
Gendhis mengernyit keheranan ketika melihat mobil mewah Manggala terparkir cantik di depan rumahnya. Pria gondrong itu turun dari kursi kemudi sambil memamerkan wajah tampannya yang berseri. “Pagi, Dhis,” sapanya.
“Pagi,” balas Gendhis ragu. “Kok kamu ada di sini? Mana sopirnya?” tanyanya.
“Oh, kebetulan aku lagi sendirian, habis meeting dari rumah temen di deket sini. Kupikir sekalian jemput kamu karena searah,” jawab Manggala dengan senyuman menawan yang tak jua pudar.
“Wah, alhamdulillah! Rejeki!” Gendhis mengangkat kedua tangan ke atas, seperti orang yang tengah memohon sesuatu pada Tuhannya.
“Lah, terus? Saya gimana ini?” suara cempreng ojek online menyadarkan Gendhis bahwa ada manusia lain di dekatnya selain Manggala. DIrinya lupa bahwa dia sudah memesan bapak berjaket hijau itu sejak tadi.
“Oh, ya, ampun. Batal deh pak kalau begitu, tapi saya kasih bintang lima, ya,” tawar Gendhis tanpa rasa berdosa.
“Yee, nggak bisa begitu, dong!” omel si tukang ojek sewot.
“Sudah, sudah, begini saja. Ini sebagai kompensasi untuk bapak karena teman saya tidak jadi menggunakan jasa bapak,” dengan tenangnya, Manggala mengeluarkan selembar uang berwarna merah pada pria paruh baya tersebut.
“Nah, gini, dong! Kan aman dan damai kita,” tukang ojek yang awalnya melotot dan cemberut, kini berubah sumringah sambil tersenyum lebar. “Oke, saya terima. Jangan lupa bintang limanya, ya,” ujar si ojek online tanpa beban seraya melambaikan tangan.
“Huu, dasar!” Gendhis menjulurkan lidah, lalu beralih pada Manggala yang sudah berdiri di hadapannya. “Eh, makasih ya, udah bantuin. Nanti dipotong uang gajian aja duit seratus ribunya.”
“Udah, nggak usah,” Manggala mengibaskan tangan. “Cuman duit segitu doang,” tolaknya.
“Eh, jangan. Nggak enak aku,” sergah Gendhis. Ngotot dirinya merogoh dompet dari tas ransel kesayangan. Namun, saat membuka dompet, Gendhis harus meringis karena jumlah uang di dalamnya tak sampai seratus ribu. Terdapat banyak sekali lembaran seribuan, sehingga dompetnya terlihat tebal. Belum lagi kertas-kertas nota yang dia dapat dari hasil belanja produk-produk kecantikan dan perawatan tubuh kemarin.
“Ya, ampun. Dompet aku ternyata banyak bawangnya, bikin nangis,” Gendhis meringis kecut, lalu menutup dompetnya kembali.
“Tuh, ‘kan. Aku bilang apa. Udahlah, anggap saja itu uang traktiran dari aku untuk kamu,” Manggala mengedipkan sebelah mata penuh arti pada Gendhis, membuat gadis itu terheran-heran.
“Ih, kenapa? Matanya kemasukan debu, ya?” tanya Gendhis polos.
“Nggak,” Manggala terbahak, kemudian membuka pintu depan. “Ayo, masuk. Nanti telat,” ajaknya.
“Oke, deh. Makasih ya, Pak Manggala,” Gendhis menurut. Dia mengempaskan tubuhnya di kursi dekat pengemudi.
__ADS_1
“Sudah dibilang, jangan panggil, Pak. Kesannya aku kayak tua banget,” protes Manggala. “Angga aja. Itu nama panggilan kesayangan dari ibuku,” ungkapnya.
“Baiklah, Angga,” sahut Gendhis. “Mimpi apa aku dapat bos sebaik kamu,” celetuknya.
Lagi-lagi Manggala tertawa menanggapi ucapan Gendhis. “Ada syaratnya,” ujar pria tampan itu sembari melirik pada Gendhis.
“Apa?” Gendhis langsung menoleh sambil mengernyitkan alis.
Manggala hendak menjawab ketika dia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari penampilan Gendhis saat itu. “Eh, kamu berubah, ya?”
“Berubah?” ulang Gendhis. “Berubah gimana?”
“Style kamu jadi lebih modis sekarang,” Manggala mengulum senyum. Konsentrasinya harus terbagi antara memandang lurus ke depan dengan mengamati outfit Gendhis pagi itu.
“Keren, nggak?” Gendhis menghadapkan seluruh tubuhnya pada Manggala sambil sesekali menggoyangkan pundak.
“Keren banget! Tinggal tambahin sama make up tipis-tipis,” saran Manggala.
“Ya, kalau pakai blush on di bawah mata nanti jadinya kayak orang yang habis dipukuli, Dhis. Nggak keren banget,” Manggala kembali tergelak.
“Kok, kamu malah lebih ngerti dari aku, sih?” nada bicara Gendhis terdengar tidak terima.
“Ya, gimana, ya. Aku punya dua adik cewek, sedangkan aku anak sulung. Kalau mamaku lagi ada keperluan, aku lah yang seringkali bantuin adik-adik cewekku, termasuk dalam hal make up,” jelas Manggala.
“Oo,” Gendhis manggut-manggut, lalu terdiam sejenak. Sesaat kemudian, dia menoleh tiba-tiba pada Manggala. “Eh, tadi kamu bilang ‘ada syaratnya’. Itu maksudnya apa, sih?” tanyanya.
“Oh, itu,” Manggala menggaruk-garuk keningnya sebelum menjawab. “Begini … .” Manggala membetulkan posisi duduknya. “Kapan hari … Sinta tak sengaja keceplosan.”
“Keceplosan apa?”
“Dia tidak sengaja menceritakan insiden waktu kalian berdua datang ke rumah Chand. Kamu marah-marah pada narasumber,” jawab Manggala salah tingkah.
“Oh, itu. Emang iya,” timpal Gendhis santai.
__ADS_1
“Sepertinya … kamu kesel banget sama yang namanya Chand ya, Dhis,” ucap Manggala hati-hati.
Bukannya menjawab, Gendhis malah terkekeh pelan. “Ya, begitulah,” gumamnya asal. Saat itu, kembali teringat dalam benaknya tentang pertemuan terakhir bersama Chand yang sangat amat tidak mengenakkan. Dia melihat Chand begitu mesra dengan seorang gadis super cantik.
Gendhis mengembuskan napas pelan, lalu menggeleng. Ternyata, hatinya masih saja perih tiap kali mengingat kejadian itu.
“Kamu nggak apa-apa ‘kan, Dhis?” Manggala yang tampak khawatir, menyentuh bahu Gendhis lembut.
“Eh, iya, aku nggak apa-apa.” Gendhis tergagap, lalu tertawa pelan untuk menyembunyikan rasa galaunya.
“Kamu masih mikirin dia?” pancing Manggala.
“Nggak, kok. Ngapain juga mikirin orang nggak penting seperti Chand,” kilah Gendhis. Seperti biasa, lain di mulut, lain di hati.
“Menurutku wajar kalau kamu belum bisa melupakan dia. Hati tidak dipaksakan. Ya nggak, Dhis?” Manggala kembali memamerkan senyumannya. “Kalau seandainya aku menawarkan sesuatu yang bisa membuat kamu lega, kira-kira kamu mau menerima nggak?” tanyanya lagi dengan hati-hati.
“Apa itu?”
“Kita buat Chand merasakan sakit yang sama seperti yang kamu rasakan,” jawab Manggala.
“Maksudnya?” Gendhis menautkan alis karena tak mengerti. Dia terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dapat mencerna arah dari ucapan Manggala. “Aku nggak tahu apakah yang kamu maksud itu sama dengan yang aku pikirkan,” ujar Gendhis seraya tersenyum kecil.
Manggala ikut tertawa. Pria berambut gondrong itu menggeleng pelan. “Kalau dipikir-pikir, malah sama saja ya?”
Gendhis tak segera menanggapi. Kali ini, bahasa tubuh gadis itu terlihat berbeda. Ada sebuah teguran yang telah menamparnya dengan keras. Terlebih, jika dia teringat akan statusnya sebagai timeless single. Sementara, kedua saudarinya sudah berkeluarga.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Manggala setelah beberapa saat sama-sama terdiam.
“Entahlah. Aku nggak tahu akan sampai kapan hidup seperti ini terus,” sahut Gendhis lesu.
“Seperti ini? Seperti apa?” tanya Manggala.
Gendhis terlihat ragu untuk menjawab. Ada rasa malu dalam dirinya. Walaupun selama ini dia selalu terlihat ceria dan terkesan tak acuh dengan segala hal, tapi jauh di lubuk hatinya, ada ganjalan besar yang tak pernah tahu kapan akan sirna. Sebuah pertanyaan yang juga tak segera terjawab, yaitu pernikahan.
__ADS_1