Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Bayangan Chand


__ADS_3

Sudah beberapa hari sejak Manggala mengenalkan Gendhis pada kedua orang tuanya. Respons kedua orang tua Manggala yang begitu terbuka dan menerima Gendhis dengan baik, sungguh menjadi satu kebahagiaan tersendiri. Begitu pula Manggala. Pria berambut gondrong itu ternyata benar-benar serius ingin mempersunting sang kekasih.


Manggala sengaja mengosongkan jadwal untuk beberapa hari, agar dia dapat pergi ke Yogyakarta bersama Gendhis. “Jangan kaget kalau papaku agak error ya, Ngga,” celetuk Gendhis sesaat setelah pesawat yang mereka tumpangi berhasil mendarat dengan mulus di Bandara Adisutjipto.


“Biasa aja, Dhis. Papaku sepertinya jauh lebih error. Kebetulan kemarin beliau masih pencitraan. Maklum, baru pertama kali bertemu dengan calon menantu, harus jaga image sebaik-baiknya,” kelakar Manggala yang diselingi dengan tawa pelan.


“Aku yakin, kamu bakal menarik kata-katamu sebentar lagi. Tuh, lihat,” Gendhis mengarahkan telunjuknya pada seorang pria paruh baya yang terlihat tampan dan rapi. Pria yang tak lain adalah Susena itu sudah menunggu di area pintu masuk terminal kedatangan seraya melambaikan tangan penuh semangat.


“Itu papa kamu?” Manggala turut menunjuk pada Susena.


“Iya,” jawab Gendhis.


“Sekarang terjawab sudah, dari mana kamu mendapat wajah secantik ini. Ternyata papa kamu ganteng banget, Dhis,” sanjung Manggala.


“Ah, bisa aja kamu, Ngga. Kalau nggak merayu, kayaknya ada yang kurang ya kamu,” bukannya senang, Gendhis malah menggerutu atas ucapan sang kekasih.


“Aku serius!” Manggala setengah melotot sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf ‘V’.


“Halo! Jomblo-nya papa yang udah nggak jomblo lagi,” sapa Susena menyela pertikaian kecil antara dua sejoli tersebut.


“Om,” Manggala sedikit terkejut. Dirinya tak menyangka saat tiba-tiba Susena sudah berdiri di hadapannya. “Apa kabar?” sapa Manggala sopan seraya mencium punggung tangan ayah kandung Gendhis tersebut.


“Alhamdulillah baik, Nak,” balas Susena. Iris mata gelapnya serius mengamati Manggala, mulai dari wajah sampai sepatu yang dipakai.


“Wah, Dhis. Seleramu keren. Pacar barumu ganteng, mirip papa waktu muda dulu,” pria itu beralih pada Gendhis yang berdiri di sebelah Manggala. Tak lupa, Susena menepuk-nepuk lengan bos sekaligus kekasih Gendhis tersebut.

__ADS_1


“Ah, Papa. Dulu waktu sama Chand juga ngomong begitu. Jadi, sebenarnya muka papa ini mirip siapa, sih? Kok bisa berubah-ubah,” timpal Gendhis.


“Pokoknya setiap cowok ganteng, pasti mirip sama papa,” sahut Susena jumawa.


Manggala yang sedari tadi hanya senyum-senyum, kini tak kuasa menahan tawanya.


“Dih, papa malu-maluin. Udah ah, kita pulang. Udah nggak betah. Nih. Panas,” cerocos Gendhis. “Oh, iya. Lupa belum cium tangan,” ujarnya kemudian sembari meraih punggung tangan sang ayah.


“Kalau begitu, kita meluncur sekarang. Hanum dan Utari beserta pasukan mereka masing-masing sudah menunggu di rumah,” tutur Susena sambil mengarahkan sepasang kekasih tersebut menuju area parkir.


“Duh, aku kangen banget sama mereka,” ujar Gandhis yang tak sabar untuk bertemu dengan kedua saudarinya.


“Jangan lupa. Kedua ponakan kamu nunggu oleh-oleh khas Bandung. Papa harap kamu bawa sesuatu yang aneh,” balas Susena.


“Yah. Kalau tahu begitu, aku bakalan ngajak Nenek Sri ke sini,” celetuk Gendhis.


Beberapa saat berada di perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman milik Susena. Ketiganya segera disambut oleh Hanum beserta Utari. Satu per satu, mereka bergiliran menyalami dan berkenalan dengan Manggala.


“Mbak, tinggal di Bandung jadi tambah putih dan cakep ya,” sanjung Utari. “Liat deh Mbak Anum, Mbak Gendhis beda banget, kan? Nggak burik kayak beberapa waktu yang lalu,” celoteh anak bungsu dari tiga bersaudara itu.


“Ya, baguslah. Ada kemajuan,” sahut Hanum menanggapi. “Mbak kasih tahu sesuatu, Dhis. Bu Wiryo sering nanyain kamu loh.”


“Hah? Apa iya?” Gendhis terbelalak.


“Iya. Kamu sih pakai bilang kalau calon suamimu itu mati gara-gara keracunan daun di perbatasan. Ya, ampun. Alasan macam apa itu?” Hanum tak habis pikir.

__ADS_1


Sementara, Manggala yang sudah duduk di ruang tamu, tampak berbincang hangat bersama Susena. Sesekali, terdengar gelak tawa ayah tiga anak itu. Entah apa yang tengah mereka bahas, tapi hal tersebut telah berhasil memancing rasa penasaran dalam diri Gendhis. Gadis itu pun bergabung dengan kedua pria lintas usia tersebut.


“Seru banget,” ujar Gendhis seraya duduk di sebelah Susena. Dia tak peduli, meskipun Manggala memberi isyarat agar Gendhis pindah ke dekatnya. “Kalian lagi bahas apa sih?” tanya gadis itu lagi.


“Bahas burung, Dhis,” jawab Susena enteng.


“Hah? Burung siapa?” tanya Gendhis lagi yang merasakan pembahasan ambigu antara sang ayah dengan kekasihnya.


“Burung kami berdua dong. Ngapain bahas burung punya orang kalau kita sendiri punya,” sahut Susena. Dia kembali beralih pada Manggala. “Nah, begitu. Jadi, burung punya saya tuh selalu dimandikan pelan-pelan, baru dijemur sebentar. Jangan sampai ngelemak. Kalo ngelemak, nanti nggak punya anak,” ujar Susena.


“Oh, jadi mesti rajin dijemur ya, Pak? Baiklah. Besok-besok, saya akan rajin menjemur burung saya,” balas Manggala menanggapi. Apa yang pria itu ucapkan, membuat Gandhis harus mencerna lebih dalam perbincangan kedua pria tadi.


“Pa, makan siang sudah siap. Ayo. Kasihan Gendhis sama Manggala pasti sudah kelaparan.” Hanum datang menyela obrolan mengasyikan Susena dan Manggala.


Susena mengajak Manggala menuju ke meja makan. Mereka melanjutkan perbincangan di sana. Dimulai dengan pembahasan ringan, kemudian berlanjut pada maksud kedatangan Manggala menemui Susena.


“Saya datang kemari bukan hanya untuk berkenalan dengan keluarga Gendhis, tapi juga untuk menyampaikan sesuatu,” ucap Manggala mengawali perbincangan serius dengan ayahanda sang kekasih. Sementara, yang lainnya mendengarkan dengan saksama.


“Jadi, saya dan Gendhis sudah menjalin hubungan. Belum lama sih, malah masih bisa dihitung dengan jari. Akan tetapi, saya merasa menemukan kecocokan dengan Gendhis. Karena itulah, saya pikir tak ada salahnya jika dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius,” tutur Manggala dengan pembawaannya yang dibuat setenang mungkin, meski telapak tangannya terasa basah. Pria itu sudah terbiasa memimpin rapat dan berbicara di hadapan banyak orang. Namun, dia selalu merasa gugup tiap kali harus berbicara serius di hadapan orang tua kekasihnya. Hal itu juga terjadi pada waktu Manggala akan melamar Ghea.


“Maksudnya, Nak Manggala ini mau tunangan dulu apa langsung nikah?” tanya Susena memperjelas ucapan Manggala.


“Saya sih, terserah Gendhis saja. Kalau dia mau, besok juga saya siap,” jawab Manggala yakin. Membuat Gendhis merasa begitu terkesan. Harapannya untuk melepas status timeless single, akan segera terwujud kali ini.


Namun, tiba-tiba paras menawan Chand dengan senyumnya yang memabukan bagaikan sebotol anggur merah, melintas di pelupuk mata Gendhis. Pria tampan berdarah India itu menggeleng, seakan melarang Gendhis agar tak menerima lamaran dari Manggala. Gendhis pun menautkan alisnya. Terlebih, ketika dia melihat Chand mengangkat jari telunjuk sebatas dada, kemudian menggerakkannya sebagai tanda penolakan.

__ADS_1


“Jadi, gimana? Kamu mau tunangan dulu apa langsung nikah, Dhis?” tanya Susena mengarahkan pandangan kepada putri keduanya yang malah diam termenung.


__ADS_2