
“Ini dia calon menantuku?” sambut Kalini dengan antusias. Dia memeluk tubuh Gendhis, kemudian mencium kening gadis itu dengan hangat. Gendhis pun membalasnya dengan penuh senyuman.
Sedangkan Susena langsung menundukkan wajah sambil berdecak pelan, ketika Gendhis mulai menyalami semua tamu termasuk Chand.
Pria tampan itu melihat kepada calon istrinya dengan sorot aneh. Namun, Chand pun seperti enggan untuk menatap Gendhis berlama-lama. Dia segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Chand bahkan tampak mengulum senyumnya.
“Kemarilah, Dhis. Duduk di sini.” Susena mengarahkan agar Gendhis duduk di sebelahnya. Sementara Hanum dan Utari berada di sofa yang lain.
“Baiklah. Ini adalah Gendhis putri kedua saya. Sedangkan yang baju hijau itu namanya Hanum. Dia putri sulung dan itu Utari si bungsu.” Susena memperkenalkan putrinya satu per satu kepada para tamu. “Kedua putri saya yang lain sudah berkeluarga. Tinggal Gendhis saja yang masih melajang. Dia terlalu fokus pada pekerjaan,” terang Susena lagi menuturkan.
“Oh, memangnya Nak Gendhis bekerja di mana?” tanya salah seorang tante Chand.
“Saya seorang fotografer, Tante,” jawab Gendhis dibuat seanggun mungkin. Dia menyelipkan helaian rambutnya yang belum sempat dicatok, sehingga terlihat sedikit aneh. Namun, Utari menyiasatinya dengan cukup baik, sehingga tampilan rambut Gendhis tak terlalu menyedihkan, meski sebenarnya kurang nyambung jika dipadukan dengan gamis keramat yang dia kenakan.
“Wah, hebat sekali. Jadi juru foto di mana?” tanya tante Chand yang lain. Sementara para om hanya menyimak.
“Di tabloid Hello Girls, Tante,” jawab Gendhis dengan diiringi senyuman ramah.
“Ah, itu majalah langganan Tante loh. Tante suka dengan semua yang dimuat di sana. Apalagi jika sudah ada profil ….” Wanita yang merupakan saudara Kalini tersebut tak melanjutkan kata-katanya. Dia melirik pria berkemeja biru yang duduk di sebelah dan tengah menatap ke arahnya. Besar kemungkinan bahwa pria itu merupakan suami si tante tadi.
“Sejak kapan Tante berlangganan tabloid Hello Girls?” Chand yang sejak tadi memilih diam, kali ini mulai bersuara. Namun, sang tante memilih untuk tak menjawab. Dia memberi isyarat dengan matanya kepada Chand.
Mendengar nama tabloid tempat bekerja Gendhis kembali mendapat reaksi berbeda dari Chand, Susena pun menjadi semakin penasaran. Selama ini, dia tak pernah bertanya dengan detail perihal apapun yang berkaitan dengan pekerjaan Gendhis. Lagi pula, Gendhis juga terlihat sangat menyukai pekerjaannya tersebut.
Setelah ini, Susena berencana untuk mencari jawaban dari rasa penasarannya. Namun, tentu saja tidak sekarang. Bukan waktu yang tepat baginya untuk menginterogasi Gendhis.
Kali ini, mereka harus fokus pada acara lamaran dadakan yang sedang berlangsung. “Baiklah. Berhubung putri saya sudah berada di sini, bagaimana jika kita mulai berunding sekarang?” Susena kembali membuka suara setelah terdiam beberapa saat.
__ADS_1
“Ah, tentu. Aku sudah tidak sabar untuk menentukan tanggal baik,” sahut Kalini masih terlihat antusias, seolah-olah bahwa dirinyalah yang akan menikah.
“Jadi, bagaimana perhitungan hari baiknya? Apakah memakai perhitungan ala tradisi di India atau ….”
“Aku sudah menjadi orang Jawa sekarang. Jadi, kita pakai perhitungan lokal saja,” sela Kalini. Dia lalu menoleh pada saudara-saudaranya yang lain. Mereka pun mengangguk pelan sebagai sebuah isyarat kepada ibunda Chand tersebut. “Baiklah. Sebelumnya aku sudah berunding dengan om, tante, dan semuanya. Kami sepakat untuk mengambil tanggal 30 Juni,” terang Kalini kepada Susena.
“30 Juni?” ulang Susena. “Oh, baiklah … apa? 30 Juni?” Duda tiga anak tersebut segera membelalakan mata. “30 Juni itu kapan?” tanyanya kemudian sambil menoleh pada ketiga putrinya.
“30 Juni ya akhir bulan Juni, Pa,” sahut Utari dengan enteng.
“Ish, kamu ini,” tegur Hanum seraya menyenggol lengan adik bungsunya. “30 Juni itu … astaga!” Hanum ikut membelalakan mata. “30 Juni kan tinggal dua minggu lagi.”
Susena dan Gendhis pun saling pandang. Sesaat kemudian, perhatian mereka teralihkan pada Kalini yang masih terlihat tenang. Janda dua anak itu tetap memasang wajah serta pose cantik yang sangat memesona di mata Susena. Membuat rasa patah hati dalam diri duda awet muda tersebut kian menjadi. Makin lebar senyuman Kalini, semakin besar pula rasa sakit hati yang mendera Susena. Pria itu sesekali mengelus dadanya sendiri, karena tak ada dada lain yang bisa dia elus. Sebuah embusan napas berat pun meluncur dari bibirnya yang berkumis rapi. “Apa tidak repot menyiapkan pernikahan dalam waktu dua minggu?” tanyanya meyakinkan.
“Ah, tentu saja tidak,” sahut Kalini dengan enteng. Dia melirik Chand yang kembali memilih tak banyak bicara. Kalini memberikan beberapa kode rahasia kepada putra sulungnya tersebut. Sesuatu yang tak dipahami oleh siapa pun, termasuk Chand sendiri. Pria tampan itu menaikkan kedua alisnya dengan kening berkerut. Sementara Kalini kembali memberikan sebuah isyarat yang kali ini ditanggapi dengan sebuah anggukan oleh Chand, meskipun dia masih belum dapat menangkap maksud dari isyarat sang ibu.
“Wah, kalau begitu sih tidak masalah. Itu artinya kita tidak perlu pusing-pusing mencari WO yang bagus,” sahut Susena menanggapi.
“Ya, begitulah,” balas Kalini.
Perbincangan pun terus berlanjut, hingga mencapai kata sepakat. Pertemuan dua keluarga itu juga berakhir di meja makan untuk melakukan santap siang. Selama hal itu berlangsung, Gendhis tak henti-hentinya memandangi paras tampan Chand.
Apa yang gadis tersebut lakukan, tentu saja telah membuat Chand merasa risi. Pria itu merasa diawasi. Sampai-sampai, dia merasa ragu saat akan memasukkan setiap suapan makanan ke dalam mulutnya. Jika bukan karena membawa perut yang lapar, Chand pasti akan lebih memilih untuk tak makan saja.
“Apa mau nambah lagi, Chand?” tawar Gendhis yang mulai berbasa-basi. Tanpa menunggu persetujuan dari calon suaminya, timeless single tersebut langsung saja menambah makanan ke dalam piring Chand.
“Tidak. Tidak usah,” tolak Chand dengan segera. Namun, penolakan yang dilakukannya sudah terlambat. Gendhis sudah lebih dulu menumpuk makanan di dalam piringnya yang mulai kosong.
__ADS_1
“Eh, nggak apa-apa. Aku saja yang perempuan makannya banyak. Masa kamu laki-laki makannya cuma dikit,” ujar Gendhis tanpa rasa bersalah. Dia bahkan menambahkan sambal terasi ke dalam piring Chand. Gedhis tak tahu bahwa calon suaminya tersebut alergi dengan bau terasi.
Chand pun hanya terdiam memandang makanan dalam piringnya. Dia tak ingin banyak bicara kepada gadis itu.
“Ayo, makan lagi. Kamu nggak usah khawatir kalau yang lain sudah selesai dan kamu belum. Aku akan nemenin kamu di sini. Anggap saja kita sedang makan berdua di meja makan. Latihan untuk nanti kalau sudah nikah,” ucap Gendhis lagi dengan setengah berbisik. Gadis itu juga senyum-senyum sendiri. Membuat Chand makin ilfeel saat melihatnya.
“Aku selalu menjaga porsi makan. Selain itu, aku juga tidak suka sambal terasi,” balas Chand pelan.
“Eh, eh, eh. Itu artinya kamu belum jadi orang Indonesia sejati,” protes Gendhis.
“Apa hubungannya dengan sambal terasi? Ini tentang selera, Nona.” Chand menautkan jemarinya di dekat dagu. Dia melirik Gendhis untuk sesaat, kemudian berdecak pelan. “Bisakah untuk tidak menggangguku?”
Gendhis tersenyum saat mendengar apa yang Chand katakan barusan. Pria itu terlihat semakin seksi di matanya. Bukan hanya tampan dan juga kalem. Ternyata Chand juga merupakan pria yang terkesan sangat misterius. “Jangan merasa terganggu. Setelah menikah nanti, kamu akan lebih sering melihatku. Pagi, siang, malam, pagi lagi, dan seterusnya,” celoteh Gendhis terlihat ceria.
“Terserah,” balas Chand masih menggunakan mode berbisik-bisik. Kebetulan saat itu mereka duduk bersebelahan, sehingga obrolan keduanya tak terlalu dihiraukan oleh yang lain.
Namun, adegan itu justru dilihat sebagai suatu peningkatan oleh Kalini. Wanita cantik tersebut menyunggingkan senyuman lebar dan merasa lega. Kalini sangat bahagia, karena pada akhirnya Chand bisa menerima perjodohan dadakan antara dirinya dengan Gendhis. Chand pun bahkan tampak berbincang akrab dengan calon istrinya .
Jika sudah seperti itu, rasanya Kalini ingin segera menyelenggarakan acara pernikahan yang sangat meriah.
.
.
.
Hai, hai. Masih sabar kan ya nungguin si duda. Mampir dulu yuk, di karya satu ini. Dijamin seru, keren dan sangat nganu sekali
__ADS_1