
Gendhis mengempaskan napas lega, ketika Kalini dan Chand berpamitan pulang. Serasa ada beban berat yang langsung terangkat dari dadanya. Gadis yang kembali merasakan patah hati itu melangkah gontai ke dalam kamar, di saat keluarganya masih bercengkerama membahas kedatangan duda tampan tersebut.
Diam-diam, Gendhis masuk ke dalam kamar. Iseng dirinya memencet nomor telepon lama Manggala. Sayang, operator yang membalas panggilannya. Nomor yang Gendhis tuju ternyata sudah tidak aktif. Tak putus asa, Gendhis mencoba menghubungi Royani. Lagi-lagi tak tersambung. Merasa penasaran, dia menghubungi Mahendra dan Diwan. Herannya, semua nomor yang Gendhis tuju, semuanya tak aktif. “Astaga, apa semua orang mengganti nomor secara berjamaah?” gumamnya lirih.
“Manggala, jahat sekali pembalasan kamu,” keluh Gendhis seraya membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sekali lagi, Gendhis mencoba menghubungi nomor kontak Royani. Tentu saja masih gagal. Entah berapa kali, Gendhis menghubungi mantan calon ibu mertuanya itu sambil menangis, sampai-sampai dia tak sadar kalau tertidur.
Gendhis terbangun saat telepon genggamnya berdering nyaring. Buru-buru dia membuka mata dan berharap bahwa ibunda Manggala lah yang meneleponnya. Sayang, harapan hanyalah sekadar harapan. Nyatanya, nama Chand yang tertera di layar ponsel Gendhis. “Ya, ampun. Dia lagi, dia lagi,” gerutunya.
“Memangnya jam berapa sih, sekarang?” Gendhis melihat jam pada alarm digitalnya yang masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. “Ngapain sih subuh-subuh begini? Kayak nggak ada kerjaan aja,” Gendhis menekan tombol merah untuk menolak, lalu menutup kepalanya dengan bantal.
Namun, ponselnya berdering lagi walaupun dia tolak sampai lima kali, membuat Gendhis gagal melanjutkan tidur. “Ya, Tuhan!” seru Gendhis. “Belum apa-apa udah ngeselin!” rutuknya. Dengan sangat terpaksa, dia menerima panggilan dari Chand.
“Masih tidur, Dhis?” tanya Chand lembut dengan suara beratnya yang khas.
“Kalau bisa ngangkat telepon, itu artinya aku udah bangun. Masa begitu aja nggak tahu,” jawab Gendhis sewot.
“Ya, maksudku sebelum kamu mengangkat telepon, pasti kamu masih tidur, kan?” kejar Chand.
“Kalau iya, kenapa!” sahut Gendhis ketus.
“Ya, nggak apa-apa, sih. Itu hak kamu, aku cuma mau memberi tahu, udara pagi itu segar, lho. Bisa menenangkan jiwa-jiwa yang gelisah dan sedih,” tutur Chand. Pria itu seakan tahu apa yang Gendhis rasakan.
“Kamu menelepon aku hanya untuk memberi tahu ini?” tanya Gendhis, masih dengan gayanya yang ketus.
“Sebenarnya, ada lagi, sih,” jawab Chand. “Tadi malam aku dah Om Susena sudah sepakat agar kamu memulai kerja di tempatku, per hari ini. Mumpung sekarang tanggal satu. Jadi, nanti enak hitungan gajinya,” jelas Chand.
__ADS_1
“Ya, ampun. Kalian memutuskan sendiri tanpa melibatkan aku?” protes Gendhis tak terima.
“Ya, gimana, ya? Tadi malam Om Susena mau mengajak kamu bicara. Nggak tahunya kamu udah tidur dan susah banget dibangunin,” ujar Chand.
“Apa iya?” Gendhis meringis kecil.
“Kutunggu di kantor, ya. Setelah ini kukirim lokasinya. Jangan tidur lagi!” titah chand, kemudian mengakhiri panggilannya begitu saja.
“Ck,” Gendhis berdecak kesal. Dilemparkannya telepon genggam ke atas ranjang. Dia berniat untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Akan tetapi, baru beberapa langkah, Gendhis menangkap suara pesan masuk.
Dia membuka pesan berupa lokasi alamat kantor Chand yang diimbuhi beberapa kata. “Pakai pakaian rapi dan formal, ya.” Demikian tulis duda tampan tersebut.
“IYA!” balas Gendhis. Sengaja dirinya memakai capslock sebagai sebuah penegasan.
Gadis bertubuh semampai itu berjalan malas-malasan ke kamar mandi. Dia menoleh saat melintasi kaca wastafel. Gendhis begitu terkejut saat mendapati kedua matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. “Astaga!” pekiknya tertahan.
Masalah timbul saat Gendhis memilih pakaian formal. Pasalnya, dia tak banyak memiliki busana formal. Pilihannya akhirnya jatuh pada blazer berwarna cerah, kemeja putih serta celana kulot yang hampir tiap hari dia pakai bekerja saat di Bandung dulu. “Daripada nggak pakai baju,” ujarnya pelan. Akan tetapi, baru saja Gendhis memasang kemeja, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk kencang.
“Mbak Gendhis! Ada paket!” suara cempreng Utari nyaring melengking dari balik pintu.
“Paket?” ulang Gendhis ragu-ragu. “Perasaan aku nggak pesan barang,” gumamnya seraya membuka pintu lebar-lebar.
“Dari pegawai Tante Kalini,” tanpa basa-basi, Utari langsung menyodorkan bungkusan plastik pada Gendhis.
“Apa ini?” Gendhis terheran-heran sambil membolak-balik bungkusan tersebut.
__ADS_1
“Buruan buka! Penasaran, nih!” paksa Utari.
Gendhis memajukan bibir beberapa senti saat melihat tingkah adiknya yang sedikit menyebalkan. Hati-hati, dirinya menyobek ujung bungkusan tersebut. Gendhis terbelalak saat melihat isinya. Sebuah blazer berwarna baby pink dan rok span ketat berwarna senada.
“Cantik banget!” Utari antusias merebut pakaian itu dari tangan Gendhis. “Mbak disuruh pakai baju ini sama Tante Kalini. Ya, ampun!” celotehnya tanpa jeda. Namun, bukannya memberikan setelan baju itu pada sang kakak, Utari malah mematut-matutkan dirinya di depan kaca.
“Tari! Udah, bawa sini! Aku mau ganti baju!” Gendhis balas merebut baju tersebut dari tangan Utari. Tak lupa, dia mengusir adiknya itu keluar dan mengunci pintu kamar.
Gendhis sempat termangu mengamati blazer yang terlihat sangat anggun dan mahal itu, sebelum memakainya dengan hati-hati. Dia sempat kesulitan saat memakai rok span yang sempat tersangkut di pinggul, hingga akhirnya Gendhis berhasil menutup resleting.
Baru saja dia bernapas lega, ketika pintunya kembali diketuk dengan kencang oleh Utari. “Mbak Gendhis, udah dijemput sama abang ganteng!” teriaknya nyaring.
“Hah? Baru juga jam berapa?” Gendhis langsung menoleh ke arah jam digital yang menunjukkan pukul enam pagi. “Si Chand udah gila rupanya. Ayam aja masih sibuk bersihin belek, dia udah siap kerja aja. Dasar otak rupiah. Nggak kebayang kalau sudah jadi pegawainya. Astaga! Apalagi kalau jadi istrinya. Harus siap melayani 24 jam kayak petugas IGD,” Gendhis mengomel sendiri.
“Mbak, buruan!” teriak Utari lagi.
“Berisik!” sentak Gendhis. “Salah siapa jemput jam segini? Bilang sama dia, kalau mau, suruh tunggu sampai aku selesai!”
“Aduh, udah kayak kurir saja hamba. Disuruh bolak balik dari tadi,” gerutu Utari. “Mending kalau dibayar,” imbuhnya, lalu bergegas turun.
Gendhis berdecak pelan, lalu melanjutkan dandan. Sengaja dirinya berlama-lama merapikan rambut dan mengoleskan make up sederhana di wajahnya yang cantik. Tak lupa dia mengoleskan concealer untuk menyamarkan matanya yang bengkak. Tepat setengah jam berlalu, Gendhis beranjak keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan anggun.
Niat hati ingin pamer, tapi gagal. Tak ada siapapun di ruang tamu. Gendhis lalu keluar menuju teras. Dia menyapu pandangan ke sekeliling. Namun tak ada siapapun di sana, hanya mobil mewah Chand yang terparkir rapi di halaman.
Gendhis masuk ke dalam dan bergegas menuju ruang makan. Yang dia cari ternyata ada di sana, sedang berbincang akrab bersama Susena dan Nenek Sri. “Astaga, dicariin,” ucap Gendhis.
__ADS_1
Sontak semua mata memandang ke arahnya. “Gendhis,” gumam Chand. Saat itu jantungnya seolah berhenti berdetak melihat penampilan Gendhis yang jauh berbeda dari biasanya. Dengan tatapan terpana, dia berdiri dan berjalan mendekat.