Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
All You Can Eat


__ADS_3

“Apa itu alasannya kamu bersikap jahat sama aku dulu?” tanya Gendhis.


“Itu salah satunya,” jawab Chand seraya mengulum bibir. Dia kembali fokus pada jalanan di depan.


“Salah duanya?” cecar Gendhis lagi.


“Um,” Chand tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan gadis di sebelahnya yang penuh dengan jebakan itu. “Kamu dulu rese, Dhis. Tingkah kamu sedikit aneh dan nggak masuk di kepalaku,” jelasnya.


“Aneh gimana?” nada bicara Gendhis terdengar sewot. Dia juga melipat kedua tangannya di dada.


“Aku sering memergoki kamu melihat ke arahku, tapi … cara kamu memandang itu yang bikin ngeri,” jawab Chand apa adanya.


“Ngeri gimana?” Gendhis mulai tak terima. “Itu namanya pandangan memuja. Waktu itu aku benar-benar terpesona, kok ada cowok setampan dan semenawan kamu. Harusnya kamu tuh bangga dan bersyukur,” omelnya seraya mengarahkan jari telunjuk pada Chand.


“Masalahnya sudah banyak yang melihat aku seperti itu. Aku jadi merasa bahwa diri ini hanya dinilai dari luarnya saja. Lama-lama aku muak,” ujar Chand membela diri.


“Memangnya Binar nggak melihat kamu dengan cara yang seperti itu?” kejar Gendhis.


“Nggak, dia malah nggak menganggap aku ada,” Chand tertawa getir setelah berucap demikian.


“Wah, hebat. Binar memang juara,” Gendhis begitu takjub sampai-sampai dia bertepuk tangan.


“Persis seperti sikap kamu sekarang. Kamu udah nggak menganggap aku ada,” lanjut Chand lagi sambil terbahak.


Mendengar hal itu, Gendhis langsung terdiam. Dia kembali teringat pada Manggala. Pria itulah yang berhasil mengalihkan dunianya, membuat perhatian dan cinta Gendhis hanya tertuju pada pria tampan berambut gondrong itu.


Gendhis segera memalingkan muka ke arah jendela. Dia berteriak dalam hati. Mengapa setiap hal yang terjadi di sekitarnya, selalu mengingatkan dirinya akan sosok Manggala?


“Aku salah ngomong, ya?” tanya Chand setelah melihat perubahan pada diri Gendhis. “Maaf ya, Dhis.”

__ADS_1


“Eh, nggak. Bukan, aku cuma kelilipan,” sanggah Gendhis seraya pura-pura mengucek-ucek mata untuk menyamarkan air mata yang terlanjur menetes.


“Kamu masih suka makan nggak, Dhis?” Chand mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Aneh-aneh aja pertanyaannya,” gerutu Gendhis sambil membuang muka. “Namanya manusia ya harus suka makan. Kalau nggak suka, bisa kelaparan. Kalau kelaparan, bisa mati!” sambungnya ketus.


“Berarti kamu masih doyan makan, ya?” Chand mengulum bibirnya menahan tawa.


“Kenapa, sih!” Gendhis yang mulai risih, kembali menoleh ke arah Chand.


“Nggak, aku cuma mau ngajak kamu makan di restoran all you can eat. Kamu bisa makan sepuasnya dengan tarif seporsi aja, dengan syarat kamu habiskan makanan itu tidak lebih dari setengah jam,” jelas Chand.


“Oh, pasti saya bersedia, Kakang Prabu! Kapan? Sekarang?” cecar Gendhis antusias. Dia seolah melupakan segala kesedihan yang menyelimuti dirinya beberapa detik lalu.


Chand tak kuasa menahan tawa. “Gendhis, Gendhis,” ucapnya sambil menggelengkan kepala. “Gimana patah hatinya?”


“Oke, kalau begitu,” Chand membelokkan kemudi menuju restoran yang dituju. Beruntung petang itu, pengunjung tak terlalu banyak, sehingga mereka tak perlu antri untuk mengambil menu makanan yang disediakan secara prasmanan.


Setelah mengambil berbagai macam lauk pilihan, Chand mengajak Gendhis ke meja kasir. Di sana mereka mendapat nomor meja sekaligus timer kecil untuk menghitung waktu makan. Tepat setengah jam, mereka harus menekan timer itu agar pelayan mendatangi meja dan melihat apakah mereka sanggup menghabiskan makanan kurang dari waktu yang ditentukan.


“Siap nggak, Dhis?” tanya Chand. Dia sempat terheran-heran melihat porsi makan Gendhis yang mengalahkan porsi kuli.


“Tadi siang aku makannya nggak enak. Suasana tidak mendukung,” sahut Gendhis asal. Gadis itu mulai melahap hidangan di depannya hingga habis tak tersisa. Gendhis menghabiskannya hanya dalam waktu dua puluh menit saja. Chand bahkan masih menyuap beberapa sendok, padahal porsinya tak ada setengah porsi Gendhis.


“Perut kamu apa nggak meledak, Dhis?” tanya Chand terheran-heran.


“Udah biasa begini,” jawab Gendhis sembari mengusap-usap perutnya.


“Mengunyah yang benar itu harus tiga puluh tiga kali, Dhis. Kurang dari itu, risiko terkena penyakit maag lebih tinggi,” tutur Chand.

__ADS_1


“Ah, masa?” Gendhis yang merasa penasaran dan ingin mencoba saran Chand, segera meraih sendoknya, lalu mengambil makanan dari piring duda tampan itu. Dia mencoba mengunyah sebanyak yang telah Chand sebutkan. Namun, belum juga selesai hitungannya, makanan dalam mulut Gendhis sudah habis terlebih dahulu. “Aduh, berat ternyata. Kapan-kapan aku coba lagi, deh,” keluhnya.


“Ya, ampun,” Chand terkekeh. “Sebenarnya, kamu tuh serasi banget lho, sama Manggala.” Putra sulung Kalini itu langsung menutup mulutnya saat menyadari bahwa dia telah keceplosan. “Maaf, Dhis. Aku nggak bermaksud ….”


“Nggak apa-apa, kok,” Gendhis memaksakan senyum, lalu menunduk dalam-dalam. Sesaat kemudian, dia tiba-tiba mendongak sembari melotot pada Chand. “Boleh nggak aku minta tolong?”


“Minta tolong apa?” Chand mengernyitkan dahi tak mengerti.


“Mau nggak nyari tahu tempat tinggal Manggala di Irlandia?” pinta Gendhis.


“Irlandia?” ulang Chand.


“Iya, dia pindah ke Irlandia, tapi waktu kutanya Diwan dan Tante Royani, mereka nggak mau memberitahu di mana alamat dan nomor telepon Manggala yang baru,” papar Gendhis. “Aku mencoba menelepon kembali, beberapa hari kemudian. Namun ternyata … baik Tante Royani, Om Mahendra, maupun Diwan, semuanya tidak bisa dihubungi,” Gendhis mulai terisak.


“Tunggu sebentar,” Chand menyandarkan punggungnya pada kursi. Raut maskulinnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras. “Aku mempunyai seorang kenalan. Dulu kami berteman di klub motor, namanya Bisma. Sejauh yang kutahu, Bisma bersahabat akrab dengan Manggala, sampai Bisma pindah ke luar negeri, tepatnya di Belanda. Kami sempat bertukar nomor telepon beberapa bulana yang lalu,” terang Chand. Dia menjeda kalimatnya saat mengamati mimik Gendhis yang terlihat memelas.


“Kamu mau aku menghubungi Bisma?” tebak Chand yang segera dibalas dengan anggukan kencang dari Gendhis.


“Oke, tapi aku nggak janji, ya,” Chand tampak ragu menekan nomor kontak Bisma, tetapi tetap dia lakukan demi Gendhis. Beberapa kali nada sambung, hingga akhirnya terdengar suara dari seberang sana.


“Hai, Chand. Apa kabar?” suara itu terdengar ramah. Gendhis dapat menangkapnya dengan jelas, karena Chand mengaktifkan tombol loud speaker. Setelah berbasa-basi sejenak, Chand mengungkapkan niatnya untuk meminta nomor Manggala.


“Waduh, bagaimana, ya? Aku sudah bersumpah pada Angga untuk tidak memberikan nomor telepon barunya pada siapapun,” tolak Bisma sopan.


“Tolonglah, Bisma. Ini antara hidup dan mati. Mantannya berniat bunuh diri kalau tidak bisa menghubungi Manggala. Please, bro,” bujuk Chand.


Gendhis mendelik tak terima saat Chand menggunakan alasan bunuh diri. Hampir saja dirinya mencubit lengan pria itu. Namun Chand lebih dulu menghindar. Terlebih saat itu, Bisma menyerah dan bersedia memberikan nomor telepon Manggala.


Chand lalu merogoh pulpen dan menuliskan sederetan angka di tisu makan yang telah disediakan di atas meja. “Oke, terima kasih, Bisma,” ucapnya tulus, kemudian mengakhiri panggilan. Chand tersenyum puas. Diberikannya tisu tersebut pada Gendhis. “Itu nomor telepon Manggala. Coba hubungi dia,” saran Chand.

__ADS_1


__ADS_2