Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Langsung Menikah Saja


__ADS_3

“Dhis,” panggilan lembut Manggala, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


“I-iya,” sahut Gendhis terbata sambil tertawa kecil.


“Jadi, gimana? Tunangan dulu atau langsung nikah?” tawar Susena.


“Aduh, gimana ya, Pa,” Gendhis meringis. Hatinya benar-benar bimbang saat itu. Bayangan kegagalan pernikahan yang dirinya alami bersama Chand, meninggalkan trauma yang cukup besar pada gadis itu.


“Jangankan tunangan, yang nikah aja bisa gagal,” celetuk Hanum, seakan tahu isi hati Gendhis yang terdalam.


“Terus, menurut mbak, aku harus gimana?” Gendhis makin pening mendengar tanggapan kakak sulungnya.


“Kenapa mesti tanya sama mbak Hanum, Dhis?” sela Manggala. “Coba kamu pikirkan dulu matang-matang. Tanyakan pada hatimu yang paling dalam. Aku akan menyetujui semua keputusanmu. Lakukan apapun yang bisa membuatmu nyaman dan bahagia,” sarannya.


“Ya, ampun. Adem banget kata-katanya,” sanjung Utari dengan sorot mata kagum. “Dewasa banget, tipe idaman setiap wanita,” imbuhnya.


“Ehem!” Byakta yang tak terima istrinya tengah memuji pria lain di depannya, segera berdehem kencang sebagai wujud protes keras.


“Iya, iya,” Utari cemberut. Tak lama kemudian dia tersenyum seraya mencolek dagu sang suami. “Nggak ada yang bisa mengalahkan pesona Byakta di hati dan hidupku,” rayu Utari.


“Hadeh,” Susena mengempaskan napas setengah putus asa. Melihat kemesraan putri bungsunya, membuat Susena semakin merasa tertekan. “Bikin kepingin saja kalian,” gerutunya pelan.


Gendhis sendiri juga turut memperhatikan tingkah laku sang adik. Dilihatnya Utari dan Byakta yang terlihat begitu bahagia dan saling mencintai. Untuk sesaat, terbersit sesuatu di dalam benaknya. “Okelah, aku mau kita langsung nikah aja. Nggak perlu bertele-tele dengan acara tunangan segala. Lebih cepat, lebih baik. Itu mottoku!” tegas Gendhis.


“Kamu yakin?” tanya Manggala, sambil berusaha melihat kesungguhan di mata indah Gendhis.


“Yakin, Ngga. Memang kita baru bertemu beberapa hari, nggak sampai sebulan. Namun, aku benar-benar merasa cocok denganmu. Apalagi kita berdua pernah jadi anggota geng motor,” jawab Gendhis penuh keyakinan.


“Hah, geng motor?” seru Susena dan Hanum secara bersamaan. Sedangkan Utari tak peduli. Dia malah asyik bercanda sendiri dengan sang suami.


“Maksud Gendhis, komunitas motor, Om,” ralat Manggala.


“Oh,” Susena tertawa lega.

__ADS_1


“Ya, sudah kalau begitu, kita lanjutkan makan-makannya,” ajak Hanum. Dia sudah hendak menyendok makanan ke dalam mulutnya ketika Arya sang suami, masuk ke dalam ruang makan sambil menggandeng kedua putranya.


“Sayang, anak-anak maunya tidur siang sama kamu,” ujar Arya.


“Astaga,” Hanum mendengkus kesal. Keinginannya untuk menyantap masakan sendiri, pupus sudah. “Ya, sudah, sini,” putri tertua Susena itu bangkit dari duduknya, lalu menghampiri dan menggendong kedua anaknya.


Melihat posisi kursi Hanum yang kosong, Arya bergegas mendudukinya. “Nanti gantian jagain anak-anak ya, Sayang,” ucap Arya santai, lalu memasukkan sesuap nasi dari piring Hanum ke dalam mulut. “Ayo, dimakan. Kok pada bengong,” ujar suami Hanum pada semua orang yang memandangnya heran.


“Kasihan, Mbak Hanum nggak pernah ngasih makan Mas Arya, ya,” gurau Gendhis yang sontak membuat semua orang di ruangan itu tertawa.


Akan tetapi, keceriaan tersebut harus terjeda ketika ponsel Gendhis berdering nyaring. Kedua alisnya bertaut kala dia membaca nama Kalini tertera pada layar. “Eh, kenapa, nih? Kok Tante Kalini tiba-tiba telepon?” gumam Gendhis keheranan.


“Angkat, Dhis! Siapa tahu penting!” Susena mendadak bersemangat saat putrinya menyebut nama sang cinta pertama.


“Oke,” Gendhis mengangguk. Sebelum menerima telepon, dia menarik napas panjang dulu, lalu mengembuskannya perlahan. “Halo, Tante,” sapanya dengan suara yang dibuat semerdu mungkin.


“Dhis, ini aku,” balas suara seorang pria yang membuat dada Gendhis seketika bergetar.


“Chand?” desis Gendhis lirih, tetapi Manggala masih bisa mendengarnya dengan jelas. Pria rupawan itu langsung menoleh sembari mengernyit keheranan.


“Mama sakit. Dia ingin aku mengabarimu, tapi aku nggak nyimpen nomor kamu. Jadi, aku pinjam hp mama,” jelas Chand.


Dada Gendhis mendadak sesak mendengar penjelasan Chand saat itu. Namun, sebisa mungkin Gendhis menyembunyikannya, sebab Manggala tengah memperhatikan dia sepenuhnya.


“Tante sakit apa, Chand?” Gendhis sengaja mengeraskan suaranya, agar Susena turut mendengar.


“Hah, sakit?” Sesuai dugaan, ekspresi Susena tampak sangat terkejut.


“Tekanan darahnya menurun drastis, sehingga harus dirawat di rumah sakit. Aku sudah bilang kalau kamu sibuk kerja di Bandung, tapi mama ngotot ingin memberitahu kamu,” jelas Chand. Sesaat kemudian, terdengar suara berisik, menggantikan suara berat Chand yang menghilang.


“Halo, Nak Gendhis? Ini tante!”


Susena semakin sumringah ketika menangkap suara Kalini yang baginya semerdu kicauan burung di pagi hari.

__ADS_1


“Tante? Bagaimana keadaan Tante sekarang?” tanya Gendhis khawatir. Tak dapat dipungkiri, sedikit banyak dirinya ikut merasakan khawatir akan wanita yang hampir saja menjadi mertuanya itu.


“Masih lemas, Dhis. Tante masih disuruh istirahat di rumah sakit. Mungkin tante akan sembuh kalau kamu mau jenguk Tante,” pinta Kalini memelas.


“Ma,” sayup-sayup suara Chand, hendak memprotes keinginan ibunya.


“Kebetulan saya lagi di Jogja, Te,” sahut Gendhis.


“Yang benar, Dhis?” nada bicara Kalini langsung naik beberapa oktaf, sehingga Gendhis harus menjauhkan ponselnya dari telinga. “Kamu sudah nggak kerja di Bandung lagi?”


“Saya masih kerja di Bandung kok, Te. Hanya saja, saya lagi ada acara yang mengharuskan saya pulang kampung,” tutur Gendhis seraya melirik dan tersenyum manis pada Manggala.


“Kalau begitu, kamu mau ‘kan jenguk tante sekarang? Mumpung tante masih ada umur, Dhis,” pinta Kalini.


“Aduh, Tante. Jangan bicara begitu, Gendhis jadi takut, nih,” rasa khawatir gadis itu semakin bertambah. Belum lagi sikap Susena yang bingung sendiri. Sebentar dia duduk, sebentar berdiri.


“Makanya, jenguk tante dong, Dhis,” Kalini seolah tak menyerah. Dia terus saja mendesak Gendhis.


“Baiklah, Tante,” Gendhis pun mengalah, sambil terus memandang ke arah Manggala untuk meminta persetujuan.


“Aku ikut!” seru Susena tertahan.


“Kalau bisa kamu datang sendiri, ya. Tante cuma ingin ketemu kamu,” ujar Kalini yang seolah tahu keinginan Susena.


Lagi-lagi, Gendhis menoleh pada Manggala. Setelah pria yang sudah berikrar menjadi calon suaminya itu mengangguk, barulah dia memberi jawaban pada Kalini. “Oke, Tante. Tunggu saya datang, ya. Akan tetapi, maafkan Gendhis kalau tidak bisa datang sendiri,” tuturnya hati-hati.


“Memangnya, kamu mau mengajak siapa, Dhis?” Kalini balik bertanya.


Gendhis terdiam sesaat, lalu menjawab, “Saya datang ke Jogja bersama Manggala, Te. Dia calon suami saya.”


“Calon suami?” suara Kalini terdengar bergetar. “Kamu mau menikah ya, Dhis?”


“Doain ya, Tante,” jawab Gendhis sambil menyunggingkan senyum yang teramat manis pada Manggala.

__ADS_1


Pria berambut gondrong itu langsung membalasnya dengan senyuman yang tak kalah menawan dan sentuhan lembut pada jemari Gendhis. “Terima kasih, ya,” bisik Manggala lirih seraya mengecup punggung tangan Gendhis.


__ADS_2