Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Mariamku, Istriku.


__ADS_3

"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”


Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan Mariam dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekan Mariam dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya.


Kucium keningnya, hal yang sangat kuinginkan walau hanya di dalam mimpi, tapi sekarang Mariam benar-benar menjadi milikku. Hatiku bahagia dipenuhi rasa syukur yang luar biasa, hasrat yang sekian lama coba kuhapus dan lupakan kini bebas terekspresikan dalam ikatan yang halal.


Kutatap mata Mariam, terlihat sangat kontras dengan apa yang kurasakan, kosong, dia tidak sebahagia diriku.


"Tersenyumlah Mariam! Bukan untukku, tapi untuk semua yang berbahagia dengan pernikahan ini."


Mariam, untuk sekedar tersenyum pun kamu harus diminta. Aku sangat prihatin pada luka batinnya, sekarang aku ada untuk menyembuhkan luka itu. Percayakanlah penderitaanmu padaku, Mariam, istriku.


Aku memutar menyalami keluarga yang hadir, saat menyalami orang tua almarhum Pak Biantara mereka memelukku erat, menangis perpaduan sedih dan juga terharu, mereka mempercayakan cucunya padaku. Aku berjanji akan melindungi dengan sepenuh hati.


Kemudian sampailah aku pada Medina, aku tahu ini berat untuknya tapi dia bersedia berkorban.


"Selamat Mas, Medina harap setelah ini Mas akan bahagia," ucapnya dengan suara yang bergetar, senyum palsu menghiasi wajahnya yang sembab itu.


"Mas selalu bahagia, Dek, terimakasih, Alloh telah menjanjikan pahala yang besar bagi istri yang sabar sepertimu." Kucium keningnya berharap bisa membantu menguatkan hatinya.


"Medina juga bahagia," ucapnya kemudian.


...


Rumah kembali sepi setelah satu persatu keluarga berpamitan pulang. Kuhampiri Mariam yang duduk terdiam di sisi ranjang. Sesuai permintaan Mariam tempo hari, semua perabot di kamar ini sudah diganti dengan yang baru. Ibuku langsung memenuhi permintaannya dengan senang hati.


"Assalamualaikum ...."


"Wa-walaikumsalam," jawab Mariam, matanya terus berusaha menghindariku.


"Jadi ... ? Kita mulai dari mana?" tanyaku buntu dengan sikap Mariam yang dingin, aku ingat dia memang sedikit jutek, sifat yang membuatku amat penasaran padanya, cikal bakal perasaan yang tumbuh begitu dalam.


"Jangan berharap lebih, aku melakukan semua ini untuk Oktavia!" jawabnya dingin.


"Jadi, aku sekarang bisa dipanggil Papa juga?" tanyaku berusaha mencairkan sikap Mariam.


"Papanya cuma ada satu,"


"Berarti aku, Abi? Boleh aku meminta Oktavia memanggilku Abi mulai sekarang?"

__ADS_1


"Terserah."


Aku memberanikan diri duduk di sampingnya, dia terlihat risih dan membuang pandanganya ke arah lain. Kucoba meraih tangannya, namun dengan satu kali hempasan Mariam menolakku.


"Jangan macam-macam Zan, aku-aku belum bisa melakukannya," gertak Mariam.


"Tapi aku suamimu," kembali kuraih tangan Mariam dengan sedikit paksaan, "Aku akan menunggu sampai kamu siap, tapi ... aku mohon, jangan bersikap dingin seperti ini!" Akhirnya dia menyerah membiarkanku menggenggam tangannya sambil matanya terus mengawasiku.


"Mariam, istriku ... aku tahu semua yang terjadi enggak mudah buat kamu. Aku juga tidak pernah sekali pun berani ingin memilikimu, walau dalam mimpi, karena aku sudah yakin, kamu hidup bersama orang yang tepat. Sekarang, Alloh kembali menjodohkan kita dalam ikatan halal seperti keinginan kita dahulu, sejauh apapun kita berpisah, kalau Alloh sudah menakdirkan kamu menjadi milikku, pasti kamu akan kembali."


"Jangan menangis, Mariamku!" untuk pertama kali, aku berhak menghapus air mata di pipinya.


"Air matamu adalah sumber deritaku, aku mohon jangan menangis lagi. Semua ini sudah digariskan, berhenti menyalahkan waktu atau pun keadaan."


Mariam justru semakin tergugu, aku tidak mengerti dirinya. Aku mendekatkan diriku dan memeluknya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bebas menikmati perasaan ini, tanpa harus kutepis atau kuredam.


"Menangislah sepuasmu, tapi berjanjilah ini adalah terakhir kali kamu meratapi diri."


Aku menikmati tangisan Mariam, kupastikan rasa sakit yang menguap dari tangisnya akan kuserap habis dan akan kuganti dengan kebahagiaan. Aku tidak mau lagi lemah karena ketidakberdayaanku melihat rasa sakitnya, aku akan menjadi pelindungnya.


"Muali sekarang aku melarangmu membicarakan Mas Bian, aku ingin lupa!" ucap Mariam dengan suara seraknya, matanya menatap mataku, dia tegas dan sudah memutuskan.


"Bukan karenamu, karena aku ingin hidup yang baru," tambahnya lagi.


"Iya Mariam, apapun untukmu. Tapi, jangan terlalu memaksakan diri, mengalirlah apa adanya agar tidak terlalu sakit."


"Kesakitan mana yang belum aku hadapi? Aku tidak takut sakit, aku seperti orang yang sudah bangkit dari kematian."


"Mariam, jangan pernah sekali pun berburuk sangka pada takdir Alloh! Kamu boleh bersedih tapi jangan buat hatimu mengeras!"


"Mariam, lihat aku! Percayalah! sekali lagi, aku mohon!"


Sorot mata Mariam mulai mencair, aku ingin segera menggantikan kesedihan yang sudah bersarang sekian lama di matanya. Aku ingin permata kebahagiaan yang kembali terpancar dari matanya.


"Sekali lagi Mariam! Cintai aku! Maafkan aku! Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku di masa lalu."


"Berhenti berjanji, kamu sedang bahagia, sekarang kamu memiliki dua istri, bagaimana kamu akan berbagi?"


"Aku akan berusaha seadil mungkin, padamu dan juga Medina. Aku tidak mungkin seberani ini kalau bukan karena dirinya, aku harap kamu mengerti Mariam, aku mencintaimu tapi tidak bisa melepaskan Medina."

__ADS_1


"Medina begitu naif, cintanya buta padamu. Aku sempat merasa begitu kesal karena dia terlalu mengusik kehidupanku."


"Medina begitu sabar menghadapiku, suami yang selalu menyebut nama wanita lain hampir di setiap malamnya."


"Kenapa?"


"Aku ... mencintaimu Mariam!" ungkapan perasaan yang akhirnya bisa tercurahkan dengan bebas pada Mariam, sumber cintaku. Betapa bahagianya aku saat ini.


Butiran bening kembali menetes dari sudut mata Mariam.


"Kamu adalah wanita yang sangat aku dambakan, aku ingin memilikimu bukan karena nafsu, tapi karena aku menyayangimu, aku ingin kamu Mariam, bahkan di alam bawah sadarku, hanya ada namamu."


"Perasaan ini tumbuh begitu liar, semakin aku berusaha melupakannya justru terasa begitu menyiksa."


"Kamu masih pandai merayu," ucap Mariam.


"Apa ini pujian?"


"Bukan. Aku nggak nyangka kamu masih memiliki perasaan itu."


"Aku berkata jujur, lebih tepatnya ... aku sedang mengakui kelemahanku."


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Silahkan!"


"Apa benar kamu akan mencintai Oktavia seperti anakmu sendiri? Kamu bukan cuma menginginkanku kan? Aku sudah sepaket sekarang, kamu harus ingat."


"Aku janji Mariam, sebenarnya Medina menginginkan untuk segera hamil. Tapi, Qodarulloh ... kita memang belum diberi kepercayaan, Medina sangat menyayangi Oktavia, begitu juga aku, aku tidak sabar melihatnya tumbuh, pasti dia sangat mirip denganmu yang dulu."


Mariam akhirnya mengangkat sedikit kedua sudut bibirnya, dia tersenyum di malam pertama kali. Senyum yang dengan bebas bisa aku nikmati dengan halal. Aku mencintaimu Mariam.


"Terimakasih!"


Aku menghabiskan malam panjang bersama Mariam dengan bersholawat, begitu panjang jalan kami untuk bisa bersatu. Masing-masing dari kita harus memutar jauh melewati takdir yang lain sebelum akhirnya bisa menikmati kebersamaan ini.


Aku harap, Medina baik-baik saja sekarang.


.....

__ADS_1


__ADS_2