Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Curhatan Kosong


__ADS_3

Dari Bandara Internasional Husein Sastranegara, Gendhis berjalan keluar seorang diri. Gadis itu melihat sekelilingnya. Ah, ternyata sang nenek tidak menyuruh siapa pun untuk menjemput dia. Dengan terpaksa, Gendhis harus memanggil taksi yang biasa mangkal di sekitar bandara tersebut.


Baru saja Gendhis akan membuka pintu mobil yang sudah menunggu, terdengar suara yang menyebut namanya. Gendhis pun menoleh.


“Mbak Gendhis, ke mana tujuannya?” Manggala menghampiri gadis itu sambil tersenyum hangat.


“Oh … anu … itu … ke Dago,” jawab Gendhis salah tingkah.


“Dago? Kalau begitu, tujuan kita sama. Dari pada naik taksi, lebih baik Mbak naik mobil jemputanku saja,” ucap Manggala menawarkan jasa untuk mengantar Gendhis.


“Ah, nggak usah. Nanti merepotkan. Lagi pula ….” Gendhis terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Dia tampak menimbang-nimbang, khawatir jika Manggala merasa tersinggung dengan apa yang akan dia katakan.


“Lagi pula kenapa, Mbak?” Manggala menaikkan sebelah alisnya. Namun, sesaat kemudian pria itu seperti dapat menangkap, ke mana maksud ucapan gadis dengan t-shirt oversize di hadapannya. Manggala merogoh saku belakang celananya. Dia mengeluarkan dompet. Pria tampan tersebut menyodorkan SIM mengemudi kepada Gendhis.


“Buat apa ini?” tanya Gendhis heran.


“Buat pegangan, seandainya aku berbuat jahat sama Mbak,” jawab Manggala kalem.


“Lah, kalau aku diculik, diperkosa, dianiyaya sampai mati, lalu mayatku dibuang ke jurang … tetap saja SIM ini bakal kamu ambil lagi. Apa gunanya?” celoteh Gendhis. Kata-kata yang sedari tadi dia tahan, tiba-tiba meluncur deras tanpa rem sama sekali. Sementara Manggala hanya diam melongo.


Lain halnya dengan sopir taksi yang sudah kepanasan. Dia membunyikan klaskon beberapa kali. Akan tetapi, Gendhis tak menggubrisnya. Dia terus saja berpidato di hadapan Manggala.


“Pikiranmu sangat ekstrim, Mbak. Tentu saja aku tidak sejahat itu,” sanggah Manggala masih terlihat tenang. Dia tak menunjukkan bahwa dirinya tersinggung dengan ucapan Gendhis.


“Aku hanya berhati-hati. Secara, zaman sekarang. Kita dilarang percaya begitu saja kepada orang asing. Di saat kita terlalu percaya kemudian dicampakkan dengan seenaknya … sakit … sakitnya tuh di mana-mana.” Gendhis tampak begitu emosional saat mengatakan hal itu. Dia benar-benar menjiawai. Sementara sopir taksi tadi kembali membunyikan klakson dengan kesal.


“Ya, tapi itu dua hal yang berbeda," balas Manggala yang seakan paham dengan maksud Gendhis, "tidak semua pria bersalah padamu. Contohnya aku ….” Manggala terdiam sejenak. Dia kembali memamerkan senyuman kalemnya. “Baiklah. Kalau begitu simpan ini. Siapa tahu suatu saat nanti Mbak butuh.” Manggala menyodorkan kartu nama kepada Gendhis.


Gadis itu segera menerima, lalu membacanya dengan saksama. Dia seketika terbelalak. Bagaimana tidak? Kartu nama itu persis sama dengan kartu nama atas nama Manggala yang pernah diberikan oleh Pak Bagus, mantan pemimpin redaksinya. Dia terus meneliti setiap abjad dalam kartu tersebut. Siapa tahu ada huruf yang terbalik. Namun, ternyata sama persis, bahkan setelah Gendhis membolak-baliknya. Sementara klaskon tanda kekesalan sang sopir taksi kembali terdengar.


Gendhis lagi-lagi tak menggubris suara klakson yang dia kira berasal dari kendaraan lain. “Baiklah. Akan kusimpan kartu nama ini dengan baik,” ucap gadis itu sambil tersenyum, mencoba untuk menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia lalu memasukkan kartu tersebut ke saku tas.


“Aku pamit dulu ya," ucap Gendhis melambaikan tangan dengan penuh percaya diri. Namun, baru saja dia hendak membuka pintu, mobil taksi yang sedari tadi menunggunya tiba-tiba berlalu begitu saja.

__ADS_1


Gendhis berdiri sambil melongo. Begitu juga dengan Manggala. Pria tampan itu mengernyitkan kening, ketika Gendhis menoleh padanya. “Hehehe … taksinya kabur,” ujar Gendhis menahan malu. Sementara Manggala terpaksa harus membalas dengan sebuah senyuman kalem.


“Bareng aku saja, Mbak,” ajak Manggala kembali menawarkan jasa. “Daripada harus mencari taksi lagi,” bujuknya.


Gendhis kembali berpikir. Diamatinya si pria jangkung nan tampan itu dari ujung kaki hingga kepala. Gadis itu tak habis pikir. Bagaimana bisa, seorang pria dengan penampilan mirip preman, ternyata adalah pemimpin redaksi sekaligus pemilik media cetak dan elektronik yang cukup besar. Manggala bahkan naik pesawat dengan kelas ekonomi dan duduk bersebelahan dengannya.


“Bagaimana? Itu mobil jemputanku sudah datang,” tunjuk Manggala, membuat Gendhis segera tersadar. Arah matanya mengikuti telunjuk Manggala yang bergerak ke arah sebuah mobil SUV hitam yang berhenti di depan mereka.


“Oke, deh. Aku ikut,” putus Gendhis dengan yakin. Orang kaya macam Manggala, tidak mungkin berbuat macam-macam, kecuali kalau dia seorang psikopat. Akan tetapi, sepertinya itu tidak mungkin. Sejauh yang Gendhis amati dari tadi, Manggala bersikap sangat normal.


Gadis itu pun akhirnya masuk ke mobil. Dia memilih duduk di jok tengah. Sedangkan Manggala duduk di samping pak sopir.


“Mbak asli Bandung ya?” tanya pria tampan itu sembari menoleh ke arah Gendhis.


“Aku lahir di Jogja. Mamaku orang sana. Papaku yang asli Bandung,” jelas Gendhis.


“Oh, begitu.” Manggala manggut-manggut.


“Apakah tujuan Mbak ke sini untuk mencari kerja?” tanya pria itu lagi.


“Melarikan diri dari apa?” Manggala tersenyum geli.


“Ah, bagaimana ya enaknya? Aku cerita tidak, ya? Aku sebenarnya ingin cerita, tapi ini pengalaman memalukan,” racau Gendhis sambil menggaruk kepalanya.


“Cerita saja, Mbak. Anggap saja Mas Ganta, sopir kita, tidak mendengar apa-apa. Ya ‘kan, Mas?” Manggala menepuk pundak sang sopir, lalu tertawa.


“Beres, Bos! Saya tidak mendengar apa-apa. Sebentar, saya pakai earphone dulu.” Sopir bernama Ganta tersebut, segera memasang earphone, lalu kembali fokus menyetir.


“Nah, sudah beres. Aman, Mbak.” Manggala mengacungkan satu ibu jarinya.


Gendhis meringis. Dia semakin merasa ragu. Akan tetapi, dalam pikirannya Manggala adalah orang asing yang tidak mungkin menceritakan keluh kesahnya pada Bu Wiryo. Kecuali kalau dia adalah famili wanita itu. Akan tetapi, sepertinya itu juga tidak mungkin, sebab jika Bu Wiryo memiliki famili sehebat dan sekeren Manggala, pasti dia sudah memamerkannya ke seluruh warga perumahan.


“Jadi begini. Aku melarikan diri karena malu,” ucap Gendhis mulai menuturkan awal perjumpaan dengan Kalini, hingga Chand yang membatalkan perjodohan ketika undangan sudah terlanjur disebar.

__ADS_1


“Oh, jadi begitu. Kasihan sekali kamu, Mbak. Memangnya apa pekerjaan mantan calon suamimu?” Manggala kembali mengorek informasi. Dia memang seorang jurnalis sejati.


“Aku tidak tahu,” jawab Gendhis.


“Kalau umur?” tanya Manggala lagi.


“Aku juga tidak tahu,” sahut Gendhis meringis kecil.


“Hah! Kok bisa kamu tidak tahu apa-apa tentang calonmu?” Manggala berdecak pelan.


“Aku juga tidak tahu dia bekerja di mana. Padahal rumahnya besar banget. Semoga kekayaannya bukan dari hasil korupsi,” celetuk Gendhis.


“Lantas, apa dong yang Mbak tahu dari mantan calon suami Mbak itu?”


“Aku cuma tahu kalau dia ganteng banget. Mirip bintang film India,” jawab Gendhis dengan segera.


“Kalau nama? Jangan sampai Mbak juga tidak tahu namanya, ya. Bisa-bisa aku jitak Mbak walaupun kita baru kenal,” ancam Manggala.


“Wah, kalau nama sih benar-benar menancap di otak. Chand Fawwaz Gunadhya,” ucap Gendhis sambil mengembuskan napas pelan.


Mendengar nama yang disebutkan oleh Gendhis, Manggala tiba-tiba memasang raut terkejut. “Chand Fawwaz Gunadhya?” ulangnya.


“Iya, kamu kenal?” Gendhis balik bertanya.


“Ehm, tidak begitu kenal. Hanya tahu dan sering dengar namanya saja,” jawab Manggala seraya menyunggingkan senyuman penuh arti.


.


.


.


Hai, yuk mampir dulu di karya keren yg satu ini

__ADS_1



__ADS_2