
Manggala menginap di rumah Gendhis selama satu malam. Keesokan paginya, dia meminta sang kekasih untuk menemani menjenguk Susena ke rumah sakit. Hal itu dilakukan sebelum dirinya kembali ke Bandung siang itu juga.
“Selamat pagi, Om Susena. Selamat pagi, Nek,” sapa Manggala dengan sikapnya yang begitu sopan. Namun, ayahanda Gendhis yang sebenarnya tak sakit apa-apa itu menyambut calon menantunya dengan sikap dingin, tak seperti biasanya. Begitu pula Nenek Sri yang langsung membuang muka.
“Pagi,” balas Susena singkat. Hal tersebut membuat Gendhis curiga. Dia memperhatikan Nenek Sri dan Susena secara bergantian. Ibu dan anak itu bersikap aneh, sehingga membuat Gendhis merasa penasaran.
Gendhis kemudian beringsut ke samping sang ayah. Dia membisikkan sesuatu di telinga pria paruh baya itu. “Pa, kok gitu? Yang bagus dong sambutannya,” pinta Gendhis pelan.
“Buat apa? Utari udah cerita tentang semuanya,” sahut Susena ketus.
“Ya, ampun, Pa,” Gendhis menepuk dahinya pelan, lalu beralih pada Manggala yang tampak kebingungan.
“Eh, Om,” pria tampan berambut gondrong itu berusaha mencairkan suasana. “Saya membawakan sesuatu untuk Om,” ujarnya. Manggala maju sambil membawa paper bag, lalu mengeluarkan isinya ke atas nakas. “Lilin aromaterapi dan … ini,” Manggala merogoh benda terakhir dari dalam paperbag, berupa bantal pijat elektrik berukuran kecil.
“Wah,” Susena sedikit tertarik. Namun, dia teringat akan aduan Utari. Pada akhirnya, Susena kembali menekuk muka. “Taruh saja di situ,” ucap pria paruh baya itu dingin.
“Ya, ampun, Pa,” Gendhis mengeluh pelan. Dia juga tak enak dengan Manggala yang jauh-jauh datang ke Yogyakarta, tetapi tak mendapatkan sambutan yang semestinya. “Asal papa tahu, ya. Gendhis masih suci, bersih dan belum ternoda. Gendhis berani bersumpah!” tegas Gendhis.
Manggala sempat terkejut dengan kata-kata sang kekasih. Dia menoleh pada Gendhis seakan meminta penjelasan. Sementara Gendhis langsung menanggapinya dengan isyarat tangan.
Mendengar penuturan Gendhis, raut wajah Susena seketika berubah. “Yang benar, Dhis? Terus yang Utari bilang tadi malam itu apa?” cecarnya antusias.
“Utari cuma salah paham, Pa. Gendhis belum sempat ngomong, dia keburu cerita sama Papa,” gerutu Gendhis.
“Oh, syukurlah kalau begitu. Anak papa masih bisa menjaga dirinya,” Susena tertawa lebar. Dia juga melambaikan tangan pada Manggala agar mendekat. Ayo, ajarin papa caranya memakai bantal pijat ini,” suruhnya.
“Baik, Om,” Manggala tersenyum lebar. Dia kini bisa bernapas lega. Akan tetapi, hal itu tak berlangsung lama. Saat Manggala menempelkan bantal pijat ke tengkuk Susena, pria yang sudah berusia separuh abad itu kembali menatap tajam pada calon menantunya.
“Dengar ya, Anak Muda. Kamu boleh menilai bahwa saya adalah seorang yang kolot. Akan tetapi, bagi saya seorang laki-laki yang bertanggung jawab itu adalah seorang yang wajib menjaga wanitanya hingga benar-benar telah sah di mata agama dan hukum negara,” tegas Susena.
“Saya mengerti sepenuhnya, Om. Saya akan menjaga kepercayaan yang telah Om berikan,” timpal Manggala dengan sikap yang begitu tenang dan kalem.
“Nah, bagus,” Susena terkekeh seraya menepuk-nepuk lengan kekar Manggala. “Sekarang pijitin leher dan pundak saya,” titah Susena seenaknya.
Suasana saat itu pun kembali hangat dan ceria. Manggala tak henti-hentinya tertawa atas candaan Susena yang sebenarnya garing. Semua terlihat begitu bahagia sampai tiba waktunya Manggala harus mengejar pesawat ke Bandung. Dia terburu-buru berpamitan pada Susena dan segera memesan taksi menuju bandara. Gendhis sendiri ikut berpamitan pada sang ayah untuk mengantarkan Manggala.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju bandara, tak banyak yang dibicarakan oleh kedua sejoli itu. Manggala lebih banyak terdiam dan melamun.
“Kamu mikir apa, Ngga?” tanya Gendhis lembut sambil mengusap bahu sang kekasih. “Apa kamu terbebani dengan kata-kata Papa tadi?”
“Oh, nggak, Dhis. Itu bukan masalah buatku,” Manggala menoleh dan tersenyum lembut pada Gendhis. Dia bahkan mencium bibir Gendhis tanpa mempedulikan bahwa ada seorang makhluk lainnya di sana, yaitu sopir taksi.
“Aku serius sama kamu. Apapun syarat untuk mendapatkan dirimu, akan selalu kupenuhi sepenuh hati,” ujar Manggala.
“Jadi … kamu nggak keberatan dengan permintaan Papa tadi? Sebab itu artinya kamu nggak boleh lagi menyentuh aku sampai kita sah menjadi suami istri,” tutur Gendhis ragu.
“Sama sekali tak masalah, asal aku masih bisa begini,” Manggala mendekatkan wajah, lalu mencium bibir Gendhis untuk kesekian kalinya. Hal itu terus berlangsung sampai taksi yang mereka tumpangi, tiba di bandara Adisutjipto.
“Kamu kapan balik ke Bandung?” tanya Manggala seraya membelai pipi mulus Gendhis, sesaat setelah mereka turun dari taksi.
“Secepatnya, Ngga. Sabar, ya,” jawab Gendhis.
“Oke, aku akan selalu sabar menunggu,” Manggala merentangkan tangan sebelum memeluk Gendhis erat-erat. “Ingat ya, Dhis. Saling menjaga kepercayaan,” ujarnya kemudian.
“Siap, Ngga. Saling menjaga kepercayaan,” ulang Gendhis sambil mengambil sikap hormat. Dia terus berdiri di sana sampai sosok Manggala memasuki area check in dan menghilang dari pandangan. Barulah Gendhis pergi dari sana dan kembali ke rumah sakit.
Setelah memastikan bahwa sang ayah baik-baik saja, Gendhis memutuskan untuk kembali ke Bandung. Akan tetapi, Nenek Sri tidak ikut pulang. Dia berniat untuk mendampingi putra satu-satunya sampai benar-benar pulih.
"Masa Ibu tega pulang ke Bandung saat aku baru selesai dirawat," ujar Susena manja.
"Kamu kan nggak apa-apa. Malah harusnya nggak perlu ditengok," balas Nenek Sri sambil menepuk lengan putranya.
"Ah, Ibu. Kita kan jarang ketemu. Lagi pula, Ibu juga jarang banget berkunjung ke Yogya. Aku nggak masalah kalau Ibu tinggal lebih lama di sini. Malah seneng ….”
“Iya, jadi Tari sama Mbak Hanum bisa istirahat sejenak ngurusin papa,” celetuk Utari menyela ucapan sang ayah.
“Tari!” Susena melotot pada putri bungsunya.
“Heleh. Nenek pasti tahu gimana rasanya ngurusin yang lagi puber kedua,” ujar Utari seraya berlalu dari hadapan Susena dan sang nenek dengan tak acuh.
“Untuk kali ini, aku setuju sama Utari,” timpal Hanum.
__ADS_1
“Ah, kalian ini nggak seneng ya liat Papa bahagia,” protes Susena. “Papa ingin memulai hidup baru. Membina masa depan yang jauh lebih baik dengan cinta lama Papa. Apa itu salah? Lagi pula, posisi mama kamu nggak akan pernah tergantikan.”
“Bukan keinginan atau perasaan Papa yang salah. Hanya sasarannya yang kurang tepat,” sahut Hanum seraya mengalihkan perhatian pada Gendhis yang sudah bersiap untuk kembali ke Bandung. “Mau berangkat sekarang, Dhis?” tanya putri sulung Susena tersebut.
“Iya, Mbak. Aku udah kelamaan cuti. Lagian, Papa juga udah baikan. Ada pawangnya di sini. Dijamin dia nggak akan berulah aneh-aneh lagi,” ujar Gendhis sambil membuka pesan masuk dari driver taksi pesanannya. “Duh, mobil jemputan udah datang. Aku berangkat dulu ya,” pamit Gendhis seraya memeluk Hanum.
“Nenek urusin papa, biar tahu gimana nyebelinnya bayi gede ini. Papa juga jangan berulah macam-macam kalau nggak mau digetok nenek,” pesan Gendhis. Dia mengenakan kacamata hitamnya, lalu melambaikan tangan.
“Kamu belum pamitan sama Utari,” ucap Hanum membuat Gendhis kembali menoleh.
“Sudah, Mbak. Tadi ketemu di dapur.” Gendhis kembali melanjutkan langkah. “Nggak usah dianter. Aku belum lupa di mana pintu keluarnya,” ujar Gendhis saat melihat Hanum sudah beranjak dari tempat duduk.
“Ye, siapa yang mau nganter? Mbak mau ambil buah kok,” sahut Hanum sambil beranjak ke meja dekat jendela.
Gendhis tak menanggapi lagi. Setelah kembali berpamitan, dia bergegas menuju halaman karena taksi pesanannya sudah tiba.
Tepat pukul delapan pagi, Gendhis meninggalkan kediaman Susena. Dengan diantar oleh taksi online, dia menuju bandara, tempat yang sama dengan saat dia mengantarkan Manggala dua hari yang lalu.
Proses check in berjalan dengan lancar. Gendhis tak menunggu lama sampai kru pesawat memberitahukan bahwa penumpang diharap segera duduk di tempat yang sesuai dengan yang tertera pada tiket.
Gendhis mengempaskan napas lega setelah duduk dengan nyaman di kursi samping jendela yang selalu menjadi spot favoritnya. Sambil memangku tas ransel kesayangan, Gendhis memperhatikan cuaca di sekitar landasan pacu yang terlihat cerah. “Semoga perjalanan berjalan lancar sampai tiba di Bandung,” gumam Gendhis berdoa.
“Aamiin,” sahut sebuah suara yang tak asing di telinga Gendhis. Gadis itu langsung menoleh dan terbelalak melihat penampakan sosok pria tampan yang duduk dengan santai di kursi sebelahnya.
“Chand?” seru Gendhis tak percaya.
.
.
.
Refreshing dulu yuk di karya keren teman otor yang satu ini, dijamin seru ❤️
__ADS_1