
Gendhis menautkan alisnya hingga membentuk ekspresi yang terlihat aneh dan begitu konyol bagi Chand. Sikap gadis itu tentu saja membuat pria berdarah India tersebut menjadi begitu ilfeel. “Bagaimana? Tawaranku hanya berlaku satu kali.” Chand memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana panjang yang dia kenakan.
“Ikut denganmu? Satu mobil?” cibir Gendhis. Dia melipat kedua tangan di dada, kemudian mengalihkan pandangan ke jalan raya yang mulai ramai oleh anak-anak sekolah dan para karyawan yang hendak berangkat bekerja. “Kamu pikir aku bakalan nerima ajakan dari pria yang sudah membuatku berada dalam masalah dan rasa malu tak terkira? Ora sudi!” Nada bicara Gendhis terdengar begitu ketus. Dia bahkan tak lagi menoleh kepada Chand yang masih memandangnya tanpa mengubah sikap berdiri.
Sejujurnya, Gendhis ingin sekali berbalik dan balas menatap Chand. Sayang sekali jika ketampanan di balik kacamata hitam itu dia lewatkan begitu saja. Akan tetapi, Gendhis harus bersikap jual mahal di hadapan pria itu.
“Begitu ya?” ucap si tampan dengan kemeja berwarna abu-abu yang dimasukkan ke dalam celana panjang dan dihiasi sabuk kulit berwarna hitam, sehingga penampilan Chand saat itu terlihat rapi. “Ya sudah kalau kamu tidak mau.” Tanpa adanya bujuk rayu apalagi sampai memohon dan berlutut, Chand membalikkan badan. Dia bermaksud untuk kembali ke tempat dirinya memarkirkan mobil. Pria itu melangkah gagah. Memperlihatkan punggungnya yang terlihat kokoh dalam balutan kemeja press body tadi.
“Hah? Apa?” Gendhis yang tadinya mengira bahwa Chand akan memohon padanya, dibuat terkejut dengan sikap tak acuh pria itu. “Bener-bener ya cowok yang satu ini!” gerutu gadis itu pelan. Dia sudah memasang wajah masam, karena menahan rasa kesal yang tiada terkira. “Ini tidak bisa dibiarkan!” ujar Gendhis lagi.
Dengan langkah yang terlihat penuh ketegasan, putri kedua Susena tersebut bergegas menyusul Chand yang sudah masuk ke mobilnya. Chand bahkan sudah bersiap untuk pergi, andai Gendhis tak segera mengetuk jendela kaca kendaraan mewah milik pria tampan tersebut dengan cukup kencang. “Hey, Chand! Turunkan kacanya!”
Suara Gendhis tidak terlalu jelas terdengar ke dalam mobil.
Akan tetapi, Chand yang langsung menoleh, dapat menangkap gelagat dari gadis itu. Dia tahu bahwa Gendhis tengah merasa kesal padanya. Dengan tenang, Chand menurunkan kaca jendela mobilnya. Dia lalu sedikit menyembulkan kepalanya, agar dapat melihat Gendhis dengan jelas. “Ada masalah, Dhis?” tanyanya kalem diiringi senyuman yang teramat memikat.
Seketika, Gendhis terpaku. Selama mengenal sosok Chand, belum pernah dirinya melihat Chand tersenyum seperti itu. Seketika, amarah dan segala rasa kesal dalam diri gadis itu menguap ke udara. Terbang jauh meninggalkan tubuh Gendhis yang tiba-tiba menjadi salah tingkah.
Namun akal sehat Gendhis kembali bekerja. Dia harus tetap menjaga image serta harga dirinya. Jual mahal. Itulah kata pamungkas yang harus dia pertahankan kali ini, esok, dan seterusnya andai dia berhadapan dengan sosok Chand.
“Kamu ini benar-benar seorang pria yang tidak memiliki perasaan! Tidak peka! Tidak pengertian!” Telunjuk Gendhis lurus tertuju kepada pria yang tengah memandang ke arahnya dengan sorot … entahlah sorot seperti apa, karena saat itu Chand mengenakan kacamata hitam.
Namun, satu yang pasti dia terlihat sangat tampan. Membuat Gendhis rasanya ingin pingsan karena tak tahan jika harus memandangnya berlama-lama. Namun, kenyataannya Gendhis tak ingin mengalihkan pandangan pada objek lain. Lagi pula, di sepanjang jalan itu hanya ada gerobak pedagang kaki lima.
“Apa lagi masalahmu sekarang?” tanya Chand.
“Apa?” Gendhis membelalakkan kedua matanya karena tak percaya dengan tanggapan dari Chand. “Kamu bertanya apa masalahku? Ya, Tuhan.” Gendhis berdecak pelan sambil menggelengkan kepala. “Kamu tahu aku nggak hafal daerah sini. Lalu, dengan entengnya kamu mau ninggalin aku begitu saja?” protes Gendhis berapi-api.
__ADS_1
“Bukannya tadi aku sudah ngajak kamu, tapi kamunya yang nolak mentah-mentah.” Chand masih terlihat tenang saat menanggapi kekesalan Gendhis.
“Nggak punya hati!” dengus Gendhis.
“Lalu?” Chand masih menanggapi dengan kalem.
“Lalu?” Gendhis bersikap sebaliknya dari Chand. “Lalu? Seharusya kamu buka pintu mobil ini lalu biarkan aku masuk! Buang-buang waktu saja kamu!”
“Oh, ngomong dong dari tadi kalau mau nebeng,” sahut Chand kalem sambil mengulum senyum.
“Astaga,” rasa sebal kembali hadir. Ingin rasanya dia menjitak kepala pria tampan itu. Namun apa daya, Gendhis seolah kehilangan taring di depan pria berdarah India tersebut. Kali ini dia harus menekan egonya. Dia tidak ingin tersesat di kota yang belum dikenalnya dengan baik.
Sambil menghentakkan kaki, Gendhis berjalan memutari mobil, lalu membuka pintu samping dan duduk di samping Chand yang sudah siap memutar kemudi.
“Sabuk pengaman jangan lupa,” ucap Chand begitu datar dan dingin dengan pandangan lurus tertuju ke depan.
“Ya, siapa tahu, Dhis. Buktinya kamu tadi naik motor sambil makan. Coba bayangkan, kalau sisa sampah makanan yang kamu bawa, jatuh dan terkena angin, terus mengenai pengguna jalan lain, bagaimana?” tutur Chand.
“Ah, kalau masalah itu aku juga ngerti. Aku nggak pernah buang sampah sembarangan, ya. Asal kamu tahu. Sampah-sampahku selalu kumasukkan ransel sampai aku ketemu tempat pembuangan. Paham?” oceh Gendhis dengan raut kesal. Dia baru menyadari jika Chand ternyata cerewet, seperti kakek-kakek. Bahkan ayahnya kalah cerewet dibandingkan pria yang sedang menyetir di sampingnya itu.
“Ah, itu tadi buktinya kamu memasukkan tulang ayam ke jaket ojol,” sanggah Chand, masih dengan gayanya yang kalem dan tenang.
“Ya, itu karena kaget aja!” kilah Gendhis. Mukanya merah padam, ketika tahu bahwa Chand memerhatikannya tadi.
“Seharusnya kamu tidak merugikan orang lain,” Chand terus berusaha menasihati.
“Ya, ampun,” Gendhis menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. “Masih lama tidak? Aku ingin buru-buru sampai di mall,” keluhnya. Belum ada lima menit dan Gendhis sudah merasa lelah dengan sikap Chand yang terkesan menggurui.
__ADS_1
“Mau melihat-lihat pameran buku lagi?” tanya Chand sambil menoleh ke arah Gendhis.
“Bukan! Aku mau meliput acara Wedding Expo,” sahut Gendhis sedikit ketus.
“Oh, sejak kapan tabloid Hello Girls tertarik untuk mengangkat berita tentang pameran pernikahan? Bukannya kalian lebih berfokus pada pria-pria seksi yang setengah telanjang?” cibir Chand seraya terkekeh pelan.
“Aku sudah tidak bekerja di sana! Aku sudah mengundurkan diri,” jawab Gendhis.
“Oh, ya?” tampak ekspresi Chand sedikit terkejut mendengar hal tersebut. “Baguslah, kalau begitu.” Setelah berkata demikian, pria berdarah India itu tak mengucapkan sepatah katapun sampai tiba di tujuan.
“Terima kasih,” ucap Gendhis begitu mobil Chand sudah terparkir rapi di basement mall.
“Kapan kamu pulang ke Jogja?” tanya Chand tiba-tiba, sehingga Gendhis langsung menghentikan geraknya.
“Masih belum tahu. Kenapa memangnya?” Gendhis balik bertanya. Secercah harapan indah kembali muncul di sudut hati gadis itu. Lubang hidungnya yang mungil kembang-kempis menunggu jawaban dari Chand.
“Nggak apa-apa. Mama berkali-kali mengatakan padaku kalau dia ingin bertemu dan mengajakmu jalan-jalan. Jadi, mumpung sekarang ketemu, tidak ada salahnya aku menyampaikan pesan mama,” jelas Chand.
“Oh.” Bunga-bunga yang sempat bermekaran, langsung layu seketika saat Gendhis mendengar jawaban Chand. Mungkin sudah saatnya bagi gadis itu untuk menghapus bersih semua angan-angannya tentang Chand.
.
.
.
Sambil nungguin yang patah hati, mampir dulu yuk di karya keren yg satu ini
__ADS_1