Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Marah Berujung Manis


__ADS_3

Gendhis berlari meninggalkan ruang rawat inap yang ditempati Kalini. Dia bahkan tak berpamitan pada wanita yang hampir menjadi mertuanya itu. Gendhis terlalu kecewa, atas kenyataan yang dia dapatkan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan pada Chand berkembang menjadi jatuh cinta pada pria yang salah. Pria brengsek yang ternyata pernah menyakiti hati calon suaminya.


“Oh, iya. Angga!” gumam Gendhis. Saking emosinya, dia sampai lupa kalau dirinya pergi ke rumah sakit bersama Manggala. Akan tetapi, saat mengingat jika calon suaminya itu juga telah berbohong, Gendhis tak jadi menyesal meninggalkan pria tampan berambut gondrong tersebut.


Namun, Manggala juga tak tinggal diam. Dia bergegas mengejar Gendhis yang sudah berada jauh di depan. “Dhis!” serunya ketika sang kekasih memilih berlari ke tepi jalan besar, untuk menghentikan angkutan kota.


“Ayolah, Dhis,” bujuk Manggala setelah berhasil meraih lengan Gendhis. “Kok kamu marah juga sama aku?” protesnya pelan.


“Lepaskan, Ngga,” desis Gendhis sembari menampik tangan Manggala yang memegang lengannya.


“Aku akan lepaskan kalau kamu jelaskan alasan marahmu lebih dulu,” tegas Manggala.


“Kamu bohong sama aku! Dulu ngakunya nggak kenal sama Chand, ‘kan? Ternyata, seperti ini kenyataannya. Sekarang kamu yang jelasin, kenapa kamu bohong tentang dia dan terkesan menyembunyikannya? Apalagi waktu itu kamu tahu kalau aku sedang ngefans berat sama Chand! Aduh,” Gendhis menepuk dahinya sendiri dan bergidik ngeri. Dia menyesal karena sempat tergila-gila pada pria blasteran India itu.


“Waktu itu kita ‘kan baru kenal, Dhis. Aku belum mengenal karakter kamu secara lebih dalam. Aku juga belum menemukan alasan yang tepat untuk menceritakan kelakuan Chand di masa lalu. Iya kalau kamu percaya, kalau nggak?” terang Manggala pelan-pelan.


“Seharusnya kamu peringatkan aku waktu itu,” Gendhis mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Manggala.


“Aku dulu sudah mengajakmu untuk membalas dendam, ‘kan?” balas Manggala. “Seharusnya itu bisa menjadi satu petunjuk buat kamu, Dhis.”


Gendhis yang awalnya terus memalingkan muka, kini langsung menatap wajah Manggala dengan sorot penuh arti. Dia hendak menimpali perkataan Manggala ketika seorang pemuda melintas, lalu berhenti di antara mereka.


“Air mineral, mijong, mijong, permen kupas, permen karet, permen kunyah. Kacang gorengnya. Cangcimen, cangcimen, Kak.” Si pemuda setengah berseru sambil menyodorkan satu keranjang penuh dagangannya pada Gendhis dan Manggala.


Manggala menolak dagangan si pemuda dengan menggunakan isyarat tangan. Tak lupa dirinya menyunggingkan senyuman manis. Sedangkan Gendhis memilih untuk tak menghiraukan pedagang asongan itu.

__ADS_1


“Soda diet juga ada, Kak,”ujar si pemuda tak putus asa. Dia meraih sekaleng kecil minuman ringan pada Gendhis. Sontak, putri kedua Susena tersebut melotot tajam pada si pedagang.


“Ngapain kamu nawarin minuman diet? Emang menurut kamu, aku gemuk, ya?” omel Gendhis sewot.


“Eh, bukan, bukan begitu,” si pemuda tampak ketakutan sampai-sampai dia mundur beberapa langkah. “Biasanya kan cewek-cewek suka minum minuman less sugar,” kilahnya.


“Aku bukan cewek biasa!” timpal Gendhis asal.


“Wah, maksudnya?” gumam si pedagang asongan tak mengerti. “Kakak bukan jelmaan mbak Kunti, ‘kan? Nggak mungkin, ya? Ini kan masih sore,” cecarnya sembari berjalan mendekat.


“Kalo gitu, soda gembira. Soda gembira. Yang sedih jadi ceria,” celoteh pedagang asongan itu lagi dengan tak acuh.


“Astaga. Pergi, nggak! Aku gigit, nih,” ancam Gendhis.


“Waduh,” si pedagang asongan mendadak pias. Tanpa banyak bicara lagi, dia segera membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan dua sejoli itu.


Gendhis mengembuskan napas pelan. Dia merasa tak punya alasan untuk menolak Manggala, sehingga memutuskan untuk mengikuti langkah pria gagah itu menuju mobil yang masih terparkir di area rumah sakit.


Dengan sabar, Manggala membukakan pintu untuk Gendhis dan menunggu sampai kekasihnya duduk dengan nyaman. Barulah dia masuk dan duduk dengan tenang di balik kemudi. “Waktu itu, aku sempat berpikiran untuk membalas perbuatan Chand melalui kamu, Dhis. Namun, akal sehatku lebih bekerja, sehingga aku mengurungkan niat,” Manggala melanjutkan penjelasannya.


“Maksud kamu?” Gendhis mengernyitkan kening.


“Aku … melihat kamu begitu patah hati. Kupikir aku bisa memanfaatkan kamu untuk menjatuhkan nama Chand Fawwaz Gunadhya,” ungkap Manggala dengan raut penuh sesal.


“Kamu memanfaatkan aku?” ulang Gendhis. Nada bicaranya yang lirih terdengar bergetar.

__ADS_1


“Awalnya sempat terlintas demikian, Dhis. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ternyata aku benar-benar jatuh cinta sama kamu yang lucu, unik, dan cantik tentunya,” terang Manggala. Dia menarik napas panjang saat melihat raut kecewa pada wajah Gendhis.


“Itu dulu, Dhis. Please, percaya sama aku,” Manggala berniat meraih tangan Gendhis, tapi gadis itu buru-buru menepisnya.


“Dhis, aku bersumpah kalau aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Itulah kenapa aku serius ingin menikahimu. Tidak ada niat lain, apalagi main-main untuk sekarang. Aku tulus cinta dan sayang sama kamu. Kumohon, Dhis,” wajah rupawan itu tampak memelas.


“Kita tutup masa lalu masing-masing, Dhis. Kamu dan aku … akan saling menguatkan. Aku yakin itu,” Manggala memberanikan diri untuk meraih tangan Gendhis. Kali ini, kekasihnya itu tak menolak. Gendhis membiarkan Manggala menyentuh dan mengecup punggung tangannya.


“Aku heran deh. Kenapa rata-rata cowok bermulut manis?” Gendhis yang masih memasang raut masam, memalingkan wajah ke luar jendela.


“Ya, karena kami tahu ada semut-semut kecil yang menunggu rasa manis itu,” jawab Manggala sambil berbisik kepada Gendhis. Dia tertawa renyah setelah kembali ke posisinya di belakang kemudi. Manggala, kemudian menyalakan mesin mobil. Dia melajukannya dengan kecepatan sedang.


Gendhis tak menghiraukan jawaban Manggala yang penuh rayuan. Walaupun dirinya ingin terbang setiap kali mendengar suara Manggala sedang bersikap manis seperti tadi. Namun, berhubung kali ini Gendhis sudah cantik dan berpenampilan jauh lebih girly, maka dia juga harus sedikit jaga image.


Akan tetapi, kenyataannya hal itu sulit untuk Gendhis lakukan. Terlebih, ketika dia menyadari bahwa jalan yang dilaluinya kali ini bukanlah menuju arah pulang. “Hey! Kamu mau nyulik aku ya? Percuma! Papa aku nggak bakalan ngasih uang tebusan,” celoteh Gendhis dengan ketus.


“Kalau sudah dapetin kamu, aku nggak butuh uang tebusan lagi,” sahut Manggala, sambil terus mengemudi tanpa menoleh kepada Gendhis.


Hampir setengah jam di perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah kawasan asri daerah Sleman. Gendhis tahu betul bahwa di sana merupakan kawasan berdirinya villa-villa mewah. Gadis itu menoleh kepada Manggala, yang sudah membelokkan kendaraan memasuki halaman luas berumput. Beberapa pohon pinus menghiasi halaman tersebut. “Ini punya siapa, Ngga?” tanya Gendhis, ketika Manggala menghentikan laju kendaraan di carport dengan atap dari bahan spandek.


“Jangan berharap bahwa ini villa milik Chand,” sahut Manggala sambil melepas sabuk pengaman. Dia keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Gendhis. Gadis itu berdiri dekat kendaraan yang sudah terparkir rapi. Gendhis mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun, itu tak berlangsung lama. “Ayo,” ajak Manggala seraya menuntun tangan Gendhis. Membawa gadis itu masuk.


“Kamu nggak cerita punya villa di sini,” ujar Gendhis sambil terus mengikuti langkah tegap Manggala.


“Aku nggak harus menceritakan sesuatu yang nggak penting,” balas Manggala menanggapi.

__ADS_1


“Oke. Kalau begitu, berhubung kita akan segera menikah maka … maka kita bahas harga beras dan minyak goreng saja,” ujar Gendhis.


Manggala menghentikan langkah, kemudian menoleh. Dia mendekat dan berdiri tepat di hadapan Gendhis. “Kita bahas itu lain kali saja,” ucapnya sambil merengkuh pinggang sang kekasih, lalu mencium Gendhis tanpa permisi.


__ADS_2