
“Kamu mau sampai kapan di Bali?” tanya Chand memecah keheningan.
“Sampai selesai lomba fotografi,” jawab Gendhis tanpa mengalihkan perhatiannya dari piring kosong di hadapan.
“Memangnya kapan selesainya lomba?” kejar Chand.
“Bulan depan,” singkat kata-kata Gendhis. Dia bersikap layaknya Chand dulu dalam menanggapi Gendhis.
“Ya, ampun. Kamu mau sebulan di sini? Nginap di hotel yang sama?” Chand membulatkan mata, seolah tak percaya.
“Memangnya kenapa, sih? Kamu kayak detektif aja nanyanya,” omel Gendhis sewot.
“Kalau lomba seperti itu ‘kan kamu tinggal mengirim hasil fotomu, tinggal menunggu pengumumannya. Ngapain mesti nungguin sampai sebulan ke depan?” tutur Chand pelan dan hati-hati.
“Ya, suka-suka aku lah. Papaku aja nggak protes. Kok kamu yang ribet?” Gendhis mendengkus kesal. Dia beranjak dari duduk sambil berlalu menuju meja kasir. Namun sebelum dia mengeluarkan beberapa lembar uangnya, Chand lebih dulu meletakkan kartu kreditnya di dekat mesin EDC.
“Jadi satu, ya,” ujar Chand pada kasir. Dia tak mempedulikan Gendhis yang melotot sewot padanya.
“Aku bukan orang miskin ya, Chand. Aku bisa bayar sendiri,” ucap Gendhis penuh penekanan.
“Ya, aku tahu itu. Aku cuma ingin berbagi rezeki. Kata orang tua, dilarang menolak rezeki,” Chand tersenyum manis, menepis semua sikap ketus gadis di depannya itu.
Akan tetapi, Gendhis kini bukanlah Gendhis yang dulu. Dia tak mudah luluh oleh senyum Chand yang mematikan. Dia malah berdecak dan meninggalkan Chand begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.
Bagi Gendhis, cukup sudah dia berinteraksi dengan laki-laki. Dirinya sudah teramat lelah. Yang ingin Gendhis lakukan hanyalah berbaring di kasur hotel yang nyaman dan tidur dengan nyenyak.
Chand sendiri juga seperti tak berniat mengejar langkah Gendhis. Dengan berpegang teguh pada sikapnya yang kalem, dia melangkah keluar dari restoran dan kembali ke villa pribadi miliknya, tak jauh dari sana.
Sementara Gendhis sudah berada di kamar hotelnya. Rasa kantuk yang dia harapkan untuk hadir, ternyata tak kunjung datang. Dia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya untuk mengedit foto-foto dan mengirimkannya pada panitia lomba melalui email.
Entah kapan tepatnya, Gendhis tak sadar jika dirinya tertidur di depan laptop. Tubuhnya membungkuk dengan kepala bersandar pada laptop. Dirinya terbangun saat sayup-sayup terdengar seseorang mengetuk pintu kamar hotelnya.
Gendhis terbangun dengan ekspresi terkejut. “Astaga, aku ketiduran!” serunya seraya mengucek-ucek mata. Dirinya semakin panik ketika air liurnya menetes sedikit di atas keyboard. Buru-buru Gendhis mengelap permukaan laptop agar tidak konslet.
Terdengar lagi ketukan yang lebih kencang dari sebelumnya. Malas-malasan, Gendhis berdiri dan membuka pintu. “Room service, ya?” tanyanya dengan posisi mata yang separuh terbuka. Dia baru melebarkan mata sepenuhnya ketika menyadari bahwa bukan pegawai hotel yang berdiri di hadapannya saat itu, melainkan Chand.
“Ya, ampun! Kamu nguntit aku atau gimana, sih?” omel Gendhis.
Chand hanya tersenyum simpul sambil memperhatikan muka bantal Gendhis. Rambut panjangnya acak-acakan seperti singa. Sedangkan sisa air liur mengering, terlihat di sudut bibir. Belum lagi Gendhis tak henti-hentinya menggaruk kepala. Rasanya pria itu tak akan sanggup menahan tawa lebih lama.
“Cewek kok bangunnya siang?” gurau Chand. “Jam delapan lho ini.”
“Ah, bodo amat. Aku ‘kan timeless single. Nggak punya suami. Bangun jam berapapun, terserah aku,” Gendhis berniat menutup pintu kamar, tapi Chand lebih dulu menahannya.
“Mandi dulu lah, Dhis. Jangan lanjut tidur,” bujuk Chand.
“Kalau aku nurut, memangnya kamu mau ngasih duit?” cibir Gendhis.
“Oh, tentu,” tanpa diduga, Chand segera merogoh dompet dan mengeluarkan puluhan lembar uang ratusan ribu pada Gendhis. “Nih,” dia meletakkan lembaran uang itu di telapak tangan Gendhis.
__ADS_1
“Apaan, nih!” seru Gendhis nyaring.
“Aku minta tolong kamu untuk mendokumentasikan hari ulang tahun Indira. Nanti siang,” tutur Chand.
“Ini apa?” Gendhis menimbang-nimbang tumpukan uang di tangan kanan.
“Itu bayaran kamu,” jawab Chand sambil tersenyum lebar.
“Yang bener?” Gendhis mengucek-ucek matanya lagi, lalu memelototi lembaran uang berwarna merah tersebut.
“Buruan mandi. Aku tunggu,” desak Chand.
“Oke,” Gendhis membanting pintu kamar seenaknya. Tak berselang lama, pintu itu terbuka, menampakkan Gendhis yang sudah tampil cantik dan rapi dengan pakaian casual kegemarannya.
“Kamu … nggak mandi?” tanya Chand ragu.
“Mandi, dong. Enak aja! Nih!” Gendhis mengangkat lengan dan mengarahkan ketiaknya pada Chand.
“Iya, iya, aku percaya. Kamu wangi,” Chand bergerak mundur sembari tergelak.
“Nah, gitu, dong. Ayo, berangkat!” Gendhis seolah lupa dengan segala beban cinta dan kesedihannya. Mendapatkan segepok uang setelah bangun tidur, nyatanya dapat mengembalikan keceriaan gadis itu.
Chand lalu mengajak Gendhis berjalan kaki melintasi trotoar dan berbelok menuju kawasan yang jauh lebih sepi. Mereka lalu berhenti di depan sebuah villa mewah tiga lantai. “Ayo, masuk,” ajak Chand.
Gendhis menurut. Dia mengikuti setiap langkah Chand sampai tiba di halaman belakang villa yang sudah disulap menjadi tempat pesta ulang tahun, lengkap dengan dekorasinya.
“Oh,” Gendhis manggut-manggut dan mengeluarkan kamera.
“Eh, tunggu. Jangan langsung kerja. Sarapan dulu di dalam,” suruh Chand.
“Ntar aja, deh. Nanggung,” Gendhis tampak begitu bersemangat saat memegang kamera dan mengamati obyek-obyek yang akan dia foto.
Setelah berbasa-basi sejenak dengan Prajna dan suaminya, Gendhis mulai menjalankan tugas, mengambil setiap foto dan membuatnya terlihat indah.
Hingga acara selesai pada siang hari dan tamu-tamu meninggalkan villa, Prajna menawari Gendhis untuk ikut makan siang bersama. Berhubung dirinya sempat menolak untuk sarapan, tentu Gendhis menerima tawaran itu dengan riang gembira.
“Mama tuh selalu antusias kalau udah nyeritain Kak Gendhis,” ujar Prajna membuka pembicaraan di meja makan.
“Kak Chand juga suka malu-malu tiap kali dengar mama menyebut nama Kakak,” lanjut Prajna yang membuat Gendhis mengernyitkan dahi.
“Ah, nggak mungkin. Malu-malu atau nahan muntah?” selidik Gendhis tak percaya. Dia juga menoleh pada Chand yang memandang keberatan pada Prajna.
“Kalau berdasarkan cerita dari Kak Chand, dia dulu suka nggak nyaman dengan Kak Gendhis yang mirip kucing,” jelas Prajna.
“Mirip kucing?” ulang Gendhis tak percaya.
“Na, udah! Jangan bikin malu!” tegur Chand dengan muka merah padam. Sementara suami bule Prajna hanya meringis lucu.
“Alright,” celetuk suami Prajna, membuat semua orang keheranan.
__ADS_1
“Alright kenapa sih, Baby?” tanya Prajna bingung.
“I don’t know,” pria bule itu mengangkat bahu, kemudian kembali asyik bercengkerama dengan Indira yang sedari tadi duduk di pangkuannya.
“Ih, nggak jelas banget,” gerutu Prajna, sebelum beralih pada Gendhis. “Eh, sampai mana tadi ya, Kak?”
“Sampai kucing,” jawab Gendhis antusias.
“Oh, iya. Jadi, menurut Kak Chand, tingkah Kak Gendhis dulu mirip kucing. Kakak tahu kan kucing yang lagi manja itu seperti apa,” celoteh Prajna.
“Seperti apa memangnya?” Gendhis merengut sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Ya, manja-manja gitu, deh. Terus suka cari-cari perhatian juga,” jawab Prajna seraya terbahak.
“Astaga,” Gendhis menepuk dahi. Dia sama sekali tak menyangka kalau Chand menyamakan dirinya dengan kucing. Entah hal tersebut merupakan pujian atau hinaan.
“Tapi kata Kak Chand kemarin malam, Kak Gendhis sekarang kelihatan berbeda. Mungkin itu yang membuat dia ….” Prajna buru-buru menutup mulut saat sang kakak melotot tajam padanya.
“Stop, Na. Ayo, Dhis, kuantar kamu pulang,” pipi bersih Chand merona. Satu tangannya meraih lengan Gendhis dan menariknya pelan agar berdiri.
“Nanti hasilnya aku kirim lewat pos, ya,” ujar Gendhis setelah berpamitan pada Prajna dan keluarga kecilnya.
Chand membawa Gendhis melewati jalan yang sama. Awalnya dua orang itu saling terdiam. Lama-lama, putra sulung Kalini tersebut tak tahan dalam keheningan. “Besok aku pulang ke Yogya. Kuharap kamu mau ikut pulang bersamaku,” ucapnya.
“Nggak mau!” tolak Gendhis.
"Aku yang belikan tiketnya untuk kamu," rayu Chand tak putus asa.
"Nggak," Gendhis tetap gigih dalam pendirian.
“Sebenarnya papa kamu cerita sama Mama. Dia khawatir kalau kamu terlalu lama di sini. Namun, Om Susena nggak berani menolak keinginanmu untuk menenangkan diri,” terang Chand.
Gendhis langsung menghentikan langkah dan menatap Chand penuh arti. “Papaku ngomong begitu? Kamu nggak bohong, kan?”
“Kamu bisa telepon papa kamu dan menanyakan langsung padanya,” sahut Chand kalem. “Aku juga agak was-was, sih,” sambungnya ragu.
“Kenapa lagi?”
“Was-was seandainya kamu sendirian di Bali dan nggak ada yang ngawasin, nanti kamu tiba-tiba terjun ke laut,” gurau Chand. Dia tak sempat tertawa, karena Gendhis langsung menghadiahinya dengan cubitan keras di lengan.
.
.
.
Mampir dulu yuk, di karya keren yg satu ini
__ADS_1