
Hari ini, rencananya Chand dan Ghendis akan mengunjungi kantor percetakan untuk membuat kartu undangan. Lagi-lagi, kepala Chand terasa berdenyut kencang, saat dia selesai memarkirkan kendaraan di halaman depan kediaman Susena. Chand memilih untuk tak segera keluar dari mobil. Dia ingin merelaksasi diri terlebih dulu. Memejamkan mata sambil mengirup udara sebanyak-banyaknya. Sesaat kemudian, pria tampan itu lalu mengembuskan napas perlahan dan teratur hingga beberapa kali, hingga dia merasa jauh lebih tenang.
Namun, ketenangan yang Chand rasakan ternyata tak dapat bertahan lama. Kepalanya kembali berdenyut kencang, ketika mendengar suara ketukan di kaca jendela mobil. Chand yang saat itu dalam posisi bersandar sambil terpejam, kemudian membuka sebelah matanya. Dia melirik ke arah suara tadi.
Dari balik kaca jendela mobil, telah berdiri seorang gadis cantik yang tak lain adalah Gendhis. Kali ini, penampilan gadis itu tampak jauh lebih normal. Dia mengenakan celana jeans sobek-sobek yang dipadukan koas oblong oversize. Gendhis mengikat rambutnya asal-asalan dan tak terlihat rapi, hingga sebagian terjatuh begitu saja menutupi leher. Satu tali ransel kecil yang selalu menjadi teman setianya pun tersampir di pundak sebelah kanan. Gendhis terus mengetuk kaca jendela, hingga Chand membuka kunci dan membiarkannya masuk.
“Hai. Selamat siang,” sapa Gendhis hangat dan ceria. Senyuman lebar terlukis indah di wajahnya, saat dia duduk dan memasang sabuk pengaman.
“Siang,” balas Chand seperlunya. Tanpa berbasa-basi, dia kembali menyalakan mesin mobil.
“Papa titip salam buat kamu sama Tante Kalini,” ucap Gendhis berbasa-basi.
“Terima kasih. Nanti aku sampaikan,” sahut Chand tanpa menoleh kepada Gendhis. Dia melajukan kendaraannya keluar dari halaman.
Saat mobil yang dikendarai Chand sudah berada di jalan raya, Gendhis tampak mengeluarkan ponsel. Dia lalu mengambil beberapa foto dirinya dengan Chand yang sedang fokus mengemudi. Pria tampan tersebut tak memedulikan sama sekali apa yang Gendhis lakukan. Chand terlalu malas untuk bertegur sapa dengan gadis yang terlihat aneh bagi dirinya.
“Oh ya, Chand.” Gendhis memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia lalu menoleh kepada pria tampan di balik kemudi. “Kita mau ke mana sih sebenarnya?” tanya Gendhis memastikan.
“Bukannya mamaku sudah memberitahumu kemarin?” Chand balik bertanya. Namun, dia masih tak berminat memperlihatkan paras tampannya kepada Gendhis. Dia bahkan menyembunyikan tatapan teduhnya di balik kacamata hitam.
Sementara Gendhis mengembuskan napas pelan. Dia menyandarkan kepalanya, lalu kembali melirik Chand. “Iya, aku tahu itu. Maksudku, apa kita benar-benar akan pergi ke percetakan untuk membuat kartu undangan. Masalahnya adalah aku sama sekali belum menyusun siapa saja dan berapa banyak tamu yang akan diundang.” Gendhis menyentuh pangkal hidungnya.
“Kalau begitu kamu kira-kira saja,” sahut Chand enteng. “Aku tidak mau ada masalah dengan mama.”
“Apanya yang dikira-kira? Mana boleh seperti itu,” tolak Gendhis.
“Terserah kamu. Jangan lupa. Kita hanya punya waktu dua minggu hingga ke hari baik.” Chand masih fokus pada kemudi.
__ADS_1
“Lalu kartu undangannya bagimana?”
“Formalitas saja,” jawab Chand enteng.
“Formalitas bagaimana? Maksudku … kita akan membuat kartu undangan seberapa banyak?”
“Pesan saja seperlunya,” jawab Chand malas.
“Lalu?” tanya Gendhis tak mengerti.
“Kamu bagikan. Gampang kan?” jawab Chand enteng.
“Ke siapa?”
“Ke seluruh Indonesia jika kamu merasa sebagai orang penting.” Chand mengerem kendaraan yang sedang dilajukannya. Saat itu lampu merah tampak menyala. Pria tampan tersebut tak bicara lagi.
Gendhis memperhatikan pria dengan t-shirt lengan panjang berwarna hitam yang terus memasang raut serius. Gadis itu melihat sepasang sepatu yang Chand kenakan, kemudian beralih pada celana jeans. Semuanya terlihat sangat normal jika dibandingkan dengan penampilannya yang cenderung cuek. Sesaat kemudian, Gendhis kembali memperhatikan pria tampan di sebelahnya. Bagian lengan baju yang Chand kenakan, sengaja dinaikkan hingga tiga per empat. Memperlihatkan tangan dengan kulit bersih terawat dan dihiasi bulu-bulu halus yang cukup banyak. Begitu juga dengan urat-urat menonjol di punggung tangan yang tengah memegangi kemudi.
“Apa kamu punya pacar rahasia, sehingga tidak terlalu menyetujui perjodohan ini? Alasan itu akan jauh lebih baik ketimbang karena kamu tidak tertarik dengan perempuan,” celetuk Gendhis, membuat Chand semakin malas untuk menanggapinya. Putra sulung Kalini tersebut hanya menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada lalu lintas, karena lampu hijau sudah menyala. Selama dalam perjalanan hingga tiba di percetakan yang dimaksud, Chand masih tak banyak bicara. Pria tampan itu bahkan keluar dengan begitu saja dari kendaraan, tanpa berbasa-basi sama sekali.
“Ya, ampun. Giliran dapat jodoh model beginian,” ucap Gendhis pelan. Dia melepas sabuk pengaman, lalu keluar dari mobil. Dia menghampiri Chand yang sudah menunggunya. Gendhis sempat melihat spanduk besar yang bertuliskan nama percetakan pilihan Chand. Hasan’s Printing.
“Ayo,” ajak Chand. Tak seperti pasangan lain yang akan melangsungkan pernikahan. Chand sama sekali tak memiliki hasrat untuk sekadar menuntun tangan Gendhis. Dia berlalu begitu saja, dan membiarkan gadis itu mengikutinya. Di dalam sana, Chand langsung menemui seorang pria yang tengah sibuk di belakang layar computer. “Siang, Mas,” sapa Chand.
“Siang juga, Mas. Ada yang bisa dibantu?” balas pria tadi. Dia menghentikan sejenak pekerjaannya, kemudian mendekat kepada Chand dan Gendhis.
“Kami ingin mencetak kartu undangan di sini. Apa bisa?” tanya Chand tanpa banyak basa-basi.
__ADS_1
“Untuk kapan ya, Mas?” tanya pria itu lagi.
“Satu minggu lagi. Maaf karena ini pernikahan mendadak,” jawab Chand beralasan.
Si pria tak segera menjawab. Dia mengarahkan pandangan kepada Gendhis yang mengenakan kaos oversize. Pria itu manggut-manggut. “Memangnya berapa banyak, Mas?”
Chand segera menoleh kepada Gendhis. Sementara gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya. “Kira-kira saja,” ujar Gendhis.
“Coba kamu kira-kira,” balas Chand.
“Astaga.” Gendhis berdecak pelan. “Mana aku tahu berapa jumlah keluarga, teman, dan kolega, yang akan kamu undang.”
“Ya sudah. Sekarang hitung dulu perkiraan dari pihak kamu. Nanti kita satukan dengan punyaku,” ujar Chand seraya memijit pelipisnya.
“Sabar, Mas. Sebaiknya bicarakan dulu baik-baik,” saran si pria yang ada di percetakan itu. “Kalau bicara dengan wanita yang sedang hamil memang harus pelan-pelan, Mas. Mereka jauh lebih sensitif. Istri saya juga begitu,” celotehnya membuat Chand dan Gendhis seketika saling pandang.
“Hey, Mas Hasan! Jangan sembarangan ya! Memangnya siapa yang sedang hamil?” tunjuk Gendhis tak terima.
“Maaf, Mbak. Saya pikir, Mbak sedang hamil.” Si Pria tersenyum malu. “Lagi pula, Hasan adalah nama pemilik percetakan. Nama saya Dedi. Saya cuma karyawan di sini,” ralatnya.
.
.
.
hai, hai, sekilas ingpoh. mampir dulu yuk di karya keren yang satu ini
__ADS_1