Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Mimisan


__ADS_3

“Notulen rapat?” ulang Gendhis gelisah. “A-aku nggak bisa, Chand. Aku bisanya Cuma mengambil foto,” tolaknya.


“Ah, sudah, ayo! Sejak kapan kamu jadi penakut,” Chand menarik lengan Gendhis dan mengajaknya turun dari mobil. Chand bergegas membawa calon istrnya tersebut ke ruang rapat. Di sana, semua perlengkapan dan alat presentasi sudah siap, peserta rapat tinggal memakainya saja.


“Kamu duduk di sebelah aku, Dhis,” Chand mengarahkan tempat duduk Gendhis sekaligus mengajarinya tentang tata cara menjadi notulen. Dia juga membantu Gendhis menyalakan laptop sambil memberitahu apa saja kewajibannya saat itu. “Tugas kamu adalah mencatat poin-poin penting yang ada dalam meeting kali ini,” jelas Chand.


Gendhis hanya manggut-manggut sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Ada beberapa orang pria seusia Chand atau mungkin di bawahnya, yang duduk mengitari meja meeting berbentuk oval tersebut. Mereka memakai pakaian semi formal dan terlihat begitu santai untuk acara meeting. Sorot mata orang-orang itu mengarah seluruhnya pada Gendhis.


“Pak … ini siapa?” tanya salah seorang dari pria-pria tersebut dengan hati-hati.


“Oh, iya, aku lupa mengenalkannya pada kalian. Ini Gendhis, sekretaris pribadi, sekaligus calon istriku,” jawab Chand yang seketika membuat heboh semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


“Wah, nggak nyangka. Diam-diam, sudah punya calon ternyata,” celetuk salah seorang pria.


“Pantesan, biasanya Pak Chand melakukan semuanya sendiri,” sahut seorang rekan yang lain.


“Sudah, sudah, jangan bikin calonku grogi. Biarkan dia bekerja dengan tenang,” kelakar Chand. “Baiklah, kita mulai saja rapatnya,” ujarnya kemudian.


Awalnya, Gendhis berhasil melakukan tugasnya dengan sangat baik. Namun ketika rapat sudah hampir selesai, dan Chand berdiri menyampaikan keputusan-keputusan rapat, saat itulah fokus Gendhis mulai terganggu. Gendhis terpaku pada gerak bibir kemerahan pria itu. Perhatian Gendhis kemudian beralih pada bahu lebar dan dada bidang serta bulu-bulu halus pada tangan Chand.


“Ya, Tuhan. Seperti mimpi,” gumam Gendhis tak terlalu kencang, tapi cukup didengar oleh semua orang di dalam ruangan. Sontak semua mata memandang ke arahnya.


“Mm … maksudnya, ini ketikan saya panjang seperti mimpi. Tadi malam saya mimpi ngukur jalan,” cerocos Gendhis tak karuan. Sesaat kemudian, dia menyembunyikan wajahnya di balik layar laptop. Dia bertahan dalam sikap tersebut sampai meeting selesai.


Satu persatu peserta meeting meninggalkan ruangan, hanya tersisa Gendhis dan Chand. Putra sulung Kalini itu tak ragu mendekati Gendhis dan melingkarkan tangan di bahunya. “Kamu mikirin apa tadi? Nggak sabar nunggu hari H, ya?” terkanya sambil tersenyum lucu.


“Nggak, kok,” elak Gendhis. Bagaimanapun juga, dia harus menjaga martabat dan harga diri. Chand tak boleh tahu bahwa dirinya baru saja membayangkan bentuk tubuh calon suaminya tersebut.


“Jangan khawatir, Dhis. Aku sudah mendapat laporan dari mas Agus bahwa dia sudah bergerak. Kurang lebih satu bulan dari sekarang, pernikahan akan segera dilangsungkan,” janji Chand yang ternyata benar-benar menjadi kenyataan.


Tepat satu bulan kemudian, akad nikah Chand dan Gendhis, dilangsungkan di kediaman Susena. Rumah berlantai dua itu disulap sehingga terlihat begitu mewah dan elegan berkat tim dekorasi yang dimiliki oleh Chand.


Suasana berlangsung khidmat saat pria berdarah India tersebut mengucapkan kalimat ijab kabul dengan lancar, tanpa hambatan. Genggaman tangan Susena selaku wali nikah yang terlalu kencang, tak membuat Chand gentar.


Suasana mendadak haru ketika seruan kata sah menggema di setiap sudut ruangan. Kalini tampak tak kuasa menahan haru. Berkali-kali dia menyeka sudut matanya menggunakan sapu tangan. Putra satu-satunya kini telah bersedia menuruti keinginannya untuk berumah tangga.


“Jangan lupa request Mama ya, Chand,” bisik Kalini lirih, sesaat setelah kedua mempelai menandatangani buku nikah dan melewati sesi foto bersama.


“Request apa, Ma?” Chand balik bertanya.


“Mama minta cucu yang banyak,” jawab Kalini, membuat pipi Gendhis bersemu merah.


Kemeriahan acara tak berhenti sampai di sana. Mewahnya pesta resepsi berpindah ke sebuah aula hotel bintang lima yang berukuran luas. Lagi-lagi tim dekorasi telah melakukan kerja bagus dan sempurna.


Nenek Sri terlihat begitu puas. Sambil membawa tongkat, dia berkeliling area aula. Sementara Hanum dan Arya, sibuk dengan dua putranya. Utari dan Byakta, asyik menikmati hidangan.


Pasangan mempelai juga terlihat sangat cantik dan tampan. Semua tamu-tamu undangan yang hadir memperlihatkan wajah ceria sekaligus terpukau. Salah satunya adalah Sinta, wanita manis dan lemah lembut itu mendapat undangan khusus dari Gendhis.


Tak henti-hentinya dia berdecak kagum akan transformasi seorang Gendhis yang begitu ekstrim. “Cantik banget kamu, Dhis. Selamat, ya,” ucap Sinta tulus sembari memeluk erat Gendhis.

__ADS_1


“Terima kasih banyak ya, Mbak. Sudah bersedia hadir, padahal jauh,” balas Gendhis.


“Demi sahabat, Dhis. Kamu sudah kuanggap sebagai seorang sahabat. Boleh, kan?” ujar Sinta.


“Ya, harus itu!” sahut Gendhis sambil memeluk Sinta lagi. Kali ini jauh lebih erat.


“Terima kasih ya, Dhis,” setitik air mata haru sempat lolos dari kelopak Sinta.


“Mbak Sinta nggak boleh pulang dulu! Harus menginap di hotel ini semalam atau dua malam!” pinta Gendhis setengah memaksa.


“Itu bisa diatur,” Sinta tertawa renyah menanggapi. Dia lalu menoleh ke samping di mana antrian tamu sudah mengular. “Aku turun dulu ya,” pamitnya.


“Silakan menikmati hidangan,” ucap Chand tulus yang dibalas dengan anggukan oleh Sinta.


Tamu berikutnya yang hendak bersalaman dengan Gendhis adalah Bu Wiryo. Keringat dingin sempat keluar dari dahi gadis yang baru melepas masa lajangnya tersebut.


“Lho, Mbak Gendhis. Ini bukannya calon Mbak Gendhis yang dulu? Yang katanya meninggal di pedalaman?” tanya Bu Wiryo kebingungan.


Seketika, Susena dan Kalini menoleh pada Gendhis dengan raut tanda tanya. Demikian pula Chand yang mengangkat satu alisnya.


“Oh, bukan, bukan! Ini beda lagi. Dia kembarannya, Bu. Namanya Chand juga!” kilah Gendhis dengan gugup.


“Lho, kok bisa namanya sama?” cecar Bu Wiryo yang seolah tak puas atas jawaban Gendhis.


“Iya, demi menghormati kembaran yang gugur di medan perang. Dia mengganti nama jadi nama saudaranya,” dalih Gendhis yang membuat Susena dan Kalini kebingungan.


“Oh, begitu. Kasihan, ya. Saya turut berduka, lho, bapak dan ibu,” Bu Wiryo buru-buru mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Susena dan Kalini. Tak lupa dia menyelipkan selembar amplop putih di telapak tangan Kalini. “Sebagai pengganti beras dan gula,” bisiknya.


“Oh, bukan apa-apa, Te, eh, Ma. Jangan dipikirkan orang itu agak begini,” Gendhis menempelkan telunjuknya dalam posisi miring ke dahi, sebagai isyarat bahwa wanita yang dia maksud tersebut kurang waras.


“Oh,” Kalini manggut-manggut. Dia mempercayai bualan Gendhis begitu saja. Lain halnya dengan Chand yang tersenyum penuh arti.


“Tunggu pembalasanku nanti selesai pesta, ya,” ancam pria yang tampak semakin menawan dengan setelan jas berwarna putih itu.


Keringat dingin kembali mengalir di dahi Gendhis. Berdebar rasanya saat tamu-tamu mulai pulang. Hanya tinggal segelintir teman-teman Chand yang masih bertahan.


“Kamu naik dulu ke kamar, ya. Tunggu aku di sana,” titah Chand seraya mengecup lembut bibir Gendhis, membuat perasaan gadis itu tak karuan.


“Besok aja ke kamarnya boleh nggak, Chand? Aku mau nongkrong di angkringan dulu,” Gendhis meringis gugup yang langsung dibalas dengan jitakan keras oleh Nenek Sri.


“Kalau suami menyuruh itu harus dituruti. Kamu sudah jadi istri orang sekarang!” omel Nenek Sri.


Chand hanya tertawa melihat adegan lucu itu, lalu berlalu ke arah rombongan teman-temannya.


“Iya, iya,” Gendhis cemberut sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa panas.


“Aku antar, Mbak!” seru Utari.


“Aku juga!” sambung Hanum.

__ADS_1


“Aku gimana?” tanya Susena yang memasang wajah polos.


“Kamu istirahat, Na! Seluruh kamar di lantai satu sampai tiga sudah kubooking semua. Tinggal pilih kamar yang mana!” sahut Kalini ketus.


“Iya, iya,” nada bicara Susena persis seperti Gendhis tadi.


Keluarga unik itu akhirnya berjalan beriringan menuju ke kamar masing-masing. Khusus untuk pengantin baru, Chand sudah menyiapkan kamar suite untuk malam pertama mereka yang terletak di lantai paling atas.


“Wah, pinter si Chand milih kamarnya. Bakalan nggak ada yang dengar meskipun kamu teriak-teriak kesakitan, Dhis,” celoteh Hanum.


“Ih, Mbak. Jangan bikin takut!” keringat Gendhis semakin deras mengalir.


“Udah, jangan takut. Sakitnya cuma satu persen,” hibur Utari.


“Lalu, 99 persennya?”


“Enak banget. Apalagi kalau aku lihat postur Kak Chand,” jawab Utari sambil memejamkan mata.


“Dih, otak mesum,” cerca Hanum. “Buruan bantuin Gendhis bersihin badan sebelum Chand masuk!” hardiknya.


“Iya, iya,” ucap Utari yang juga menirukan ucapan Gendhis sebelumnya.


Kakak beradik itu bahu membahu melepaskan segala aksesoris yang melekat di badan Gendhis. Mereka juga membantu Gendhis untuk mandi dan memakaikan lingerie berwarna merah menyala, lalu menutupinya dengan jubah mandi berwarna putih.


“Serius aku pakai ini?” Gendhis tampak begitu gelisah.


“Iya, biar kejutan,” ujar Utari antusias.


“Ya, ampun,” Gendhis menelan ludah berkali-kali. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan pakaian super minim yang melekat di tubuh indahnya. Beruntung ada jubah mandi yang menyembunyikan tampilan seronoknya tersebut.


“Dijamin kak Chand bakal merem melek,” celetuk Utari.


“Kalian berdua keluar aja, deh!” usir Gendhis yang semakin panik. Dia berniat untuk berganti baju dengan piyama saja saat dua saudarinya itu keluar kamar.


Sayangnya, rencana Gendhis gagal. Bersamaan dengan Hanum dan Utari yang keluar dari kamar, saat itu pula Chand masuk.


Dengan senyum sumringah dia menyapa saudari iparnya sebelum masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Jas putih yang tersampir di tangan kiri, dia lemparkan ke arah sofa.


Chand lalu melepas kemeja dan melemparkannya sembarangan.


“Aku mandi dulu ya, Sayang. Sudah boleh kan aku manggil kamu Sayang?” Chand berjalan mendekat dalam kondisi bertelanjang dada.


Melihat hal itu, Gendhis hanya terpukau dan membeku di tempatnya. Dia sama sekali tak pernah membayangkan jika bentuk tubuh Chand akan seindah dan sekokoh itu. Suaminya tersebut terlihat seperti para model laki-laki yang biasa dia jadikan obyek foto saat masih bekerja di tabloid Hello Girls dulu, begitu atletis dan sungguh menawan.


“Aku mandi dulu, ya. Badanku bau, nggak pede kalau dekat-dekat kamu,” Chand sengaja mendekatkan bibirnya di daun telinga Gendhis, membuat bulu kuduknya meremang.


Chand kemudian membalikkan badan membelakangi Gendhis, lalu duduk di ujung ranjang berukuran king size untuk melepas sepatu. Saat itulah Gendhis melihat sebuah tato dewa Ganesha yang memenuhi punggung lebar sang suami.


Tingkat ketampanan dan keseksian Chand melesat jauh menembus awang-awang, sehingga Gendhis tak mampu menahannya lagi. Ada sesuatu yang seolah hendak meledak dari dalam diri yang harus dia tahan sekuat tenaga, demi menjaga image seorang wanita.

__ADS_1


Akan tetapi, usaha mati-matian itu malah membuat kepala Gendhis berputar. Tak hanya itu, wanita yang sudah berstatus sebagai istri tersebut malah mengeluarkan darah dari lubang hidungnya.


Ya, Gendhis mimisan karena tak kuat menahan pesona seorang Chand. Gendhis akhirnya pingsan dan ambruk di lantai. Hal yang terakhir dia lihat adalah Chand yang berbalik, lalu berlari ke arahnya dengan ekspresi panik.


__ADS_2