Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Cincin Pengikat


__ADS_3

Chand akhirnya dapat bernapas lega, setelah acara lamaran dan makan siang bersama tadi akhirnya selesai. Rasa sakit di kepalanya pun seketika sirna, saat dirinya melangkah keluar dari dalam kediaman keluarga Gendhis. Ah, sebenarnya Chand tidak terlalu menganggap hal itu sebagai sesuatu yang terlalu serius. Dia yakin bahwa sang ibu tak lama lagi akan berubah pikiran dan menyadari bahwa dia sudah mengambil keputusan yang salah.


Namun, apa yang ada dalam pikiran Chand ternyata keliru. Kalini justru tampak semakin bersemangat dalam menyusun segala sesuatu untuk acara pernikahan nanti. Sepanjang perjalanan pulang, janda cantik itu berkicau tanpa henti. Dia berbicara tentang ini dan itu, meskipun Chand tidak menanggapinya dengan sungguh-sungguh.


“Selagi ada waktu sampai acara pernikahan nanti, kamu sama Gendhis bisa saling mengakrabkan diri lebih jauh lagi. Mama rasa, Gendhis itu tipe gadis yang terbuka. Jadi, kamu pasti nggak akan terlalu merasa kesulitan untuk mengenal dia lebih lanjut,” ujar Kalini.


“Memangnya, Mama sudah berapa lama mengenal Gendhis?” Chand melirik sejenak kepada sang ibu, sebelum kembali mengarahkan pandangan ke depan. Pria itu mencoba untuk tetap fokus pada kemudi dan lalu lintas yang mereka lewati, di tengah kicauan Kalini yang tanpa henti dan membuat kepalanya kembali terasa pening.


“Tidak perlu membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk bisa mengenal baik seseorang. Buktinya Mama dulu hanya berkenalan sekitar dua minggu dengan papamu. Namun, lihatlah buktinya sekarang. Kamu dan Prajna sudah tinggi besar begini. Rasa cinta Mama sama papa kamu belum juga sirna meski dia sudah pergi bertahun-tahun yang lalu,” tutur Kalini lagi. “Semuanya kembalikan lagi ke niat.”


“Mama sudah tahu bahwa aku belum ada niat untuk kembali berumah tangga,” ujar Chand menanggapi ucapan Kalini.


“Astaga. Kamu itu tampan, Chand. Sayang sekali kalau kamu hanya akan membuat para gadis jadi berdosa, karena membayangkan yang tidak-tidak tentang kamu. Akan lebih baik jika kamu ada yang memiliki.” Kalini tetap pada pendiriannya yang merasa benar dengan perjodohan itu.


“Kata siapa aku jadi pusat perhatian para gadis?” Chand berdecak pelan. Dia kembali menggeleng tak mengerti. Perasaan Chand makin tak karuan, saat tanpa sengaja pandangannya tertuju pada jari manis sebelah kiri. Di sana, tersemat cincin pengikat antara dirinya dengan Gendhis.


“Mama tahu itu,” pungkas Kalini. Perbincangan di antara ibu dan anak itu pun berakhir, setelah mobil yang dikendarai Chand memasuki halaman tempat tinggal mereka. Sedangkan om dan tante Chand, langsung pulang ke rumah masing-masing.


Sementara itu, Gendhis juga mengembuskan napas lega. Dia mengempaskan tubuh ke atas Kasur. Gadis dua puluh tujuh tahun tersebut kemudian memandangi jari manis sebelah kiri, di mana terdapat cincin pengikat dari Chand. Sambil senyum-senyum sendiri, anak kedua dari tiga bersaudara tersebut kembali mengenang momen luar biasa yang terjadi tadi, ketika pria tampan calon suaminya tersebut memasangkan cincin itu di jemarinya.


“Ya, sudah. Jadi, kita telah sepakat untuk masalah waktu. Tanggal 30 Juni ya,” ucap Susena meyakinkan kembali keputusan yang telah disetujui bersama.

__ADS_1


“Iya. Deal!” sahut Kalini bersemangat. Dia lalu mengambil sebuah kotak kecil dari dalam tas tangannya. Kalini menunjukkan sepasang cincin dengan desain sederhana, tapi terlihat mahal. “Kami sengaja memesan ini dari toko perhiasan langganan yang ada di Jakarta,” terang janda berdarah India tadi. “Ayo sini, Gendhis.” Kalini mengisyaratkan agar putri kedua Susena tersebut duduk di sebelah Chand yang terlihat malas. Namun, mau tak mau pria tampan itu harus mengikuti kemauan sang ibu. Chand adalah tipe anak yang tak suka membangkang terhadap orang tua, terutama pada ibunya.


Kalini kemudian menyodorkan cincin tadi kepada Chand. Di hadapan semua yang ada di sana, pria yang masih menunjukkan sikap misterius tersebut dengan terpaksa menyematkan cincin pertunangan di jari manis Gendhis. Gadis itu menerimanya dengan sukacita dan hati berbunga-bunga. Senyuman lebar pun terlukis di wajah cantik Gendhis. Keindahan yang belum disadari sepenuhnya oleh Chand. Dalam beberapa kesempatan terakhir, Chand hanya melihat kekonyolan dari gadis yang akan menjadi calon istrinya tersebut.


Senyum di wajah Gendhis pun terus bertahan, bahkan hingga kembali ke kamar sambil terus memandangi cincin pertunangannya tadi. Saking asyiknya, Gendhis bahkan sampai tak menyadari bahwa Susena sudah berada di dalam kamar. Duda tiga anak itu memperhatikan kebahagiaan sang putri, di atas kepedihannya karena patah hati. “Dhis,” sapa Susena seraya berjalan mendekat ke tempat tidur.


Gendhis yang saat itu sedang berbaring sambil menghadap langit-langit kamar, segera bangkit dan duduk di ujung tempat tidur. “Papa? Sejak kapan di situ? Kok nggak ada suaranya sama sekali kalau Papa masuk ke kamarku.” Gendhis menautkan alisnya karena tak mengerti. Dia memperhatikan fisik sang ayah yang masih terlihat gagah di usianya saat ini.


“Bagaimana kamu tahu Papa ke sini, wong dari tadi kamu sibuk memerhatikan cincin dari Chand,” sahut Susena mencoba terlihat biasa saja. Lagi pula, mana mungkin dia harus bersaing dengan anak sendiri dalam hal percintaan. Setidaknya, meskipun saat ini keinginan untuk menikah lagi tiba-tiba muncul begitu saja, tapi Susena lebih memilih mengedepankan Gendhis yang belum pernah menikah sama sekali. “Kamu kenapa memakai baju itu? Itu kan baju nenek kamu?” tanya Susena heran. Dia lalu duduk di sebelah putrinya.


“Aku nggak mungkin pake celana jeans sama kaos oblong ‘kan, Pa?” Gendhis lagi-lagi mengangkat tangan dengan jemari berhiaskan cincin pengikat dari Chand. “Aku tadi mau pinjam baju Mbak Hanum, tapi baju punya dia panjangnya cuma sebatas lutut. Aku belum siap ngeliatin bulu kakiku di hadapan Chand,” celoteh gadis itu dengan tak acuh.


“Menurut Papa, apakah aku sudah berpikir dewasa?” tanya Gendhis polos.


“Kedewasaan tidak bisa diukur dengan begitu saja. Seseorang yang merasa bahwa dirinya telah dewasa pun, tak jarang melakukan hal-hal yang sangat kekanak-kanakan.” Susena berdecak pelan. Dia teringat akan dirinya sendiri yang jatuh cinta terhadap Kalini. Namun, Susena segera menepiskan pikiran tersebut. Dia memandang Gendhis dengan lekat. Di antara kedua putrinya yang lain, Gendhis memiliki wajah paling mirip dengan mendiang istrinya.


“Jadi, bagaimana dengan Hello Girls? Kamu belum pernah bercerita sama sekali tentang pekerjaan kamu tersebut.”


"Oh, itu  ... ." Gendhis meringis menanggapi pertanyaan sang papa. "Seperti yang papa tahu, aku bekerja sebagai fotografer di sana. Tugasku memotret cowok-cowok cakep dan seksi," jelasnya enteng.


"Astaga. Memangnya itu majalah macam apa, Dhis? Kok pakai acara memotret cowok seksi?" tanya Susena hati-hati.

__ADS_1


"Yang jelas bukan majalah flora dan fauna, Pa," jawab Gendhis asal.


"Lantas?"


"Hello Girls itu adalah majalah yang diperuntukkan bagi kaum hawa, Pa. Hello Girls hadir untuk memenuhi rasa dahaga para wanita, baik yang single maupun double, akan sosok-sosok pria menawan," terang Gendhis dengan bangga.


"Ah, papa jadi penasaran. Coba lihat? Ada contohnya, tidak? Papa ingin melihat seperti apa penampakan majalahnya," pinta Susena.


"Sebentar," Gendhis buru-buru bangkit dari duduknya, lalu membuka satu persatu laci meja. Pada akhirnya dia tersenyum saat menemukan satu majalah Hello Girls cetakan lama. "Nih, Pa," gadis tomboy itu kemudian menyojorkan majalah bergambar seorang pria yang hanya memakai celana kolor pada Susena.


"Ya, Tuhan! Tobat, Gusti!" seru Susena sembari tangannya membolak-balik lembar demi lembar halaman majalah itu. "Ini majalah dewasa khusus wanita!" pekiknya tak percaya.


.


.


.


Sambil menunggu Gendhis dan Chand, mampir dulu yuk, di karya keren yang satu ini


__ADS_1


__ADS_2