
Gendhis praktis tak tidur semalaman. Dia terus meringkuk di sudut kamar sampai dini hari. Merasa pinggulnya pegal-pegal, diapun berdiri dan mengintip ke luar jendela. Manggala sudah tak ada di sana. Mobilnya juga sudah tak terlihat. Walaupun demikian, sosoknya terus terbayang di kepala. Manggala memang baru saja hadir dalam hidup Gendhis, tetapi mampu meninggalkan kesan yang begitu dalam baginya.
Gendhis mengempaskan napas pelan. Lega dan kehilangan, bercampur menjadi satu. Perasaan istimewa untuk Manggala harus dia kubur detik itu juga saat Gendhis memutuskan untuk membuka laptop dan mengirimkan email pengunduran dirinya pada Manggala. Gadis yang kini berubah menjadi sedikit feminin itu juga memesan tiket pesawat paling pagi. Tekad Gendhis sudah bulat, dia akan meninggalkan Bandung beserta semua kenangannya. Mungkin dia tak akan menginjakkan kakinya di kota kembang ini lagi.
Setelah segala sesuatunya siap, Gendhis menuntun dua koper besarnya keluar kamar. Dia lalu turun dan menghampiri ruang makan. Ceu Imas tampak sibuk mengelap meja dapur. “Selamat pagi, Mbak,” sapa janda tiga anak tersebut.
“Pagi, Ceu,” sahut Gendhis hangat. Dia memaksakan senyum, walau matanya sembab dan wajahnya layu.
“Hari ini saya menyiapkan menu sarapan istimewa, khusus untuk Mbak,” tutur Ceu Imas dengan muka sumringah.
“Wah, apa tuh?” Gendhis mulai antusias. Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya saat Ceu Imas membuka tudung saji. Namun bayangan Gendhis sama sekali tak sesuai dengan kenyataan. Di dalam tudung saji berwarna pink itu hanya ada semangkuk bubur ayam. “Mana istimewanya?” tanya Gendhis dengan nada kecewa.
“Ya, ini, Mbak,” Ceu Imas mengulurkan kedua tangannya ke arah bubur panas yang masih mengeluarkan asap tersebut. “Istimewa karena saya memasaknya dengan penuh cinta,” ujarnya berapi-api.
“Oh,” Gendhis tersenyum kaku, lalu meraih bubur ayam itu. “Daripada nggak makan,” gumamnya seraya menyendok bubur sampai tandas.
“Udah kenyang. Makasih, Ceu,” Gendhis berinisiatif meletakkan mangkuk tadi ke tempat cuci piring. Namun, Ceu Imas buru-buru mencegahnya.
“Sudah, sini saya bawain. Takut Mbak Gendhis ketinggalan pesawat nanti,” Ceu Imas merebut mangkuk dari tangan Gendhis begitu saja. Tak hanya itu, Ceu Imas juga memeluk Gendhis erat-erat. “Baik-baik di Yogya ya, Mbak. Semoga bahagia selalu.” Sebuah doa sederhana dari wanita paruh baya itu, tetapi cukup untuk membuat hati Gendhis bergetar.
Pagi itu, dia terbang meninggalkan Kota Bandung, kembali pulang ke kota kelahirannya. Satu jam perjalanan yang terasa panjang dan membosankan berakhir sudah tatkala pesawat mendarat mulus di bandara Adisutjipto. Tak ada siapapun yang menjemput Gendhis di sana karena dia memang tidak mengabari siapapun dan memilih taksi bandara untuk mengantarkan sampai ke depan rumahnya.
Saat itu Susena tengah bersantai di teras rumah, saat sedan biru berhenti di depan halaman. Seorang sopir taksi turun dan membantu Gendhis menurunkan barang-barang bawaannya. “Lho, Dhis? Kok kamu ada di sini? Memangnya nggak kerja apa? Jangan suka bolos, dong. Malu-maluin,” cerocos Susena tanpa jeda.
Bukannya menjawab, Gendhis malah menghambur ke arah Susena yang berdiri kebingungan. Dia memeluk sang ayah erat-erat, lalu menangis sesenggukan. “Eh, ada apa ini, Dhis? Kenapa lagi kamu, Nak?” tanya Susena seraya membalas pelukan putri keduanya. Dia juga mengusap-usap punggung Gendhis lembut.
“Gendhis gagal nikah lagi, Pa,” sahutnya lirih. Namun Susena dapat mendengarnya dengan jelas.
“Jangan bercanda, Dhis!” Susena menguraikan pelukan dan menjauhkan Gendhis dari dirinya, agar dia dapat melihat dengan jelas wajah sendu putrinya.
__ADS_1
“Gendhis nggak bercanda, Pa,” kisah pilu itu akhirnya mengalir lagi dengan detil dari bibir Gendhis. Dia bercerita sambil berlinang air mata.
“Astaga, Dhis. Begini amat nasibmu, Nak,” Susena menggeleng pelan. Perasaannya mulai campur aduk, antara sedih, kasihan dan kecewa. Akan tetapi, sebisa mungkin dia tak menunjukkannya di depan Gendhis. Dia begitu bingung membayangkan bagaimana nasib sang putri ke depannya.
“Ya, sudah. Masuk dulu. Kita bicara di dalam,” tak ada lagi sikap konyol dan tingkah absurd seorang Susena. Saat itu dia tampak begitu serius mendudukkan Gendhis di sofa.
Tak berselang lama, Nenek Sri keluar dari bagian dalam rumah dan tampak terkejut melihat cucunya menangis tersedu di ruang tamu. “Lho, Dhis. Kok pulang? Kamu kenapa? Sakit, ya?” cecarnya.
“Bukan, Bu. Gendhis putus cinta. Dia gagal nikah lagi,” jawab Susena lesu sebelum Gendhis sempat menjawab.
“Hah, gagal lagi? Bagaimana ceritanya?” Dengan antusias Nenek Sri berjalan mendekat, lalu duduk di samping Gendhis.
Lagi-lagi Susena yang menjawab. Dia menjelaskan segala sesuatunya secara mendetil, persis seperti yang telah diceritakan oleh Gendhis.
“Gendhis, cucu nenek,” wanita tua itu begitu terperanjat mendengarkan penjelasan Susena. Dia langsung memeluk Gendhis dan ikut menangis. “Sabar, ya,” hiburnya.
“Kata abah nenek dulu, jangan memaksakan segala sesuatu. Kalau memang jalannya untuk kamu, mau kamu diam saja, dia pasti akan datang. Namun kalau sedari awal tidak ditakdirkan, segigih apapun kamu berusaha, kamu tetap nggak akan bisa mendapatkannya,” tutur Nenek Sri.
“Tenangkan dirimu dulu, Nak. Jalan-jalan, makan-makan atau apapun yang membuat kamu bisa sedikit terhibur,” saran Nenek Sri.
Seketika Gendhis mengangkat wajahnya dan menatap sang nenek lekat-lekat. “Ide bagus, Nek,” ujarnya sembari mengusap air mata. Dia kemudian menoleh pada Susena yang masih berdiri di depannya. “Kalau begitu, aku mau pergi refreshing aja, Pa,” pamit Gendhis tanpa beban.
“Pergi ke mana?” Susena menautkan alisnya curiga.
“Kemarin lusa aku baca iklan di internet. Akan ada lomba fotografi berskala internasional yang terbuka untuk umum di Bali, Mungkin aku bisa ikut, Pa,” jawab Gendhis antusias. Dia seakan lupa kalau beberapa detik lalu dia menangis seperti orang gila.
“Acaranya kapan?” cecar Susena seraya melipat tangan di dada.
“Bulan depan, tapi pendaftaran dan pengiriman karya dimulai besok. Jadi, berangkatnya besok saja,” jawab Gendhis. “Sekalian aku mau mencari obyek yang bagus di Bali,” imbuhnya.
__ADS_1
“Sebentar, sebentar,” sergah Susena. “Memangnya kamu ada uang untuk pergi ke Bali?”
“Gajiku selama bekerja beberapa bulan masih utuh, Pa. Nggak berkurang sama sekali!” timpal Gendhis dengan yakin.
“Uang pensiunku yang ludes tiap bulan,” sahut Nenek Sri.
“Tapi … bagaimana ya, Dhis? Kamu kan baru datang? Kondisimu juga masih labil. Barusan tadi nangis-nangis. Sekarang udah ketawa-ketawa aja,” Susena tampak ragu.
“Pokoknya Gendhis mau refreshing ke Bali,” mata gadis setengah tomboy itu kembali berkaca-kaca. “Daripada bunuh diri,” ancamnya.
“Astaghfirullah!” seru Susena dan Nenek Sri secara bersamaan.
“Sudahlah, terserah kamu,” Susena mengibaskan tangan. Dia mulai pening merasakan tingkah Gendhis yang kembali dilanda patah hati. Lagipula, Susena juga tidak tega mencegah keinginan putrinya, sehingga dia menyetujui keputusan tersebut.
Keesokan harinya, Susena dan Nenek Sri mengantarkan Gendhis ke bandara. Dua orang itu agak khawatir jika harus membiarkan Gendhis berangkat sendiri, mengingat kondisi kejiwaan gadis itu masih sedikit terguncang. Nenek Sri takut jika tiba-tiba Gendhis berbuat di luar nalar seperti melompat dari mobil yang melaju atau memeluk polisi tidur.
Namun ternyata semua pikiran buruk itu tak terlaksana. Gendhis terlihat tenang dan baik-baik saja sampai dirinya masuk ke pesawat yang akan membawanya ke Bali. Susena pun merasa senang dan lega, lalu memutuskan pulang ke rumah sambil menunggu kabar Gendhis selanjutnya.
Dua jam kemudian, Gendhis mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai di Bali dengan selamat. “Syukurlah,” ucap Susena. Kini dia bisa menjalani hari dengan damai, walaupun masih sangat bersedih mengingat nasib Gendhis.
Susena berpikir bahwa tak akan ada lagi kejutan di hari itu. Akan tetapi, dia keliru. Sore harinya, saat hendak memasukkan burung piaraan dari halaman depan, Susena dibuat terperanjat setengah mati dengan kedatangan Manggala. Pria tampan itu tiba-tiba sudah berdiri gagah di teras rumah.
“Selamat sore, Om. Boleh saya bertemu dengan Gendhis? Sebentar saja,” ucapnya sopan.
.
.
.
__ADS_1
Refreshing dulu yuk, mampir di karya keren yg satu ini