
“Ya, Tuhan! Gendhis!” Chand terkejut bukan main. Dia yang tadinya berniat untuk mandi, langsung menghampiri Gendhis. “Astaga, kamu kenapa?” Chand yang panik segera membopong tubuh Gendhis. Dia memindahkan wanita itu ke tempat tidur. Chand mengambil tisu, lalu mengelap darah yang keluar dari hidung istrinya. Pria yang sudah melepas status duda tersebut, begitu telaten membersihkan area sekitar hidung dan bibir Gendhis.
“Dhis, Sayang.” Chand menepuk-nepuk pipi Gendhis, setelah selesai membersihkan noda darah tadi. “Sayang,” panggilnya lagi pelan. Kepanikan yang tadi sempat timbul karena melihat Gendhis pingsan, kali ini sudah tak terlihat lagi. Chand dapat bernapas lega, ketika istrinya mulai membuka mata. “Syukurlah. Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?”
“Ya ampun.” Gendhis akan kembali pingsan, saat mendapati wajah Chand berada di atas wajahnya. “Kamu belum pakai baju juga?” ucap Gendhis dengan napas terengah. Tatap matanya kembali sayu. “Aku … aku … rasanya aku mau ping ….”
“Eh, tidak-tidak! Jangan pingsan lagi!” cegah Chand. Dia memegangi pipi Gendhis, dan membuatnya kembali membuka mata.
“Astaga … aku nggak tahu kalau kamu ….” Gendhis kembali terengah. Dia menatap aneh wajah Chand yang masih berada di atasnya.
“Kenapa? Apa yang salah denganku?” tanya Chand penasaran. Dia sudah merasa tak enak hati, karena takut jika Gendhis akan berpikir negatif tentang dirinya. Namun, perasaan itu seketika sirna, saat kedua tangan Gendhis menangkup wajahnya. “Dhis …,” ucap Chand pelan, saat tangan Gendhis berpindah ke lengan. “Aku belum mandi,” bisiknya.
“Apa bedanya? Nanti juga kamu bakal keringetan lagi,” balas Gendhis.
Chand tersenyum seraya menggeleng tak percaya. Dia beringsut naik, sehingga tubuh tegapnya kini berada di atas tubuh Gendhis. Tanpa banyak bicara, pria tampan blasteran India tersebut mencium bibir wanita yang telah sah menjadi istrinya.
Gendhis pernah mendapat perlakuan seperti itu dari Manggala yang beberapa kali mencoba mengajaknya bercinta. Namun, untuk kali ini rasanya sangat berbeda. Gendhis tak memiliki beban apapun, ketika tangan Chand bergerak nakal menyusuri setiap lekukan tubuhnya. Dia menyibakkan lingerie merah yang membalut raga indah sang fotographer cantik tersebut.
“Kamu yakin mau malam ini?” bisik Chand di sela-sela cumbuannya.
“Memangnya kenapa?” Gendhis balik bertanya.
“Aku harap kamu nggak ngeluh kecapean,” jawab Chand seraya menurunkan tali kecil di pinggul sebelah kiri dan kanan Gendhis. Dia melemparkan kain berbentuk segitiga itu, sebelum melanjutkan ritual perjalanan ke luar angkasa.
“Ah! Chand!” Gendhis melenguh cukup kencang, ketika Chand melakukan sesuatu yang membuatnya terasa digelitiki pelan.
Chand hanya tersenyum menanggapi sikap Gendhis. Dia tak berniat menghentikan aksinya, meskipun Gendhis sudah bergerak tak karuan. Dia justru semakin bersemangat mencumbui wanita yang baru dinikahinya tersebut.
“Chand! Hentikan!” Kali ini, Gendhis mengerang pelan. Perasaannya sudah benar-benar tak dapat dibendung lagi. Dia ingin meledak dan memuntahkan segala hal yang selama ini tertahan.
“Astaga, Chand! Aku nggak kuat lagi,” ujar Gendhis seraya menjauhkan wajah Chand dari pangkal pahanya.
Chand tersenyum puas. Dia berdiri, lalu mengelap bibir bawahnya dengan punggung tangan. “Sudah kubilang bahwa jam terbangku tinggi,” ucapnya sambil merangkak naik ke tubuh Gendhis yang masih telentang.
Gendhis mengangguk. “I-iya. Aku percaya,” ujarnya gugup. Keringat mulai membasahi telapak tangan Gendhis, ketika Chand melepas pengait, lalu menurunkan resleting celana panjangnya. Gendhis tak menyangka bahwa Chand yang selama ini selalu terlihat kalem dan misterius, ternyata sangat berbeda saat sudah berada di tempat tidur. Dia tak ubahnya dengan Manggala.
“Chand.” Tangan Gendhis gemetaran saat Chand menunjukkan sesuatu padanya. “Aku harus bagaimana?” tanya wanita dua puluh tujuh tahun itu sambil mendongak. Namun, Chand tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, kemudian menyeringai kecil sembari memejamkan mata.
Beberapa saat berlalu. Sepasang pengantin baru itu sudah benar-benar dimabuk asmara. Mereka tak dapat lagi menahan diri.
“Chand, aku takut.” Gendhis meringis, saat Chand sudah bersiap melaksanakan tugasnya dalam memberikan kebahagiaan batin bagi wanita yang baru dia nikahi. “Boleh nggak kalau aku pingsan lagi?” Pertanyaan bodoh yang terlontar dari bibir Gendhis.
__ADS_1
“Tidak akan kubiarkan, karena ini momen yang paling ditunggu,” jawab Chand yang langsung berbalas teriakan Gendhis. “Berteriaklah. Kamar ini seratus persen aman,” ujar Chand kembali menyeringai. Dia tak memedulikan Gendhis yang meronta seakan meminta ampun. Pria yang sudah melepas predikat duda tersebut terus menuntaskan kewajibannya hingga beberapa kali, sampai Gendhis menyerah dan mengibarkan segitiga pengaman sebagai tanda kalah.
Malam terus merayap meninggalkan rasa lelah yang tak terhingga bagi sepasang pengantin baru itu. Gendhis masih terlelap di bawah selimut. Seperti biasa, wanita yang sudah tak lagi mendapat julukan timeless single itu kesulitan bangun. Terlebih, karena dia begitu kelelahan setelah bertempur beberapa kali dengan Chand.
Akan tetapi, suara alarm digital terdengar sangat mengganggu. Gendhis memaksakan diri membuka mata. Dia meraba tempat tidur sebelahnya yang ternyata kosong. Samar, pandangan Gendhis menangkap sosok tegap tengah membuka tirai, sehingga cahaya matahari bisa masuk ke dalam kamar.
“Chand,” panggilnya dengan suara parau.
Chand yang saat itu hanya mengenakan celana tidur, langsung menoleh. “Hey, selamat pagi,” sapanya. Dia tersenyum kalem, lalu berjalan ke dekat tempat tidur. Chand duduk di tepian kasur. Lembut, tangannya membelai pipi Gendhis yang kembali memejamkan mata. “Bagaimana kabarmu pagi ini, Sayang?” tanyanya. Belaian Chand lalu beralih ke rambut Gendhis.
“Badanku rasanya remuk nggak punya tulang,” jawab Gendhis masih dengan suaranya yang parau. Malas sekali untuk membuka mata, sehingga Gendhis bicara sambil tetap terpejam.
“Astaga, itu baru permulaan,” ujar Chand.
“Apa?” Gendhis seketika terbelalak. Dia bahkan sampai bangun dan duduk. Namun, selang beberapa saat dirinya kembali mengempaskan tubuh ke kasur. Untunglah bantal yang menjadi penyangga kepalanya berisi bulu angsa yang lembut dan empuk. “Ah! Kamu luar biasa!” ujar Gendhis gemas.
Chand tertawa renyah. Dia berdiri, lalu memutari tempat tidur. Pria tampan dengan tato Dewa Ganesha itu kembali naik ke tempat tidur, lalu duduk sambil bersandar. “Kemarilah,” ajaknya seraya merentangkan tangan. Dia memberi isyarat agar Gendhis masuk ke pelukannya.
“Jadi, seperti ini ya rasanya menikah?” pikir Gendhis. Dia bergelayut manja dalam dekapan Chand.
“Lebih dari ini,” ujar Chand kalem. “Aku juga tidak bisa mengatakan apapun tentang indahnya pernikahan. Ini seperti hal baru bagiku.”
Pria itu menggumam pelan. Dia mengecup pucuk kepala Gendhis penuh kasih. Apapun yang terjadi dalam beberapa waktu ke belakang, Chand anggap sebagai proses pendekatannya dalam mengenal seorang Gendhis, wanita aneh yang sikap dan tingkahnya selalu membuat dia merasa ilfeel. Siapa sangka, wanita yang dulu pernah dirinya tolak tersebut kini berada satu tempat tidur dengannya.
“Aku tidak tahu dan belum memikirkan apapun. Saat ini, aku merasa bahagia hanya dengan melihatmu ada dalam pelukanku,” jawab Chand kalem.
“Tapi, aku nggak akan terus-menerus kamu peluk,” bantah Gendhis.
“Kata siapa?”
“Kataku barusan.” Gendhis tertawa pelan. “Awal menikah, kamu mungkin akan bilang seperti itu. Nggak tahu setelah satu, dua, atau tiga tahun berikutnya.”
“Kamu pikir aku umur berapa?” sindir Chand. “Aku sudah paham dan sangat mengerti dengan makna komitmen. Rasa bosan hanya akan terjadi, jika kita mencari kelebihan dan keindahan semata. Namun, jika kita benar-benar menanamkan rasa cinta, seburuk apapun itu maka kita tak akan pernah melepaskannya. Seperti halnya pepatah yang mengatakan, ambilah pekerjaan yang merupakan hobimu. Karena, walaupun kita akan jatuh miskin karena tak meraih kesuksesan, kita akan tetap mencintai pekerjaan tersebut.”
“Pasangan berbeda dengan pekerjaan,” sanggah Gendhis.
“Menurutku sama saja,” balas Chand. “Ada tanggung jawab yang besar di dalamnya. Aku harus pintar menjaga keseimbangan antara logika dan perasaan. Ada kalanya membuat lelah, tapi tak jarang menjadi sarana yang memberikan kita ketenangan. Aku tak pernah menganggap pekerjaan sebagai sebuah tekanan. Sama seperti pasangan. Tak ada yang dominan dan tak ada yang merasa tertekan”
“Aku tahu mungkin ini terjadi dengan cara yang tak biasa. Tidak ada kisah cinta dalam manisnya hubungan yang dinamakan pacaran. Namun, kita akan menjalaninya dengan pelan-pelan. Aku, kamu, kita berdua sama-sama belajar lagi untuk saling mencintai, dan ...." Chand seolah sengaja tidak melanjutkan kata-katanya.
"Dan?" Gendhis mendongak, menunggu kalimat selanjutnya.
__ADS_1
"Kuharap kamu bisa segera melupakan Manggala," lanjut Chand dengan sorot sendu.
"Chand," ucap Gendhis lirih sembari mengusap pipi suaminya. "Aku sudah menutup masa laluku dan melupakan semua saat kamu mengucapkan ijab qabul di hadapan papa dan semua orang," jelasnya.
"Meskipun kamu pernah mengatakan pada Bu Wiryo kalau aku sudah meninggal," goda Chand sambil mengulum senyum.
"Masih untung aku cuma bikin berita bohong, daripada aku beneran nyari dukun buat nyantet kamu, gimana coba?" ledek Gendhis.
"Nggak apa-apa, sih. Sepertinya aku memang pantas diperlakukan seperti itu," Chand sama sekali tak berniat membela diri. Dia sudah sepenuhnya sadar akan kesalahannya di masa lalu.
"Nggak, lah. Setiap orang layak mendapatkan kesempatan kedua," Gendhis memperhatikan Chand lekat-lekat. Semakin dilihat dari dekat, semakin dia terlihat tampan.
"Chand, aku nggak menyesal merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya denganmu. Aku juga nggak menyesal patah hati karena kamu, dan sekarang aku bersyukur, bisa menikah denganmu dan kembali merasakan jatuh cinta," ungkap Gendhis.
"Dhis, aku juga sangat menyesal pernah membatalkan pernikahan kita. Seandainya sejak dulu kita begini ...." Chand mulai melayangkan tatapan nakal pada istrinya. "Kamu yang terbaik dan tercantik, Dhis."
"Kamu yang paling baik dan paling ganteng," balas Gendhis. Iseng jemarinya bermain-main di dada bidang sang suami. Chand yang melihat sikap menggoda Gendhis segera mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Gendhis.
Di luar dugaan, Gendhis malah menghindar dan langsung turun dari ranjang. "Kebelet pipis," ujarnya sambil berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Dasar," Chand tertawa pelan. Tampaknya dia harus berusaha menyesuaikan diri dengan sikap Gendhis yang unik.
Beberapa saat kemudian, Gendhis keluar dari kamar mandi, masih dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Dia melihat Chand yang mulai sibuk bermain telepon genggam.
"Hm," Gendhis melihat posisi Chand yang duduk bersandar dengan rileksnya sambil bermain ponsel, memantik gairah dalam diri Gendhis kembali. Hasratnya menggebu untuk menikmati keindahan yang tersaji di depannya.
Perlahan, Gendhis naik dari ujung ranjang, lalu merangkak pelan dan duduk di pangkuan Chand.
"Jangan mulai," ujar Chand mengingatkan sambil meletakkan ponselnya di atas nakas. Akan tetapi, Gendhis tak peduli. Dia menari dengan indah di atas tubuh atletis suaminya dan kembali mengulang adegan percintaan tadi malam.
Dua anak manusia yang pernah sama-sama terluka oleh cinta itu, kini telah dipersatukan oleh ikatan suci. Ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari kehidupan baru yang lebih indah dan membahagiakan.
...❤️TAMAT❤️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih untuk para pembaca yang bersedia mengikuti perjalanan cinta Gendhis dan Chand. Nantikan kisah baru di novel berikutnya yang berjudul The Black Butterfly.
Sudah tayang di lapak Crazy_Girls ya, readers budiman ❤️
__ADS_1