
“Oh, begitu?” Chand tersenyum kelu. Sorot matanya terlihat sendu. Ekspresi kecewa yang dirasakannya, segera ditutupi dengan sikap kalem yang menjadi ciri khasnya.
“Maaf ya, Chand. Aku nggak mau memberi harapan lebih sama kamu. Aku takut kamu kecewa. Sama seperti aku dulu,” ucap Gendhis. Dia menunduk serba salah, karena Chand tak mengalihkan perhatian sedikit pun dari paras cantiknya.
“Nggak apa-apa, Dhis. Aku bisa memahaminya. Lagi pula, aku juga berpikir bahwa ini terlalu cepat,” Chand memaksakan senyum, lalu duduk di kursinya. “Aku hanya ingin membahagiakan mama. Akhir-akhir ini dia sudah sering sakit-sakitan. Harapannya hanya satu, yaitu melihatku kembali berumah tangga,” terang Chand.
“Bukankah kamu nggak harus memaksakan keinginan Tante Kalini? Apalagi, jika hal itu tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatimu,” ucap Gendhis.
“Ya, kamu benar. Aku hanya tidak tahu dan malas berpikir,” ujar Chand diiringi keluhan pelan. “Pekerjaanku sudah terlalu banyak. Saat pulang ke rumah, aku melihat mama termenung sendirian. Rasanya, pikiranku menjadi tambah ruwet.”
Gendhis tersenyum simpul. “Jika kamu mau, aku bisa menemani Tante Kalini agar dia tidak merasa kesepian. Namun, tentunya harus disesuaikan dengan jadwal kerjaku. Itu juga jika aku nggak dipecat dari sini.” Gendhis menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
“Hah? Kenapa dipecat?” Chand menatap tak mengerti kepada Gendhis yang sejak tadi memilih berdiri, padahal di dekatnya ada kursi kosong.
“Ya, karena kita nggak perlu lagi membangun chemistry. Jadi, aku tidak perlu jadi sekretaris dan tinggal seruangan sama kamu,” jelas Gendhis. “Bukankah aku dipekerjakan di sini karena ….”
“Oh, ya ampun,” sela Chand. Pria tampan itu tertawa renyah, Dia memperlihatkan lesung pipi yang semakin menambah kadar ketampanannya. “Kamu akan tetap bekerja di sini, Dhis,” ujar Chand kemudian. “Om Susena yang meminta agar kamu diberi pekerjaan. Lumayan, mengurangi beban keluarga, katanya.”
“Ah, papa memang malu-maluin,” keluh Gendhis seraya menggigit bibirnya. Sesaat kemudian, gadis berjuluk timeless single tersebut memicingkan mata. “Aku hanya minta satu hal sama kamu.”
“Apa itu?” tanya Chand.
“Aku nggak mau dianakemaskan, diberi hak istimewa, atau segala jenis kemudahan di sini. Jangan sampai menjadi fitnah karyawan yang lain. Aku lagi males bermasalah sama orang.”
“Oh, kamu tenang saja. Tidak akan ada yang berani berpikir macam-macam dengan keberadaan kamu di sini. Kalaupun ada, kamu nggak usah khawatir. Kakang Prabu siap membela.” Chand tersenyum setelah berkata demikian. Lain halnya dengan Gendhis. Gadis itu justru langsung tertawa.
“Kenapa tertawa? Apanya yang lucu?” tanya Chand seraya menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
“Astaga. Kupikir kamu itu kayak mumi. Nggak bisa bercanda,” celetuk Gendhis di sela tawanya.
“Oh, itu karena kamu belum benar-benar mengenalku,” balas Chand kalem. Dia duduk sambil bersandar. Kedua tangannya yang berada di dekat dada, sibuk memainkan bolpoin mahal yang kemudian diletakkan di atas meja.
“Kamu memang duda yang sangat misterius,” ujar Gendhis enteng.
“Begitukah? Kamu tidak tertarik dengan duda? Duda itu memiliki jam terbang yang sudah tinggi loh,” ujar Chand. Entah apa yang terjadi pada putra sulung Kalini tersebut, sehingga dia menjadi sosok yang sangat berbeda bagi Gendhis. Chand, bukan lagi pria jutek menyebalkan, sombong, dan ingin Gendhis lempari dengan tomat busuk.
“Jadi, mana yang asli?” tanya Gendhis beberapa saat kemudian.
“Apanya?” tanya Chand.
Gendhis terdiam. Dia sadar bahwa saat itu mereka sedang di kantor dan pada jam kerja. Tak seharusnya mereka membahas sesuatu yang tak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan. “Ah, tidak apa-apa. Lupakan,” sahut Gendhis. “Aku tidak membawa berkas-berkas yang dibutuhkan untuk melamar pekerjaan,” ucapnya mengalihkan topik pembicaraan.
“Tenang saja. Masalah itu biar aku yang mengurus. Yang penting kamu dapat gaji tiap bulan,” Chand tersenyum kalem.
“Wah, jangan, Chand. Aku nggak mau dibeda-bedakan, Seperti yang kukatakan tadi, takut menimbulkan fitnah,” tolak Gendhis.
“Ternyata, kamu baik ya, Chand,” sanjung Gendhis malu-malu.
“Biasa aja, Dhis. Setiap orang memiliki sisi baik dan buruk,” sahut Chand kalem sambil melirik sesaat kepada Gendhis, sebelum mengalihkan perhatian pada pekerjaan. Wajahnya berubah serius, ketika dia mulai menyalakan komputer di meja kerja. Chand tengah memeriksa email masuk dan laporan penjualan hari kemarin.
Sementara, Gendhis hanya menggaruk-garuk kepala, karena bingung harus melakukan apa. Akhirnya dia duduk di meja kerja yang sudah disiapkan untuknya. Gendhis mulai merapikan segala hal yang ada di meja itu, sebelum dia mendapat tugas pertamanya dari sang bos.
Hari pertama bekerja di kantor Chand telah Gendhis lalui dengan tanpa ada hambatan yang berarti. Menjelang sore, jam kerjanya sudah habis. Gendhis tak tahu bahwa Chand ternyata menunggunya untuk pulang bersama.
“Kupikir kamu sudah pulang,” ucap Gendhis saat Chand membukakan pintu mobil untuknya. “Ya ampun, aku takut kedekatan kita menimbulkan fitnah. Eh, sekarang kamu malah ngajak aku pulang bareng.”
__ADS_1
“Sejak kapan kamu mulai sangat peduli dengan omongan orang lain?” tanya Chand sambil terus menyetir. Sesekali, dia melirik kepada Gendhis yang duduk di sebelahnya. “Kamu sudah banyak berubah ya?”
“Tidak ada yang berubah. Aku hanya ….” Gendhis tak melanjutkan kata-katanya. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela. Gendhis menatap langit yang seakan bergerak mengikuti laju mobil yang Chand kendarai. Bayangan paras tampan Manggala terlukis di sana.
Setitik kepedihan muncul. Gendhis tak tahu apakah dirinya akan dapat bertemu lagi dengan pria nakal berambut gondrong itu, atau Manggala akan hanya menjadi sepenggal cerita yang mampir dalam kisah hidupnya. Satu hal yang Gendhis sayangkan adalah, dia tak sempat meminta maaf atas keputusan sepihak yang telah sangat mengecewakan Manggala.
Air mata mulai jatuh dan membasahi pipi Gendhis. Namun, dengan segera gadis itu menyekanya hingga tak tersisa. Gendhis mungkin dapat menyembunyikan tangis yang dia tahan dari Chand. Dia tak menyadari, bahwa pria tampan yang berada di belakang kemudi itu diam-diam memperhatikannya sejak tadi.
“Kamu tahu, Dhis? Butuh waktu yang sangat lama, untuk dapat melarikan diri dari masa lalu,” ucap Chand, setelah keheningan bertahta selama beberapa saat.
“Maksudmu?” Gendhis menoleh dengan sorot tak mengerti.
“Melupakan seseorang yang kita cintai, sama sulitnya dengan menghitung bintang di langit,” jawab Chand puitis.
“Apa kamu begitu kesulitan melupakan Ghea?” selidik Gendhis.
Chand tertawa renyah. Dia menggeleng pelan. Sementara, tangannya lihai mengendalikan kemudi. “Bukan Ghea. Aku tak pernah menyesal karena telah berpisah dengan wanita itu.” Chand menggumam pelan. “Ghea berselingkuh dengan sahabatku. Sahabat yang telah kuanggap seperti saudara sendiri,” tutur Chand.
“Awalnya, aku marah dan merasa bahwa hidup ini benar-benar tidak adil. Namun, lama-kelamaan aku sadar dengan segala kesalahan yang telah kulakukan di masa lalu. Dari sana, aku mulai berusaha berdamai dengan segala kesialan yang kuterima. Kenapa kusebut sebagai kesialan? Karena semuanya tak berhenti hanya dengan perselingkuhan Ghea.”
Chand menghentikan laju mobilnya di perempatan lampu merah. Sementara, Gendhis menunggu kelanjutan cerita dari pria tampan berdarah India-Indonesia itu.
“Aku mulai membuka hati dan jatuh cinta pada seorang gadis. Namun, sayangnya cintaku bertepuk sebelah tangan. Lagi-lagi, wanita yang kucintai, jatuh ke pelukan sahabatku. Karma lebih menyakitkan. Itu memang benar.” Chand tersenyum kelu. Dia kembali melajukan kendaraannya.
“Apa setelah itu kamu jatuh cinta lagi kepada wanita lain?” tanya Gendhis yang tertarik mendengarkan kisah hidup Chand.
“Tidak.” Chand menggeleng pelan. “Sudah kukatakan bahwa melupakan orang yang kita cintai, sama sulitnya dengan menghitung bintang di langit,” jawab pria tampan itu. “Bertahun-tahun lamanya, aku menyembunyikan diri. Kutinggalkan ibukota, dan lebih memilih tinggal di Yogyakarta. Apa yang kulakukan tak jauh berbeda denganmu, Dhis. Aku juga pernah melarikan diri dari rasa sakit.”
__ADS_1
“Lalu, bagaimana dengan wanita yang kamu cintai itu sekarang?”
“Dia sudah hidup bahagia dengan sahabatku. Binar. Wajahnya mirip denganmu.” Chand menoleh, lalu tersenyum kalem.