Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Ojol Baper


__ADS_3

Chand maupun Gendhis sama-sama tertegun. Mereka tak mengira, jika keduanya akan bertemu di tempat itu. Ini benar-benar sebuah kebetulan, meskipun Gendhis sudah mengetahui bahwa Chand sedang berada di Kota Bandung.


“Oh, maaf. Aku kira pacarku!” ucap Gendhis dengan penekanan pada kata ‘pacar’.


“Tidak apa-apa,” sahut Chand cuek. Dia kembali fokus melihat-lihat buku yang berjajar rapi di atas sebuah meja besar. “Sedang apa kamu di sini?” tanyanya beberapa saat kemudian. Chand menyadari bahwa Gandhis melirik padanya secara diam-diam.


Setelah aksi nakalnya disadari Chand, Gendhis segera berpura-pura bersikap tak acuh. “Seperti yang kamu lihat. Aku kemari untuk menghadiri pameran buku,” jawab Gendhis tak kalah cuek. Dia pura-pura membuang muka, padahal waktu Chand tak melihat, Gendhis diam-diam kembali mencuri pandang dengan sorot penuh kekaguman.


“Jauh-jauh datang ke Bandung untuk melihat pameran buku? Padahal di Jogja juga banyak,” ujar Chand pelan.


“Ih, mau tau aja sih kamu. Kayak Bu Wiryo. Kepo,” cibir Gendhis. “Kamu sendiri ngapain di sini?” Gendhis balik bertanya dengan ketus.


“Aku harus mengecek persiapan untuk Wedding Expo besok. Biasanya, tugas-tugas semacam ini kuserahkan pada asistenku. Akan tetapi, dia sedang izin. Jadi, terpaksa aku yang melakukan tugasnya,” jelas Chand. Dia berkata demikian sambil berpindah pada sisi lain meja lebar dengan ratusan buku di atasnya. Namun, Chand tertegun ketika ada sosok lain berdiri tak jauh darinya. Sosok yang tak lain adalah Manggala. Dia menatap Chand dengan sorot yang sulit diartikan. Begitu pula dengan Chand.


“Mas Angga!” seru Gendhis sok centil, lalu berlari mendekat dan bergelayut manja di lengan pria berambut gondrong tersebut. “Dari mana aja? Masa Gendhis ditinggalin, sih?”


“Oh, iya. Maaf, Mbak. Eh, maksudku, Dik. Anu … aku tidak sengaja bertemu dengan temanku di sana,” Manggala salah tingkah sambil mengarahkan telunjuknya ke depan.


“Ya, sudah kalau begitu. Kenalin aku sama temannya.” Gendhis masih bersandiwara. Bagaikan lintah yang menempel ketat di lengan Manggala dan tak mau lepas.


Manggala hanya bisa meringis. Dengan bahasa tubuh yang kaku, dia mengikuti permainan Gendhis. “Boleh. Sekalian kita makan siang, ya,” ajaknya seraya menggaruk-garuk tengkuk. “Mari.” Manggala sempat berpamitan dan mengangguk pada Chand sebelum berlalu dari sana. Sedangkan Chand terus memperhatikan Gendhis yang tampak mesra bersama Manggala, sampai dua orang itu tak terlihat dari pandangan.


“Itu tadi Chand Gunadhya?” tanya Manggala setelah berada jauh dari area pameran. Mereka kini memilih tempat duduk di sebuah gerai makanan di dalam mall.


“Iya,” jawab Gendhis sambil berusaha menetralkan napas dan perasaan.


“Sedang apa dia di sini? Apa kalian janjian?” tanya Manggala. Insting jurnalisnya kembali menyala.


“Katanya sih dia mau mengecek persiapan untuk Wedding Expo besok,” tutur Gendhis.


“Oh, iya. Aku baru ingat. Besok mau diadakan Wedding Expo di mall ini.” Manggala manggut-manggut sambil berpikir. “Aku jadi ada ide,” cetusnya kemudian.


“Apa?”

__ADS_1


“Besok ‘kan hari Senin. Jadwal kamu wawancara. Bagaimana kalau bahan wawancara untuk besok adalah meliput acara pameran. Aku ingin melihat hasil mentah jepretanmu secara langsung. Setelah itu, baru kamu bisa datang ke kantorku dan melakukan wawancara langsung. Bagaimana?” tawar Manggala.


Seandainya bisa, Gendhis tak ingin bertemu lagi dengan Chand. Bayangan ditolak dan dipermalukan oleh pria itu masih terus memenuhi benaknya. Namun apa mau dikata. Demi profesionalisme, dia harus bisa mengesampingkan segala urusan pribadi.


“Oke. Saya siap, Pak Manggala,” sahut Gendhis sambil mengambil sikap hormat.


“Kok sekarang jadi memanggil ‘pak’?” Manggala tergelak, menampakkan lesung pipi di dekat sudut bibirnya.


“Sebentar lagi ‘kan mau jadi atasanku, Pak,” terang Gendhis.


“Itu kalau diterima. Kalau nggak?” goda Manggala yang seketika membuat nyali Gendhis menciut.


“Iya juga, ya,” gumam gadis tomboy itu. “Kalau nggak diterima, sepertinya aku mau daftar jadi ojol aja deh. Daripada nenek ngomel terus.”


Manggala kembali tertawa menanggapi ucapan konyol Gendhis. “Aku cuma bercanda, Dhis. Wawancara hanya syarat saja. Kupastikan kamu akan langsung bekerja,” tegasnya.


“Ah, yang bener?” Bola mata Gendhis yang bulat dan indah, membelalak sempurna.


“Makan dulu, Dhis." Manggala mengarahkan tangannya pada makanan yang sudah tersedia.


................


Keesokan paginya, saat nenek Sri hendak mengetuk pintu kamar yang ditempati Gendhis, gadis itu sudah lebih dulu membukanya sambil tersenyum lebar. “Selamat pagi, Nek,” sapanya ceria dengan penampilan yang sudah terlihat rapi.


“Tumben udah wangi. Biasanya kalau di sini, jam dua belas siang masih bau iler,” celoteh Nenek Sri keheranan.


“Hari ini ‘kan Gendhis wawancara, Nek,” sahut Gendhis seraya berlalu menuju meja makan. Di sana, sarapan sudah lengkap tersedia dengan berbagai macam lauk.


Namun, Gendhis hanya mengambil dua potong ayam goreng, lalu dia bungkus dengan tisu.


“Lho, mau dibawa ke mana ayamnya? Kenapa tidak dimakan di sini saja, Dhis?” tanya Nenek Sri.


“Gendhis makan sambil jalan, Nek. Takut terlambat,” sahutnya sambil mencium punggung tangan sang nenek.

__ADS_1


Di depan halaman rumah Nenek Sri, sudah menunggu seorang ojek online yang sudah dipesan Gendhis sebelumnya. Setelah memasang helm dan duduk dengan nyaman di jok, motor bebek itu pun mulai melaju pelan menuju mall tempat wedding expo dilangsungkan.


Sebenarnya, acara tersebut akan dimulai dengan pembukaan pada pukul sepuluh pagi. Akan tetapi, Gendhis sudah berniat hadir lebih awal. Siapa tahu dia dapat bertemu lagi dengan Chand dan memiliki alasan untuk mengobrol dengan dalih ‘wawancara’. Gendhis juga berniat akan mengambil foto pria itu secara diam-diam.


Di tengah jalan dan di atas motor yang masih bergerak, Gendhis membuka bungkusan tisu lalu mulai melahap dua potong ayam tadi tanpa malu-malu. Walaupun beberapa orang pengendara lain sempat memperhatikan tingkahnya, gadis itu sama sekali tak peduli. Asalkan dia bisa mengisi perut agar tidak kelaparan.


Akan tetapi, ketika tinggal gigitan terakhir, sebuah mobil sedan mewah berhenti sejajar dengan motor yang Gendhis tumpangi di lampu merah. Awalnya, Gendhis tak ambil pusing. Namun, setelah jendela kaca mobil tersebut turun perlahan dan menampakkan wajah Chand di baliknya, barulah dia bereaksi. “Memangnya kamu nggak ada tempat lain untuk makan, ya?” tegur pria tampan itu dengan nada yang mencibir.


Gendhis sempat melotot dan salah tingkah. Terlebih saat Chand tertawa mengejek ke arahnya. Seketika, dia menyembunyikan ayam goreng yang sudah tinggal tulangnya itu, di balik saku jaket pengemudi ojek online yang tengah memboncengnya.


Sontak, si tukang ojek protes karena merasa tak nyaman. Dia pun menepikan motornya sambil buru-buru melepas jaket. “Teteh jangan kurang ajar, ya! Itu namanya tidak sopan!” omel si pengemudi ojek yang usianya sepertinya tak berbeda jauh dengan Gendhis.


“Maaf, Mas. Saya panik,” ucap Gendhis sambil berkali-kali menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“Sudahlah. Saya tidak mau mengantar Teteh lagi. Bodo amat juga mau dikasih bintang satu,” gerutu si tukang ojek sambil buru-buru pergi meninggalkan Gendhis di persimpangan lampu merah.


“Waduh! Jangan tinggalkan saya di sini. Saya tidak tahu jalan di sini," pinta Gendhis setengah memohon.


Namun, si pengemudi ojek online tidak peduli. Dia menyalakan motornya, kemudian meninggalkan Gendhis yang kebingungan dengan begitu saja.


“Ih, baperan amat. Masa begitu saja marah,” gerutu Gendhis. Sekarang dia harus mencari cara untuk tiba di mall tanpa tersesat. Di saat kalutnya itulah, Gendhis mendengar suara yang terdengar begitu familiar.


“Bareng aku saja, Dhis,” ujar sebuah suara milik Chand yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.


.


.


.


sambil menunggu mbak Gendhis, mampir dulu yuk di karya keren yg satu ini


__ADS_1


__ADS_2