
Mobil mewah milik Chand melintasi jalan beraspal yang tak terlalu lebar. Jalan itu membelah halaman luas yang menambah keindahan kediaman keluarga Gunadhya. Di sisi kanan dan kiri jalan itu, ditumbuhi pepohonan yang membuat suasana di bagian depan bangunan megah tersebut terlihat semakin asri.
Chand menghentikan kendaraannya, di tempat biasa dia memarkirkan alat transportasi roda empat itu. Kalini turun lebih dulu dengan wajah muram. Senyuman dan raut ceria yang biasa ditunjukkan janda dua anak tersebut, telah menghilang dari paras cantiknya.
“Ma,” panggil Chand. Dia merasa bersalah atas perubahan sikap sang ibu. “Ma,” panggilnya lagi. Dia membuntuti langkah cepat Kalini. Berusaha membujuk sang ibu yang sedang kesal. “Ayolah, Ma. Bukankah Mama sudah menerima keputusanku?”
“Chand!” Kalini langsung menghentikan langkah dan berbalik menghadap ke arah putranya. “Asal kamu tahu, ya. Mama tidak selamanya hidup di dunia ini. Seandainya Mama mati, siapa yang akan merawatmu jika kamu tidak mau menikah?” Kalini terus mengomeli anak sulungnya.
“Ma, siapa yang tidak mau menikah, sih? Aku cuma merasa belum siap. Nanti juga kalau sudah waktunya ketemu jodoh, aku pasti akan menikah,” ujar Chand.
“Lalu kapan kamu akan merasa siap, Chand? Sudah berapa kali kamu menolak calon dari Mama? Semuanya tidak cocok menurutmu. Mama sampai bingung. Sebenarnya kamu ini suka wanita yang seperti apa? Kalau mau cari yang sempurna, pergi saja sana ke Thailand.” Kalini mengembuskan napas kesal. Dia segera berbalik meninggalkan putra sulungnya yang masih berdiri dengan raut tak nyaman. Selama ini, Chand merupakan anak yang penurut. Hanya untuk urusan pendamping saja dia membangkang pada sang ibu.
“Ma ….” Chand masih terus berusaha membujuk Kalini.
“Sudah. Jangan ikuti Mama. Mama mau istirahat!” sergah Kalini tanpa menoleh lagi.
Chand terdiam setelah mendapat bentakan dari sang ibu. Dia memilih untuk menenangkan diri sejenak. Tanpa sadar, angannya berputar kembali ke masa lalu. Saat-saat di mana seorang gadis datang mewarnai hidupnya yang terasa monoton dan kesepian.
Saat itu, Chand baru saja bercerai dengan mantan istrinya yang bernama Ghea. Dia yang berada dalam kondisi patah hati kronis, dipertemukan dengan gadis cantik nan lugu bernama Binar. Chand jatuh cinta berat padanya. Sayang, si gadis lebih memilih untuk menikah dengan sahabat Chand sendiri.
Akibatnya, makin kronislah patah hati yang Chand rasakan. Dia memilih menutup diri. Chand bahkan meninggalkan bisnisnya di Jakarta. Mewakilkannya pada orang kepercayaan. Sementara dia sendiri memutuskan untuk pulang ke kampung halaman di Yogyakarta, dan mengendalikan bisnisnya dari jarak jauh.
Chand lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Dari sana dia mengatur anak buah serta membuat berbagai macam keputusan penting, tanpa harus bertemu banyak orang. Chand juga selalu mengadakan meeting secara online. Hanya sesekali dia keluar untuk memeriksa wedding organizer miliknya yang berpusat di Jogja. Tak jauh dari rumah sang mama.
Chand kemudian menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Sepertinya, setelah ini pun dia akan tetap menolak setiap tawaran perjodohan dari Kalini. Mungkin dia telah memutuskan untuk tetap melajang, dengan atau tanpa persetujuan dari sang ibu.
Sementara itu di kediaman Gendhis, putri kedua Susena tersebut terlihat sangat sibuk. Dengan memakai pakaian kebesarannya yaitu kaos oblong dan celana jeans, Gendhis berjalan terburu-buru keluar rumah. Melihat hal itu, Hanum yang tengah menemani kedua putranya bermain di teras, segera memanggil sang adik. “Mau ke mana, Dhis?” serunya.
“Mau ke rumah Bu Wiryo!” jawab Gendhis tanpa menoleh.
__ADS_1
“Mau ngapain?” tanya Hanum lagi.
“Tentu saja untuk mengambil undangan yang terlanjur kusebar, Mbak,” sahut Gendhis setengah berseru.
“Kamu tidak bohong, ‘kan?” kejar Hanum.
“Bohong apanya?” Gendhis yang saat itu tengah mendorong pagar sampai terbuka separuh, segera menoleh pada sang kakak.
“Siapa tahu kamu pamitnya ke rumah Bu Wiryo, tapi ternyata ke tempat lain,” tukas Hanum.
“Ke tempat lain itu ke mana sih, Mbak?” Gendhis mulai kesal atas sikap kakaknya yang tidak jelas.
“Kamu tahu sendiri ‘kan kalau orang patah hati itu suka macam-macam. Ada yang menenggak obat nyamuk. Ada yang jalan-jalan di dekat rel sambil menunggu kereta lewat, ada yang berdiri di jembatan … ada juga yang melirik suami wanita lain. Itu juga sama dengan bunuh diri,” terang Hanum sambil meringis kecil.
“Ih, amit-amit! Saudara Chand Fawwaz Gunadhya tidak seberharga itu sampai-sampai aku rela bunuh diri demi dia!” tegas Gendhis. “No way! Nehi nehi acah acah!” Gendhis memainkan jari telunjuknya ke kiri dan kanan.
“Kenapa harus aku yang introspeksi?” protes Gendhis sewot sambil melipat kedua tangan di dada.
“Ya, siapa tahu si ganteng itu menolak karena kamu bau badan. Secara ya, kamu tuh mandinya cuma pas dapat wangsit doang atau waktu lagi kesambet. Coba bayangin, seperti apa bau ketekmu, Dhis,” ujar Hanum sambil melotot.
“Ta-tapi ‘kan, aku pakai deodoran, Mbak,” bantah Gendhis mulai gundah. Dengan segera, dia mengangkat lengan dan mengendus ketiaknya. “Wah iya. Bau kecut,” ujarnya sambil meringis menahan napas.
“Tuh, ‘kan!” Hanum mengacung-acungkan telunjuknya. “Kamu tuh, ya. Pantesan cowok-cowok pada lari. Lha, kamunya tidak merawat diri dan menjaga penampilan. Punya wajah cantik mbok ya dijaga,” tegur Hanum dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Gendhis pun menunduk dalam-dalam. Sedih dan menyesal dia rasakan saat itu. Namun, penyesalan sudah tak berarti lagi, karena semua terlanjur terjadi. “Ya sudahlah, Mbak. Aku ke rumah Bu Wiryo dulu,” pamitnya lesu. “Aku harus menutup mulutnya sebelum dia bikin pengumuman di masjid.”
Dengan langkah gontai, Gendhis menyusuri jalanan kompleks sampai dirinya tiba di rumah sang ketua geng. Malas-malasan, dia mengetuk-ngetuk gembok pagar yang terkunci, hingga tampak pergerakan di pintu depan.
Sang agen mata-mata kompleks kelas wahid itu menyembulkan kepala. “Siapa? Oh, Mbak Gendhis.” Bu Wiryo keluar dari rumahnya, kemudian membukakan pintu pagar untuk Gendhis. “Ayo, masuk dulu,” ajaknya.
__ADS_1
“Tidak usah, Bu. Saya cuma sebentar, kok,” tolak Gendhis halus.
“Oh, memangnya ada apa toh?” Radar gosip wanita paruh baya tersebut langsung menyala. Dia sudah dapat merasakan hawa-hawa masalah menguar dari bahasa tubuh Gendhis. Setidaknya, Bu Wiryo pasti akan membawa satu pembahasan penting untuk acara arisan RT minggu depan.
“Saya hanya ingin mengabari kalau saya … saya tidak jadi menikah, Bu,” jawab Gendhis begitu lirih.
“Lho, kok bisa?” Mata berhiaskan eye shadow warna hijau Bu Wiryo terbelalak lebar. Dia langsung mengeluarkan ponsel dari saku daster. Wanita paruh baya itu berniat untuk mengetikkan sesuatu. Mungkin dia hendak merekam semua perkataan Gendhis.
“Iya, Bu. Soalnya … um, soalnya ….” Keringat dingin membasahi kening Gendhis. Dia memutar otak mencari alasan yang tepat dan tidak memalukan, agar dapat menutupi batalnya perjodohan antara dia dengan Chand. “Soalnya calon suami saya meninggal, Bu!” ucap Gendhis beberapa saat kemudian.
“Ha, meninggal?” Bu Wiryo terkejut bukan kepalang. “Aduh, kasihan sekali, Mbak,” ucapnya dengan raut tak percaya.
“Begitulah, Bu. Kebetulan, calon suami saya kan bertugas di perbatasan. Kata teman-temannya, dia salah makan daun. Entah daun apa yang dia makan sampai membuat calon suami saya muntah-muntah berat,” jelas Gendhis. Dia merasa begitu bodoh setelah berkata demikian.
“Hah? Muntah-muntah sampai meninggal?” Bu Wiryo menautkan alisnya.
“Iya, Bu. Soalnya, dia muntah-muntah di muka komandannya sendiri.” Seusai berkata demikian, Gendhis segera berlari meninggalkan Bu Wiryo yang terlihat semakin keheranan.
“Aduh gawat! Setelah ini aku harus kabur dari sini!” resah Gendhis sambil terus berlari menuju rumahnya. Dia harus membuat rencana, kira-kira ke mana dia akan menyembunyikan diri untuk beberapa waktu.
.
.
.
sebelum ikut melarikan diri, mampir dulu yuk di karya keren yg satu ini
__ADS_1