Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Sumpah Gendhis


__ADS_3

“Sedang apa kamu di sini?” tanya Chand ketus.


“Dia rekan saya, Pak,” sela Sinta sebelum Gendhis sempat menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya. “Dia bertugas mengambil foto-foto saat wawancara. Juga foto Anda untuk profil nanti. Selain itu, kami akan memakai wajah Anda untuk cover juga. Jadi, nanti dilanjutkan dengan sesi pemotretan di studio ya, Pak,” jelas Sinta.


“Oh. Jadi, dia kerja di Nirwana Media sekarang?” tanya Chand lagi. Sekarang nadanya tak seketus tadi.


“Iya, Pak. Jadi, bagaimana? Apa bisa kita mulai wawancaranya?” tanya Sinta dengan sopan.


“Boleh.” Chand mengangguk, lalu mempersilakan dua gadis itu untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.


Sinta sudah bersiap dengan catatan, sementara Gendhis menyiapkan kamera kesayangan. Dia hendak membidik wajah rupawan itu dengan kameranya ketika Chand tiba-tiba mengangkat tangan. “Nanti saja sesi foto-fotonya, setelah aku selesai diwawancara,” tolak pria tampan tersebut.


“Oh, oke.” Gendhis tak banyak bicara. Dia juga enggan membalas sikap ketus Chand. Gendhis hanya diam dan mendengarkan pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Sinta.


“Sejak kapan Anda memutuskan untuk membuka usaha di bidang wedding organizer?” tanya Sinta sambil menekan tombol pada alat perekam.


“Kira-kira enam tahun yang lalu. Beberapa bulan setelah ayah saya meninggal,” jawab Chand dengan mata menerawang. Tampak jelas sorot pilu yang terpancar dari mata coklatnya. “Cukup lama saya membantu papa membesarkan bisnis retailnya, hingga pada satu titik saya merasa bosan dan menginginkan sesuatu yang berbeda,” lanjut Chand.


“Anda mudah bosan rupanya,” celetuk Gendhis tanpa sengaja, membuat Sinta maupun Chand serempak menoleh kepadanya. Mereka berdua sama-sama melotot ke arah gadis tomboy itu. “Eh, maaf,” ucap Gendhis yang menyadari kesalahannya. Dia mengulum bibir, lalu menunduk dalam-dalam.


“Tapi … kalimat rekan saya tadi cukup menarik, Pak,” ujar Sinta tiba-tiba.


“Begitukah menurut Anda?” Chand tersenyum sinis. “Pekerjaan apapun, jika dilakukan secara berulang-ulang setiap harinya, maka pasti akan mencapai titik jenuh. Coba jawab saya dengan jujur, berapa lama Anda bekerja sebagai wartawan?”


“Ehm.” Sinta tak segera menjawab. Dia mengetuk-ngetukkan ujung telunjuknya di dagu. “Sejak lulus kuliah, saya sudah magang di kantor Pak Manggala. Setelah itu direkrut menjadi pegawai tetap beberapa bulan kemudian,” terangnya.


“Lalu, apa yang Anda rasakan setelah bertahun-tahun menggeluti pekerjaan serta aktivitas yang sama setiap harinya?” kejar Chand.


“Lah, kok yang diwawancara kebalik?” celetuk Gendhis lagi keheranan.


“Jawab saja dulu. Ini juga berlaku untuk kamu, Gendhis,” ujar Chand seraya mengarahkan telunjuknya pada putri kedua Susena tersebut.


“Menurut saya, segala sesuatu yang dilakukan dengan hati, akan terasa ringan dan menyenangkan. Apalagi sesuatu itu memang hal yang benar-benar kita sukai,” jawab Sinta diplomatis.


“Oh, ya? Apakah Anda tidak pernah merasa lelah bekerja dengan jam yang tidak pasti? Harus merasa siap kapanpun dan di manapun pimpinan menugaskan Anda? Belum lagi, jika tulisan Anda mendapat banyak tekanan dan sorotan dari editor maupun publik. Jangan lupa, banyaknya tuntutan pada profesi wartawan dan pekerjaan yang tak mengenal akhir pekan,” cerocos Chand tanpa jeda, membuat Gendhis dan Sinta hanya melongo.

__ADS_1


Jujur saja, kata-kata Chand barusan, cukup menohok relung hati Sinta yang paling dalam. Rasa lelah dan jenuh itu pasti ada. Namun, Sinta terus bertahan, karena dia mencintai pekerjaannya.


Berbeda dengan Sinta yang cenderung menerima pendapat Chand. Gendhis saat itu sudah hendak menimpali kata-kata mantan calon suaminya tersebut. Dia begitu gemas saat melihat Chand bersikap jumawa, seolah sudah merasa menang. “Aduh, ribet amat. Bilang aja gampang bosan. Apa susahnya,” geram Gendhis.


“Apa kamu bilang?” Nada bicara Chand meninggi.


“Di mana-mana, kalau orang yang benar-benar mencintai seseorang atau sesuatu, tidak peduli hal itu membuatnya lelah dan jenuh. Dia akan tetap bertahan terhadap apa yang dirinya cintai,” tegas Gendhis dengan wajah sedikit menengadah.


“Ini kok makin melantur ke mana-mana, sih?” Chand berdecak kesal.


“Oh, ini tidak melantur, Pak Chand. Saya sekadar meluruskan saja. Tidak mungkin kita merasa bosan terhadap sesuatu atau seseorang yang sungguh-sungguh kita cintai, kecuali kalau Anda memang melakukannya karena terpaksa,” balas Gendhis.


“Ya, memang saya terpaksa. Sebenarnya saya suka dunia otomotif. Saya sempat bercita-cita menjadi pembalap dan masuk ke dunia balap profesional. Akan tetapi, saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya anak laki-laki satu-satunya dan sulung pula. Mau tidak mau, saya harus merelakan mimpi demi melakukan apa yang seharusnya saya lakukan demi menjaga dan mempertahankan bisnis keluarga,” jelas Chand panjang lebar.


Lagi-lagi Gendhis dan Sinta terbengong-bengong oleh ungkapan hati Chand.


“Dulu saya tidak berminat sama sekali terjun ke dalam dunia bisnis. Akan tetapi, papa terus mendesak dan menggembleng saya. Lama kelamaan, saya mulai menemukan ritmenya. Ada sesuatu yang baru dan saya pelajari setiap hari,” tutur Chand.


“Sampai pada akhirnya, saya mengalami kebosanan dan stress tingkat tinggi. Saat itulah saya melirik usaha wedding organizer. Merancang serta mewujudkan impian pernikahan yang indah dan ideal, sedikit banyak menjadi hiburan bagi saya,” sambung pria rupawan itu.


Sinta yang mendengar kalimat berani sekaligus kurang ajar dari rekan barunya itu, langsung mengeluarkan keringat dingin.


Apalagi, Chand saat itu memperlihatkan raut muka tidak bersahabat. Sinta pun menendang kaki Gendhis sebagai isyarat agar diam.


“Jaga bicaramu, Gendhis,” geram Chand. “Kamu sama sekali tidak paham apapun tentangku. Tidak perlu sok tahu dan bersikap seolah-olah kamu yang paling paham.”


“Idih, siapa yang sok tahu? Memang begitu kenyataannya, ‘kan? Kok kamu marah? Harusnya aku yang marah karena kamu sudah berbuat seenaknya padaku dan keluargaku!” tuding Gendhis tak mau kalah.


Sekarang hanya Sinta yang ternganga sembari memperhatikan dua orang di dekatnya yang sedang melakukan perang urat syaraf itu. “Ehm, Dhis, Pak Chand, apa bisa kita lanjutkan sesi wawancaranya?” tanya Sinta ragu.


“Coba tanyakan padanya, Mbak. Sehebat apa sih Chand Gunadhya? Sekaya apa dia sampai bisa bersikap semaunya?” pinta Gendhis pada Sinta.


“Bersikap semaunya itu yang seperti apa ya, Dhis? Aku nggak ngerti, deh,” bisik Sinta sambil sesekali melirik ke arah Chand. Pria itu seakan hendak menelan Gendhis hidup-hidup.


“Tanya aja langsung sama dia. Apa yang mendasari dia memutuskan hubungan secara sepihak, padahal undangan pernikahan sudah terlanjur disebar. Mbak kebayang ‘kan, betapa malunya aku?” ungkap Gendhis dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Ja-jadi … ka-kalian ….” Sinta terbata. Dia mengarahkan ujung telunjuknya pada Gendhis dan Chand secara bergantian.


“Iya, dia mantanku!” tegas Gendhis tanpa ragu.


“Cih, mantan. Ngadi-ngadi,” cibir Chand yang membuat Gendhis seketika melotot tidak terima.


“Memang iya. Kita dijodohkan dan hampir menikah!” sahut Gendhis berapi-api.


“Dari awal, mama yang semangat. Aku sih nggak,” sanggah Chand. “Aku sangat menentang perjodohan. Apalagi, setelah tahu kalau yang dijodohkan denganku adalah cewek aneh macam kamu.”


“Aneh?” ulang Gendhis. Dari sekian banyak kata-kata pedas Chand, satu kata itulah yang memantik amarah Gendhis hingga ke ubun-ubun.


“Memangnya kamu nggak sadar kalau kamu itu aneh?” sahut Chand. “Wajar sih kalau kamu tidak pernah pacaran dengan siapa pun, karena aku yakin tidak ada cowok yang mau dekat-dekat sama kamu yang nggak jelas dan konyol seperti itu.”


Kalimat Chand yang terakhir itu sudah mengoyak harga diri Gendhis. Saking emosinya, gadis itu sampai tidak bisa berkata-kata. Sungguh dia menyesal, bagaimana bisa dirinya terpikat oleh laki-laki keji bermulut pedas tersebut.


“Jangan sombong ya, Chand Gunadhya. Ingatlah, bahwa Malin Kundang saja dikutuk jadi batu!” geram Gendhis yang membuat dahi Sinta berkerut.


“Apa hubungannya sama Malin Kundang?” pikir Sinta dalam hati.


“Kata-katamu adalah senjata yang bisa saja berbalik ke arahmu!” suara Gendhis menggelegar. “Kamu boleh saja menghina dan menjelek-jelekkan aku sekarang! Namun, ingat baik-baik. Dunia itu berputar!”


“Kalau berhenti ya kiamat,” gumam Sinta.


“Mungkin sekarang kamu ada di puncak dunia, sehingga kamu bisa seenaknya menyakiti perasaan orang lain dengan kata-kata pedasmu. Akan tetapi, aku tidak akan tinggal diam. Akan kubalik duniamu sampai kamu benar-benar berada di bawah kakiku dan aku bisa menginjak-injak harga dirimu sepuasnya! Sama seperti yang kamu lakukan padaku sekarang!” seru Gendhis dengan telunjuk lurus terarah ke wajah Chand.


.


.


.


Sambil liatin orang berantem, mampir dulu yuk di karya keren yang satu ini


__ADS_1


__ADS_2