
“Kenapa begitu, Tante?” Gendhis tampak ragu untuk mengiyakan permintaan Kalini.
“Tante ingin punya anak seperti Gendhis,” jawab Kalini lugas.
“Oh, tidak bisa,” sahut Gendhis dengan segera. “Nanti papa saya nangis kalau anaknya direbut. Biar tidak berguna begini, saya ngangenin lho, Tante,” celotehnya tak karuan.
“Tante serius,” bukannya tertawa menanggapi candaan Gendhis, Kalini malah memasang tampang tegang. Wajah berseri yang sedari tadi menghiasi paras cantiknya menghilang begitu saja. “Tante sayang sekali sama kamu,” imbuh Kalini.
“Aduh, gimana, ya,” Gendhis tertawa kaku seraya menoleh pada Chand dengan harapan agar duda tampan itu mau membantunya.
“Kurasa itu ide yang bagus,” celetuk Chand sambil menyunggingkan senyuman yang teramat manis. Seketika Gendhis melotot pada pria yang sedang duduk di sampingnya tersebut.
“Kamu juga, Chand. Jangan bercanda, ah. Nggak lucu,” Gendhis tergelak sembari menepuk lengan pria itu kencang-kencang.
“Aku nggak bercanda,” sahut Chand sambil memasang tampang serius.
Sementara Gendhis tak dapat berkata apa-apa. Dia memandang pada Kalini dan Chand secara bergantian. “Masalah begini seharusnya dipikirkan matang-matang lho, Tante,” ujarnya.
“Oleh karena itulah tante meminta persetujuan Gendhis. Jika kamu setuju, kami akan datang ke rumah kamu. Bagaimana?” tawar Kalini.
“Aduh, gimana, ya?” Gendhis menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sejujurnya dia sedang tak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun, sebab di dalam benaknya masih penuh dengan bayang-bayang Manggala.
“Tante langsung bicara dengan papa saja, deh,” putus Gendhis ragu. Dalam hati, dirinya sungguh berharap agar Susena menolak lamaran Kalini.
Akan tetapi, kenyataan yang Gendhis harapkan, ternyata tak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Keesokan harinya saat Kalini dan Chand bertamu ke rumah Susena, ayahanda Gendhis itu malah menerima keinginan Kalini dengan tangan terbuka. Susena seolah tak bisa menolak segala permintaan mantan kekasihnya semasa SMA itu.
“Eh, tapi, tunggu, tunggu!” Gendhis mengangkat tangan tinggi-tinggi, persis seperti anggota DPR yang tengah melakukan interupsi. Dia lalu beringsut mendekat pada sang ayah yang duduk tak jauh darinya. “Tumben papa iya-iya aja,” bisiknya begitu lirih.
“Bukannya kamu suka sama dia?” balas Susena sambil berbisik pula.
“Idih, siapa bilang?” protes Gendhis sambil memajukan bibir.
__ADS_1
“Oh, masih belum move on dari Manggala?” tanya Susena, masih dengan berbisik.
Gendhis tak menjawab. Dia hanya melayangkan pandangan mengiba pada sang ayah sambil menggeleng pelan.
“Waduh, gimana, ya?” Susena menggaruk-garuk jenggotnya. Sesekali dia melirik pada Kalini yang menunggu jawaban Gendhis dengan wajah penuh harap. Pria paruh baya itu berada dalam dilema. Dia tidak ingin memaksakan kehendak pada Gendhis. Namun dia juga berat untuk mengecewakan Kalini. “Ah, saya ada ide. Begini saja, bagaimana kalau ….”
“Makan siang sudah siap!” suara cempreng Nenek Sri hadir dan memotong pembicaraan Susena begitu saja. Sambil memakai tongkat, dia berjalan dari arah dalam rumah ke sebelah Susena.
“Ada apa ini, Bu?” Susena menatap ibunya dengan pandangan penuh tanda tanya.
“Hanum dan Utari memasak istimewa untuk tamu-tamu kita. Sebaiknya isi perut dulu sebelum melanjutkan rapat,” jawab Nenek Sri.
“Nanti saja, Nek. Sekalian,” tolak Chand halus. “Kami masih penasaran dengan ide Om Susena,” lanjutnya.
“Oh, begitu,” Nenek Sri memicingkan mata. Dia lalu mendekat pada Chand dan mengamatinya lekat-lekat. “Hm,” Nenek Sri kemudian manggut-manggut, lalu mundur menjauh. Dia berpindah posisi ke samping Gendhis.
“Kalian mau melamar cucu saya lagi?” Nenek Sri langsung mengambil alih jalannya pertemuan. Dari awal dirinya sudah merasa bahwa Susena tak akan bisa tegas karena terhanyut perasaan mengharu biru pada Kalini.
“Betul sekali, Bu,” sahut ibunda Chand tersebut dengan segera.
“Apalagi Gendhis sempat trauma karena pihak kalian membatalkan pernikahan secara sepihak,” lanjut Nenek Sri.
“Untuk kali ini saya bisa memastikan bahwa hal menyakitkan seperti itu tidak akan terjadi lagi, Nek,” tegas Chand menyela kalimat Nenek Sri. “Saya menyesal dengan sikap saya waktu itu,” imbuhnya.
“Iya, tapi seperti yang saya bilang tadi. Gendhis dan Nak Chand kan belum saling mengenal secara akrab. Asal kalian tahu, ya. Cucu saya ini kalau tidur suka ngorok, lho. Ngoroknya kenceng, lagi,” ungkap Nenek Sri yang sontak membuat Gendhis panik.
“Nek, dilarang membuka aib, dosa!” dia mencoba membungkam mulut sang nenek. Namun Nenek Sri lebih dulu menggigit telapak tangan cucunya menggunakan gigi palsu.
“Gendhis juga kalau tidur seperti orang mati. Susah banget dibangunin,” lanjut Nenek Sri membongkar kebiasaan cucunya. “Dia tidak bisa masak. Kalau masak suka keasinan, saya takut kalau tiba-tiba Nak Chand menderita darah tinggi nantinya.”
“Dia kalau nyapu nggak bisa bersih. Yakin deh, suaminya pasti brewokan,” celoteh Nenek Sri seakan tak mau berhenti.
__ADS_1
“Saya bersedia menerima semuanya, Nek,” ucap Chand saat menyadari arah pembicaraan Nenek Sri. “Mengorok itu sebenarnya bisa diobati dan disembuhkan. Nanti saya akan membantunya untuk menghilangkan penyakit itu. Gendhis juga tidak perlu menyapu, karena saya bisa menyewakan pembantu untuk membantu pekerjaan rumah. Kalau memasak, saya kira saya bisa memasak macam-macam menu. Saya pernah bekerja sebagai asisten koki waktu masih kuliah dulu,” tutur Chand dengan senyuman terkembang.
“Astaga, tapi cucu saya ini kalau makan belepotan. Nasinya nggak pernah bersih. Persis banget kayak ayam.” ujar Nenek Sri lagi.
“Idih. Iya deh, nggak seperti Nenek yang kalau makan tuh bisa bersih banget kayak anj ….” Gendhis buru-buru mengulum bibirnya, karena Susena lebih dulu melotot padanya.
Chand menunduk demi menyembunyikan tawa. Sesaat kemudian, pria tampan tersebut mengangkat wajah sembari tersenyum kalem. Hal itu membuat Nenek Sri memandang takjub padanya. Tujuan awalnya yang ingin membuat Chand jijik dan tidak menyukai Gendhis, runtuh sudah. Ibunda Susena tersebut malah tertarik sepenuhnya pada pria blasteran Jawa India tadi.
“Ya Allah, manisnya. Mirip si abah waktu masih muda. Si abah juga dulu diperebutkan sama penari ronggeng,” celetuk Nenek Sri. “Baiklah. Nenek sih yes.”
Berbeda dengan Gendhis yang semakin pucat. “Tunggu!” serunya seraya berdiri. “Saya juga belum mengenal karakter Chand. Nanti kalau dia suka ngambek, gimana? Atau … kalau ternyata suka kentut sembarangan, juga gimana?” ujar Gendhis was-was.
“Ah, begini saja. Saya jadi ada ide juga,” cetus Kalini sembari mengangkat jari telunjuk.
“Bagaimana?” timpal Susena bersemangat.
“Sepertinya ide untuk tidak terburu-buru itu juga bagus,” ucap Kalini. “Nak Gendhis apa masih belum bekerja?” tanyanya kemudian.
“Belum!” jawab Susena, Nenek Sri dan Gendhis secara bersamaan.
“Kamu bisa membantu saya nggak, Kalini? Gendhis itu bikin stok beras di rumah jadi cepat habis. Kasihlah dia kerjaan, biar ada pemasukan. Nggak ngabisin duit bapaknya saja,” keluh Susena seraya menghembuskan napas panjang.
“Nah, kebetulan sekali!” Kalini menjentikkan jarinya. “Gendhis biar bekerja di kantor Chand. Dia bisa membantu apa saja di sana. Dengan begitu, anak-anak kita bisa semakin dekat dan akrab. Nantinya mereka akan bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain seperti istilah ibu Sri tadi, yaitu membangun chemistry,” jelas Kalini.
“Saya kira itu ide yang bagus,” timpal Chand sambil tersenyum puas. Begitu pula dengan Susena dan Nenek Sri yang mengangguk antusias. Lain halnya dengan Gendhis. Dia harus memaksakan diri untuk tertawa dan bersikap baik-baik saja saat di dalam hatinya nyaring meneriakkan nama Manggala.
.
.
.
__ADS_1
Makasih pembaca yang masih setia mengikuti cerita Gendhis. Saya hanya bisa mengucapkan makasiiih banyak, dan sekalian mampir di karya keren yg satu ini yah❤️