Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Perjalanan Kembali


__ADS_3

Keesokan paginya Mariam, Medina, dan Musa bersiap-siap untuk segera berangkat. Setelah drama panjang mual pagi hari yang di alami Medina. Bu Aini sempat meminta mereka menunda perjalanan hingga Medina membaik, tapi Medina menolak dengan alasan suaminya telah banyak mengambil cuti.


Akhirnya mereka berangkat setelah hari menjelang siang dan Mba Lastri ikut bersama mereka seperti perintah Bu Aini. Perjalanan tidaklah mudah karena mabuk yang dialami Medina kian memburuk sepanjang perjalanan. Berkali-kali mereka berhenti hanya untuk memberi jeda pada penderitaan Medina.


"Bagaimana ini Zan, apa mau diteruskan?" tanya Mariam pada Musa.


"Kita pelan-pelan aja ya," jawab Musa.


"Biar aku aja yang nyetir, kamu temani Medina di belakang, siapa tahu suasana hatinya membaik dan mualnya juga membaik," usul Mariam.


"Apa kamu bisa, Mar?" tanya Musa ragu.


"Bisa."


"Nggak usah lah, kita pelan-pelan aja," tolak Musa pada usul isterinya.


"Zan, perjalanan kita masih jauh. Biar Mbak Lastri di depan sama Okta, kamu di belakang bantu Medina, usap pinggang dan punggungnya, itu akan sedikit mengurangi mabuknya. Aku bisa kok nyetir, mau pelan-pelan juga sama aja memperlama penderitaan Medina," ucap Mariam memaksa.


Musa merasa ucapan Mariam benar, Musa menatap ragu pada Mariam telah menadahkan tangan di depannya, Musa meraba saku kemejanya kemudian memberikan kunci pada Mariam.


'Bagaimana mungkin membiarkan Mariam menyetir jarak jauh begini? Sementara dia masih punya trauma pada jalanan.' batin Musa.


"Sudah, percaya aku bisa. Dulu Mas Bian sering mengajakku ke luar kota dengan mobil kantornya, dan Mas Bian mengajariku menyetir."


"Maaf Mariam, harusnya aku tadi pakai supir," sesal Musa.


Medina sedang menikmati udara segar di sebuah rest area bersama Oktavia dan Mbak Lastri, angin kencang membuat udara begitu sejuk dan bisa sejenak meredakan mualnya. Dia menatap Musa dan Mariam sedang berbincang serius di kejauhan.


Dia tersenyum mengingat perbincangan dan malam hangat bersama Musa semalam. Dia meraba hatinya, yang bahkan masih merasakan debaran yang sama walaupun hanya dengan mengingatnya. Medina telah benar-benar merasakan cinta yang tulus dari hati suaminya.


"Mbak Lastri, Okta ... ayo kita ke mobil!" ajak Medina melihat Mariam sudah bersiap-siap.


"Ayo Tante," sambut Okta.


Mereka berjalan beriringan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan yang bahkan belum setengahnya.


"Mbak Lastri di depan aja ya sama Oktavia," ucap Mariam.


"Iya Mba," sahut Mbak Lastri.


Mariam naik di kursi supir dan membuat Medina bertanya-tanya. Tapi melihat kode jari telunjuk di bibir suaminya dia memutuskan untuk tidak bertanya dia dan mengikuti saja.


Sepanjang perjalanan Musa selalu mengusap punggung hingga pinggang Medina yang duduk memeluk bantal sambil memunggunginya. Benar, mabuknya cukup berkurang sehingga perjalanan berjalan lancar.


Meskipun tangan dan tubuh Musa selalu ada pada Medina tapi mata dan pengawasannya tidak pernah lepas dari Mariam. Dan Mariam berhasil membuktikan kemampuannya dan keberhasilannya melawan trauma.


Di sisi lain Medina juga memperhatikan gerak gerik suaminya yang terlihat cemas dan tegang. Medina tahu perhatian suaminya terbagi padanya dan pada Mariam. Bahkan sangat jelas di matanya mulut Musa yang terus melantunkan doa.


Medina juga menyadari betapa hebatnya Mariam karena bisa diandalkan dalam segala situasi. Banyak PR yang harus Medina benahi dari dirinya agar bisa sehebat Mba madunya.


Medina berbalik menatap suaminya, dan memegang tangan Musa.


"Mba Mariam hebat ya, Mas!" bisik Medina, "Sudah jangan khawatir." Medina mencoba menenangkan Musa.


"Iya, Dek! Kamu udah enakan?"

__ADS_1


"Udah Mas, makasih ya, ternyata si dede mau dimanja sama abinya."


"Alhamdulillah," ucap Musa sambil tersenyum.


Perjalanan pun berlanjut, melewati jalan tol yang cenderun lengang. Okta tertidur lelap di pangkuan Mba Lastri. Begitu juga Medina dan Musa yang ketiduran dengan saling menyandar. Mariam melihat pemandangan itu dari sepion mobil di depannya.


Ada rasa cemburu yang berdesir dan merasuk ke dalam hatinya. Perasaan aneh yang membuat hatinya merasa sakit. Mati-matian dia lari dari cinta pertama yang telah gagal, menikah dengan orang yang saat itu bahkan belum dia cintai, hanya untuk membantunya lari sejauh mungkin.


Sekarang, takdir itu hadir memaksanya untuk masuk ke dalam sebuah ikatan poligami. Kata orang cinta pertama tidak pernah berhasil, begitupun baginya. Dia gagal lari, namun gagal pula memiliki dalam arti yang sebenarnya.


'Jangan pernah merasa kurang, aku akan tetap mencintaimu.'


Mariam kembali terngiang pesan misterius sosok yang menyerupai almarhum suaminya semalam, mungkinkah maksudnya adalah agar dia tidak perlu cemburu? Mariam kembali meraba pundaknya, dimana tangan Mas Bian semalam menepuk dan membuatnya tenang.


Mariam berpikir keras.


'Kamu hebat Medina, kamu mencintai suamimu namun memaksa suamimu menikahiku, aku yakin hal ini bukan perkara mudah.'


'Apa aku bisa?'


'Jika kamu sudah hamil saat itu, apakah kamu masih melakukan pengorbanan yang sama?'


'Harusnya aku tidak pernah kembali ke kampung, agar perasaan ini tidak bangkit lagi,' batin Mariam penuh sesal.


'Ah, tidak! Harusnya merekalah yang tidak datang ke tempat dimana aku berhasil sembunyi.'


"Mba!" panggil Mba Lastri pada Mariam.


"Eh-iya Mba Lastri," sahut Mariam terkejut.


"Iya, Mba Lastri."


Usia Mba Lastri 10 tahun di atas Mariam dan Musa, di usianya mungkin lebih cocok dipanggil Bu Lastri tapi karena panggilan mba sudah melekat padanya dari dulu dia tetap awet muda dengan panggilan Mba Lastri.


"Mba Mariam hebat ya sekarang, jarang lho ada perempuan bisa nyetir sendiri, aku dulu liat kecilnya Mba Mariam gimana, sekarang udah jadi perempuan hebat."


"Kalau di kota udah biasa Mba Lastri, ini juga diajari sama almarhum suami dulu. Katanya kalo nanti udah kebeli mobilnya aku bisa jalan-jalan sendiri, tapi ya sudahlah, hanya kenangan Mba Lastri," kenang Mariam.


"Maaf ya Mba, jadi bikin sedih Mba Mariam."


"Nggak papa Mba Lastri, hidup harus terus berjalan."


"Tapi Mba Mariam beruntung, sekarang malah jadi isterinya Mas Mizan, Mba juga tahu dulu kalian pacaran jaman kecilnya suka diejek sama teman-temannya, siapa itu Ridwan cs, Mizan ... Mariam ... Mizan ... Mariam."


"Hahaha ... Mba Lastri inget aja, jadi malu aku."


Untuk pertama kalinya Mariam bisa berbagi sedikit kisahnya tanpa air mata. Tapi, pernikahan yang membelenggunya dianggap orang lain sebagai keberuntungan. Percuma menjelaskan hatinya yang mulai terluka karena lancang membuka hati pada kisah yang lama.


"Mba Lastri juga hebat, bisa membesarkan 3 orang anak seorang diri," ucap Mariam.


"Makanya aku bilang Mba Mariam orang yang beruntung, nggak kaya aku nih, mana ada yang mau sama janda dengan anak banyak, dulu masih kecil-kecil lagi. Untungnya ada Bu Aini yang mau memakai tenagaku, kalau enggak anak-anak pasti kelaperan dan nggak tahu masa depannya gimana," tutur Mba Lastri.


"Bu Aini orang yang baik, anak saya di pesantrenin semua sekarang, aku juga beruntung ding, bisa meneruskan hidup berkat kebaikan Bu Aini," lanjut Mba Lastri sambil tersenyum.


Mba Lastri juga kehilangan suaminya, sama seperti Mariam. Mungkin karena latar belakang yang sama mereka akhirnya cocok dan saling menghibur.

__ADS_1


'Kamulah yang lebih beruntung Mba Lastri, Bu Aini membantu pendidikan anak-anakmu tanpa harus mengikatmu dengan pernikahan," batin Mariam.


"Kasian Bu Aini kesepian, kedua anaknya malah merantau semua, paling Bu Aini cuma bisa gendu-gendu rasa sama Bapak. Cucu Bu Aini dari Mas Harun juga cuma bisa sedikit bicara bahasa indonesianya, jadi kadang kalau telponan susah ngobrolnya."


"Iya Mba, tapi sebentar lagi kan Bu Aini punya cucu yang di sini."


"Iya sih Mba, tapi Oktavia kan juga cucunya Bu Aini, Bu Aini sayang banget lho sama Okta, Bu Aini sering bilang nanti kalo udah gede mau di pesantrenin di tempat yang bagus, Mba."


"Oh iya?"


"Iya Mba Mariam, mudah-mudaha calon bayi Mba Medina sehat terus dan lancar sampai lahiran, Aamiin."


"Aamiin."


Diam-diam Musa mendengarkan obrolan mereka dari belakang, rupanya dia telah terbangun dan dia sengaja pura-pura tidur karena mendengar tawa Mariam yang lepas saat bicara dengan Mba Lastri. Musa tidak ingin mengganggu, dan membiarkan Mariam dengan bebas berbincang tanpa beban. Terkadang orang yang paling mengerti luka adalah orang dengan luka yang sama.


'Pak Bian, terimakasih karena membuat Mariamku menjadi luar biasa,' batin Musa.


🍀🍀🍀


Mobil masuk di sebuah rest area, waktu sudah menjelang petang. Perjalanan mereka memakan waktu hampir dua kali lipat, dan entah harus sampai kapan, kalau Mariam tidak memaksa untuk menyetir.


"Terimakasih Mariam," ucap Musa.


"Nggak usah berterimakasih," jawab Mariam dingin sambil berlalu meninggalkan Musa.


Diam-diam Medina memperhatikan mereka berdua.


"Mas, ada masalah sama Mba Mariam? Apa dia marah karena Mba Mariam harus menyetir?" tanya Medina.


"Nggak Dek, bukankah Mariam memang selalu begitu."


"Hem, iya. Sabar ya Mas, pasti suatu saat hati Mba Mariam akan kembali terbuka."


'Terbuat dari apa hatimu, Dek? Mariam saja merasa sakit ketika harus berbagi, kenapa kamu bisa?' batin Musa.


"Ayuk Mas kita sholat dulu, nanti Mas Musa aja yang nyetir, Medina udah baik-baik aja kok. Lagian sebentar lagi nyampe, kasian Mba Mariam."


"Iya, Dek."


'Mariam ... kalau saja membuka hati untukku malah membuatmu sakit, lebih baik tutup saja. Biarkan aku menjagamu tanpa harus kamu balas dengan rasa,' batin Musa.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2