Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Jalan Takdir Yang Berbeda


__ADS_3

“Manggala … sudah pergi?” Gendhis seakan kehilangan tenaga. Sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa lemas.


“Iya, Teh. Dia juga nggak berpesan apapun sama aku. Nggak tahu lagi kalau sama Ayah atau Ibu, ya,” sahut Diwan.


“Kalau begitu … apa aku boleh bicara sama Tante Royani?” tanya Gendhis sambil menahan tangis.


“Oke, Teh. Tunggu sebentar, ya,” ujar Diwan, kemudian hening untuk beberapa saat sampai terdengar suara lembut Royani menyapa Gendhis.


“Ya, halo? Ada apa, Nak Gendhis?” tanya Royani lembut.


“Bi-bisakah saya meminta nomor telepon Manggala, Tante? Saya ingin sekali berbicara dengannya,” pinta Gendhis terbata.


“Nak Gendhis ada di mana sekarang?” Royani malah balik bertanya.


“Saya masih ada di Yogya, Tante,” Gendhis tak mampu menahan kesedihan. Dirinya terisak pelan saat mendengarkan tutur kata lembut wanita yang hampir saja akan menjadi mertuanya itu.


“Nak,” panggil Royani. “Sabar, ya. Tante tidak bisa membantu apa-apa, karena Manggala sudah membuat tante bersumpah untuk tidak membagi nomor telepon barunya kepada siapapun, kecuali keluarga inti,” terangnya.


“Termasuk saya, Tante?” tanya Gendhis dengan air mata yang semakin deras mengalir.


“Dengan berat hati, tante katakan, iya. Manggala tidak ingin nomor kontaknya diketahui oleh siapapun yang berasal dari masa lalunya. Begitu dia bilang sebelum berangkat,” jawab Royani penuh sesal.


“Masa lalu? Saya sudah menjadi masa lalu?” ulang Gendhis lirih. Saat itulah sejuta penyesalan datang menerjang seperti air bah, menenggelamkan angan-angan indah Gendhis tentang Manggala. “Ini semua salah saya, Tante. Sayalah yang memutuskan untuk berpisah. Bahkan ketika Manggala memohon pada saya berkali-kali ….” Kalimat Gendhis terjeda oleh tangis yang kian kencang.


“Nak, sabar, ya,” hibur Royani. “Tak ada gunanya menyesali semua yang telah lalu. Nak Gendhis sudah mengambil keputusan, begitu pula Angga. Akan selalu ada risiko yang kalian berdua hadapi. Namun, begitulah hidup. Kalian tidak bisa memutar kembali waktu. Satu-satunya yang bisa kalian berdua lakukan hanyalah melangkah ke depan dan berdoa, semoga suatu saat nanti, jalan takdir kalian akan kembali bersinggungan,” tuturnya panjang lebar.


Gendhis semakin tergugu. Dia menggeleng kuat-kuat seraya memegang dahinya. Rasa pilu, pening, dan sesak dalam dada, bercampur menjadi satu. “Saya menyesal, Tante. Saya ingin ketemu dengan Angga. Saya sayang sama dia,” ungkapnya.


“Sayangnya, Angga tidak ingin ditemui siapapun.” Penjelasan Royani membuat Gendhis semakin terpuruk dalam kesedihan. Tangisnya terdengar semakin nyaring, sehingga membuat ibunda Manggala itu ikut menangis.


“Seandainya Nak Gendhis dekat, pasti Tante sudah peluk kamu erat-erat. Nak Gendhis seperti anak perempuan yang tidak pernah tante miliki,” nada bicara Royani terdengar begitu pilu.


“Kapan Angga pulang, Te? Kalau dia tidak ingin ditemui, biarlah Gendhis menunggu dia sampai pulang ke Indonesia,” desak Gendhis tak putus asa.


“Nak … Manggala tak akan pulang. Dia menetap di Irlandia selamanya. Dia sudah mengurus surat permohonan untuk menjadi warga negara Irlandia,” kini giliran Royani yang menangis. “Tante tidak bisa mencegah dia. Manggala adalah anak yang memiliki kemauan yang sangat kuat.”


“Astaga,” Gendhis yang awalnya duduk di tepian ranjang, langsung merosot dan duduk meringkuk di lantai. “Ini semua salah saya, Te. Ini semua salah saya,” ucapnya berkali-kali.


“Sudahlah, Nak Gendhis. Ini bukan salah siapa-siapa. Kalian sudah sama-sama dewasa dan paham betul dalam menentukan sikap. Tante hanya bisa mendoakan, jika kalian benar-benar berjodoh, maka semoga kalian cepat dipersatukan kembali. Namun jika tidak, semoga kalian dipertemukan dengan pasangan yang terbaik.”


Mendengar penuturan Royani, Gendhis hanya mampu menarik napas panjang. Tak ada lagi yang bisa dirinya lakukan selain berpamitan dengan sopan, lalu mengakhiri panggilan. Detik berikutnya, Gendhis melemparkan ponselnya begitu saja ke atas nakas. Dia kemudian berbaring di lantai sambil memejamkan mata.

__ADS_1


Adegan demi adegan bersama Manggala berputar dengan jelas dalam kepalanya. Mulai dari pertama kali dirinya bertemu dengan pria rupawan berambut gondrong itu, sampai saat Manggala berdiri di depan pagar rumah Nenek Sri. “Angga,” panggilnya lirih sambil terus menangis, sampai dirinya kelelahan dan tertidur.


Gendhis terbangun saat pipinya terasa perih. Samar-samar dia merasakan seseorang menampar pipinya berkali-kali. “Aduh,” rintihnya pelan.


“Alhamdulillah, Mbak Gendhis sadar,” ujar Utari berseri-seri. Tak lupa dia menambahi tamparannya sekali lagi di pipi kanan sang kakak.


“Aduh! Apa-apaan sih, Tar!” sentak Gendhis seraya memegangi pipinya sambil berusaha untuk duduk.


“Mbak Gendhis pingsan, ya? Sakit, ya?” tanpa mempedulikan protes keberatan kakaknya, Utari terus mencecar Gendhis.


“Siapa yang pingsan? Aku ketiduran! Lagian udah tahu sadar, kenapa ditampar lagi?” omel Gendhis.


“Kapan lagi ada kesempatan kayak gini, Mbak,” timpal Utari dengan entengnya. “Kenapa matanya bengkak, Mbak? Habis nangis, ya? Nangisin siapa? Manggala?”


Gendhis mengeluh pelan menghadapi adik bungsunya yang berisik. Sikap Utari yang kerap tak masuk akal, membuatnya geleng-geleng kepala. “Udah, keluar sana! Aku mau sendirian di kamar!” usir Gendhis.


“Oh, nggak bisa. Mbak harus keluar kamar!” sergah Utari.


“Berani kamu ngatur-ngatur aku?” Gendhis melotot keberatan.


“Bukannya begitu, Mbak. Ada tamu di bawah yang nyariin Mbak Gendhis,” Utari menarik lengan kakaknya, setengah memaksa.


“Aduh, males, ah. Bilang aja aku sakit,” tolak Gendhis yang berpindah dari lantai menuju kasurnya yang empuk.


“Siapa sih, memangnya?” Gendhis mulai penasaran. Jauh di dalam hati kecilnya, dia ingin Manggala lah yang mencari.


“Tante Kalini,” jawab Utari setengah berbisik, meruntuhkan harapan Gendhis yang memang tak masuk akal.


“Tante Kalini?” Gendhis mengernyit keheranan. “Tumben dia mau ke sini. Biasanya kan selalu menghindar dari papa,” gumamnya.


“Eh, jangan salah. Mereka berdua tuh sekarang akrab,” sahut Utari antusias.


“Masa, sih? Kok bisa?” sejenak, Gendhis melupakan kesedihannya dan antusias menunggu penjelasan Utari.


“Awalnya Papa semangat pendekatan, tapi Tante Kalini terus menolak. Akhirnya Papa mengalah, terus mengajak berteman. Baru deh, Tante Kalini mau,” terang Utari.


“Ya, ampun,” Gendhis tersenyum samar. Bersyukur dirinya menemukan hiburan di kala kesedihan melanda. “Ya, udah, deh. Kalau Tante Kalini, aku mau nemuin.”


Gendhis beringsut turun dari ranjang, lalu buru-buru mencuci muka di kamar mandi. Tak lupa setelah mengeringkan wajah, Gendhis membubuhi paras cantiknya dengan bedak, agar mata bengkaknya bisa sedikit tersamarkan.


“Sudah siap,” gumam Gendhis pada dirinya sendiri. Bersama Utari, dia menuruni anak tangga dan berjalan pelan menuju ruang tamu.

__ADS_1


“Hai, Dhis,” sambut Kalini. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar sambil berdiri dari duduknya.


“Hai, Tante. Kejutan sekali,” balas Gendhis. Dia menyambut pelukan hangat dari Kalini.


“Ya ampun, Nak. Tante turut sedih dengan apa yang terjadi sama kamu. Tante harap, kamu tidak patah semangat dan tetap menjadi Gendhis yang tegar serta ceria,” ucap Kalini seraya mengajak Gendhis duduk di dekatnya.


“Mau sedih terus juga percuma, Tante. Aku sadar bahwa aku belum sepenuhnya bisa berpikir dewasa,” sesal Gendhis.


“Sudahlah, Nak. Segala hal yang terjadi tak lepas dari campur tangan Tuhan. Kita tidak pernah tahu akan seperti apa kelanjutan hidup nantinya. Jalani saja. Tak lama lagi, kamu akan segera menemukan jawaban dari kegagalan ini.” Kalini mengelus lembut pucuk kepala Gendhis. Terlihat jelas bahwa ibunda Chand tersebut, begitu mengasihi Gendhis.


"Terima kasih, Tante," balas Gendhis diiringi senyuman lembut. "Oh, iya. Tante dari mana? Jangan bilang kalau memang sengaja datang kemari."


"Emang sengaja. Chand bilang sama Tante, katanya kamu sudah pulang dari Bali. Tante kangen pengen ketemu langsung. Sudah lama kita nggak ngobrol-ngobrol santai kayak dulu lagi," jelas Kalini.


"Ah, Tante. Aku jadi tersanjung. Tante baik banget. Aku sudah anggap Tante seperti mama kandungku." Tanpa sungkan Gendhis memeluk Kalini sekali lagi.


"Nah, kalau begitu artinya kamu nggak boleh nolak ajakan Tante. Ayo, kita jalan-jalan keluar."  Tanpa menunggu jawaban dari Gendhis, Kalini langsung menarik tangan gadis itu keluar rumah.


"Eh! Eh! Mau ke mana, Tante? Aku belum mandi," tolak Gendhis.


"Nggak apa-apa. Lagian udah biasa, kan?" Kalini terus menuntun Gendhis keluar rumah, hingga tiba di dekat mobilnya terparkir. Dia bahkan membukakan pintu untuk gadis itu. "Ayo, masuk," suruh wanita paruh baya itu halus.


"Kita mau ke mana sih, Tan?" Lagi-lagi, pertanyaan itu yang keluar dari bibir Gendhis.


"Pokoknya, kita jalan-jalan. Cuci mata. Cari yang segar-segar," jawab Kalini seraya mendorong pelan tubuh Gendhis, agar masuk ke mobil.


"Tapi, aku nggak bawa uang. Cuma bawa hp ini." Gendhis terlihat ragu.


"Nggak apa-apa," balas Kalini. Dia terus mendorong Gendhis hingga masuk dan duduk.


Namun, begitu sudah berada di dalam kendaraan, seketika Gendhis terpaku. Pasalnya di sana dia mendapati seseorang yang ingin dirinya hindari.


"Hai, Dhis," sapa pria di belakang kemudi, yang tak lain adalah Chand.


.


.


.


double upnya, kakak. malak dikit boleh yaa, mawar aja ga banyak2 🤣🤣🤣.

__ADS_1


sekalian mampir di karya keren yg satu ini yaa..



__ADS_2