Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Whipped Cream


__ADS_3

Gendhis buru-buru mengajak Chand keluar dari restoran. Mereka bergegas menuju ke area parkir. Chand lalu membuka pintu mobil untuk Gendhis. Setelah gadis itu duduk dengan nyaman, barulah dirinya duduk di belakang kemudi sambil terus mengamati tingkah Gendhis.


Gemetar jemari Gendhis saat menyalin angka-angka di atas tisu putih itu ke telepon genggamnya. Jantung Gendhis juga berdebar kencang, terlebih saat terdengar nada sambung. Sengaja dia menekan tombol loud speaker agar Chand juga dapat mendengarnya.


Panggilan pertama tak terangkat. Akan tetapi, Gendhis tak putus asa. Dia terus mencoba menghubungi Manggala hingga akhirnya terdengar jawaban dari seberang sana. “Halo,” suara berat nan merdu milik Manggala, menggoda telinga Gendhis sampai gadis itu memejamkan mata. Dadanya bergemuruh hebat. Sejuta kata yang dia rangkai, menguap seketika.


“Halo,” balas Gendhis lirih. Air mata mulai menggenang di pelupuk. “Angga … ini aku,” ucapnya ragu.


“Iya, aku tahu. Kamu dapat nomorku dari mana?” tanya Manggala dengan nada datar.


“Aku … aku ….” Gendhis tergagap. Dia menoleh kepada Chand yang duduk di sebelahnya. “Aku menyewa detektif swasta,” kilah Gendhis. “Maaf, Ngga. Aku tahu kalau kamu nggak ingin berkomunikasi denganku lagi, tapi aku harus bicara.”


“Bicaralah,” ujar Manggala beberapa saat kemudian.


“Aku minta maaf,” ucap Gendhis pelan. “Aku minta maaf karena telah mengambil keputusan sepihak dan sama sekali tidak mendengarkan penjelasanmu. Maafkan aku, Ngga. Kumohon,” pintanya memelas.


“Aku sudah memaafkan kamu, bahkan sebelum kamu meminta maaf, Dhis,” sahut Manggala.


“Benarkah? Lalu, kenapa kamu mengganti nomor teleponmu? Bahkan kedua orang tua dan adikmu juga tidak bisa lagi kuhubungi,” tanya Gendhis.


“Aku yang memaksa mereka untuk menggantinya,” tukas Manggala masih dengan intonasi yang datar.


“Kenapa? Apa alasannya?” desak Gendhis.


“Aku hanya ingin berusaha untuk menutup masa lalu, Dhis. Aku memutuskan untuk memaafkan dan melepaskan,” jelas Manggala. Sikap dinginnya mulai mencair. Pria tampan berambut gondrong itu sudah kembali ke sikap hangatnya pada Gendhis.


“Aku ingin kembali, Ngga. Aku mau menikah denganmu. Beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” Gendhis menurunkan harga diri demi memohon pada Manggala. Sesuatu yang tak pernah dia lakukan seumur hidupnya. Namun, Gendhis harus melalui rasa gelisah luar biasa tatkala Manggala tak kunjung menimpali permintaannya.


“Dhis,” ucap Manggala setelah beberapa saat berlalu. “Terima kasih,” lanjutnya. “Kamu harus tahu bahwa aku mencintaimu, hingga detik ini. Tidak satu saat pun terlewatkan tanpa aku memikirkan keadaanmu, Dhis.”


Gendhis menarik napas lega. Bahagia dan terharu, bercampur menjadi satu. Akan tetapi, perasaan indah itu harus terhempaskan hingga hancur berkeping-keping saat dirinya mendengarkan penjelasan Manggala selanjutnya.


“Aku sangat mencintaimu, Dhis. Namun sepertinya, aku tidak bisa kembali padamu,” ujar Manggala. “Bukan, semua ini bukan salah kamu. Aku hanya merasa terlalu takut. Masa laluku sangat buruk, Dhis. Aku tidak yakin kamu bisa menerima semuanya. Aku juga tidak berharap kamu bisa menerima. Aku memilih untuk melepasmu, karena … satu kesalahan saja sudah bisa membuat kamu memutuskan hubungan kita. Apalagi dengan sejuta kesalahanku lainnya,” tutur Manggala hati-hati.

__ADS_1


“Aku memang pengecut, Dhis. Aku bukan laki-laki sempurna. Aku sangat takut membuatmu kecewa lagi. Jadi menurutku, inilah yang terbaik untuk kita,” sambung Manggala.


“Lupakan aku, Dhis. Lepaskan aku. Teruslah berjalan dan menatap ke depan. Aku yakin, di sana akan ada seseorang yang sudah Tuhan siapkan untuk mendampingimu. Seseorang yang terbaik menurut Tuhan, dan kupastikan, itu bukanlah aku,” pungkas Manggala.


Gendhis tak dapat berkata-kata. Hatinya terkoyak sedemikian parah. Patah sepatah-patahnya. Dia hanya dapat memejamkan mata dan membiarkan air mata mengalir deras membasahi pipi. Tanpa sadar, dia melepaskan telepon genggamnya. Benda pipih itu hampir saja terjatuh ke lantai mobil andai Chand tidak sigap menangkapnya.


Hati-hati pria itu menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan, lalu meletakkan ponsel di pangkuan Gendhis. Salah tingkah Chand hendak mengusap pundak Gendhis. Sedikit takut dirinya membayangkan bahwa gadis itu akan memelintir tangannya karena telah berbuat tidak sopan.


Akan tetapi, dia tepiskan segala kekhawatirannya saat melihat Gendhis yang begitu terpuruk dan sedang tidak baik-baik saja itu. Bermodalkan tekad dan nekat, Chand merengkuh tubuh ramping Gendhis dari arah samping, lalu memeluknya erat-erat.


Chand membenamkan kepala Gendhis di dada bidangnya. Dia sukarela memberikan tempat untuk Gendhis meluapkan segala rasa sakit dan kesedihan yang mendalam. Chand tahu seperti apa rasanya gagal dalam bercinta. Dia sangat memahami hal itu. Oleh karena itulah dirinya mengerti apa yang Gendhis rasakan.


Setelah beberapa saat lamanya, Gendhis mulai dapat menenangkan diri. Dia menguraikan pelukannya dari Chand. Gendhis menunduk, tak berani menampakkan wajahnya di depan Chand. Dalam hati, dia merutuki diri sendiri karena tak bisa mengendalikan emosi. Diam-diam, Gendhis melirik ke arah Chand. Ternyata pria itu juga masih tetap menatapnya lekat-lekat.


“Kenapa?” Chand tersenyum simpul melihat sikap Gendhis.


“Nggak apa-apa,” jawab Gendhis malu-malu seraya mengusap pipinya yang basah oleh air mata. “Kamu … wangi banget. Wanginya lembut,” celetuk Gendhis beberapa saat kemudian.


“Kenapa berubah?” tanya Gendhis.


“Ya, kupikir manusia harus berubah. Menjaga penampilan sama halnya dengan menghargai diri sendiri,” tutur Chand.


“Betul juga, ya. Berarti … aku dulu tidak menghargai diri sendiri, karena jarang mandi,” Gendhis menutup mulutnya rapat-rapat, walaupun percuma. Chand sudah lebih dulu mendengar perkataan gadis itu.


“Apa yang terjadi di masa lalu, biarlah tetap tinggal di masa lalu. Yang penting ada usaha memperbaiki diri untuk ke depannya,” timpal Chand bijak.


“Wah, ternyata kamu dewasa juga, ya. Ganteng, lucu, dewasa, kaya raya. Paket lengkap, deh,” Gendhis berdecak kagum.


“Kamu ingin mengenal aku lebih dalam nggak, Dhis?” tawar Chand tiba-tiba.


“Kenapa emang?” Gendhis menautkan alisnya curiga.


“Ya, barangkali kamu ingin tahu,” Chand menggaruk dahinya yang tak gatal.

__ADS_1


“Gimana caranya mengenal kamu lebih dalam?” Gendhis semakin waspada. Bayangannya akan sikap nakal Manggala, berimbas pada Chand.


“Kita jalan-jalan sekarang,” cetus Chand. “Aku akan meminta izin ke Om Susena,” tanpa menunggu persetujuan Gendhis, dia langsung menelepon mantan kekasih ibunya semasa SMA itu. Chand tersenyum sumringah saat berhasil mendapatkan izin. Penuh semangat, dirinya menyalakan mesin mobil, lalu bergegas memutar kemudi.


“Mau ke mana kita?” tanya Gendhis terheran-heran.


“Ada, deh,” jawab Chand penuh teka-teki. Dia tak bicara apa-apa lagi sampai tiba di tempat tujuan setengah jam kemudian. “Yuk, turun,” ajak Chand seraya melepas sabuk pengaman Gendhis, lalu beralih pada sabuk pengamannya sendiri.


Chand juga membantu membukakan pintu mobil untuk Gendhis. Tak lupa dia mengulurkan tangan sebagai tempat Gendhis untuk berpegangan. Chand memperlakukan Gendhis bak seorang putri, petang itu.


“Wah, bagus banget,” mata indah Gendhis membulat sempurna melihat panorama di tempat itu. Sebuah balon udara besar yang terletak tepat di tengah-tengah area luas, menghiasi langit Yogyakarta yang mulai gelap. Lampu-lampu temaran di sekitar area juga mulai dinyalakan. Area berlantai paving itu dikelilingi taman indah yang berbentuk terasiring.


Di sana juga terdapat banyak kursi balon beraneka warna yang memang disediakan untuk umum. Tampak banyak pasangan muda-mudi tengah asyik berfoto. Beberapa keluarga terlihat menikmati suasana sambil duduk-duduk santai di sana.


“Yuk,” Chand langsung menggenggam jemari Gendhis dan mengajaknya duduk di sebuah bean bag atau kursi balon berwarna cerah yang berada tepat di depan taman terasiring. “Kamu suka, nggak?” tanya Chand lembut.


“Suka banget! Sudah lama aku nggak ke sini, sejak Utari menikah,” jawab Gendhis.


“Mama juga mulai menyukai tempat ini sejak Prajna menikah. Waktu itu, mama kesepian. Untuk menghilangkan rasa bosan, beliau sering mengajakku ke sini.  HeHa Sky Views,” timpal Chand sambil terus memperhatikan wajah cantik Gendhis yang berpoleskan make up sederhana.


“Bunga-bunganya bagus,” ucap Gendhis saat memperhatikan taman yang terhampar di hadapannya. Setelah itu, dia menoleh kepada Chand, yang ternyata tengah memandang ke arahnya. Tatapan mereka beradu untuk beberapa saat. Keduanya saling melempar senyuman.


Entah apa yang ada dalam pikiran Chand saat itu. Pria tampan tersebut seperti tak ingin mengalihkan perhatiannya dari Gendhis. Chand menatap lekat paras cantik gadis di sebelahnya.


Sementara, Gendhis juga tak dapat mengartikan perasaannya dengan terlalu cepat. Namun, harus diakui bahwa debaran jantungnya mulai tak beraturan. Dia menjadi salah tingkah dan ingin melarikan diri, Akan tetapi, sorot mata duda tampan yang kini mulai bersikap terbuka padanya itu telah menahan tubuh Gendhis, sehingga dia seakan dirantai dengan kencang.


“Apa-apaan ini?” pikir Gendhis. Dia bahkan tak sanggup mengatakan apapun. Gendhis terus berusaha untuk tidak lagi terjebak dalam pesona seorang Chand. Namun, sepertinya semua itu akan sia-sia, ketika dia merasakan sentuhan tangan putra sulung Kalini tersebut di wajah dan berpindah ke leher.


Perlahan, Chand mendekatkan wajahnya. Ragu, pria itu menghentikan gerakannya. Dia tak tahu akan seperti apa respon Gendhis. Namun, bibir ranum yang hanya berjarak beberapa senti dari bibirnya, terlihat begitu menggoda. Chand menggeleng pelan. Dia tak peduli dengan apapun lagi.


Disentuhnya permukaan bibir Gendhis dengan hati-hati, tapi tetap membuat gadis itu terkejut. Gendhis sedikit memundurkan kepalanya. Namun, dengan segera tangan Chand menahan tengkuk si gadis, sehingga mantan tunangan Manggala tersebut tak bisa ke manapun. Saat itulah, Chand melancarkan aksinya. Satu ciuman mesra diberikan kepada Gendhis yang awalnya tak merespon.


Gendhis seperti tengah bermimpi, ketika merasakan manisnya bibir Chand yang melekat erat di bibirnya. Ini sangat berbeda, dengan apa yang biasa dia terima dari Manggala. Chand begitu berhati-hati. Pelan tapi pasti. Caranya melakukan itu lebih dari sekadar romantis. Rasanya manis dan lembut bagaikan whipped cream di atas pancake. Perlahan, Gendhis memejamkan mata. Tak ada hal lain yang bisa dirinya lakukan, selain menikmati adegan ciuman bersama duda tampan yang dulu sempat membuatnya tergila-gila.

__ADS_1


__ADS_2