Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Kode Rahasia


__ADS_3

“Hah, yang bener?” Nenek Sri segera menghentikan keluh kesahnya. “Memangnya Ujang ini bekerja di mana?” tanyanya antusias.


“Saya membuka usaha kecil-kecilan, Nek,” jawab Manggala merendah. Padahal Gendhis tahu bahwa pria dengan rambut agak gondrong itu bukanlah pria sembarangan.


“Biarpun kecil-kecilan, tapi kalau usaha sendiri namanya tetap pengusaha,” sahut Nenek Sri. “Ya, sudah. Ayo, kita makan dulu. Hidangan sudah siap.” Lagi-lagi, Nenek Sri yang membuat keputusan.


Setelah mengarahkan kedua pria itu untuk berjalan lebih dulu ke arah ruang makan, Nenek Sri tiba-tiba menghentikan langkah. Dia mencekal lengan Gendhis. “Kamu terima saja kalau ditawari kerja sama dia, ya. Nenek tidak mau kamu punya banyak waktu luang yang tak bermanfaat selama di sini," tegasnya.


“Kenapa memangnya kalau aku punya banyak waktu luang, Nek?” Gendhis mengernyitkan kening.


“Akan terlalu berbahaya buat orang yang sedang patah hati. Nanti kamu jadi sering melamun, tertawa sendiri. Ujung-ujungnya, kalau tidak gila, ya bunuh diri,” jawab Nenek Sri dengan mata menyipit. Menandakan bahwa dia berkata dengan sangat serius.


“Kenapa sih, semua orang selalu berpikir seperti itu, Nek? Kemarin Mbak Hanum juga mengira aku bakalan bunuh diri. Kayak nggak ada cowok lain aja,” gerutu Gendhis seraya menghentakkan kaki, kemudian masuk ke ruang makan. Jika dipikir-pikir, justru yang akan membuatnya gila hingga bunuh diri, bukanlah karena patah hati. Justru sikap dari orang-orang di sekeliling Gendhis lah yang membuat gadis itu kian stress.


Tanpa diduga, Nenek Sri mengikuti langkah Gendhis, lalu berjalan mendului cucunya. Dia lalu duduk di sebelah Manggala sambil berkata, “Cucu saya bersedia bekerja di tempat Ujang. Jadi, kapan dia bisa mulai?”


“Nek!” protes Gendhis setengah putus asa. Sudah menjadi kebiasaan Nenek Sri untuk memutuskan segala sesuatu tanpa persetujuan orangnya. Padahal Gendhis masih berniat untuk relaksasi dan bersantai sejenak selama beberapa hari, demi menenangkan pikiran. Namun, sepertinya Nenek Sri tak mengerti akan hal itu. Jelas sudah, bahwa dia tak ingin jika Gendhis berada di rumah sepanjang hari.


“Kapanpun Mbak Gendhis bersedia, Nek. Saya juga siap,” jawab Manggala dengan tenang.


“Kalau begitu mulai nanti malam saja,” sahut Nenek Sri asal.


“Ih, si Nenek gimana, sih? Mana ada orang mulai kerja malam-malam,” protes Gendhis.


“Ah, banyak kok orang yang kerjaannya justru malam-malam. Satpam kompleks juga keluarnya malam," balas Nenek Sri.


"Pokoknya, lebih cepat akan lebih baik, Dhis. Nenek ingin kamu segera punya banyak kegiatan. Selain itu, biar Nenek tidak perlu mengeluarkan biaya terlalu banyak,” celoteh Nenek Sri.


"Astaga, baru juga nyampe sini," keluh Gendhis pelan.


Namun, Nenek Sri tak menggubrisnya sama sekali. Dia malah lebih fokus kepada Manggala. “Ujang, tahu tidak?” Ibunda Susena tersebut menghentikan Manggala yang hampir memasukkan satu sendok penuh nasi ke dalam mulut.

__ADS_1


Pria tampan itu kemudian tersenyum seraya menoleh kepada Nenek Sri. Dengan terpaksa, dia meletakkan sendoknya kembali ke atas piring. “Kenapa, Nek?” tanyanya.


“Gendhis itu jarang mandi. Sekalinya mandi, pasti ngabisin listrik dan air panas,” ungkap Nenek Sri berapi-api. “Bisa habis uang pensiunan Nenek kalau begitu caranya,” resah wanita dengan kacamata yang bertengger di atas batang hidung, tanpa ada rasa sungkan sama sekali.


“Ya, Tuhan! Begini amat punya nenek. Untung tinggal satu-satunya." Gendhis mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Hilang sudah harga dirinya di depan Manggala. Gendhis sudah tidak mempunyai apapun hal baik yang bisa dipamerkan pada pria itu.


“Kalau begitu, biar Gendhis datang ke kantor besok pagi untuk wawancara, Nek,” ucap Manggala tanpa memedulikan keluh-kesah Gendhis.


"Nah! Itu jauh lebih baik," sahut Nenek Sri antusias.


"Tapi, besok kan hari Minggu." Gendhis menopang dagu sambil memainkan sendok di atas piring.


"Tidak apa-apa. Ada yang lembur, kok. Besok aku akan mampir ke kantor," sahut Manggala.


"Apa? Di hari Minggu? Yang benar saja!" Gendhis merasa tak habis pikir. Dia tak tahu harus berkata apa, selain memberikan kode 69 kepada pria tampan yang baru dikenalnya tersebut.


Manggala yang sebenarnya tidak terlalu paham dengan kode 69 dari Gendhis, segera membalas dengan memberikan kode 86. Hal itu, membuat Gendhis menautkan alis. Akan tetapi, gadis itu pura-pura mengerti. Gendhis pun mengangguk-angguk seperti Burung Kutilang dalam lagu.


Sepeninggal Manggala, tiba-tiba ponsel milik Gendhis berdering. Nama Kalini muncul di layar. Entah untuk apa ibunda Chand tersebut menghubunginya. Gendhis pun memilih duduk di kursi rotan yang ada di teras. "Halo. Selamat siang, tante?" sapa Gandhis ragu.


"Halo, Dhis. Apa kabar?" balas Kalini.


"Kabar baik, tante. Tante sendiri bagaimana?" Gendhis balik bertanya.


"Beginilah, Dhis. Tante masih merasa kecewa dengan keputusan Chand. Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Keputusan Chand itu bagaikan kaca yang pecah. Sulit untuk dikembalikan menjadi seperti semula. Chand memang terlihat tenang. Namun, saat dirinya sudah mengambil keputusan, maka dia tak akan menariknya lagi," terang Kalini menjelaskan. Janda dua anak itu mengembuskan napas pelan.


"Lalu?" tanya Gendhis masih belum menangkap maksud ibunda Chand tersebut menghubunginya.


"Bagaimana kalau besok kita makan siang bersama? Tapi, kamu datang sendiri saja ya. Nggak usah ditemenin sama papa kamu." Kalini terdengar was-was.


"Oh maaf, Tante. Bukannya menolak, tapi aku nggak bisa," sahut Gendhis hati-hati.

__ADS_1


"Kenapa, Dhis? Apa kamu nggak mau lagi bertemu sama tante?" Kalini lagi-lagi terdengar resah.


Gendhis tak segera menjawab. Dia merasa bimbang, apakah harus menjawab dengan jujur atau berbohong saja. Gadis itu pun menatap ke langit yang menaungi Kota Bandung. Terlihat sangat cerah juga indah. Gendhis seperti berharap mendapat sebuah pencerahan dari sana.


"Apapun alasannya, Mama tidak suka jika kamu berbohong." Selalu, kata-kata seperti itulah yang diucapkan sang mama kepada Gendhis.


"Berbohong sedikit demi kebaikan sah-sah saja. Terlalu jujur juga bisa membunuh kita." Sang papa menimpali dengan kata-kata yang sebaliknya.


Kedua pendapat dari orang tuanya tersebut membuat Gendhis bingung. Gadis itu hanya menonton sang mama yang tengah beradu kekuatan dengan sang papa, demi memenangkan pendapat masing-masing.


"Hadeuh." Gendhis mengembuskan napas kesal, membuat bayangan kedua orang tuanya yang sedang berseteru segera menoleh.


"Kenapa, Dhis?" tanya Susena dan istrinya secara bersamaan.


"Aku harus bagaimana?" tanya Gendhis.


"Ngapain juga kamu bohong? Emang apa pengaruhnya buat Chand? Dia nggak akan nyamperin kamu ke sini, meskipun kamu bilang ada di mana sekarang," jawab sang mama.


"Nah, Papa setuju sekali," timpal Susena bersamaan dengan menghilangnya bayangan kedua orang tua Gendhis, dari sisi kiri dan kanan gadis itu.


"Baiklah," ucap Gendhis setelah beberapa saat termenung untuk mencari pencerahan dari langit.


"Apanya yang 'baiklah'?" tanya Kalini heran.


"Maksudku ... aku nggak bisa menerima ajakan makan siang dari tante. Alasannya, karena sekarang sedang berlibur di Bandung. Aku ingin menenangkan diri, jiwa, raga ...."


"Bandung?" ulang Kalini menyela ucapan Gendhis.


"Iya. Memangnya kenapa, tante?" tanya Gendhis penasaran.


"Tidak apa. Kebetulan sekali. Chand juga sudah dua hari berada di Bandung," jawab Kalini, membuat Gendhis terbelalak.

__ADS_1


__ADS_2