
Setelah melewati semalam suntuk tanpa tidur, Gendhis, Hanum dan Arya, Utari serta Byakta, berhasil mengisi nama-nama di daftar kartu undangan. Susena pun tak mau ketinggalan untuk ikut membantu.
Semua mereka rampungkan, sehingga Gendhis hanya tinggal mengirimkan kartu-kartu undangan tersebut ke alamat yang dituju.
Gendhis dengan semangat empat lima, bergegas ke kamar mandi. Gadis itu hendak untuk membersihkan diri. Dia tidak sabar menyerahkan undangan-undangan tersebut secara langsung ke tetangga sekitar yang sering menanyakan padanya perihal pernikahan.
“Mbak Gendhis kok belum menikah juga?”
“Mbak Gendhis hati-hati nanti jadi perawan tua, lho.”
“Biasanya kalau perawan tua itu jadinya cerewet.”
“Jangan-jangan jodoh mbak Gendhis itu sudah operasi ganti ke*lamin. Hasilnya, slot mbak Gendhis jadi kosong.”
“Atau jodoh mbak Gendhis mati muda. Akhirnya, slot kosong juga.”
Jenis-jenis kalimat tersebut di atas adalah jenis kalimat yang sering dilontarkan oleh ibu-ibu penghuni kompleks perumahannya, yang cukup membuat Gendhis tertekan dan ingin berteriak.
Namun, kali ini Gendhis dapat berbangga hati karena dia dapat menemukan pria idamannya. Itu juga terjadi, tanpa harus susah-susah mencari.
Sejak awal Gendhis sudah terpikat pada Chand, walaupun dia belum mengetahui seperti apa latar belakang calon suami idamannya tersebut. Gendhis pada akhirnya dapat merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Satu hal yang selama ini tak pernah dia percaya.
“Mbak, mau ke mana?” tanya Utari ketika melihat Gendhis melintas dan sudah berpakaian rapi. Putri kedua Susena itu juga membawa sebuah tas plastik berukuran besar.
Gendhis tidak menjawab. Dia hanya menunjukkan tas berisi kartu-kartu undangan pada adiknya. “Tujuan pertama adalah rumah Bu Wiryo. Emak-emak paling julid dan nyinyir sekompleks ini. Aku mau nyumpel mulutnya pake kartu undangan,” ujar Gendhis penuh percaya diri.
“Mbak, aku tiba-tiba saja punya ide bagus,” ujar Byakta, suami Utari yang tengah duduk santai di sebelah sang istri.
“Apa?” tanya Gendhis sambil memakai sandal karet kesayangan yang bergambar ikan hiu tengah membuka mulutnya lebar-lebar.
“Kalau memang waktu mepet, kenapa Mbak Gendhis tidak mengundang orang-orang lewat sosmed saja? Mbak tinggal memfoto kartunya terus kirim deh via inbox atau DM,” jelas Byakta yang langsung disambut dengan pelototan oleh dua orang kakak beradik tadi.
“Kok baru sekarang ngomongnya, Mas? Setelah kita begadang semalaman nulis alamat di kartu undangan?” protes Utari dengan bibir cemberut.
“Aku juga baru kepikiran sekarang, Dek,” sahut Byakta meringis, memamerkan senyumannya yang manis pada Utari.
“Senyuman mautmu tidak mempan ya, Mas. Aku tetap sebel,” sungut Utari.
“Kalau begitu, kita pulang saja, yuk. Nanti aku servis dengan pelayanan kelas VVIP. Biar hilang sebelnya,” rayu Byakta.
“Ih, Mas mulai nakal.” Utari tersipu malu seraya mencubit manja pinggang suaminya. “Ya, sudah. Ayo, kita pulang, tapi pamit dulu sama papa,” ajak putri bungsu Susena tersebut penuh semangat.
“Ya, Tuhan. Sebentar lagi aku juga akan mengalami adegan romantis seperti itu,” gumam Gendhis sambil senyum-senyum sendiri saat memperhatikan pasangan pengantin baru yang melewatinya begitu saja tanpa menoleh.
__ADS_1
Setelah angannya puas berkelana, Gendhis kembali melanjutkan langkah yang tertunda. Seperti tujuan awal, dia akan mendatangi rumah Bu Wiryo terlebih dahulu. Padahal jarak rumah wanita itu paling jauh dari rumah Susena.
Akan tetapi, demi ambisi ingin pamer dan membungkan mulut agen mata-mata tetangga nomor wahid tersebut, Gendhis rela memberikan kehormatan bagi Bu Wiryo sebagai penerima kartu undangan pertama.
Gendhis tersenyum lebar, tatkala targetnya tengah berdiri di depan pagar rumah sambil mengapit gagang sapu ijuk di ketiak.
“Assalamualaikum, Bu,” sapa Gendhis dibuat seramah mungkin.
“Lho, Mbak Gendhis? Tumben pagi-pagi kemari,” balas Bu Wiryo tak kalah ramah.
“Iya, Bu. Ada perlu sedikit,” sahut Gendhis. Senyuman ceria tak jua pudar dari wajah cantiknya yang polos tanpa make up.
“Mari masuk dulu,” ajak Bu Wiryo sumringah.
“Tidak usah, Bu. Wong saya cuma mau mengantarkan undangan saja, kok,” tolak Gendhis.
“Undangan siapa itu? Undangan apa?” seketika jiwa kekepoan wanita paruh baya tersebut membara. Bu Wiryo semakin mendekat kepada Gendhis tanpa melepas gagang sapu dari ketiaknya.
“Undangan pernikahan, Bu,” jawab Gendhis bangga.
“Lho, pernikahan siapa? Siapa yang menikah?” tanya Bu Wiryo lagi.
“Ya, saya dong, Bu. Masa Mbak Hanum atau Utari. Mereka berdua ‘kan sudah sold out,” sahut Gendhis tersenyum malu-malu sambil mengibas-ngibaskan tangannya pelan.
“Ah, Papa sudah tua. Sudah pernah menikah. Sekarang giliran saya yang belum pernah menikah sama sekali,” ujar Gendhis balas menepuk lengan Bu Wiryo. Tepukannya jauh lebih kencang sampai wanita itu terhuyung ke samping.
“Aduh, haha.” Wanita yang berusia hampir sama dengan Susena itu tertawa riang.
“Jadi, siapa nih calonnya mbak Gendhis? Orang mana dia? Jogja atau luar Jogja? Apa mungkin luar negeri?” Bu Wiryo seolah tak bernapas ketika mencecar Gendhis dengan sejuta pertanyaan.
“Orang sini saja, Bu. Apa ibu mau lihat fotonya?” tawar Gendhis sambil menaikturunkan alis.
“Mana? Coba lihat?” ujar Bu Wiryo penuh semangat. Dia menaikkan letak gagang sapu yang sempat melorot dari ketiaknya.
“Nih,” tunjuk Gendhis. Dengan bangga, dia menunjukkan foto-foto Chand yang berhasil dirinya koleksi sewaktu acara seserahan lamaran beberapa hari yang lalu.
“Bagus tenan, Mbak. Ganteng bianget!” Bu Wiryo begitu terpana saat memperhatikan wajah tampan Chand dalam berbagai pose. “Ini sih makhluk Tuhan yang paling oke pastinya!”
“Ya, ini calon suami saya. Keren ya, Bu. Nanti datang ya ke resepsi pernikahan saya,” ujar Gendhis sembari berpamitan.
“Oh, beres Mbak Gendhis. Saya pasti datang. Salam buat calon suaminya, ya.” Bu Wiryo tak henti-henti melambaikan tangan mengiringi Gendhis yang berbalik meninggalkan kediamannya.
Tujuan Gendhis berikutnya adalah para dayang anak buah Bu Wiryo yang berjumlah tujuh orang. Mereka termasuk ke dalam geng emak-emak hebring yang sering mengadakan arisan warga dengan konsep sedikit berbeda. Setiap kali pertemuan harus memakai dress code tertentu yang telah disepakati, dan tentu saja dilengkapi bling-bling yang memenuhi tangan serta leher.
__ADS_1
Pernah suatu waktu, kelompok arisan itu mengadakan pertemuan dengan dress code berwarna oranye yang membuat para bapak menggelengkan kepala. Pasalnya, saat itu bertepatan dengan adanya acara gotong royong warga yang dibantu oleh para petugas Dinas PU.
Setelah beres menyebarkan undangan ke tujuh orang dayang, Gendhis memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia ingat bahwa dirinya belum sarapan. Walaupun dirinya sedang bahagia, tapi perut tetap wajib diisi secepat mungkin. Gendhis termasuk ke dalam spesies makhluk yang tidak tahan lapar. Sambil berlari-lari kecil, Gendhis melintasi halaman depan rumah. Namun, langkahnya sempat terhenti ketika melihat mobil yang sudah tak asing lagi terparkir gagah di depan teras rumahnya. “Chand?” Gendhis terlihat semakin ceria.
Gendhis pun buru-buru masuk ke ruang tamu. Senyumnya semakin lebar saat melihat Chand duduk di sofa dengan gayanya yang selalu terlihat keren. Kalini juga tampak duduk di samping putranya. Sedangkan sang ayah, Susena, duduk berhadapan dengan Chand dan Kalini.
“Tante.” Gendhis bersikap sopan dengan menghampiri sang ibu mertua, lalu mencium punggung tangannya. Tak lupa, dia juga menyalami Chand yang saat itu terlihat tegang.
Gendhis kemudian melirik pada Susena yang menatap Kalini penuh arti. Gadis tomboy itu lalu mendudukkan diri di samping sang ayah. “Wah, ada apa ini? Apa mau membahas kartu undangan?” tebak Gendhis dengan polosnya.
Bukannya menjawab, Kalini malah menggeleng pelan sambil menyeka air mata yang tiba-tiba menetes di pipi.
“Lho, Tante? Kok menangis? Kenapa? Apa undangannya kurang?” tanya Gendhis tak mengerti.
“Maafkan Tante, Gendhis.” Sikap Kalini semakin aneh. Dia bangkit dari duduknya, lalu menghambur ke arah Gendhis. Kalini memeluk gadis itu erat-erat sambil terisak.
“Lah, kok nangis?” Gendhis semakin tak mengerti atas kelakuan aneh calon ibu mertuanya. Dia pun melirik ke arah sang ayah yang saat itu menunjukkan ekspresi kecewa.
“Tolong jelaskan dulu, ada apa ini, Tante?” Gendhis mengurai pelukan Kalini, lalu mendudukkan wanita itu di sebelahnya.
“Gendhis, sebelumnya aku mau minta maaf,” sela Chand sebelum Kalini sempat menjawab. “Tadi aku sudah menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya pada Pak Susena.”
“Permohonan maaf kenapa?” Perasaan Gendhis mulai tak enak.
“Gendhis, aku sungguh-sungguh minta maaf. Kurasa, aku tidak bisa meneruskan perjodohan ini. Aku juga sudah menjelaskan dan memberikan pengertian pada mama, bahwasanya pernikahan itu tidak bisa dipaksakan,” jelas Chand pelan dan hati-hati.
“Jujur saja, aku belum siap untuk menikah dan … lagipula ….” Chand merasa ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Namun, pada akhirnya dia selesaikan juga kalimatnya. “Lagi pula, aku merasa bahwa kita tidak cocok,” lanjut Chand yang seolah telah membuat langit-langit rumah runtuh menimpa ubun-ubun Gendhis.
Rasa malu, kecewa, dan marah bercampur jadi satu di dalam dada gadis itu. Membuat tenggorokannya tercekat, sehingga tak mampu berkata-kata.
“Gendhis, maafkan Tante.” Tangisan Kalini semakin kencang. Dia memeluk lagi tubuh ramping gadis yang batal menjadi calon menantunya.
Di sela-sela situasi kalut itulah, Gendhis tiba-tiba teringat pada kartu undangan yang terlanjur dia bagikan pada Bu Wiryo dan para anggota geng. Gendhis langsung berdiri seraya menepuk dahi kencang-kencang. “Mati aku!”
.
.
.
kasian mbak Gendhis. sambil menunggu jodohnya datang, mampir dulu yuk di karya keren satu ini
__ADS_1