
Pandangan mata Chand dan Gendhis saling beradu. Harus diakui bahwa gadis yang dia ejek konyol dan aneh kemarin, ternyata memiliki paras yang cantik. Namun, itu harus dilihat dengan saksama tentunya. Kecantikan Gendhis, selama ini tertutupi oleh penampilan serta sikapnya yang unik.
Sekilas, Chand seperti melihat wajah teduh Binar di sana. Namun, dengan segera pria itu menepisnya. Dia harus membuang jauh masa lalunya yang menyedihkan.
Gendhis pun tak mampu berkata apa-apa, ketika dia dapat menatap pria tampan itu dari jarak yang sangat dekat. Tubuhnya seolah membeku. Hanya bibirnya yang terlihat bergerak pelan. “Kalau ini, Sarung Khan mah lewat,” gumamnya lirih.
Adegan saling pandang itu berakhir, tatkala asisten fotografer tersandung kabel, lalu menjatuhkan payung studio yang berwarna hitam. Sontak, semua orang terkejut. Termasuk Chand dan Gendhis. Malah, ada salah satu penata kostum yang latah dan berteriak tak karuan. “Eh, copot, copot. Udangnya lari. Udang lari, eh,” racaunya.
Gendhis refleks mendorong tubuh Chand hingga pria itu terhuyung.
“Aduh, apa-apaan ini?” protes Chand.
“Eh, iya. Maaf. Aku kaget,” kilah Gendhis. Dia mencoba untuk kembali bersikap profesional. Dengan gaya yang sok serius, Gendhis memegang tangan Chand dan mengarahkannya sesuai keinginan dia. Gadis itu terlihat seperti seorang dalang yang sedang memainkan wayang.
“Ah, kamu.” Chand berdecak kesal. “Pasti kamu sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Ya, kan?” tukasnya.
“Eh, jangan sok kecakepan, ya!” balas Gendhis sewot. “Pose kamu tuh kaku banget! Makanya aku arahin!” Gendhis tak mau kalah. Dia mengarahkan telapak tangan Chand pada pinggang, “Nah, begitu! Ini baru benar. Dasar! Belum apa-apa udah ge-er,” cibirnya seraya berbalik membelakangi Chand. Gendhis hendak kembali ke posisinya.
Namun, tanpa sengetahuan Chand, Gendhis mengendus serta mencium telapak tangannya sendiri. Tangan yang tadi dia gunakan untuk menyentuh pipi dan pergelangan pria itu. “Lumayan,” ucapnya pelan sambil terkikik geli.
“Oke, lanjut!” Gendhis kembali memberikan aba-aba, sebagai tanda bahwa pengambilan gambar akan dimulai lagi. Dia begitu serius dan total dalam melakukan pekerjaannya. Gendhis terlihat sangat nyaman dan menyukai apa yang dia kerjakan. Diam-diam, Chand memperhatikan hal itu. Pria tampan tersebut hanya menyunggingkan senyuman samar.
Dua jam telah berlalu. Kegiatan pemotretan untuk cover sudah selesai. Chand langsung meninggalkan studio setelah berganti pakaian. Tak seperti kemarin-kemarin, pria blasteran India itu bersikap cukup ramah kepada Gendhis saat berpamitan. Walaupun hanya sedikit. Mungkin sekitar dua persen saja, tapi hal itu telah berhasil membuat Gendhis berbunga-bunga.
Dengan mudah, Gendhis melupakan sumpah serapah yang dia lontarkan ketika berada di villa Chand kemarin. Sebesar itukah pengaruh serta pesona mantan calon suaminya tersebut terhadap dirinya?
“Dhis, temenin aku, yuk,” ajak Sinta tiba-tiba.
“Ke mana, Mbak?” tanya Gendhis.
“Ada liputan di salah satu café mewah kekinian di Jalan Coklat. Sekalian minta tolong kamu foto-fotoin produk makanan dan minuman mereka dengan gaya yang estetik, ya,” jawab Sinta sambil menarik lengan Gendhis.
__ADS_1
“Oke, deh. Gimana kalau sekalian makan siang saja ya?” tawar Gendhis.
“Boleh. Nanti aku yang traktir,” balas Sinta dengan sikapnya yang selalu manis.
Mendengar kata 'traktir' yang Sinta ucapkan, Gendhis seketika mengangguk tanpa pikir panjang. Dua gadis berbeda karakter itu pun segera menuju area parkir. Mereka meminjam motor milik salah satu staff di sana. Gendhis membonceng Sinta dengan kecepatan sedang hingga tiba di café yang dituju.
Sesampainya di sana, Sinta langsung mengajak Gendhis untuk bertemu dan mewawancarai sang pemilik café. Wawancara itu sendiri berlangsung cukup singkat. Tak sampai satu jam, termasuk acara foto-foto. Pemilik café terlihat begitu puas dengan hasil kerja Gendhis.
“Kalian sudah makan siang, belum?” tanya pemilik café yang bernama Roy.
“Belum,” jawab Gendhis buru-buru dan nyaring.
“Kalian boleh makan siang di sini. Gratis! Pesan apa saja yang kalian suka,” ujar Roy, membuat Gendhis hampir saja melonjak kegirangan.
“Makan di rooftop aja, Dhis. Mumpung suasana nggak terlalu panas,” bisik Sinta. “Tadi aku lihat pemandangan di atas indah banget,” ujarnya lagi.
“Oke, deh.” Gendhis tak perlu berpikir lama-lama. Makan di manapun dia rela, asalkan kenyang dan tak menguras kantong. Seperti yang dikatakan si pemilik café tadi, mereka boleh memesan apa saja. Semuanya gratis.
“Wah, benar kata Mbak Sinta. Bagus banget di sini,” ujar Gendhis seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak panorama pegunungan yang menjadi latar belakang pemandangan di rooftop tersebut.
“Duduk dulu, Dhis,” ajak Sinta. Dia mengarahkan Gendhis ke sebuah meja kursi dari kayu dan dilengkapi dengan payung lebar berbentuk artistik. Gendhis pun menurut. Dia menarik sebuah kursi lalu duduk di hadapan Sinta.
Cukup lama mereka mengobrol sambil santap siang. Mumpung gratis, Gendhis bahkan memesan tambahan satu porsi lagi. Barulah dia merasa benar-benar kenyang. “Sekarang ke mana kita?” tanyanya seraya mengusap mulut menggunakan tisu.
“Balik, dong. Sekarang masih jam berapa,” jawab Sinta.
Baru saja kedua orang itu hendak beranjak, terdengar dering ponsel yang berasal dari telepon genggam Sinta. “Eh, tunggu. Ada telepon.” Sinta buru-buru merogoh tas selempang. Wajah manisnya seketika berbinar ceria saat membaca nama yang tertera di layarnya.
“Siapa? Pacar mbak, ya?” Gendhis menaikturunkan alis untuk menggoda Sinta.
“Bukan. Ini dari Pak Manggala,” sahut Sinta sebelum mengangkat telepon itu. Dia sempat berbincang cukup lama dengan si bos. Sesekali Sinta tertawa, lalu mengangguk. Semua ekspresi Sinta terekam jelas dalam otak Gendhis, karena dia terus memperhatikan rekan barunya itu sejak tadi.
__ADS_1
Gendhis mengulum senyum, saat Sinta mengakhiri panggilan. “Cie, Mbak Sinta. Baru tahu aku,” celetuknya sembari menutupi mulut dengan tangan.
“Apa, sih? Nggak jelas,” balas Sinta, lalu tertawa lebar. Dia sama sekali tak dapat menyembunyikan rasa senang saat menerima telepon yang baginya merupakan suatu hal yang sangat istimewa.
“Memangnya, Pak Manggala ngomong apa?” tanya Gendhis setengah berbisik.
“Hanya masalah pekerjaan. Besok aku disuruh meeting dengan para editor,” jawab Sinta sambil tersenyum malu-malu. Dia lalu melingkarkan tangan di pundak Gendhis.
“Sejak kapan Mbak Sinta naksir Pak Manggala?” selidik Gendhis.
“Ya, ampun, Gendhis. Aku tuh nggak ada perasaan apa-apa,” sanggah Sinta, walaupun rona mukanya menyiratkan sesuatu yang lain.
“Bohong dosa, lho. Jangan ditutup-tutupin. Ntar jadi jerawat. Ayo, cerita saja sama aku. Dijamin aman,” rayu Gendhis mengacungkan dua ibu jarinya ke depan wajah Sinta.
“Ih, apa, sih? Nggak ada!” Mati-matian Sinta menegaskan dengan wajah yang semakin memerah.
“Ya, udah kalau nggak mau ngomong. Aku nggak akan maksa.” Gendhis memasang wajah konyol sambil memainkan alis. Sinta pun tertawa. Tawa Sinta begitu renyah dan menular, sehingga Gendhis ikut pula tertawa.
Akan tetapi, keceriaan itu tak berlangsung lama. Ketika mereka tiba di lantai bawah dan hendak melintasi ruangan dasar, ekor mata Gendhis menangkap sesosok pria yang tadi baru saja dia ambil foto-fotonya. Pria itu tampak begitu akrab mengobrol dengan seorang wanita yang luar biasa cantik di mata Gendhis.
Pria itu tak lain adalah Chand. Dia terlihat sangat ceria. Chand banyak tertawa lepas dengan si wanita. Sungguh ekspresi yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan saat Chand berhadapan dengan Gendhis. Puncaknya adalah ketika Chand mencium pipi kiri dan kanan si wanita, lalu memeluknya hangat.
.
.
.
aduduu yg lagi patah hati, refreshing dulu deh di karya keren yg satu ini
__ADS_1