
Sambil cemberut, Susena mengantarkan kepergian Gendhis dan Manggala menuju rumah sakit. Pria paruh baya itu terus berdiri di teras, sampai mobil yang dipakai putri keduanya itu menghilang dari pandangan.
“Udahlah, Pa. Nggak perlu lebay begitu. Kayak abege aja,” celetuk Utari yang tiba-tiba berdiri di samping kiri sang ayah.
“Iya, Pa. Masih banyak janda di luar sana yang menunggu untuk ditaklukkan,” sambung Byakta yang berdiri di samping kanan Susena.
“Apa sih, kalian ini,” gerutu Susena seraya membalikkan badan dan meninggalkan sepasang suami istri yang tengah tertawa cekikikan tersebut.
Gendhis sendiri sudah hampir tiba di rumah sakit tempat Kalini dirawat. Beruntung Manggala sudah sangat hafal jalan-jalan di Yogyakarta, sehingga Gendhis tak perlu repot memberikan arahan.
Sesampainya di halaman parkir rumah sakit, Gendhis membuka telepon genggam, lalu membaca pesan Chand yang berisi letak ruang rawat inap ibunya.
“Di gedung A, lantai dua, kamar nomor 47,” sebut Gendhis.
“Oke,” Manggala mengangguk, lalu menuntun kekasihnya menuju kamar yang telah disebutkan tadi.
Calon suami Gendhis itu rupanya pencari jejak handal. Terbukti, dia dapat menemukan ruangan Kalini dengan mudah.
“Ketuk pintunya, Dhis,” suruh Manggala.
“Kamu aja, deh,” tolak Gendhis.
“Lah, kenapa?” Manggala terkekeh pelan.
“Nggak apa-apa,” kilah Gendhis seraya membuang muka.
“Kamu pasti masih ada rasa sama Chand, ya?” terka Manggala.
“Nggak ih, enak aja. Siapa juga yang masih mikirin cowok sok kecakepan macam dia,” omel Gendhis sewot. Belum sampai racauannya selesai, tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dari dalam. Chand lah yang membuka pintu itu. Dia sempat tertegun melihat penampilan Gendhis yang sedikit berbeda. Gadis itu kini sudah pandai memoleskan make up tipis dan sederhana pada wajah cantiknya.
“Binar?” desis Chand tanpa sadar.
“Dih, kenapa sih, ni orang? Mabok kali, ya?” celetuk Gendhis dengan nada tak suka.
“Apa kabar, Pak Chand,” sapa Manggala seraya melingkarkan tangannya di pinggang Gendhis, lalu merengkuh kekasihnya erat-erat.
“Eh, kabar baik,” Chand sedikit salah tingkah melihat Gendhis dan Manggala saat itu. “Silakan masuk,” ajaknya kemudian, sembari membuka pintu lebar-lebar.
“Gendhis sudah datang, ya?” Kalini yang awalnya berbaring di ranjang, segera menegakkan tubuh sambil memasang wajah ceria. Namun, kebahagiaan itu sedikit memudar tatkala melihat Gendhis datang bersama seorang pria.
“Tante,” Gendhis merentangkan tangan, lalu menghambur pada Kalini. Dia memeluk wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik dalam kondisi apapun itu dengan erat.
__ADS_1
Sedangkan Manggala memilih untuk berdiri di depan ranjang. Sejenak matanya tajam melirik pada Chand, sebelum kembali memperhatikan interaksi Gendhis bersama Kalini.
“Jangan sakit-sakit, dong, Te. Tante kan belum mengajak Gendhis jalan-jalan berdua,” hibur Gendhis lirih.
“Gimana nggak sakit, Dhis. Tante punya anak cowok satu yang sepertinya nggak tertarik untuk menikah,” keluh Kalini seraya menatap ke arah Chand. “Mau Tante jodohin lagi sama kamu, nggak tahunya kamu sudah punya gandengan,” imbuhnya.
“Ma, ‘kan aku sudah bilang, kalau Gendhis sudah punya pasangan. Mama sih nggak percaya,” tutur Chand.
“Sebenarnya, kami juga akan melangsungkan pernikahan secepatnya, Tante,” timpal Manggala yang sontak membuat Kalini hampir terkena serangan jantung.
“Apa? Jadi kalian benar-benar serius?” ibunda Chand tersebut menggeleng tak percaya.
Gendhis sendiri merasa serba salah. Di sudut hatinya, ada rasa sedih tatkala melihat wajah Kalini yang tampak merana. Namun, saat memperhatikan wajah Chand yang biasa saja, membuat Gendhis menyadari bahwa keputusan menikah dengan Manggala adalah yang terbaik.
“Serius, Tante. Barusan Manggala sudah ngomong sama Papa, sebelum berangkat kemari,” tutur Gendhis hati-hati.
“Oh, begitu, ya,” sebutir air mata menetes di pipi Kalini yang halus. “Kalau begitu, Tante doakan supaya niat suci kalian terlaksana dengan baik dan dilancarkan sampai kalian resmi menjadi suami istri,” ucapnya sembari terisak.
“Jangan sampai calon suamimu menyakitimu seperti apa yang Chand pernah lakukan,” imbuh Kalini.
“Ma ... .” Chand menunjukkan raut tak suka, seperti hendak protes.
“Jangan khawatir, Tante. Saya laki-laki yang bertanggung jawab. Sekali saya meminang seorang gadis, pantang bagi saya untuk melepasnya,” sahut Manggala seraya tersenyum penuh arti. Lagi-lagi ekor matanya melirik pada Chand.
“Tante mungkin bisa menjadi ibu tiri saya,” cetus Gendhis sambil menjentikkan jari.
“Ada cara lain, nggak?” tawar Kalini.
“Atau jadiin saya anak angkat Tante. Asal jangan setelah diangkat, terus dijatuhin. Nanti sakit,” timpal Gendhis semakin tak karuan. Gadis itu baru berhenti setelah Manggala berdehem sedikit keras.
Tak disangka, Kalini malah tertawa melihat tingkah absurd Gendhis. “Dulu Tante punya menantu. Dia cantik, sih. Sikapnya pada Tante juga baik dan ramah, tapi ... .”
“Tapi apa, Tante?” sela Gendhis.
“Ma, sudahlah. Nggak perlu mengungkit-ungkit masa lalu,” potong Chand sebelum Kalini sempat memberikan jawaban.
“Saya percaya pada karma, Tante. Apa yang seseorang tabur, itulah yang akan dia tuai,” timpal Manggala secara tiba-tiba, membuat semua mata memandang ke arah pria rupawan berambut gondrong itu.
“Apa maksudnya, Ngga?” desis Gendhis lirih.
“Kamu menghina ibu aku?” Chand ikut terpancing.
__ADS_1
Sementara Kalini memilih untuk diam. Jemari lentik wanita paruh baya itu tampak memainkan ujung selimut yang berwarna putih. Hal tersebut tak lepas dari pengamatan Gendhis yang mulai merasa bahwa ada sesuatu yang aneh.
“Aku sangat menghormati Tante Kalini. Tidak pernah terlintas dalam pikiran untuk menghina beliau. Kalimat tadi sebenarnya aku tujukan buat kamu,” Manggala tersenyum sinis. Dia membalas tatapan Chand tak kalah tajam.
“Emang kalian berdua saling kenal sebelumnya, ya?” celetuk Gendhis. Kadar kebingungannya melesat dahsyat hingga dua ratus persen.
“Bagaimana, Pak Chand? Siapa yang akan menjawab pertanyaan Gendhis? Aku atau kamu?” tantang Manggala dengan wajah setengah mendongak.
“Kamu ... .” Wajah tampan Chand merah padam. Sesaat kemudian, dia mengempaskan napas pelan, berusaha menetralkan perasaan dan mengendalikan diri.
Chand lalu mengalihkan pandangannya pada Gendhis yang kebingungan. “Mantan tunangan Manggala adalah mantan istriku,” ungkap Chand pada akhirnya.
“Hah? Apa?” saking terkejutnya, Gendhis sampai tak bisa mengontrol suaranya yang terlalu nyaring.
“Ka-kalian saling kenal?” telunjuk Gendhis mengarah pada Manggala dan Chand secara bergantian. Sedangkan Kalini hanya diam. Wanita itu malah kembali berbaring dan bersembunyi di balik selimut.
“Dulu ... Manggala dan aku menjadi anggota klub motor yang sama. Sejak itu, kami sering bertemu dan mengobrol. Lama-lama, kami semakin akrab,” Chand memulai penjelasannya.
“Lalu, suatu hari, Manggala membawa tunangannya ke markas. Dia mengenalkan wanita itu pada kami, dan ... .” Chand menjeda kalimatnya, lalu menoleh pada sang ibu.
“Bisakah kita bicara di luar saja?” pinta Chand.
“Sudah kepalang tanggung, Pak Chand. Lanjutkan saja,” desak Manggala.
“Aku tidak akan memungkiri bahwa dulu sifatku begitu buruk. Aku tidak pernah bisa berpikir panjang dan hanya bertindak sesuai nafsu,” sambung Chand.
“Aku tertarik pada Ghea, begitu pula dia. Kami memutuskan untuk mengkhianati Manggala dengan menjalin hubungan diam-diam. Puncaknya, aku menikahi Ghea dan berakhir dengan perceraian.”
Penjelasan Chand seolah menampar Gendhis berkali-kali dan mengembalikan dia pada kenyataan. Chand Fawwaz Gunadhya rupanya tak sesempurna seperti yang selama ini Gendhis bayangkan.
Keindahan paras dan fisik pria itu nyatanya tak sebanding dengan perbuatan keji yang telah dia lakukan di masa lalu.
“Ja-jadi ... ternyata ... kamu lah pengkhianat yang sering diceritakan oleh Manggala itu?” tuding Gendhis dengan terbata.
“Ya, itu aku, Dhis. Statusku adalah seorang duda saat mama menjodohkan kita,” tutur Chand sembari tersenyum kelu.
“Astaga,” mata bulat Gendhis berkaca-kaca saat memperhatikan sosok pria yang benar-benar sempat mencuri hatinya itu. Bayangan sempurna tentang seorang Chand, runtuh seketika.
Saat itu, Chand baru menyadari, betapa cantik dan mempesonanya Gendhis. Sayang, gadis itu tak lagi memandang dirinya dengan tatapan memuja. Sorot penuh cinta seorang Gendhis, berubah menjadi sorot kebencian yang nyata.
“Aduh, bersyukur banget aku. Untung waktu itu kita nggak jadi menikah. Ternyata kamu laki-laki brengsek!” caci Gendhis seraya tertawa getir.
__ADS_1
Tanpa berpamitan, gadis yang akan segera melepas masa lajangnya itu segera berlalu begitu saja dari ruang perawatan Kalini, meninggalkan Manggala dan Chand yang terpaku.