
Gendhis mencoba untuk bersikap tenang dan profesional. Apalagi, Sinta sudah terlihat ketakutan melihat dirinya yang seakan hendak mengeluarkan cakar. Sinta Anandira, adalah gadis manis berusia dua puluh delapan tahun yang berwajah imut, kalem, dan bersahaja. Dia tak pernah takut saat meliput demo atau tawuran.
Namun, entah kenapa saat melihat wajah Gendhis memerah dan seperti hendak memakan musuhnya seperti tadi, membuat nyali Sinta ciut seketika. “Baik, Pak. Kita lanjutkan wawancaranya,” ujar Sinta hati-hati.
“Maaf. Silakan.” Chand sedikit salah tingkah. Dia berusaha bersikap normal, seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya.
Sementara Gendhis yang masih diliputi emosi tertahan, segera menyalakan kamera dan mengambil foto Chand berkali-kali. Padahal, di awal wawancara tadi, Chand sudah mengingatkan untuk tidak memotretnya hingga sesi tanya jawab selesai. Namun, Gendhis seakan memancing amarah Chand.
Akan tetapi, pria dengan karakter kalem itu memilih untuk tidak menanggapi. Dia menganggap Gendhis tak ada di sana.
“Setelah terjun di dunia bisnis, apakah Bapak memiliki hobi?” tanya Sinta.
“Pasti punya lah,” sahut Gendhis, “mempermainkan hati wanita,” celetuknya kemudian.
“Dhis,” desis Sinta sembari melotot.
“Saya masih menaruh minat pada dunia balap, walaupun hanya sekadar menonton tayangannya di televisi. Kalau untuk terjun langsung di sirkuit, saya sudah tak memiliki waktu,” jawab Chand berusaha untuk tidak terpancing dengan kelakuan Gendhis.
“Waktunya habis buat mainin perasaan cewek,” ujar Gendhis lagi, membuat Sinta menoleh ke arahnya dengan sorot memelas. Kalau sudah begitu, Gendhis memilih untuk diam karena tak tega melihat raut wajah Sinta yang bagaikan seekor sapi saat Lebaran Idul Adha.
Sedangkan Gendhis sudah tidak tertarik untuk menimpali. Selain karena perutnya sudah meronta-ronta, dia juga tak tahan berada berlama-lama di sana. Tanpa permisi, Gendhis berdiri kemudian berlalu dari teras mewah itu. Dia berjalan ke arah gerbang, lalu menunggu Sinta hingga selesai di sana.
Melihat sikap Gendhis, Sinta pun mempercepat sesi wawancara itu. "Baiklah, Pak. Pertanyaan terakhir," ucapnya dengan raut yang sudah tak bersemangat. Ini sama seperti saat dirinya meliput korban bencana beberapa waktu lalu, saat Sinta dihadapkan pada seorang narasumber yang memberikan jawaban tidak sinkron dengan pertanyaan. Namun, kali ini masalah bukan datang dari narasumber. Melainkan dari rekannya sendiri.
"Silakan." Chand mengangguk pelan.
"Kiat-kiat apa yang bisa Anda bagikan pada para pembaca agar tetap bertahan dan semakin sukses di dunia bisnis, di mana persaingan semakin kuat dari hari ke hari?” Sinta mengajukan pertanyaan terakhirnya.
"Ehm.” Chand terdiam sejenak sambil berpikir, sebelum menjawab pertanyaan pamungkas.
Sesaat kemudian, Chand memberikan pemaparan yang sangat cerdas. Jawaban yang diberikan pria itu benar-benar menunjukkan kualitas dirinya. Pantaslah jika selama ini Chand bisa menjadi pengusaha muda yang sukses.
“Terima kasih sudah meluangkan waktunya. Aduh, maafkan ketidaksopanan teman saya, Pak,” ucap Sinta yang merasa tak enak, setelah sesi wawancaranya berakhir.
“Tidak masalah. Jangan terlalu dipikirkan,” jawab Chand santai.
“Oh, ya. Kapan Bapak ada waktu untuk pemotretan cover?” tanya Sinta lagi.
__ADS_1
“Lusa saya sudah harus kembali ke Jogja. Jadi, sepertinya waktu longgar saya hanya besok,” jawab Chand, tetap dengan gayanya yang kalem.
“Oh, baiklah. Kalau begitu, biar Gendhis yang akan mempersiapkan semuanya untuk besok … pagi, siang, sore?” tawar Sinta.
“Pagi saja. Biar masih fresh,” putus Chand seraya berdiri dan mengulurkan tangan pada Sinta. “Sampaikan permohonan maaf saya pada temanmu itu,” ujarnya sebelum Sinta sempat menanggapi perkataan Chand.
“Akan saya sampaikan, Pak,” seru Sinta sedikit nyaring, walaupun chand sudah tak terlihat lagi. Dia lalu berbalik dan menyusul Gendhis yang berdiri cemberut di dekat pos satpam.
“Ayo, Dhis. Sudah selesai,” ajak Sinta sambil menepuk pelan pundak Gendhis.
“Sudah kupesankan taksi online untuk kembali ke kantor,” ujar Gendhis malas-malasan.
“Oke. Pengertian sekali.” Sinta mengangguk. “Pak Chand juga titip permintaan maaf buat kamu,” ucap Sinta lagi yang seketika membuat Gendhis menoleh.
“Minta maaf?” Gendhis melotot pada Sinta. “Cih, ora sudi!" cibir Gendhis.
“Waduh! Gimana kalau kamu nggak mau maafin dia, Dhis? Padahal, besok kamu ada jadwal motret Pak Chand pagi-pagi,” resah Sinta sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Motret dia?” ulang Gendhis. “Tadi ‘kan udah. Malah aku banyakin biar sekalian, nggak perlu ketemu dia lagi."
“Ya, ampun, Dhis. Ini tuh untuk cover. Pak Chand harus pakai kostum yang bagus, make up, dan semua sarana penunjang yang bikin dia tampil lebih glowing,” terang Sinta berkali-kali mengembuskan napas panjang.
“Harus, Dhis. Ini masalah pekerjaan. Jangan campuradukkan dengan masalah pribadi,” bujuk Sinta.
“Ya, sudahlah,” putus Gendhis menarik napas panjang. Dia tak ingin berdebat dengan Sinta, karena saat itu taksi yang mereka pesan sudah datang.
Keesokan harinya, Gendhis tiba di kantor lebih awal. Dia harus mengatur studio foto yang akan menjadi tempat kerjanya selama beberapa waktu ke depan. Selain itu, Gendhis juga harus menghafal letak-letak perkakas dan peralatan penunjang lainnya, serta mengingat letak-letak ruangan lain yang berkaitan dengan bidangnya. Satu tempat yang tak boleh dia lupakan adalah toilet, tempat di mana dirinya akan muntah setelah memotret Chand. Sungguh niat sekali.
Pukul sepuluh tepat, sosok tampan nan menawan Chand Fawwaz Gunadhya masuk ke ruangan studio. Dia bersikap seolah tak pernah terjadi apapun kemarin. Chand bahkan melemparkan senyuman kalemnya pada Gendhis.
“Dikira aku bakal tergoda lagi dan luluh gitu?” gerutu Gendhis dalam hati. “Ogah, ya!” cibirnya pelan.
“Silakan, Pak Chand. Ruang gantinya ada di sebelah sana,” tunjuk seorang penata kostum sambil mengarahkan langkah Chand ke ruangan sebelah.
Selang beberapa saat, Chand keluar lagi dalam keadaan rapi. Paras tampannya juga sudah mendapat sentuhan make up tipis. Rambutnya yang hitam dan tebal, telah disisir rapi dengan tambahan pomade hingga tampak mengilap.
“Ya, Tuhan,” desis seorang asisten fotografer. Dia berdiri di sebelah Gendhis yang tengah bersiap. “Terima kasih Engkau sudah mengirimkan cowok sebening dia, yang membuat hamba lupa bahwa sekarang tanggal tua,” ucapnya lirih.
__ADS_1
Gendhis menoleh dengan dahi berkerut. “Biasa aja kali. Dia nggak seganteng itu,” cibir gadis itu. Namun, kenyataannya dia tetap mencuri-curi pandang terhadap Chand yang sedang berdiri di depan background putih. Chand tampak sangat sempurna dalam balutan kemeja hitam yang dilapisi blazer senada. Beberapa penata rias dan pakaian, kembali merapikan penampilan pria itu sebelum pengambilan gambar dimulai.
"Sudah-sudah." Gendhis memberi isyarat dengan tangannya, menyuruh agar para penata rias dan pakaian tadi segera menyingkir.
"Persiapkan diri Anda dengan baik, Pak Chand," ujar Gendhis. "Pasang senyum, tapi senyum yang tulus. Jangan senyuman palsu dan dibuat-buat. Ingat, senyum itu ibadah. Sedekah murah-meriah," racau Gandhis yang entah apa maksudnya. Para kru yang ada di dalam studio pun dibuat heran oleh sikapnya.
"Tidak profesional," cibir Chand dalam hati. Dia mendehem pelan, kemudian bersiap.
Beberapa pose sudah diambil sesuai arahan dari Gendhis. Chand melakukannya dengan sangat baik. Ah, hal itu membuat rasa dalam hati Gendhis kian berkecamuk. Ingin rasanya dia mendampingi Chand berfoto bersama dengan gaya ala pre-wedding.
"Senyum, Pak! Senyum!" seru Gendhis dengan nada menyindir.
Chand pun menurut. Dari gaya dengan raut wajah kalem, kali ini dia menambahkan senyuman yang membuatnya terlihat semakin memesona.
"Astaga, kuatkan hamba-Mu ini," gumam Gendhis. "Senyum, Pak. Bisa nggak sih senyumnya yang ikhlas dikit?" tegur gadis itu seakan tengah mencari kesalahan Chand. Padahal, Chand telah melakukannya dengan baik. Pria itu pun menurut. Dia mengubah gaya senyumnya yang kalem.
"Lebarin dikit dong senyumnya," tegur Gendhis lagi. Sesuai arahan, Chand melebarkan senyumannya.
"Kurang lebar, Pak. Ingat, Anda itu pengusaha sukses. Jangan sampai orang mengira kalau Anda sombong dan tidak bertanggung jawab," ujar Gendhis lagi.
Chand yang tak ingin berdebat, memperlebar senyumnya. Bahkan lebih lebar dari yang lebar. Namun, di mata Gendhis itu masih kurang lebar. "Harus selebar apa, Mbak? Rahang saya sudah pegal ini," keluh Chand.
"Pokoknya senyum yang ikhlas. Jangan yang terpaksa. Ingat, ilmu ikhlas itu susah diaplikasikan dalam hidup," jawab Gendhis tak karuan.
Chand hanya dapat mengembuskan napas dalam-dalam. Dia sadar betul bahwa dirinya sedang dikerjai habis-habisan oleh Gendhis.
"Bisa nggak kurangi bernapasnya?"
"Maksudnya?" Chand tak mengerti.
Tiba-tiba, Gendhis melepaskan kameranya. Dia maju ke arah Chand berdiri. Gendhis memegangi rahang pria tersebut. Mengarahkannya dengan posisi yang benar. Saat itu, ekor mata Chand sempat tertuju kepada Gendhis.
.
.
.
__ADS_1
Hai, mampir dulu yuk, di karya keren yg satu ini