
Sepanjang perjalanan pulang, Gendhis terus mengomel. Sementara Chand memilih untuk tidak menanggapinya. Pria itu betul-betul irit bicara.
“Masa dia menuduh aku hamil? Apa dikira badanku ini gemuk? Apa perutku memang terlihat buncit? Perutku buncit nggak sih, Chand?” Gendhis menoleh pada calon suaminya tersebut, berharap mendapat kata-kata hiburan atau mungkin sedikit pujian yang bisa membuatnya melayang. Namun, sayang sekali karena harapan selalu tak seindah kenyataan. Chand, lagi-lagi tidak menanggapi. Dia hanya berdecak pelan dengan pandangan yang terus fokus pada jalanan di depannya.
“Chand!” panggil Gendhis sedikit gemas. “Menurutmu, kenapa pegawai percetakan itu mengira kalau aku hamil?”
“Ya, masa begitu saja kamu nggak ngerti. Tadi kita meminta supaya kartu undangan harus cepat selesai, kurang dari seminggu. Kesannya memang kita sedang terburu-buru. Biasanya orang buru-buru menikah karena apa? Itu saja poinnya,” jelas Chand malas-malasan dan tanpa menoleh sama sekali.
“Ya, karena memang sudah kebelet,” sahut Gendhis polos, tapi langsung membuat Chand menggeleng pelan sambil mengelus dada.
“Karena mereka mengira kalau kamu hamil duluan! Makanya harus buru-buru disahkan!” ralat pria rupawan itu sedikit emosi.
Gendhis sempat melongo beberapa saat sebelum mengulum senyumnya sambil tersipu. “Oh, begitu, to. Jadi malu aku. Padahal 'kan kita belum ngapa-ngapain, ya,” ujarnya seraya menepuk-nepuk lengan Chand. Entah apa maksudnya gadis tomboy tersebut melakukan hal tersebut, karena yang pasti Chand merasa begitu terganggu. Dengan segera, dirinya bergerak menghindar agar tangan Gendhis tak mengenai lengannya.
“Kamu senang tidak dengan perjodohan ini?” tanya Gendhis lagi tanpa ragu.
Sebenarnya Chand ingin sekali menjawab ‘tidak’. Namun, terbayang olehnya ultimatum dari sang ibu agar tidak menyinggung perasaan Gendhis dalam hal apapun. “Ya, begitulah,” jawab Chand pada akhirnya, meski terdengar sangat dipaksakan.
“Kok begitulah? Jadi, kamu keberatan?” desak Gendhis. “Kamu pasti sudah punya pacar, ya?” terkanya. “Aku nggak mau kalau kamu sudah punya pacar. Bisa-bisa, saat kita sudah menikah nanti … kamu selingkuhin aku atau lebih parahnya … .” Gendhis membelalakkan mata sambil menghadap Chand. “Poligami … .”
“Ya, ampun.” Chand bergumam pelan. Tiba-tiba saja dia merasa begitu lelah. Setengah putus asa, Chand meraup wajahnya kasar dengan satu tangan. Namun, akhirnya dia dapat bersyukur karena saat itu mobilnya sudah tiba di depan halaman rumah Gendhis. “Sudah sampai,” ujarnya dingin.
Gendhis sedikit kecewa saat itu. Sesungguhnya, dia masih ingin berlama-lama dengan calon suaminya. Akan tetapi, melihat wajah Chand yang judes, terpaksa harus membuatnya sadar diri. “Kamu belum menjawab pertanyaanku. Aku tidak mau turun kalau kamu tidak mau menjawab!” tegas Gendhis.
“Pertanyaan yang mana, sih?” Nada bicara Chand sedikit meninggi. Hampir saja dia kehilangan kesabaran.
“Itu tadi. Kamu sudah punya pacar atau belum? Terus, kamu kerja apa? Rasanya tidak adil kalau kamu sudah mengetahui apa pekerjaanku, tapi aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kamu,” cecar Gendhis tanpa jeda. Dia menyandarkan tubuhnya sambil bersedekap.
Chand terkesiap mendengarkan rentetan pertanyaan dari Gendhis. Dia sempat menelan ludah sebelum menanggapinya. “Nanti juga kamu pasti tahu sendiri,” sahut Chand beberapa saat kemudian. “Mengertilah. Ini sangat mendadak.”
“Oh, begitu ya.” Ucapan dari Chand tadi, Gendhis anggap sebagai pertanda bahwa Chand juga tengah menunggu disahkannya ikatan mereka. Gadis itu lalu senyum-senyum sendiri. Gendhis kembali membenarkan sikap dingin pria itu. Dia mencoba untuk kembali bersikap pengertian.
“Ya, sudah. Aku tunggu saja sampai nanti waktunya tiba,” ucap Gendhis lagi seraya mengerling nakal. Gadis itu kemudian membuka pintu mobil. “Sampai jumpa nanti, ya. Aku boleh telepon kamu, ‘kan?” tanya Gendhis sebelum benar-benar keluar dari kendaraan Chand.
“Memangnya kamu punya nomor teleponku?” Chand menautkan alis sambil memasang muka cemas.
__ADS_1
“Belum. Makanya aku mau minta sekarang. Masa iya sih aku nggak nyimpen nomor kontak calon suami sendiri,” sahut Gendhis dengan wajah tanpa dosa.
Seketika, bulu kuduk Chand merinding saat mendengar kata ‘calon suami’. Dia pun berpikir untuk sejenak. “Kalau menghubungiku, lewat mama saja. Kamu sudah menyimpan nomor mama, ‘kan?” tanyanya. Menurut Chand, itu merupakan cara yang paling tepat untuk menghindar dari gangguan gadis yang lebih menakutkan dari sosok dedemit.
Gendhis sudah membuka mulutnya. Namun, belum sempat gadis itu menjawab, Chand sudah buru-buru menutup pintu mobil. Pria itu memundurkan kendaraan sampai keluar dari halaman. Dia lalu menggerakkan perseneling dan menginjak pedal gas kuat-kuat agar dapat secepatnya meninggalkan kediaman Susena.
Apa yang Chand lakukan, sedikit banyak telah membuat Gendhis kecewa. Dia menatap sendu ke arah kendaraan yang kini sudah tak terlihat dari pandangan. Untuk beberapa saat, Gendhis termangu di tempatnya. Dia menyesal karena sempat ge er atas ucapan Chand tadi.
“Ciee, yang habis kencan,” celetuk seseorang yang tak lain adalah Utari, membuyarkan lamunan Gendhis.
“Eh, Tar. Kebetulan, aku mau curhat.” Gendhis langsung menggandeng tangan sang adik, lalu menariknya ke dalam rumah. “Duduk sini.” Dengan kasar, putri kedua dari Susena tersebut mendudukkan Utari di sofa ruang tamu.
“Aduh! Apa-apaan sih, Mbak?” protes Utari. “Sebentar lagi suamiku datang menjemput!”
“Masih belum datang, ‘kan? Masih ada waktu,” ujar Gendhis.
“Memangnya Mbak mau curhat apa?” tanya Utari pada akhirnya.
“Ini tentang Chand,” bisik Gendhis malu-malu.
“Boro-boro, Tar! Dia malah kelihatan risi dan terganggu,” potong Gendhis.
“Masa, sih?” Utari terbelalak tak percaya.
“Iya,” jawab sambil Gendhis mengangguk lesu. “Dia seperti menutup-nutupi sesuatu dan seolah tidak ingin aku mengetahuinya,” ungkap gadis cantik dengan rambut yang disanggul acak-acakan itu.
“Ah, mungkin itu hanya perasaan mbak saja,” hibur Utari. “Sudah. Positif thinking, Mbak. Anggap saja dia pemalu,” sarannya.
“O, iya, ya. Bisa saja dia pemalu,”pikir Gendhis berusaha untuk menghibur dirinya, sehingga dia dapat bersemangat kembali untuk melanjutkan rencana pernikahan.
Hingga beberapa hari kemudian, seorang pegawai kantor pos mengantarkan paket berupa kartu undangan yang sudah jadi. Gendhis menerimanya dengan gembira. Dia seolah lupa akan sikap ketus Chand saat terakhir kalinya mereka bertemu.
Berhubung Gendhis tidak memiliki nomor telepon Chand, dia pun terpaksa menghubungi Kalini. Sikap calon ibu mertuanya tersebut tidak pernah mengecewakan. Kalini selalu saja ramah dan menyenangkan.
Seperti waktu itu ketika Gendhis memberitahukan bahwa kartu undangannya telah siap. “Tante juga sudah menerimanya, Dhis. Kita bareng-bareng mengisinya, ya? Nanti kita kirim sekalian. Semakin cepat kita selesai mengirim undangan, maka akan semakin baik,” tutur Kalini.
__ADS_1
“Siap, Tante,” sahut Gendhis ceria. Setelah mengakhiri panggilan, dia langsung mendatangi kamar sang ayah tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu.
Untung saja Susena tidak sedang berganti pakaian atau berbuat yang aneh-aneh. Akan tetapi, pria paruh baya itu tetap saja merasa terkejut.
“Ayo, Pa!” ajak Gendhis.
“Ke mana?” tanya Susena sambil membetulkan letak sarung.
“Kita menyusun nama-nama yang akan kita tulis di sini.” Gendhis menyodorkan tumpukan kartu undangan yang tampak elegan dan mewah pada sang ayah.
“Wah, tunggu, tunggu! Kita harus mengumpulkan kakak dan adikmu dulu!” cegah Susena.
Beberapa saat kemudian, Hanum dan Utari sudah berada di sana. Kedua saudari Gendhis tersebut tampak saling pandang dengan sorot tak mengerti.
“Dhis, kenapa harus diisi sendiri nama penerimanya?” tanya Hanum heran.
“Iya, ih. Jadul banget,” cibir Utari.
“Masalahnya, kemarin waktu mencetak undangan … aku belum tahu siapa saja yang mau diundang,” ujar Gendhis sembari meringis kecil.
“Astaga!” Susena, Hanum, dan Utari menanggapi secara bersamaan.
“Terus, apa kamu sudah menyusun nama-namanya sekarang?” tanya Susena.
“Belum,” jawab Gendhis seraya menggeleng pelan. “Kemarin-kemarin aku sibuk. Lagi pula, aku bingung mau mengundang siapa saja.”
“Kalau Mbak bingung, masukin saja nama si Yana tukang siomay, Danang tukang nasi goreng, Emon tukang cilok, atau mbak Sus penjaga angkringan langgananku di Malioboro,” ujar Utari dengan nada setengah menyindir dan terdengar kesal.
.
.
.
hai, hai, sambil menunggu si gendhis nyebar undangan, mampir dulu yuk, di karya keren yg satu ini
__ADS_1