah madu kamu yang hamil dulu," lanjut Ibu.
"Iya Bu, Medina juga udah rencana mau promil ke Dokter, cuma belum sempat nunggu Mas Musa libur nanti Insha Alloh, doakan Medina ya Bu," pintaku.
"Pasti ibu doakan tanpa kamu minta juga ibu selalu berdoa," ucap Ibu menengkanku, bagaimanapun doanya adalah keberuntungan bagiku.
"Terimakasih Bu," ucapku.
"Din, sebenarnya ibu merestui pernikahan kedua suami kamu karena ibu yakin wanita itu masih menutup hatinya, ibu melihat dengan mata kepala sendiri dia juga belum bisa menerima pernikahan ini kan?" tebak Ibu.
"Maksud Ibu?"
"Begini, karena mereka belum saling mencintai peluang kamu untuk mendapatkan hati suamimu seutuhnya itu masih besar, apalagi kalau kamu benar-benar hamil, bahkan bisa saja suamimu itu berpaling dan melupakan wanita itu sepenuhnya dan hanya fokus sama kamu sama anakmu, kamu masih berpeluang besar menyingkirkannya."
"Astaghfirullohaladzim, Bu ...." Ternyata Ibu tidak benar-benar merestui pernikahan kedua Mas Musa.
"Kamu beruntung wanita itu belum membuka hati dan dia masih sangat mencintai suaminya, kalau enggak, kamulah yang bisa saja tersingkir-" ucapan Ibu berhenti.
"Ehm ... Assalamualaikum!" Mas Musa tiba-tiba muncul dari ruang depan, aku masih terkejut dengan kata-kata Ibu sekarang aku dikejutkan dengan kehadiran Mas Musa.
"Mas!" Aku langsung berdiri dari kursiku, aku khawatir Mas Musa mendengar kata-kata terakhir Ibu.
"Laptop mas ketinggalan jadi mas pulang lagi," ucap Mas Musa seraya masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa.
"Mas-" Aku langsung mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Udahlah Dek, mas ngerti. Mas buru-buru udah kesiangan, Assalamualaikum," ucap Mas Musa dengan malas, aku yakin Mas Musa memang mendengarnya, bagaimana ini? Nanti bisa menjadi salah paham.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Mas Musa langsung mengambil laptopnya di meja dan langsung keluar tanpa memperdulikanku.
"Assalamualaikum, Bu maaf saya buru-buru." Sayup-sayup kudengar Mas Musa berpamitan pada Ibu, aku segera menyusulnya.
"Waalaikumsalam," balas Ibu.
"Mas ... Mas tunggu Mas!" Aku berlari menuju Mas Musa yang sudah bersiap di mobilnya, dia hanya parkir di jalanan depan rumah, pantas saja aku tidak menyadari kepulangannya.
"Ada apa lagi, Dek?" tanya Mas Musa dingin.
"Jadi benar Mas dengar ucapan Ibu?" tebakku menyadari perubahan sikapnya.
"Iya, dan mas ngerti kok, Assalamualaikum!" jawabnya seraya pergi memacu mobilnya menjauh.
"Waalaikumsalam." Suaraku lirih dan lemas menyadari yang baru saja terjadi.
Dengan langkah gontai kuseret kakiku masuk ke dalam rumah, ingin rasanya mengejar Mas Musa dan menjelaskan kesalahpahaman ini, tapi tidak mungkin.
"Sepertinya Mas Musa dengar percakapan kita tadi Bu," ucapku seraya menghampiri Ibu dan Melisa yang masih berkumpul di meja makan.
"Hem, udah terlanjur, biarlah," ucap Ibu lalu beranjak pergi dan masuk ke kamar.
'Bagaimana Ibu bisa begitu santai?' batinku heran.
"Bagaimana bisa dibiarkan, Bu?" tanyaku tidak terima, tapi Ibu sudah terlanjur masuk ke dalam kamar.
"Mel, bagaimana ini?" tanyaku pada Melisa, dia juga tampak bingung.
"Bagaimana Ibu bisa berpikiran seperti itu sih? Padahal Mba udah seneng akhirnya Ibu merestui kami," sesalku.
Kuhempaskan tubuhku di kursi, dan dengan bersandar di atas meja kutangkupkan kedua tangan menutupi wajahku. Aku takut Mas Musa salah paham.
"Ibu cuma pengin Mba Medina bahagia, Mba!" ucap Melisa sambil menenangkanku.
"Tapi Mba bahagia Dek, pernikahan ini juga Mba yang minta, kurang jelas apa lagi?"
"Tapi Ibu ada benarnya juga Mba, kalau saja madu Mba udah membuka hati dan suami Mba dengannya kembali saling mencintai, bisa saja Mba Medina yang akan tersingkir dengan mudahnya," ucap Melisa.
"Mas Musa bukan orang yang seperti itu Mel!" sergahku.
"Seyakin apa kamu, Mba?" tanya Melisa meragukanku.
"Hari esok enggak ada yang tau, hati manusia bisa saja berganti-ganti. Mba harus tegas dan mulai bersiap untuk berperang. Jarang satu hati bisa adil mencintai dua hati sekaligus, walaupun bahagia bisa saja cuma keliatan dari luarnya aja, di dalamnya kita enggak tahu, Ibu khawatir sama Mba Medina," imbuhnya.
"Jadi kamu juga satu pendapat dengan Ibu?" Aku terkejut ternyata Melisa juga memiliki pemikiran yang sama.
"Untuk kebahagian Mba Medina? iya, Melisa sependapat dengan Ibu. Di keluarga besar kita poligami itu masih sangat tabu Mba, baru Mba Medina yang melakukannya," ungkapnya.
Memang benar, tidak ada istilah poligami dikeluarga besar kami, hal ini memang sangat baru dan aku yang mengalaminya.
"Tapi ini takdir Mel, kalau bisa milih Mba juga nggak mau, udah jalannya rumah tangga Mba harus begini, suatu saat kamu pasti ngerti Mel." Segera kutinggalkan Melisa dengan rasa kecewa.
__ADS_1
Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, hatiku berat sekali mengetahui Ibu tidak benar-benar merestui pernikahan kedua suamiku. Kubiarkan dinginnya air menyegarkan pikiranku lewat anggota-anggota wudhu.
Kulihat Melisa masih duduk termangu di meja makan, aku berjalan tergesa menuju kamar karena ingin segera melewatinya.
"Mba," panggilnya menghentikan langkahku, aku tidak menyahut dan hanya melihat ke arahnya.
"Sepertinya Mba terlalu mencintai suamimu itu Mba, sampai-sampai Mba nggak mau terima pendapat Ibu lagi, sejak menikah Mba jadi berubah," ucapnya kembali mmebuatku kecewa, aku tidak sanggup menjawabnya, kutinggalkan dia tanpa menggubris ucapannya.
Segera kututup pintu kamar agar Melisa tidak tahu tentang airmataku, memang benar ucapannya, aku sangat mencintai Mas Musa karena selain suamiku dia juga cinta pertamaku.
Kuraih mukena dan segera kutunaikan sholat Dhuha, lebih baik menenangkan diri dan mengadukan segalanya kepada Alloh, setelah itu barulah kucoba mencari tahu bagaimana perasaan Mas Musa mendengar ucapan Ibu tadi.
Saat kurasa dunia sama sekali tidak memihak kepadaku, hanya diatas sajadah ini kurasakan kenyamanan. Saat kuharap dukungan Ibu akan menjadi kekuatanku, justru sudut pandangnya membuat bebanku semakin berat. Saat kuharap adik perempuanku menjadi tempatku berbagi cerita layaknya saudara, ternyata dia masih terlalu muda mengerti keputusanku yang dewasa.
Hanya dalam kesendirian dan kesepian dapat kutumpahkan segala duka, lara, dan kesedihan dalam bentuk doa. Aku harap keikhlasanku takan cacat dengan berbagai ujian ini, karena bila hatiku cacat sia-sia sudah pengorbananku selama ini.
Kulambungkan harapanku setinggi-tingginya, kupinta kebahagiaan sebanyak-banyaknya hingga mampu membuatku lupa pahitnya berjuang dalam rumah tangga ini. Tidak ada yang tidak mungkin, selama kita percaya dan terus berdoa, bukan?
" ... bi haqqi duhaa’ika wa bahaa’ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa aataita ‘ibaadakash-shalihiin."
Kusapukan kedua telapak tangan ke wajahku, besar harapanku untuk tetap berdiri tegar sebesar cintaku pada suamiku. Kemudian aku teringat pada Mas Musa, kuraih ponselku dari atas nakas. Nihil, tidak ada satu pun pesan dari Mas Musa. Kalaupun harus aku duluan yang bertanya, aku harus bertanya bagaimana?
Kutatap wallpaper di layar ponselku, senyum kami berdua yang masih saling malu-malu di depan pelaminan, hari pernikahan yang bahagia, gaun yang indah, akad yang sakral, mimpi yang menjadi nyata. Segala tentang Mas Musa memang indah, keindahan yang membuatku jungkir balik mempertahankannya.
"Aku mencintaimu Mas,"gumamku.
Tanpa terasa airmataku kembali mengalir, hanya dia yang menjadi saksi betapa tulusnya perasaanku. Selayaknya Mas Musa yang begitu tulus mencintai Mba Mariam sebagai cinta pertamanya, begitu pula perasaanku yang tidak kalah tulus dan besar dari cinta mereka.
"Lebih baik aku menahan sakit karena cemburu, daripada aku harus merasakan sakit karena kehilanganmu, Mas."
Masih diatas sajadah, kuupeluk ponselku meratapi momen pernikahan bahagiaku, aku menangis tergugu sambil terus kuucapkan kata cinta walau Mas Musa tidak mendengarnya, tapi kuharap rasa ini akan sampai kehatinya. Tak kupedulikan lagi isakku yang tak tertahan, tak kupedulikan lagi citraku di depan Ibu dan Melisa andai mereka mendengar kepiluanku.
[Assalamualaikum, Mas, Medina harap Mas enggak memasukan ke dalam hati ucapan Ibu tadi. Ucapan Ibu sama sekali tidak mewakili perasaan Medina, mungkin semua salah Medina yang kurang baik menyampaikan semuanya pada Ibu. Maafkan Medina dan Ibu, Mas.]
Hanya dalam beberapa detik pesanku telah tercentang dua, aku berdoa semoga Mas Musa segera membacanya dan memberikan responnya. Sehingga aku bisa tahu seberapa banyak Mas Musa mendengar ucapan Ibu tadi pagi, dan bagaimana Mas Musa menanggapinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1