Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Tekad Membara


__ADS_3

Gendhis terus menyaksikan adegan itu sampai Chand melambaikan tangan, saat wanita super cantik tadi keluar dari café.


Sementara Sinta mengikuti arah mata Gendhis. Dia turut memperhatikan apa yang dilihat oleh rekan barunya itu. “Wah, selera Pak Chand tinggi banget, ya. Pantesan ….” Sinta buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat. Dia takut salah bicara. Apalagi saat melihat ekspresi Gendhis yang semakin murung.


Gadis tomboy itu sepertinya tengah membandingkan wanita cantik dan anggun tadi dengan dirinya. Gendhis menarik bagian samping kemeja oversize yang dia kenakan sambil mengamati badannya sendiri sampai ujung kaki.


“Dhis? Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Sinta was-was, ketika melihat setetes air mata jatuh di pipi Gendhis.


“Eh, iya. Aku nggak apa-apa, Mbak,” jawab Gendhis memaksakan diri untuk tersenyum lebar. “Balik, yuk,” ajaknya sambil bersikap seolah tak terjadi apapun sebelumnya.


Tanpa banyak bicara, Gendhis berjalan cepat menuju area parkir. Dia menyembunyikan wajahnya saat melintasi meja Chand. Padahal jaraknya cukup jauh. Chand juga belum tentu melihatnya, sebab dia asyik memilih menu. Akan tetapi, Gendhis tetap menghalangi wajahnya dengan kedua tangan.


Saking fokusnya menyembunyikan muka, dia sampai tak sadar jika pintu keluar dari bahan kaca masih tertutup rapat. Sinta sendiri sudah berusaha mengingatkan. Namun, langkah Gendhis berada jauh di depan dirinya, sehingga Sinta tak dapat berbuat apa-apa ketika Gendhis menabrak pintu kaca tadi.


“Dhis! Ya, ampun. Hati-hati, dong,” seru Sinta tertahan.


Sekarang, rasa sakit Gendhis semakin bertumpuk. Selain sakit hati, jidatnya juga sakit. Belum lagi rasa malu yang harus dia tanggung, seandainya Chand melihat kekonyolan itu. Namun, untungnya pria tampan tersebut masih asyik memilih menu dalam buku.


“Biar aku aja yang bawa motornya, ya,” ujar Sinta sembari merebut kunci kendaraan roda dua itu dari tangan Gendhis yang tengah berjalan gontai. Dia berdiri lesu di samping motor. Pandangan matanya menerawang lurus ke depan.


“Udah, Dhis. Jangan terlalu dipikirkan,” hibur Sinta. Dia merasa iba melihat keadaan Gendhis yang memilukan. “Ayo, naik,” ajaknya.


Gendhis mengangguk. Tanpa banyak bicara, dia menaiki jok dengan lesu. Gendhis seakan tak memiliki semangat hidup. Dia mogok bicara sampai mereka tiba di kantor.


“Dhis, nanti pulang kantor ke mana?” tanya Sinta berusaha mencairkan suasana.


“Pulang. Langsung tidur, Mbak,” jawab Gendhis malas-malasan seraya mengempaskan tubuh rampingnya ke kursi.


“Lho, kok tidur? Nggak mandi dulu?” gurau Sinta yang ditanggapi serius oleh Gendhis.


Dia yang awalnya dalam posisi menyandarkan diri pada punggung kursi, langsung bangkit dan mencondongkan badan ke arah Sinta.


“Aku tuh ngak bisa kalau spontan mandi, Mbak. Biasanya sih harus melalui perenungan dan pemikiran yang dalam,” jelas Gendhis dengan raut serius.

__ADS_1


“Astaga!” Sinta berdecak, antara takjub dan setengah tak percaya. “Biasanya, perenungannya berapa lama?”


“Tergantung. Kadang satu hari, kadang dua hari, kadang-kadang ...,” terang Gendhis sambil menyandarkan punggungnya lagi.


“Jadi selama rentang waktu itu, kamu nggak mandi?” tanya Sinta sambil meringis kecil.


“Ya, nggak lah,” sahut Gendhis santai, meskipun wajahnya masih tampak sendu.


“Ya, Tuhan. Gendhis.” Sinta menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Jarang mandi itu bisa bikin wajah kusam, lho. Belum lagi bikin kulit gatal-gatal dan bau keringat.”


“Tapi, aku rajin pakai deodoran dan parfum, Mbak,” ujar Gendhis.


“Sama aja, Dhis. Kalau bau keteknya berasal dari dalam tubuh, gimana? Mau dipakein deodoran seliter juga nggak bakal mempan,” tutur Sinta.


“Oh, jadi aku bau ya, Mbak? Mbak bisa nyium ketek aku, nggak?” Gendhis mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu mencoba mengarahkannya pada Sinta.


“Eh, eh. Tunggu, tunggu!” saking paniknya Sinta, dia sampai berdiri dari tempat duduknya. “Bukan begitu maksudnya, Dhis. Aku cuma ingin ngasih tahu kamu, yang rajin membersihkan diri, dong. Sayang wajah cantiknya kalau nggak dirawat,” tuturnya hati-hati.


“Dhis,” Sinta duduk di kursinya lagi. Dua tangannya terulur dan menyentuh kedua lengan Gendhis. “Pada dasarnya, kita membersihkan diri dan berdandan itu bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk diri kita sendiri.”


“Bagiku, berdandan dan mempercantik diri adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap tubuh sendiri. Kalau bukan kita yang menghargai diri kita, lalu siapa lagi, Dhis? Menurutku, sebelum kamu dihormati oleh orang lain. Langkah awal yang utama adalah kamu harus menghormati dirimu sendiri terlebih dulu, Dhis,” saran Sinta panjang lebar.


Gendhis tercenung mendengarkan nasihat menyejukkan dari Sinta, bagaikan orang yang berpuasa seharian lalu bertemu dengan maghrib. Padahal saat itu bukanlah bulan puasa. Namun, perkataan Sinta begitu mengena di hati Gendhis.


“Kamu nggak perlu mengubah jati dirimu yang sudah oke ini, Dhis. Kamu cantik, punya gaya yang khas dan keren banget menurutku. Hanya saja, kamu harus memberikan porsi lebih terhadap fisik dan kecantikan kamu,” imbuh Sinta yang membuat Gendhis berlinang air mata.


Sekian lama, nasihat yang sama dari keluarganya masuk ke telinga Gendhis dan menguap begitu saja sebelum hati dan otaknya menimbang serta menerima. Namun, kali ini rasanya sungguh berbeda. Mungkin faktor patah hati yang terlalu parahlah yang menyebabkan Gendhis mau berpikir.


“Baiklah, Mbak. Mulai detik ini, aku bertekad. Aku akan berubah, bukan demi siapapun, tapi demi aku,” ujarnya dengan suara bergetar.


“Nah, gitu dong,” Sinta tersenyum lebar, lalu saling berpelukan.


“Wah, ada apa, nih? Kenapa jadi mellow suasananya?” tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang tubuh Sinta. Dua gadis berbeda gaya itu serentak menoleh ke asal suara.

__ADS_1


“Pak Manggala?” seru Sinta dan Gendhis secara bersamaan. Pantas saja ruangan yang saat itu penuh dengan staff dan karyawan, seketika hening bagaikan sedang upacara bendera di hari Senin.


“Saya mengganggu, ya?” tanyanya.


“Oh, nggak sama sekali, Pak. Kami baru saja selesai curhat,” jawab Gendhis salah tingkah.


“Syukurlah kalau begitu. Saya lagi ada perlu sama Sinta terkait liputan ke pulau Batam minggu depan,” ujar Manggala dengan gayanya yang khas.


“Kenapa bapak nggak manggil saya aja ke ruangan, Pak?” Sinta bangkit dari kursi sambil menyelipkan beberapa helai rambut panjangnya nan indah ke belakang telinga.


“Kebetulan saya habis dari luar, terus sekalian lewat di depan ruangan kamu,” jawab Manggala seraya tersenyum penuh arti.


“Cie,” celetuk Gendhis. Dia buru-buru mengulum bibir ketika Sinta melotot ke arahnya.


“Eh, maaf, Pak. Silakan dilanjutkan, saya mau pulang dulu,” pamit Gendhis.


“Sudah tidak ada pekerjaan untuk hari ini, Dhis?” ekor mata Manggala mengikuti setiap gerak-gerik pegawai barunya yang sibuk memasukkan kamera ke dalam ransel.


“Tidak ada, Pak. Hari ini jadwal pemotretan saya hanya sampai tadi siang,” jawab Gendhis dengan yakin.


“Oh, oke. Hati-hati ya, Dhis,” pandangan Manggala tak lepas dari sosok Gendhis yang melangkah penuh semangat, keluar dari ruangan.


Detik itu, Gendhis mulai menemukan semangatnya lagi. Tutur kata Sinta masih terngiang-ngiang di kepala. Dia yang seharusnya harus segera memesan taksi online, memilih untuk berjalan kaki ke mall terdekat dari kantor. Tujuannya adalah berbelanja sabun dan lulur kecantikan, lilin aromaterapi, serta berbagai macam paket skincare untuk wajah dan bodi.


.


.


.


Seperti apa kelanjutannya? mampir dulu yaa di karya keren yg satu ini


__ADS_1


__ADS_2