Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Kenalan Baru


__ADS_3

Gendhis telah memantapkan hati untuk mengundurkan diri dari pekerjaannnya. Gadis yang tengah dilanda patah hati tapi berpura-pura tabah demi gengsi tersebut, memutuskan untuk menenangkan diri di kediaman sang nenek yang berada di Kota Bandung. Sudah lama sekali, Gendhis tidak berkunjung ke sana. Satu yang pasti, saat itu neneknya berharap agar putri Susena tersebut segera pulang.


“Maaf ya, Nek. Gendhis sudah ngerepotin Nenek,” ucap Gendhis yang saat itu sudah selesai menghabiskan masa liburan semesternya. Terakhir kali dia menemani sang nenek adalah ketika diirnya masih duduk di bangku kelas dua SMA. “Gendhis nggak tahu kapan bisa ke sini lagi,” ucapnya lagi sedih.


“Sudah nggak apa-apa. Kalau kangen sama nenek cukup telepon saja, nggga usah repot-repot datang kemari. Lagian, papa kamu juga sibuk, kan?” balas sang nenek yang merasa lega saat Gendhis berpamitan untuk kembali ke Yogyakarta.


Itulah sepenggal kenangan terakhir dari pertemuan Gendhis dengan sang nenek. Gadis pun menggeleng pelan. Sambil menunggu pesawat yang akan membawanya terbang ke Kota Kembang tempat kelahiran sang ayah, anak tengah dari tiga bersaudara tadi tampak berpikir. “Aduh, jangan-jangan nenek ngga akan bukain pintu kalo aku ke sana?” pikir Gendhis seraya kembali menggeleng. Dia pun mengembuskan napas pelan. “Tidak mungkin,” ucap mantan fotographer majalah Hello Girls tersebut tanpa sadar.


“Apanya yang tidak mungkin, Dhis?” tanya Susena. Dia yang saat itu mengantar Gendhis ke bandara, tampak heran dengan putrinya. “Kalau kamu merasa kurang sehat, sebaiknya urungkan saja perjalanan ini. Kamu bisa berangkat lain waktu,” saran ayah tiga anak tersebut.


“Ah bukan begitu, Pa,” bantah Gendhis. Namun, dia tak sempat mengatakan apapun kepada sang ayah, karena terdengar pemberitahuan bahwa pesawat yang akan membawanya ke Kota Bandung telah siap. “Ya sudah, Pa. Aku pamit dulu.” Gendhis beranjak dari tempat duduknya. Dia menggendong ransel army yang biasa dirinya gunakan setiap kali melakukan perjalanan ke luar kota. Dia berjalan sambil menggeret koper dengan ukuran sedang.


Setelah melalui proses check in, Gendhis sempat menunggu di lounge untuk beberapa saat, sampai terdengar pengumuman agar penumpang segera masuk ke pesawat. Gadis yang baru saja merasakan patah hati itu pun buru-buru masuk dan duduk di kursi, sesuai dengan pilihannya saat memesan tiket.


Gendhis membeli tiket penerbangan kelas ekonomi, mengingat dirinya kini adalah seorang pengangguran. Tiba-tiba teringat olehnya kartu nama yang sempat diberikan oleh Pak Bagus. Gendhis memeriksa kartu tersebut, memastikan apakah sudah tersimpan aman di dalam dompet.


Gadis itu pada akhirnya dapat mengembuskan napas lega, sambil menggenggam kartu tadi. Iseng dirinya menyimpan nomor kontak milik Manggala dan bermaksud memasukkan kembali kartu tersebut ke dalam dompet.


Namun, belum sempat dia memasukkan kembali tempatnya, lengan Gendhis tiba-tiba tersenggol oleh seseorang yang hendak duduk di sampingnya hingga kartu itu terjatuh. “Waduh, gawat! Sumber pendapatanku!” Gendhis terlihat panik. Dia membungkuk mencari-cari benda kecil itu. Namun, sayang tidak ketemu.


Gendhis berdecak kesal. Dia hampir melampiaskan amarah pada seseorang di sebelahnya. Orang itu benar-benar mencari perkara. Dia tidak tahu jika Gendhis sedang dalam keadaan terpuruk karena sakit hati.


Telunjuk Gendhis sudah lurus terarah ke penumpang di sebelahnya yang ternyata adalah seorang pria.


Mulut gadis itu pun terbuka sambil mengucapkan kata, “Hei!”


Akan tetapi, Gendhis sepertinya harus segera membuang jauh rasa kesalnya. Pria yang akan dia marahi tadi, merupakan sosok jangkung dan tampan. Otot-ototnya terlihat menonjol di punggung tangan hingga ke pergelangan. Pria itu memakai kaos hitam bergambar band metal internasional dengan celana jeans sobek-sobek, sama persis seperti celana yang Gendhis pakai saat itu.


Merasa bahwa dirinya dan si pria satu frekuensi, Gendhis akhirnya dapat memaklumi. Namanya juga tidak sengaja, begitu batinnya dalam hati. Dia akhirnya mengikhlaskan kartu nama itu. Lagi pula, Gendhis sempat menyimpan nomor kontak yang tertera di sana sebelumnya.

__ADS_1


Diam-diam, Gendhis melirik si pria dari samping. Rambutnya sedikit ikal dan panjang sampai menyentuh telinga. Hidung pria itu mancung. Sorot matanya tajam, lurus mengarah ke depan. Entah apa yang pria tersebut perhatikan. Dia terlihat begitu serius.


“Mbak, coba lihat.” Pria itu tiba-tiba menoleh dan menghadapkan badan ke arahnya. Sedangkan Gendhis sama sekali tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi, membuat dirinya salah tingkah, persis seperti tukang mengintip yang ketahuan saat beraksi.


“Orang itu masih seenaknya menyalakan hp. Padahal sudah ada pengumuman dari awak kabin agar mematikan telepon genggam,” gerutu si pria. Ternyata dia jauh lebih tampan jika dilihat dari depan. Namun, tetap tak bisa mengalahkan ketampanan Chand, begitu suara isi hati Gendhis.


“Ah, dia lagi. Dia lagi,” gumam gadis itu pelan.


“Mbak kenal sama orang itu?” tanya si pria sambil menautkan alisnya.


“Kenal siapa?” Gendhis pun kebingungan.


“Itu … yang masih menyalakan hp-nya,” jawab si pria setengah gondrong.


“Nggak. Nggak kenal. Orangnya yang mana juga nggak kelihatan,” sahut Gendhis kebingungan. Rupanya si pria juga sama bingungnya.


“Lha itu tadi Mbak bilang ‘dia lagi’?” ujar si pria.


“Oh.” Si pria ganteng itu manggut-manggut, lalu kembali ke posisi duduknya semula. Setelah itu, dia merogoh sesuatu dari dalam tas ransel butut yang ada di pangkuan, yang ternyata adalah sebuah buku novel karya penulis luar negeri. Sambil memasang headphone, pria itu mulai membaca lembar demi lembar.


Kini tinggal Gendhis yang tak tahu harus melakukan apa. Kamera kesayangannya dia letakkan di dalam koper yang kini nangkring dengan nyaman di loker pesawat yang terletak jauh di atas kepala. Dia harus berdiri untuk mengambilnya, dan itu artinya Gendhis harus melewati si pria ganteng yang sedang asyik membaca buku.


Gendhis membayangkan, harus melewati si pria dan kemungkinan bokongnya bisa saja dapat menyenggol wajah pria asing itu. “Aduh. Nggak, deh.” Dia kembali berbicara sendiri.


Sontak si pria menoleh dan memperhatikan bahasa tubuh yang tidak nyaman dari seorang Gendhis. “Mbak mau lewat?” tanyanya.


“Oh, nggak. Saya cuma … cuma … mau cari makanan,” jawab Gendhis asal.


“Oh, saya punya snack kalau Mbak mau.” Pria itu merogoh ke dalam tasnya lagi, lalu mengeluarkan sebatang coklat pada Gendhis.

__ADS_1


“Wah, kesukaanku nih!” Mata Gendhis membulat sempurna. Kebetulan yang indah, pikirnya. “Terima kasih, ya!” ucap Gendhis dengan riang.


“Sama-sama,” balas si pria tak kalah ramah.


“Ini tuh selalu saya bawa ke kantor. Selalu saya makan sembunyi-sembunyi pas meeting. Pak Bagus pimpinan redaksi majalah tempat saya bekerja dulu, tidak suka kalau ruangan meeting jadi kotor. Lagi pula, tidak sopan ‘kan, makan-makan di saat rapat,” celoteh Gendhis.


“Masalahnya, saya itu paling nggak tahan lapar. Jadi, suka sembunyi-sembunyi bawa coklat ini. Kadang saya sembunyiin di pinggang. Kadang saya masukin di dada,” sambungnya berapi-api.


“Oh.” Pria itu mengulum senyum. Tampak jelas bahwa dia tengah menahan tawa. “Mbak kerja di majalah?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Iya. Beberapa waktu yang lalu saya fotografer majalah. Sebelum saya mengundurkan diri,” terang Gendhis bangga.


“Oh, ya? Fotografer? Keren sekali,” sanjung si pria. “Saya suka profesi fotografer.”


“Apa iya? Kalau begitu, mas pernah lihat hasil karya saya belum? Saya memotret untuk majalah Hello Girls,” terang Gendhis penuh percaya diri.


“Majalah khusus wanita itu?” Raut si pria tampan sedikit terkejut. Namun, pada akhirnya dia tersenyum lebar. “Kalau boleh tahu, siapa nama Mbak?”


“Saya Gendhis. Kalau mas?”


“Manggala.” Si pria mengulurkan tangan dengan senyuman manis yang tak juga pudar.


“Manggala?” ulang Gendhis lirih sambil menyambut uluran tangan si pria. Sempat terlintas dalam benak Gendhis, bahwa pria di dekatnya itu adalah pria yang namanya ada di kartu nama. Akan tetapi, Gendhis segera menampik pikiran tersebut. Manggala yang sedang bicara dengannya itu, tidak terlihat seperti seorang pemilik media.


.


.


.

__ADS_1


Hai, hai, sebelum lanjut. mampir dulu yuk, di kisah cinta manis karya sahabat otor yg satu ini. Dijamin seru ❤️



__ADS_2