Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Menuju Kencan Pertama


__ADS_3

“Mbak, kok nangis?” tanya Gendhis. Hatinya dipenuh perasaan bersalah. Gendhis baru ingat, bahwa dia pernah mencurigai Sinta yang memiliki perasaan lebih terhadap Manggala.


“Maaf, Mbak. Jadi Mbak benar-benar ….” Gendhis tak melanjutkan kata-katanya.


"Apa? Ya, ampun. Aku terharu karena akhirnya kamu bisa move on dari Pak Chand." Sinta menyeka air mata yang jatuh di pipinya dengan segera. Dia memaksakan tersenyum manis di hadapan Gendhis, dan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Ya, ampun. Mbak Sinta ini perasaannya halus banget. Mirip tepung yang sudah diayak," celoteh Gendhis seraya tersenyum lega.


“Ah, kamu ini ada-ada saja." Sinta berusaha untuk menanggapi candaan Gendhis, meskipun dalam hati rasanya ingin menjerit. "Jadi, kamu mau pesan paket apa, Dhis? Buruan. Si teteh udah nungguin kamu loh,” tanya gadis itu lagi, sambil menunjuk ke arah pegawai spa yang berdiri di antara mereka. Wajah yang tadinya terlihat sedih, berubah seketika.


Sinta kembali memamerkan wajah manisnya yang ceria. “Jadi, kamu pesan apa? Paket lengkap saja ya?” putusnya seraya melingkarkan tangan ke lengan Gendhis.


Gendhis mengangguk serba salah. “Aku ikut Mbak Sinta aja. Orang yang lebih berpengalaman,” sahutnya pasrah.


“Oke!” seru Sinta penuh semangat. Dia mengarahkan Gendhis agar terus mengikuti langkah pegawai spa.


Tiga jam lamanya, waktu yang dihabiskan oleh dua gadis itu untuk menyelesaikan serangkaian perawatan. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, mendapat sentuhan yang memanjakan mereka bagaikan seorang putri raja.


Bagi Gendhis yang tak pernah melakukan ritual semacam itu, awalnya terasa risi. Namun, pada akhirnya dia merasa sangat puas dan bahagia.


“Harusnya dari dulu-dulu aku dandan sama melakukan ritual kecantikan kayak gini,” ujar Gendhis saat mematut dirinya di depan cermin besar.


“Kamu cantik banget, Dhis. Pak Manggala pasti pangling saat lihat kamu,” sanjung Sinta.


“Mbak ....” Gendhis segera menoleh pada gadis manis nan lemah lembut itu. Gendhis merasa terharu, karena mendapat rekan kerja sekaligus sahabat seperti Sinta. Walaupun mereka baru kenal, tapi Sinta bisa menjadi teman yang sangat baik. “Biar aku yang bayar ya, Mbak," putus Gendhis. Dia sudah hendak melangkah ke arah meja kasir.


“Eh, jangan!” cegah Sinta.

__ADS_1


“Eit! Dilarang menolak rezeki, Mbak." Gendhis melotot, memasang wajah segalak mungkin. Namun, dia jadi terlihat seperti salah satu tokoh horor wanita di film-film jadul. “Please, Mbak.” Gendhis yang merasa ekspresinya tidak membuat Sinta takut, segera mengubah mimik mukanya menjadi jauh lebih halus, bahkan terlihat memelas.


“Astaga.” Sinta tertawa geli melihat sikap aneh Gendhis. Akhirnya, dia mau mengalah dan menerima traktiran gadis tomboy itu. Sinta tak tahu bahwa Gendhis terpaksa menguras uang tabungan, yang selama ini dia simpan di bawah tumpukan kaos kaki. Alasan Gendhis menyimpannya di sana, karena dompet dan bawah kasur merupakan tempat yang sudah tak aman lagi.


Sepulang dari spa, Gendhis sempat mengajak Sinta mampir ke rumah Nenek Sri. Namun, gadis manis itu menolak dengan halus. “Padahal, hari ini nenek aku bikin makanan spesial, Mbak," ucap Gendhis kecewa.


"Lain kali saja, Dhis. Motornya mau dipakai sama adikku." Sinta mencari alasan untuk segera pulang.


"Baiklah, Mbak. Hati-hati, ya. Terima kasih sudah nemenin aku hari ini." Gendhis tersenyum hangat.


"Makasih juga karena udah ditraktir nyalon," balas Sinta. "Semoga acara kencannya lancar ya. Aku tunggu cerita serunya besok di kantor." Sesuai berkata demikian, Sinta segera berpamitan. Dia melajukan motornya dengan cepat dan tak menoleh lagi kepada Gendhis.


Gendhis sendiri tak segera masuk. Dia berdiri terpaku beberapa saat di trotoar sambil memperhatikan Sinta yang sudah tak terlihat lagi. Setitik keraguan muncul dalam hati gadis itu. Apakah dia salah karena telah menerima ajakan kencan dari Manggala?


Dengan langkah gontai, Gendhis memasuki ruang tamu rumah neneknya. Bayangan paras tampan Chand dan Manggala, saling bergantian dalam benaknya. “Aku harus gimana?” desis gadis itu lirih. Walaupun Chand sudah bersikap sangat buruk, tapi ternyata begitu sulit untuk melupakannya. Sekilas, bayangan wanita cantik yang bersama Chand di cafe beberapa hari lalu ikut melintas dalam pikiran Gendhis. "Astaga, apa bisa aku bersaing dengan wanita secantik dan seanggun itu?" gumamnya.


Ketika Gendhis tengah berada dalam kegalauan yang dia ciptakan sendiri, sang nenek keluar dari bagian dalam rumah bersama Ceu Imas. Sepertinya, mereka berdua hendak pergi, jika melihat tampilan si nenek dan Ceu Imas yang sedikit lebih menor dari biasanya. Namun, langkah kedua wanita hebring tadi seketika terhenti, saat melihat penampilan Gendhis yang juga terlihat berbeda.


"Aih, saya pikir tadi bukan Mbak Gendhis. Habisnya cantik begini," celetuk Ceu Imas tanpa sadar.


Dengan segera, Nenek Sri menepuk lengannya. "Jadi, selama ini cucuku nggak cantik gitu?" protesnya.


"Euleuh, bukan begitu atuh, Mak. Maksud saya teh, ini Mbak Gendhis keliatan pangling. Dia kan nggak biasa dandan kayak gini," ujar Ceu Imas membela diri.


Nenek Sri memperhatikan wajah Gendhis dengan saksama. Dia bahkan mendekat kepada sang cucu, lalu menangkup kedua pipi putri kedua Susena tersebut. Nenek Sri menggerakkan wajah Gendhis ke kiri dan kanan secara berulang, sampai Gendhis merasa kesal.


"Nenek apa-apaan sih?" protes Gendhis. Dia segera menjauhkan wajahnya, hingga terlepas dari tangan sang nenek.

__ADS_1


"Kamu pake apa ini? Kok keliatan beda, Neng?" tanya Nenek Sri sambil menautkan alis.


Namun, Gendhis tak menjawab. Gadis itu hanya mengembuskan napas pendek. Dia menatap sang nenek sesaat, sebelum beralih kepada Ceu Imas. "Nenek sama Ceu Imas mau ke mana? Kayak grup rebana zaman dulu pake seragam gitu."


"Ish! Ini adalah seragam majlis taklim di DKM sini. Seragam baru. Baru lunas," jawab Nenek Sri diiringi tawa.


"Saya belum, Nek. Tinggal satu kali cicilan lagi," ujar Ceu Imas.


"Tiap bulan kan kamu dapat uang bayaran dari saya," ujar Nenek Sri.


"Ah, Emak ini kayak nggak tahu aja. Itu kan anak ketiga saya si Chandra, biaya gaya hidupnya tinggi. Bensin, kuota, sama uang jajan kalo berangkat sekolah," sahut Ceu Imas beralasan.


"Ah, kamu katanya ikut arisan di Bu Jujun ya? Di sana kan bayar per bulannya gede, Mas." Nenek Sri merapikan seragam busana muslim yang dia kenakan. Ceu Imas, sudah hendak menanggapi, ketika terdengar suara dering ponsel milik Gendhis.


Nama Manggal tertera di layar. Gendhis segera menjawabnya. "Iya, Ngga."


"Hai, Dhis. Aku jemput jam setengah enam ya. Sekarang aku lagi otewe, tapi jalanan agak macet."


Seketika, Gendhis terbelalak. Pasalnya, saat itu sudah jam lima lebih sepuluh menit. "Astaga. I-iya. Aku sudah siap kok," balas Gendhis sambil meringis. Dia mematikan sambungan telepon tanpa sengaja saking gugupnya. Gendhis pun berdiri.


"Kenapa, Neng?" tanya Nenek Sri.


"Gawat, Nek! Aku belum tahu mau pake baju apa," resah Gendhis sambil mondar-mandir.


"Itu kan kamu sudah pake baju."


"Aku mau kencan, Nek!"

__ADS_1


__ADS_2