Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Kecewa


__ADS_3

Manggala menyudahi ciumannya bersama Gendhis. Dengan wajah semringah, pria berambut gondrong itu menggenggam pergelangan tangan sang kekasih. “Ayo. Kita akan berkeliling villa,” ajaknya seraya menuntun Gendhis ke bagian lain bangunan megah tersebut.


Manggala, membangun villa mewahnya di atas lahan yang terbilang luas. Selain bangunan megah dua lantai, halaman depan dan belakangnya pun sangat lega. Sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat pesta kebun. Di sana, bisa menampung banyak orang dengan segala ornamen pelengkap pesta.


“Aku berencana untuk menggelar resepsi pernikahan kita di sini, Dhis. Bagaimana menurut kamu?” tanya Manggala meminta pendapat Gendhis, yang masih terpukau dengan pemandangan indah di sekitar villa. Selain itu, halaman belakangnya juga tertata dengan apik. Dari mulai rumput, tanaman, kolam renang, hingga hal-hal lainnya yang semakin memperindah suasana.


“Dhis? Bagaimana?” tanya Manggala sekali lagi. Dia menepuk pundak sang kekasih hingga putri kedua Susena itu tersadar.


“Ah, iya. Ya, udah. Ayo buruan kita nikah,”sahut Gendhis dengan segera.


Manggala tertawa pelan mendengar jawaban gadis itu. Dia merengkuh pundak kekasih pujaan hatinya dengan hangat dan mesra. “Kamu udah nggak sabar ya?” godanya seraya mencium pucuk kepala Gendhis dengan gemas. “Sabar, sebentar lagi. Kita harus mempersiapkan segalanya dengan matang.”


“Lah, kemarin kamu bilang sama papa aku kalo kamu siap nikah meskipun besok,” protes Gendhis dengan wajah ditekuk.


“Itu kan basa-basi aja, Dhis. Biar calon mertua terkesan dan nggak mikir kalau aku cuma main-main,” ujar Manggala diiringi tawa renyah.


“Ih, kamu ya!” Gendhis menoleh pada pria yang memiliki tinggi beberapa senti di atas dirinya. Dia bahkan harus sedikit mendongak.


“Ya, intinya kamu kan sudah tahu bahwa aku memang serius. Setelah dari sini, kita akan langsung mempersiapkan semuanya. Apa kamu tertarik pake wedding organizer milik Chand?” goda Manggala lagi.

__ADS_1


“Idih, kayak nggak ada wo lain yang bagus. Kalau di Yogyakarta memang nggak ada, kita pake dari luar daerah aja. Bila perlu, kita pake wo dari luar negeri. Luar angkasa. Luar dunia ….” Ekor mata Gendhis mengarah pada Manggala yang sedang menatapnya dengan sorot aneh.


“Astaga, kamu ini menggemaskan sekali sih, Sayang.” Manggala menghadapkan tubuhnya pada Gendhis. Dia mencubit kedua pipi gadis itu sambil menggoyang-goyangkannya. Manggala terlihat begitu menikmati apa yang dia lakukan. Berbeda dengan Gendhis yang ingin protes, tapi dia juga suka diperlakukan seperti itu.


“Ya, sudah. Ayo, kita lihat-lihat ruangan lain,” ajak Manggala setelah puas bermain-main dengan Gendhis. “Kamu sudah puas 'kan lihat-lihat halaman belakangnya?”


Gendhis mengangguk sambil tersenyum manja. Dia menurut saja, ketika Manggala menuntunnya kembali ke dalam. Pria itu menunjukkan setiap sudut villa. Mulai dari ruangan-ruangan yang ada di lantai bawah seperti dapur, ruang santai, dan lain-lain.


Setelah puas menjelajah lantai pertama, Manggala mengajak Gendhis ke lantai kedua. Di sana ada sebuah kamar. Selain itu ada bukaan yang terlihat sangat nyaman. Manggala mengajak Gendhis melihat kamar, yang biasa dirinya tempati jika menginap di villa tersebut.


Kamar itu bernuansa gelap dan kental aroma pria, jika dilihat dari furniture dan segala hal yang ada di sana. Semuanya tertata rapi dan sangat apik. Satu hal yang menjadi perhatian Gendhis adalah setumpuk buku tebal di atas meja. “Wow, Raja buku,” celoteh Gendhis seraya tertawa renyah.


Sementara, Manggala tak menanggapi. Dia hanya memandang lekat gadis cantik yang kini sudah terlihat jauh lebih rapi dan cantik dalam berpenampilan. Makin lama, Manggala semakin tak bisa menahan diri. Dia langsung saja merengkuh pinggang ramping Gendhis. Pria itu menariknya hingga masuk ke dalam pelukan. Manggala mendekap erat tubuh Gendhis hingga benar-benar merapat padanya. Tak ada hal lain yang dua sejoli itu lakukan, selain kembali berciuman dengan mesra.


Lu.matan demi lu.matan terus diberikan Manggala, hingga Gendhis merasa seperti melayang. Terlebih, setiap rabaan lembut pria itu membuat Gendhis kian terlena. Dia sampai tak menyadari bahwa bagian bawah dress yang dikenakannya sudah tersingkap, sehingga Manggala dapat menikmati paha mulus Gendhis dengan leluasa.


Makin lama, adegan yang mereka lakukan semakin panas. Manggala, bahkan sudah berhasil membuka empat kancing depan dress yang Gendhis pakai, hingga bagian dada gadis itu terbuka. Manggala bahkan membenamkan wajahnya di sana berkali-kali. Membuat Gendhis merinding karenanya.


“Ngga,” desah Gendhis parau.

__ADS_1


Manggala tidak menyahut. Pria itu kembali melu.mat mesra bibir Gendhis.


“Ngga,” desah Gendhis sekali lagi, “jangan ….” cegah Gendhis, ketika jemari Manggala menelusup masuk dan menyentuh bagian terdalamnya. Gendhis kian gelisah, saat Manggala bermain-main di sana. “Jangan, Ngga,” pinta Gendhis dengan tatapan sayu.


Manggala yang sudah dikuasai nafsu, tak memedulikan ucapan Gendhis. Dia kembali mencium gadis itu. Lagi-lagi, Gendhis tak kuasa menolaknya. Baru kali ini, gadis itu merasakan perlakuan demikian dari seorang pria. Antara bingung dan menikmati, itulah yang Gendhis rasakan. Dia tak tahu harus melakukan apa, karena ternyata rasanya sangat menyenangkan.


“Ngga, aku takut,” ucap Gendhis khawatir, ketika Manggala sudah melepas T-Shirt yang dia kenakan.


“Nggak apa-apa, Dhis,” balas Manggala setengah berbisik. “Lagi pula, kita akan menikah.” Manggala merekatkan telapak tangannya ke telapak tangan Gendhis. Pria itu sebenarnya sudah tak sabar untuk memulai apa yang selama ini dia inginkan. Namun, Manggala tahu betul bahwa Gendhis adalah perawan asli. Dia harus melakukannya dengan sangat hati-hati.


“Ngga.” Gendhis mere.mas tengkuk pria itu, ketika Manggala semakin merekatkan tubuh mereka. Namun, kondisi mereka saat itu masih sama-sama berpakaian, meskipun Manggala sudah melepas T-Shirtnya.


"Ngga ... ." de.sah Gendhis seraya memejamkan mata rapat-rapat. Sementara tangan Manggala bergerak semakin liar. Sedikit lagi, mungkin Gendhis akan pingsan karena tak kuat menahan serangan sang kekasih.


Beruntung, telepon genggam Gendhis tiba-tiba berdering nyaring. Nada panggilan khusus yang menunjukkan bahwa sang ayahlah yang tengah menghubunginya. "Ngga, papaku ... ." Gendhis mendorong pelan tubuh atletis Manggala sehingga cukup baginya untuk membalikkan badan dan meraih benda pipih yang berada di dalam tas selempang miliknya.


Dengan tangan gemetaran, Gendhis menerima panggilan itu. Sementara mata bulatnya memperhatikan Manggala yang tampak sayu. "Ada apa, Pa?" tanya Gendhis.


"Kamu di mana? Kok nggak pulang-pulang? Makan malam sudah siap, nih. Keburu dingin," cerocos Susena.

__ADS_1


Berhubung posisi dua sejoli itu sangat dekat, Manggala dapat mendengarkan kalimat Susena dengan jelas.


"Ya, sudah. Kita balik sekarang," Manggala mengempaskan napas pelan sambil memasang raut kecewa.


__ADS_2