Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Pesona Manggala


__ADS_3

Gendhis berdiri di depan cermin. Ada rasa tak percaya, ketika melihat dirinya dalam balutan dress floral vintage milik sang nenek. Ya, untuk pertemuan kali ini, Gendhis kembali mengenakan baju milik neneknya. Sama seperti saat acara lamaran Chand dulu. Namun, bedanya kali ini dia tak terlihat konyol dengan gamis jadul.


Dress floral lengan panjang berwarna abu-abu itu terlihat sangat cantik. Berlengan tiga perempat dengan aksen ruffle pada beberapa bagian, yang membuatnya tampak menarik. Dress tersebut merupakan pakaian bersejarah Nenek Sri pada zaman baheula (dulu).


“Nenek pake baju ini waktu dilamar sama almarhum kakek kamu,” ucap Nenek Sri. Niatnya yang hendak pergi ke pengajian, harus terhambat karena membantu Gendhis mencari baju untuk acara kencan sang cucu. “Gimana? Kamu suka nggak yang itu?” tanya Nenek Sri memastikan.


“Suka, Nek. Bajunya cantik, tapi aku kok ngerasa aneh ya?” Gendhis lagi-lagi merasa tak percaya diri.


“Kenapa? Apanya yang aneh?” tanya Nenek Sri penasaran.


Gendhis tak segera menjawab. Dia masih belum mengalihkan pandangan dari cermin rias di hadapannya. Gadis itu merasa tak percaya, bahwa dia bisa mengenakan pakaian seperti yang sedang dia gunakan kali ini. “Apakah menurut Nenek … aku tidak terlihat aneh?”


“Apanya yang aneh?” Nenek Sri mengernyitkan kening. Dia mendekat kepada sang cucu. Nenek Sri mendudukkan Gendhis di atas bangku busa, menghadap langsung ke cermin rias. Wanita tua dengan gamis seragam khusus majelis taklim itu merapikan rambut panjang Gendhis. Dia menyisirnya pelan-pelan.


“Cucu Nenek cantik banget lho. Lihat ini.” Nenek Sri mengangkat rambut panjang Gendhis yang sedang dia genggam. “Kamu punya rambut yang bagus, Neng. Kenapa malah diikat terus? Sekali-kali, biarkan rambut kamu tergerai kayak gini.” Nenek Sri kembali merapikan rambut panjang Gendhis yang hitam dan tebal. “Kebanyakan laki-laki itu suka sama perempuan yang rambutnya panjang,” ucap Nenek Sri lagi.


“Kenapa begitu ya, Nek?” tanya Gendhis.


“Katanya sih biar pas dibelai sambil bilang sayang, maka bilangnya bisa lama. Sepanjang rambutnya. Kalau yang rambutnya pendek kan jadi ga panjang bilang sayangnya,” jawab Nenek Sri. Entah itu patokan dari mana, dia bisa menjelaskan hal yang terdengar konyol bagi Gendhis.


“Kalau begitu, bagaimana nasib cewek-cewek yang rambutnya cepak ya, Nek?” Gendhis menanggapi.


“Ya, kamu pikir saja sendiri,” balas Nenek Sri. Dia mengakhiri apa yang dilakukannya, setelah merasa bahwa rambut Gendhis sudah terlihat rapi. “Nenek harus pergi ke masjid. Malam ini, ada penceramah terkenal yang akan memberikan tausiah. Jadi, rencananya Nenek sama si Imas mau berjamaah maghrib dulu. Biar kebagian tempat duduk paling depan. Jadi, kalau mau foto-foto jelas, nggak terhalang kepala orang,” ujar Nenek Sri seraya membetulkan letak gelang serta kalung sebatas dada yang sengaja dipasang di luar pakaian.


“Nenek kok kayak toko emas berjalan,” pikir Gendhis.


“Ish, diam kamu. Ini penunjang penampilan kalau mau ke pengajian. Baju bagus sama perhiasan. Sama tas juga tentunya.” Nenek Sri membetulkan posisi kerudungnya. “Kamu sudah nyimpen kunci serepnya kan?”

__ADS_1


“Sudah, Nek,” jawab Gendhis seraya beranjak dari tempat duduknya. Baru saja dia akan memeriksa ponsel, suara Ceu Imas sudah lebih dulu terdengar. Janda tiga anak itu berdiri di ambang pintu.


“Mbak, ada cowok ganteng tuh nyariin. Dia nunggu di ruang tamu,” lapor Ceu Imas.


Seketika, Gendhis menjadi gugup. Dia terlihat salah tingkah dan kebingungan harus berbuat apa. Gadis itu kembali mondar-mandir seperti tadi.


“Kenapa lagi, Neng? Udah sana. Kamu udah cantik begini kok. Mirip Nenek waktu masih muda dulu. Asal kamu tahu ya, waktu Nenek seusia kamu ….” Belum sempat Nenek Sri melanjutkan kata-katanya, Gendhis sudah lebih dulu meraih tas ransel kecil kesayangan. Dia tak memiliki tas lain, sehingga cocok atau tidak … itu bukan masalah besar. Kenyamanan adalah yang utama.


Dengan langkah berbalut flat shoes putih polet hitam, Gendhis menuju ruang tamu di mana Manggala sudah menunggunya. Namun, setelah berada di ruangan itu, gadis dengan dress vintage floral tadi segera tertegun. Gendhis terpaku melihat sosok pria yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.


Manggala mengikat rambut gondrongnya dengan rapi. Pria itu mengenakan T-Shirt lengan pendek berwarna hitam, yang dipadukan dengan celana jeans. Manggala segera berdiri saat melihat kehadiran Gendhis di sana. Dia hampir tak mengenali gadis itu, andai Gendhis tidak memperlihatkan senyumannya yang khas.


“Dhis?” sapa Manggala tak percaya. Pria itu tersenyum kalem.


“Hai. Maaf. Nunggu lama ya?” Gendhis terlihat kikuk.


“Tidak juga. Aku baru sampai di sini beberapa menit yang lalu,” sahut Manggala. Dia terus memandang Gendhis dengan tatapannya yang penuh makna, membuat gadis berambut panjang itu kian salah tingkah.


“Nek,” sapa Manggala. Dia segera mendekat kepada Nenek Sri. Pria itu mencium punggung tangan nenek Gendhis tersebut dengan sopan. “Saya ingin mengajak Gendhis keluar. Saya akan mengantarnya pulang sebelum pukul sepuluh malam,” ucap Manggala meminta izin.


“Oh, silakan. Jangan lupa ajak makan ya. Biar dia ga usah makan malam lagi di rumah,” pesan Nenek Sri, yang membuat kecantikan paripurna Gendhis luntur seketika.


“Oh, jangan khawatir, Nek,” balas Manggala. Dia lalu menoleh kepada Gendhis. Manggala mengangguk pelan, sebagai isyarat bahwa mereka akan segera berangkat. Gendhis pun membalas dengan sebuah anggukan.


Setelah berpamitan kepada sang nenek, dua sejoli itu berjalan keluar rumah menuju mobil Manggala terparkir. Pria dengan gaya rambut man bun tersebut, membukakan pintu untuk Gendhis. Setelah memastikan gadis yang telah menjadi kekasihnya tadi duduk nyaman, Manggala pun masuk dan duduk di belakang kemudi. Setelah memasang sabuk pengaman, pria itu kembali menatap Gendhis.


“Apa sih, Ngga?” Gendhis dibuat salah tingkah dengan sikap Manggala.

__ADS_1


“Kamu cantik banget, Dhis,” sanjung Manggala.


Gendhis tersipu malu. Dia tak tahu harus berkata apa. Gadis itu hanya memainkan tali tas ransel yang diletakkan di pangkuannya. “Jadi, kamu mau ngajak aku ke mana?” tanya Gendhis mencoba mengalihkan perhatian Manggala, agar tak terus menatapnya dan membuat dia tak nyaman.


“Ada banyak tempat yang bagus di sini. Intinya, malam ini kita akan berkencan,” ujar Manggala seraya tersenyum kalem. Dia lalu menjalankan mobilnya. Namun, baru sekitar beberapa meter saja, Manggala menghentikan laju kendaraan dan menepi.


“Ada apa, Ngga?” tanya Gendhis penasaran. Dia menoleh kepada pria di balik kemudi.


“Ada satu hal yang ketinggalan,” jawab Manggala seraya melepas sabuk pengaman.


“Apa?” tanya Gendhis. Namun, Manggala tidak menjawab dengan kata-kata. Dia meraih tangan Gendhis, kemudian mengecupnya mesra. Apa yang pria itu lakukan, telah berhasil membuat darah dalam tubuh Gendhis berdesir dengan jauh lebih kencang.


“Ngga ….” Gendhis tak tahu harus berkata apa, ketika Manggala semakin mendekat. Namun, lagi-lagi gadis itu tak kuasa untuk menolak. Gendhis terpaku, saat Manggala kembali menyentuh bibirnya dengan lembut. Kali ini, ciuman yang diberikan pria itu bahkan jauh lebih dalam dari kemarin.


Manggala tahu jika Gendhis belum berpengalaman. Dia melakukannya dengan perlahan, seakan tengah menuntun gadis itu agar mengikuti apa yang dia lakukan.


Pelan tapi pasti, Gendhis mulai dapat mengikuti adegan ciuman itu. Dia bahkan sudah dapat menikmatinya. Tak seperti kemarin yang hanya terdiam, kali ini Gendhis membalas dan melakukan seperti yang Manggala lakukan.


“Sudah mulai pintar sekarang,” bisik Manggala saat menjeda adegan ciumannya tadi.


Sementara Gendhis hanya tersenyum. Dia tak menolak, ketika Manggala kembali melu.mat mesra bibirnya. Manggala bahkan sudah berani menyentuh paha Gendhis. Dia mere.masnya pelan.Demi mencegah agar tangan pria tampan tersebut tak bergerak semakin bebas, Gendhis segera memegang dan menahannya hanya sampai paha.


Manggala pun sepertinya sadar, bahwa Gendhis belum terbiasa dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Dia tak memaksa, meskipun naluri kelelakiannya berharap dapat menyentuh hal lain yang jauh lebih menantang dan menyenangkan.


“Terima kasih,” ucap Manggala seraya mengusap permukaan bibir Gendhis dengan ibu jarinya.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Gendhis.

__ADS_1


“Karena sudah menerimaku jadi pacar kamu,” jawab Manggala seraya tersenyum kalem. Dia lalu mengecup kening Gendhis dengan lembut. Setelah itu, pria dengan gaya rambut man bun tersebut kembali pada posisinya di belakang kemudi. Manggala memasang lagi sabuk pengaman yang tadi sempat dilepas.


Gendhis tersenyum sambil menoleh ke luar jendela. “Inikah rasanya pacaran?” pikir gadis itu. Angannya mulai terbang tak tentu arah. Namun, dia kembali tersadar, ketika mobil yang ditumpanginya sudah melaju dengan kecepatan sedang. Gendhis tak mengerti dengan apa yang dia rasakan, selain hangat genggaman tangan Manggala di atas pangkuannya.


__ADS_2