Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Siang Yang Mengejutkan


__ADS_3

Gendhis juga sempat menangkap nama rekan kerjanya itu sebelum Manggala memencet tombol hijau dan menerima panggilan. “Ya, ada apa, Sin?” suara berat dan macho Manggala terdengar begitu menggoda di telinga Gendhis.


“Oh, aku lagi di jalan, Sin. Baru jemput Gendhis di bandara,” tutur Manggala. Sesekali mata elangnya melirik pada Gendhis yang tak henti-henti memandang dirinya dengan tatapan memuja. “Oke, setelah ini aku langsung balik ke kantor,” tutup Manggala mengakhiri perbincangan. Dia lalu menoleh pada sang kekasih.


“Kamu kelihatan akrab banget sama Mbak Sinta,” celetuk Gendhis sembari tersenyum penuh arti.


“Gantian nih, cemburunya,” gurau Manggala sambil terbahak.


“Emang cuma kamu doang yang boleh cemburu dan curiga? Aku juga, dong,” sahut Gendhis sewot.


Bukannya terpancing, Manggala malah tertawa. “Aku suka kalau kamu cemburu sama aku. Kata orang, cemburu itu tanda cinta,” ucapnya menirukan kata-kata Gendhis sebelumnya.


“Nah, sekarang kamu tahu ‘kan gimana rasanya?” Gendhis meringis, lalu mengusap-usap pipi Manggala. Entah apa maksudnya. “Pipi kamu halus banget, Ngga. Perawatan terus, ya,” celotehnya mengalihkan pembicaraan.


“Namanya juga publik figur, Dhis. Jelek-jelek begini, aku termasuk publik figur, lho. Tahun lalu aku masuk jajaran seratus orang pengusaha muda yang paling bersinar,” terang Manggala bangga.


“Ah, makin bangga aku sama kamu,” Gendhis mulai bergerak nakal. Dia melepas sabuk pengaman, lalu beringsut mendekat pada Manggala. Gendhis kemudian menciumi pipi Manggala berkali-kali serta memeluknya erat, sampai-sampai pria rupawan berambut gondrong itu hampir saja kehilangan konsentrasi mengemudi.


“Jangan begini dong, Dhis. Kamu menyiksaku. Sudah tahu om Susena melarang kita berbuat macam-macam sampai sah menjadi suami istri, kamu malah mancing-mancing,” protes Manggala pelan.


“Kamu menggemaskan, sih. Mirip boneka tongki,” timpal Gendhis sambil merebahkan kepalanya di bahu Manggala.


“Mirip apa?” nada bicara Manggala terkesan tak terima. Namun pada akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. Hampir saja Manggala menepikan kendaraan dan membalas perbuatan nakal Gendhis, ketika telepon genggamnya kembali berdering.


“Ya, ampun. Mbak Sinta lagi?” Gendhis berdecak pelan. “Memangnya ada masalah ya, Ngga?”


“Sepertinya penting ini, Dhis. Menyangkut acara penghargaan dan gala dinner beberapa hari ke depan,” jawab Manggala tak enak. “Aku angkat telepon dulu, ya,” Manggala meminta izin pada Gendhis sebelum menerima panggilannya.


Setelah Gendhis mengangguk, barulah Manggala menekan tombol hijau pada layar. “Kenapa lagi, Sin?” tanyanya. Wajah maskulin itu tampak serius mendengarkan Sinta di seberang sana.


“Nanti saja kita bahas di kantor. Setengah jam lagi, ya,” putus Manggala setelah beberapa menit berlalu.


“Penting banget, ya?” ulang Gendhis dengan raut tak suka.


“Ya, ada sedikit salah paham dengan kru penyelenggara acara,” jelas Manggala. Tatapan mata yang awalnya lurus mengarah ke jalan, kini tertuju pada Gendhis yang masih memandangnya seolah meminta penjelasan lebih.


“Nanti aku kasih tahu di kantor. Kamu ke kantor ‘kan hari ini?”

__ADS_1


“Iya, kita mampir ke rumah Nenek Sri dulu untuk menaruh barang-barangku,” jawab Gendhis dengan bola mata yang terus mengikuti gerak-gerik Manggala.


“Oke, sebentar lagi kita sampai di rumah Nenek kamu,” sahut pemimpin redaksi Nirwana Media tersebut.


Seperti yang Manggala katakan, tak sampai sepuluh menit kemudian, mereka sudah tiba di depan halaman rumah Nenek Sri. Terlihat Ceu Imas tengah menyapu teras. Wanita paruh baya bertubuh sedikit tambun itu segera menghentikan aktivitasnya ketika melihat Gendhis keluar dari kendaraan mewah Manggala.


“Eh, Mbak Gendhis sudah balik? Emak mana?” tanyanya sambil celingak-celinguk mengamati sekitar. Namun, tak ada sosok Nenek Sri di sana. Yang ada hanyalah Manggala. Calon suami Gendhis itu tengah sibuk membawakan koper, lalu meletakkannya tepat di depan Ceu Imas.


“Nenek Sri masih di Yogya. Papa lagi manja minta ditemenin,” jawab Gendhis. “Titip koper ya, Ceu. Aku mau ke kantor dulu,” sambungnya seraya melambaikan tangan.


Ceu Imas tak menanggapi Gendhis. Dia malah asyik memperhatikan Manggala yang sibuk mengikat rambut gondrongnya. “Apa perlu saya bantu, Den?” tanyanya genit.


“Nggak usah macem-macem, ya. Koper tuh, masukin,” sahut Gendhis sewot sebelum Manggala sempat menjawab.


“Iya, iya. Bercanda, Mbak. Ya, ampun. Galak amat,” balas ceu Imas tak kalah sewot.


“Harus galak. Pokoknya pelakor sedini mungkin dicegah,” Gendhis berapi-api dengan tangan terkepal.


“Dihs, ini Ceu Imas. Apa iya jadi pelakor?” bisik Manggala sedikit risih.


“Siapa tahu kamu khilaf, Ngga,” balas Gendhis sambil berbisik pula.


“Eh, jangan salah. Mbak Gendhis dan Aden belum pernah lihat masa muda saya. Dijamin kalian berdua bakal terpana,” Ceu Imas tak terima mendengar bisik-bisik dua orang yang merendahkan dirinya. Diapun menyombongkan diri.


“Ceu Imas dulu cakep, ya?” celetuk Gendhis.


“Cakep banget, Mbak. Bentar ya, aku cariin fotonya,” Ceu Imas buru-buru melempar sapu ijuk begitu saja ke lantai teras dan hendak berbalik masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, Gendhis dan Manggala lebih dulu mencegahnya.


“Nanti aja, Ceu! Lagi buru-buru ini!” cegah dua sejoli itu secara bersamaan.


“Ya udah, deh. Nanti aja. Mbak Gendhis pulang jam berapa? Aku tungguin, ya,” ujar Ceu Imas penuh semangat.


“Aku mau lembur, Ceu. Gampang deh, masalah foto. Kapan-kapan aja kalau lagi butuh buat pinjol,” pungkas Gendhis seraya berbalik sambil menyeret Manggala masuk ke dalam mobil. Giliran dia yang membukakan pintu untuk Manggala dan memaksanya cepat-cepat melajukan kendaraan.


“Ngeri juga asisten Nenek Sri,” kelakar Manggala.


“Jangan sampai naksir, ya,” timpal Gendhis.

__ADS_1


“Astaga,” lagi-lagi Manggala tertawa sampai terlihat lesung pipi yang tampak begitu menggemaskan di mata Gendhis. Namun, saat gadis itu memperhatikan sorot mata sang kekasih, dirinya dapat melihat dengan jelas pandangan kosong sekaligus penuh beban dari seroang Manggala.


“Ngga, kamu tadi mau bilang sesuatu tentang masa lalu kamu. Kok nggak jadi?” cetus Gendhis.


“Apa? Oh, itu … iya,” Manggala tergagap. Dia sama sekali tak dapat menyembunyikan rasa gugup. “Nanti saja aku cerita kalau waktuku senggang,” elaknya.


“Oke,” Gendhis juga tak berusaha memaksa, sebab saat itu mereka sudah tiba di depan gedung kantor. Setelah memarkirkan mobil di area parkir di basement, Manggala menggandeng Gendhis hingga tiba di studio tempat Gendhis biasa bekerja. Di sana, beberapa orang kru sudah siap menyambutnya.


“Selamat pagi menjelang siang, Mbak Gendhis. Gimana papanya? Udah baikan?” tanya rekan-rekan Gendhis saling bersahutan.


“Udah, alhamdulillah. Makasih, ya,” ucap Gendhis. Gadis itu sempat menoleh pada Manggala yang melambaikan tangan di ambang pintu, lalu memperhatikan sang calon suami sampai menghilang di balik pintu studio.


“Dengar-dengar, Mbak Gendhis udah serius ya, sama Pak Manggala?” celetuk Arif, salah seorang asisten fotografer yang sedikit melambai.


“Katanya mau menikah ya, Mbak?” sahut Ria, seorang penata kostum.


“Iya, doain, ya,” ucap Gendhis malu-malu. Meskipun dia sudah lumayan lama bekerja bersama rekan-rekannya. Namun untuk masalah pribadi, Gendhis jarang bercerita pada mereka.


“Teh Sinta gimana, Mbak?” tanya Arif lagi, membuat Gendhis segera mengernyitkan dahi.


“Memangnya kenapa dengan Mbak Sinta?” Gendhis malah balik bertanya.


“Um,” Arif dan Ria saling berpandangan sebelum kembali mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Gendhis.


“Sebenarnya, kami udah pengen cerita tentang ini sama Mbak Gendhis dari jauh-jauh hari, tapi kami sungkan, Mbak. Nanti dikiranya manas-manasin atau gimana. Apalagi posisi mbak Gendhis udah serius banget sama Pak Manggala,” tutur Arif hati-hati.


“Memangnya ada apa, sih?” desak Gendhis tak sabar.


“Ehm, itu ….” Ria menoleh pada Arif untuk meminta persetujuan. Setelah Arif mengangguk, Ria melanjutkan kembali penjelasannya. “Sebelum mbak Gendhis kerja di sini, Pak Manggala dan Teh Sinta itu lumayan dekat. Mereka sering berangkat dan pulang bareng. Nah, selang berapa lama, Mbak Gendhis diterima di sini. Sejak saat itu, Pak Manggala menjaga jarak dari Teh Sinta,” terang Ria panjang lebar, membuat Gendhis membeku seketika.


.


.


.


Mumpung lagipanas-panasnya, ademin duluyuk, sama karya keren yang satu ini

__ADS_1



__ADS_2