
“Prajna, makasih, ya,” ucap Gendhis tiba-tiba.
“Makasih untuk apa ya, Kak?” Prajna mengernyit kebingungan.
“Hidupku berubah berkat kamu,” jawab Gendhis.
“Maksudnya?” kening Prajna berkerut karena berpikir keras.
“Udah, nggak usah kaget. Gendhis emang begitu orangnya. Lain daripada yang lain,” sahut Chand yang masih dalam posisi menggendong Indira, sang keponakan.
“Bilang aja aneh, nggak perlu sungkan. Kamu ‘kan udah biasa merendahkan aku, dari dulu,” timpal Gendhis datar. “Untungnya sekarang aku sadar. Orang yang biasa merendahkan ternyata nggak lebih baik dari yang direndahkan. Lebih parah malah,” ejeknya seraya tertawa lebar.
Chand hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan pedas Gendhis. Dia memilih untuk tak ambil pusing dan bersikap seolah-olah tak mendengarkan apapun yang keluar dari bibir gadis itu.
“Ya, sudah. Aku balik dulu. Sampai jumpa lagi, Prajna,” Gendhis meraih tangan Prajna dan mengajaknya bersalaman. Tak berselang lama, dia segera melepaskannya, kemudian berlalu dari sana.
“Eh, Kak. Tunggu! Kami mau mengadakan acara makan malam bersama. Gabung, yuk,” ajak Prajna setengah berseru ketika jarak Gendhis dengan kakak beradik itu sudah lumayan jauh.
Gendhis langsung berbalik ke arah Prajna. “Ada Tante Kalini, nggak?” tanyanya dari kejauhan.
“Mama nggak ikut ke Bali, Kak,” sahut Prajna.
“Oh, kalau begitu lain kali saja,” tolak Gendhis halus sambil melambaikan tangan. Dia melanjutkan langkahnya menuju hotel yang terletak tak jauh dari kawasan pantai itu.
Sesampainya di kamar, Gendhis segera memindahkan hasil-hasil fotonya ke laptop. Dia mulai asyik mengedit foto sampai terdengar telepon genggamnya berbunyi. “Papa,” gumam Gendhis saat membaca nama kontak yang terpampang di layar.
“Halo,” Gendhis segera menerima telepon yang berasal dari Susena.
“Dhis, Manggala ada di sini. Dia mau ngomong sama kamu,” ujar sang ayah dari seberang sana.
“Waduh, mau ngapain lagi sih, Pa. Kan Gendhis udah bilang, nggak mau berhubungan dengan dia lagi,” omel Gendhis seraya berdecak kesal.
“Papa juga udah ngomong begitu, Dhis. Tapi dia yang ngotot. Untuk yang terakhir kalinya, kata Manggala,” ucap Susena setengah membujuk.
“Nggak deh, Pa,” Gendhis menggeleng lemah. “Sekarang Papa tutup teleponnya. Jangan hubungi dulu sampai nanti Gendhis yang menelepon, oke!” buru-buru gadis itu mengakhiri panggilan dan mematikan telepon genggamnya. Dia tercenung beberapa lama, sebelum kembali memutuskan untuk mengedit foto-foto tadi.
__ADS_1
Namun, Gendhis sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Bayangan wajah rupawan Manggala terus menari-nari di benaknya. Senyuman, sikap, kelembutan dan semua yang ada pada Manggala seolah menggoda Gendhis untuk mengubah keputusannya. “Ya, ampun,” Gendhis mengacak-acak rambutnya kasar.
Dia menutup laptop, lalu pindah berbaring ke atas ranjang. Mungkin tidur akan menenangkan hati dan pikiran, begitu pikir Gendhis. Akan tetapi, perkiraannya salah. Sampai jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, Gendhis tak kunjung dapat memejamkan mata.
Diapun menyerah. Tak ingin lagi memaksakan tidur, Gendhis beringsut turun dari ranjang. Dia meraih ponsel lalu bergegas keluar dari kamar hotel.
Gendhis berniat hendak berjalan-jalan ke tepian pantai. Di kawasan wisata, suasana pukul sebelas malam layaknya kota besar, masih ramai orang berlalu lalang. Awalnya Gendhis menyusuri trotoar di depan hotel dan memperhatikan tempat-tempat makan kecil berjajar di seberang jalan. Semuanya masih ramai pelanggan.
Gendhis lalu berbelok ke arah pantai. Akan tetapi, dia tak hendak ke tepian. Gendhis mengambil jalan setapak menuju tebing terjal berbatu di sisi lain pantai, lalu berhenti tepat di depan pagar pembatas. Gendhis mengamati telepon genggam yang sejak tadi dia genggam, lalu membongkarnya. Dia mengeluarkan sim card dari bagian dalam ponsel, lalu mematahkannya menjadi dua bagian.
Gendhis kemudian melemparkan jauh-jauh sim card itu sampai melayang dan jatuh ke permukaan air, tepat pada saat ombak besar menerjang. Lautan menelan sim card yang telah lama menemaninya, sejak masa SMA.
“Kenapa nggak sekalian hp-nya aja yang dibuang,” celetuk seseorang secara tiba-tiba, membuat Gendhis langsung menoleh. Dia berdecak kesal setelah mengetahui siapa sebenarnya si pemilik suara.
“Aku heran. Di mana-mana ketemu kamu. Kamu ngikutin aku apa gimana, ya? Curiga jadinya,” tatap mata Gendhis penuh selidik, dia arahkan pada pria gagah yang kini berjalan semakin mendekat lalu berdiri di samping Gendhis.
Pria yang tak lain adalah Chand itu hanya tersenyum kalem. “Kebetulan suami Prajna mengajakku ke night market tak jauh dari sini. Tanpa sengaja, aku melihatmu menaiki tebing. Aku jadi penasaran ….”
“Apa? Kamu kira aku mau bunuh diri?” potong Gendhis sewot. Dia mendengkus kesal sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana jeans.
“Aku bukan konglomerat kayak kamu. Kalau bosan, tinggal buang hp terus beli lagi,” sahut Gendhis ketus.
“Kan gaji kamu sebagai fotografer lumayan besar di media,” timpal Chand tak mau kalah.
“Aku pengangguran sekarang! Nggak kerja di tempat Manggala lagi,” ujar Gendhis pelan, sembari menundukkan kepala dalam-dalam.
“Oh, kamu dilarang kerja ya, sama Manggala? Yang kutahu, dia memang sedikit posesif pada pasangan,” celoteh Chand.
“Manggala nggak pernah posesif. Dia selalu bersikap baik dan mendukung semua yang aku lakukan. Dia sangat manis dan nggak pernah memandang fisik. Dia bilang kalau aku cantik, waktu aku masih belum bisa dandan dan jarang mandi,” Gendhis tertawa getir. Tanpa sadar, air matanya menetes, membasahi sudut bibir.
Beruntung saat itu malam hari. Suasana sekitar tampak temaram. Hanya ada lampu bohlam berwarna kuning yang dipasang di sekitar pagar, sehingga Chand tak dapat melihat pipi Gendhis yang sudah basah oleh air mata.
“Baguslah,” ucap Chand. “Manggala memang baik. Dia selalu tulus kepada semua orang.”
“Bisa berhenti ngomongin dia, nggak?” pinta Gendhis.
__ADS_1
“Oh, maaf,” Chand terkekeh pelan. Dia menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah Gendhis. “Jadi, kapan acara pernikahan kalian dilangsungkan?”
Bukannya menjawab, Gendhis malah melotot tajam pada Chand. “Udah dibilang jangan ngomongin dia!” Gendhis menghentakkan kaki, lalu meninggalkan pria blasteran India itu begitu saja. Namun baru beberapa langkah, Gendhis tiba-tiba berhenti dan menangis sejadi-jadinya.
Chand yang hendak pergi dari sana, langsung mengurungkan niat. Dia menghampiri Gendhis, lalu menepuk pelan pundak gadis itu. “Kamu kenapa, Dhis? Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.
“Nggak apa-apa. Cuma pengen nangis aja,” elak Gendhis.
“Apa … kamu mau kutemani?” tanya Chand lagi.
“Nggak usah!” jawab Gendhis.
“Bagaimana kalau kuteleponkan Mama?” tawar Chand. “Mumpung Mama masih belum tidur.”
Mendengar tawaran dari Chand, Gendhis menjadi sedikit bimbang. Mungkin sedikit bercerita dan mengobrol dengan Kalini dapat meringankan bebannya. “Boleh,” putus Gendhis pada akhirnya.
“Oke, tunggu sebentar,” Chand menggeser layar dan menekan kontak sang ibu. Setelah terdengar nada sambung, dia menyerahkan telepon genggam itu pada Gendhis. “Bawa saja hpku. Itu hp khusus untuk pribadi, bukan keperluan bisnis. Besok kuambil di hotel tempat kamu menginap. Kamu menginap di mana?”
“Ho-hotel Wijaya Kusuma,” jawab Gendhis sedikit gugup. Apalagi saat itu teleponnya sudah tersambung.
“Halo, kenapa lagi, Chand?” terdengar suara merdu Kalini.
“Tante, ini Gendhis,” ujarnya ragu.
“Hah, Gendhis?”
Walaupun gadis setengah tomboy itu tak dapat melihat ekspresi Kalini, tapi dia dapat memastikan bahwa ibunda Chand itu terkejut bukan kepalang.
.
.
.
Bagaimana selanjutnya? mampir dulu yuk di karya keren yg satu ini
__ADS_1