Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Hati Yang Bimbang


__ADS_3

Gendhis seakan melayang, saat di dalam mobil Chand kembali mencium bibirnya lagi dan lagi. Pria itu seakan ketagihan menikmati bibir ranum itu.


“Udah, Chand. Ini sudah malam. Jangan sampai besok kita kesiangan,” Gendhis memundurkan tubuh, menghindari bibir tipis duda tampan itu.


“Ah, iya. Maafkan aku, Dhis,” wajah rupawan itu tersipu. Segera dirinya mengusap bibir Gendhis yang basah, lalu mencium pipinya. “Kuantar kamu sampai ke rumah,” Chand bergegas turun dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk Gendhis. Dia mengantar gadis itu sampai ke depan pintu rumah.


Baru saja Chand hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu tersebut terbuka dari dalam. Tampak Nenek Sri berdiri di hadapan dua sejoli itu sambil memasang wajah garang.


“Eh, Nenek. Kok belum tidur? Katanya besok mau balik ke Bandung?” tanya Gendhis.


“Nggak jadi!” jawab Nenek Sri ketus. “Darimana saja kalian?” selidik sang nenek.


“Dari jalan-jalan, Nek,” jawab Chand sopan. “Saya tadi sudah meminta izin Om Susena kalau kami akan pulang terlambat.”


“Hm, gawat kalau begini terus,” Nenek Sri mengusap dagunya diiringi tatapan tak suka. “Nanti bilang sama ibumu, ya. Nggak usah lama-lama membangun chemistrynya. Langsung menikah saja. Zaman dulu banyak orang yang dijodohkan, padahal belum kenal satu sama lain. Buktinya, langgeng-langgeng aja, tuh!” omelnya.


“Lah, ‘kan Nenek yang ngasi ide untuk membangun chemistry?” timpal Gendhis.


“Itu kemarin! Sekarang beda lagi!” elak Nenek Sri. “Kamu ini, dikasih tau malah jawab terus. Sudah sini, masuk!” wanita tua itu menarik tangan cucunya sekuat tenaga, sampai Gendhis terhuyung ke depan. Beruntung dirinya tak terjatuh.


“Ya, sudah. Kalau begitu saya pamit. Sampai jumpa besok, Dhis. Kujemput jam tujuh, ya,” ucap Chand seraya mengangguk sopan pada Nenek Sri, lalu membalikkan badan menuju mobilnya.


Gendhis terus memandangi punggung tegap dan lebar yang terus menjauh itu sampai Nenek Sri menutup pintunya secara tiba-tiba. “Ih, Nenek. Nggak suka lihat orang senang,” gerutunya.


“Besok lagi!” Nenek Sri menjitak kepala cucunya, lalu berlalu begitu saja, meninggalkan Gendhis yang termangu sendirian.


“Apa yang baru saja aku lakukan?” gumamnya lirih. Terbayang olehnya adegan ciuman yang teramat lembut dan manis bersama Chand. Perutnya selasa digelitik dari dalam. Geli bercampur menegangkan.


Sambil meniti anak tangga, Gendhis menyentuh permukaan bibirnya. Dia terus melamunkan adegan tadi sampai tak sadar bahwa dirinya sudah tiba di depan kamar. Gendhis lalu membersihkan diri dan berbaring di atas kasur. Sekilas sosok Manggala kembali hadir. Teringat olehnya kata-kata pahit Manggala yang sudah menutup kesempatan bagi mereka untuk dapat kembali berdua.


“Selamat tinggal, Angga,” desah Gendhis liris. Perlahan, rasa ngantuk mulai menguasai. Gendhis menguap lebar, lalu memejamkan mata. Seolah masuk ke dalam alam mimpi, Gendhis melihat siluet Manggala yang berjalan menjauh. Sekuat apapun tangannya meraih tubuh tegap itu. Sosok Manggala tetap tak tergapai. Pada akhirnya, Manggala hilang ditelan kegelapan. Gendhis hanya bisa menangis meraung, sampai dirinya terbangun tiba-tiba.


Alarm digital Gendhis berdering, menunjukkan pukul lima pagi. Gendhis buru-buru turun dari kasur dan bersiap-siap. Tepat pukul setengah tujuh pagi, Gendhis turun dan duduk di meja makan dalam kondisi sudah berpakaian rapi. Semua anggota keluarganya begitu takjub melihat perubahan drastis dari seorang Gendhis.


“Dulu dia jam segini masih bau iler ya, Yang,” celetuk Arya pada Hanum, sang istri.

__ADS_1


“Waktu di Bandung, jam segini dia udah siap berangkat kerja, tapi nggak mandi,” sahut Nenek Sri.


“Kekuatan cinta ….” Desis Susena dengan pandangan takjub.


“Duh, apaan sih, kalian? Berisik, tahu nggak?” Gendhis berusaha untuk tak acuh. Dia mengambil seporsi kecil nasi dan lauknya, lalu mulai menyendok.


“Nggak salah, nih?” celetuk Arya lagi. “Tumben nasinya nggak tiga centong?”


“Dilarang berlebih-lebihan dalam hal apapun,” ujar Gendhis sambil mengunyah.


“Kata siapa?” tanya semua orang secara serempak.


“Kata Chand,” jawab Gendhis santai.


“Ciieee,” seru semua orang, secara serempak pula. Keceriaan itu berakhir tatkala terdengar bel pintu berbunyi.


“Itu pasti Chand,” Gendhis bergegas bangkit dari kursi dan berlari menuju ke ruang depan. Sesaat kemudian, dia kembali sambil menggandeng Chand. Pagi itu, pria blasteran India tersebut tampil menawan dengan kemeja biru dan celana bahan berwarna hitam, membuat Nenek Sri begitu terpana.


Hanum pun ikut terpana, sampai-sampai dia salah menyuapi putra sulungnya. Sendok yang harusnya masuk ke mulut, malah nyasar ke mata. “Maa, sakiit!” teriak Farras nyaring.


“Astaga, kamu ini gimana sih, Num?” tegur Arya yang mendapat bagian menyuapi Aydin, putra bungsunya.


“Sudah, Om,” jawab Chand sopan.


“Sarapan lagi,” ajak Nenek Sri seraya menepuk-nepuk permukaan kursi kosong di sebelahnya.


“Wah, makin nggak karuan ini,” gumam Gendhis. “Tadi malam marah-marah sama Chand, sekarang berubah genit. Nenek labil, ih,” ujarnya.


“Dhis,” hardik Susena seraya melotot.


“Kita pamit sekarang aja, Chand,” suara Gendhis sedikit nyaring, saat situasi semakin tak terkendali. Dua putra Hanum saling berkelahi, sementara Arya sibuk melerai. Nenek Sri senyum-senyum sendiri dan Hanum tak henti-hentinya memelototi Chand.


Gendhis segera menyeret lengan Chand dan membawanya ke halaman depan. Tanpa menunggu Chand membukakan pintu mobil, dirinya sudah lebih dulu masuk dan duduk dengan nyaman.


“Keluarga bahagia,” ujar Chand sembari tersenyum lebar.

__ADS_1


“Keluarga berisik,” ralat Gendhis sambil memasang sabuk pengaman. Kegiatannya terhenti ketika dia mendapati Chand yang memandang penuh arti padanya.


“Nggak ada ciuman selamat pagi?” tanya Chand dengan sorot mata menggoda.


“Nggak ada, nanti telat,” kilah Gendhis. “Ayo, berangkat,” ucapnya bersemangat.


“Tumben, pelit,” gerutu Chand. “Kamu lupa ya, tadi malam kita ….”


“Stop!” potong Gendhis. Dia lalu mengecup bibir Chand sekilas dan kembali pada posisinya semula.


“Kurang, Dhis,” Chand menatapnya penuh harap.


“Udah, cukup,” tolak Gendhis sambil membuang muka. Sulit baginya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Chand, bahwa tadi malam dia memimpikan Manggala, bukannya duda tampan yang berada di sebelahnya itu.


“Kamu labil juga rupanya, ya. Kayak Nenek Sri,” celetuk Chand.


Gendhis langsung menoleh. Mulutnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, tak satupun kata yang keluar.


“Ciuman tadi malam … belum bisa membuatmu lupa akan Manggala ya, Dhis?” terka Chand yang seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran gadis itu. “Kamu merasa bersalah sama dia?” tebaknya lagi.


“A-aku ….” Gendhis terbata, lalu menunduk.


“Sudah, nggak apa-apa. Aku nggak akan memaksa kamu. Lakukan apapun yang menurut kamu nyaman dan membuat kamu bahagia,” tutur Chand pelan.


“Chand ….” Gendhis menatap sayu pada Chand. Pandangan iba tertuju pada duda rupawan di hadapannya itu. “Maaf, tapi ….”


Gendhis berada dalam kebimbangan. Antara berat melepaskan bayangan Manggala, ataukah mengulang kembali adegan manisnya bersama Chand tadi malam. Harus dia akui, bahwa jantungnya berdebar kencang, setiap kali Chand menyentuhnya. Namun, bayangan kegagalan dan patah hati mendalam terus menghantui Gendhis.


“Kita berangkat sekarang, ya. Keburu siang,” ujar Chand yang menyadarkan lamunan Gendhis. Sepandai apapun Chand menyembunyikan rasa kecewanya, hal itu masih jelas terlihat dari rautnya yang murung.


“Chand,” tangan Gendhis terulur, menghentikan gerak pria itu yang hendak menyalakan mobil.


“Ada apa?” tanya Chand lembut.


“Apa menurutmu kita nggak terlalu cepat? Seperti yang kamu bilang kemarin?” Gendhis mengigit bibir, galau menunggu reaksi Chand selanjutnya.

__ADS_1


“Terlalu lama menjalin hubungan juga nggak menjamin sebuah hubungan menjadi langgeng, Dhis,” sahut Chand bijak.


“Aku ….” Hampir saja Gendhis mengungkapkan semua uneg-uneg yang ada dalam hatinya, ketika tiba-tiba kaca jendela di sebelahnya diketuk dari luar oleh seseorang.


__ADS_2