Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Mencari Tahu


__ADS_3

"Mas ... apa Mas benar-benar belum pernah menyentuh Mba Mariam selama pernikahan itu?" tanya Medina.


Musa terdiam mendengar pertanyaan seperti itu bisa terlontar dari bibir isterinya. Musa melepas pelukan pada Medina.


"Apa pertanyaan Medina salah, Mas? Kenapa Mas diam?"


"Pertanyaanmu nggak salah, Dek. Cuma nggak pantas aja pertanyaan semacam itu terlontar, kamu sama aja menanyakan apakah seseorang yang masuk ke air itu basah, berhenti melukai dirimu sendiri, Dek."


"Maaf ...."


"Pertanyaanmu mencederai harga diriku sebagai laki-laki, Dek. Entah apa yang sedang coba kamu cari tahu, hingga mempertanyakan hal yang jawabannya jelas."


"Maaf, Mas. Medina nggak bermaksud begitu."


"Mas sedang berusaha untuk tidak menyakitimu, mas berusaha menebus semua kesakitanmu di masa-masa kemarin dengan membahagiakanmu. Berhenti menyakiti dirimu sendiri, Dek. Jangan hanya mas yang berusaha tapi kamu tetap menengok ke masa lalu."


"Iya, Medina menyesal."


Medina memang menyesal harus menanyakan hal konyol semacam itu. Tapi, Medina harus tahu jawaban suaminya agar dia bisa memastikan perihal kehamilan Mariam.


'Apa yang harus kulakukan sekarang?' tanya Medina pada dirinya sendiri.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya Medina berusaha mencari waktu agar dirinya bisa pergi seorang diri. Medina berencana mencari Mariam dan mencari kebenaran dari kabar yang dia terima kemarin. Bu Aini yang protektif padanya membuat sedikit sulit untuk beraksi.


Setelah beberapa usaha Medina akhirnya bisa pergi dengan disupiri oleh Pak Iwan, sementara Mba Lastri tetap menemani Bu Aini di rumah. Medina beralasan ingin membeli beberapa kebutuhan di supermarket terdekat.


"Hati-hati ya, Nduk. Jangan ngangkat yang berat-berat," pesan Bu Aini pada Medina.


"Iya, Bu. Medina pamit dulu, Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," jawab Bu Aini menatap mobil yang bergerak menjauh.


Medina bernapas lega, meskipun begitu jantungnya berdegup semakin kencang. Medina sudah siap untuk menyingkap takdir, membuka apa-apa yang sedang Mariam coba sembunyikan. Entah baik atau buruk, Medina merasa dirinya berhak untuk tahu.


"Pak Iwan, jangan ngomong ke Ibu ya kalau Medina mau ketemu sama Mba Mariam, Medina minta tolong banget, Pak! Ini penting."


"Iya, Mba."


"Makasih ya, Pak. Sekarang ke Ruko Cempaka di Jalan Ahmad Yani," ucap Medina memberitahu alamat ruko tempat Mariam mendirikan usahanya.


Hanya butuh waktu 10 menit mobil sudah memasuki pelataran ruko. Medina tidak melihat mobil Mariam di depannya, namun dia memutuskan untuk tetap masuk. Perut besarnya mungkin mulai membuatnya kesulitan berjalan, namun tekat dalam hatinya membuat fisiknya terus kuat.


"Mari, Bu. Silahkan dipilih gamisnya," sapa Novi dengan ramah.


"Eh, Ibu Medina? Silahkan Bu, mau nyari gamis model apa?" lanjut Novi lagi.


"Maaf, saya nyari Mba Mariam, ada?" tanya Medina tanpa basa-basi.


"Oh, Bu Mariam sedang sa--, sa-- survey maksudnya, Bu Mariam sedang survey kain untuk gamis terbaru kami dari beberapa toko," ucap Novi, hampir saja dia keceplosan.


Medina membaca gelagat yang tidak biasa pada jawaban karyawan Mariam.


"Benarkah?" selidik Medina.


"Be-benar, selama beberapa hari ini Bu Mariam terus mencari pemasok-pemasok kain terbaru. Dengan berkembangnya sistem penjualan secara online kami semakin kewalahan dan kekurangan bahan baku." Novi berusaha memberikan penjelasan logis pada Medina.


"Syukurlah, seneng mendengar kabar sebagus itu. Tapi, kemarin siapa yang butuh darah?" tanya Medina lagi, dia semakin yakin Mariam memiliki pendukung yang banyak.

__ADS_1


"Oh ... i-itu, salah satu karyawan kemarin."


"Bukan Mba Mariam? Tapi kabar yang beredar Mba Mariam yang butuh pendonor darah golongan A+," ucap Medina memojokkan Novi.


"Salah paham aja itu Bu, maklum kemarin kondisi lagi panik jadi salah ketik aja." Novi berusaha tersenyum senatural mungkin.


"Ya sudah saya permisi dulu," pamit Medina, setelah merasa usahanya mengorek info dari pegawai Mariam sia-sia.


"A-apa ada yang bisa saya sampaikan? Bu Medina barangkali ingin meninggalkan pesan," ucap Novi dengan gugup.


"Nggak usah."


Medina segera melangkahkan kakinya yang berbalut sepatu flat yang membuatnya sedikit lebih nyaman, meninggalkan Novi yang kurang pandai menyembunyikan kebohongan.


"Pak Ke Rumah sakit Citra Husada," ucap Medina begitu masuk ke dalam mobil.


"Baik, Mba. Apa udah ketemu Mba Mariamnya?" tanya Pak Iwan sedikit penasaran.


"Belum, Pak. Ini lagi dicari, beneran minta tolong ya Pak, jangan kasih tahu Ibu atau Mas Musa."


"Iya, Mba."


Mobil pun meluncur meninggalkan komplek ruko menuju rumah sakit yang Medina maksud. Sepanjang perjalanan yang tidak begitu jauh Medina terus berdzikir untuk menguatkan hatinya.


Mobil memasuki area parkir rumah sakit, Medina berkali-kali menarik napas panjang dan terus menguatkan hatinya. Medina segera turun, dan menyuruh Pak Iwan menunggu.


Hal pertama yang Medina lakukan adalah menyisir area parkir semampu matanya, mencari mobil putih milik Mariam, namun matanya tidak bisa menjangkau semua area parkir di tempat itu. Medina memutuskan untuk terus masuk, hal selanjutnya yang dia lakukan adalah bertanya pada suster penjaga.


"Permisi Sus, Assalamualaikum," sapa Medina.


"Waalaikumsalam, iya Bu, ada yang bisa saya bantu?"


'Mba Mariam tidak mungkin sampai memaksa pihak rumah sakit untuk berbohong,' batin Medina.


Suster penjaga memeriksa daftar pasien dari atas sampai ke bawah, sesuatu yang biasa namun sangat mendebarkan bagi Medina. Berkali-kali dia menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi kegundahan hatinya.


"Bu Mariam di kamar VIP A," ucap suster, Medina tercengang mendengarnya.


"Hah?!"


"Ada lagi yang bisa dibantu?"


"Eng-enggak, Sus, terimakasih."


Medina mundur beberapa langkah, menuju sebuah deretan kursi kosong. Kakinya semakin terasa lunglai, nafasnya seakan terjeda beberapa detik untuk mencerna semua yang baru saja dia dengar.


Medina menundukan kepalanya yang tiba-tiba berat seolah ditimpa batu sebesar gunung, pandangannya kosong. Walaupun keberadaan Mariam sudah bisa dipastikan, sudut hatinya yang egois masih berharap kehamilan Mariam itu hanya gosip.


Cukup lama untuk Medina diam, namun untuk bernafas normal saja dia belum berani. Pandangannya sayu menyapu sekitar ruangan dengan beberapa orang yang hilir mudik, mencoba meraba situasi, benarkah ini nyata? Atau hanya mimpi?


Medina menyesali keberanian yang sejak kemarin coba dia kumpulkan. Keberanian yang mungkin membawanya pada kenyataan yang pahit. Tubuhnya bersandar lunglai bagai tak bertulang, perlahan Medina mengangkat sudut bibirnya, tersenyum dengan kecut.


"Sudah sejauh ini, aku tidak boleh berhenti!"


Medina mengusap peluh dingin di wajah ayunya, tabir kenyataan di depannya menunggu untuk disingkap. Medina merasa tidak boleh kehilangan kesempatan. Setelah mengusap perutnya beberapa kali, Medina kembali bangkit dengan kekuatan seadanya dan tekat yang kembali membulat.


Langkah demi langkah Medina menyusuri lorong dan menuju ruang tempat Mariam di rawat. Kebisingan di sekitarnya seolah hilang ditelan suara degup jantung dan nafasnya sendiri.


Medina akhirnya sampai, pintu ruangan tertutup namun Medina dapat mengintip seseorang sedang terbaring lemah dari kaca kecil di pintunya. Sejenak Medina ragu, tangannya gemetar ketika hendak mulai mengetuk. Rasa takut dan penasaran bercampur aduk membuatnya tidak karuan.

__ADS_1


Medina kembali menarik tangannya, mencoba mengatur nafas, dan kembali menyusun kekuatan hati dan mentalnya.


"Bissmillahirohmanirohim, apapun yang ada di depan sana, aku siap!"


Medina meraih gagang pintu dan sekali lagi menguatkan diri untuk memutarnya.


"Assalamualaikum!" ucapnya.


Hening. Tidak ada jawaban. Medina masuk, dan mendekat ke sosok yang terbaring dengan infus di tangannya. Tidak ada yang menunggu, dia seorang diri di ruangan ini. Wajahnya masih terhalang karena menghadap ke arah yang berlawanan dengan arah datangnya Medina.


Derap sepatu Medina menggema memecah keheningan. Semakin dekat.


Medina menemukan wajah yang dia cari.


"Mba Mariam," gumam Medina lemah.


Air matanya luruh menyaksikan mantan madunya terkapar tidak berdaya. Wajahnya pucat, ada cekungan hitam di bawah matanya yang masih terpejam, rambutnya pun terikat ala kadarnya.


Medina mengambil kesempatan untuk meraih selimut yang menutupi tubuh Mariam. Dengan sedikit gemetar Medina menyingkapnya, perlahan, sampai akhirnya sedikit terbuka dan cukup baginya untuk melihat rupa perut Mariam.


Sedikit menyembul, meski tertutup baju yang Mariam kenakan tapi Medina paham apa artinya.


Dunia seakan runtuh, suara Medina tercekat, nafasnya sesak dan hanya air mata yang terus mengalir tanpa bisa bersuara.


"As-astagh-astaghfirullohaladzim ... !!!"


Tubuh Medina limbung seluruhnya, dia jatuh terduduk di samping ranjang Mariam. Dengan cepat dia menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya sendiri agar Mariam tidak terbangun.


"Astaghfirullohaladzim ... haaaaaaaa ... hhhsssskkk!!! Ya Alloh ... hhhhhhsssskkkk!!!"


"Tante Medina!" panggil Teh Desi yang baru datang.


Teh Desi terkejut dengan keberadaan Medina, sejenak dia menatap Mariam dan melihat selimutnya terbuka. Teh Desi dengan sigap kembali menutupnya.


Teh Desi berjongkok, meraih kedua pundak Medina yang terduduk di lantai. Teh Desi paham apa yang terjadi. Teh Desi segera membimbing Medina untuk bangun dan duduk di sofa di sudut ruangan, dan dengan cekatan mengambilkan segelas air putih dan menyuapkannya pada Medina.


"Minum dulu Tante," ucap Teh Desi.


Teh Desi begitu iba melihat kondisi Medina yang kesusahan bernapas saat itu. Tangannya mengusap-ngusap punggung Medina untuk membantunya menenangkan diri.


"Tenang dulu Tante, pelan-pelan, coba atur nafasnya," bimbing Teh Desi. Medina pun menuruti anjuran Teh Desi. Dadanya begitu sesak.


"Tante Medina kenapa? Kenapa bisa ada disini? Tante Medina sendirian?"


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2