Mengejar Cinta Sang Duda

Mengejar Cinta Sang Duda
Gayung Keramat


__ADS_3

“Siapa dia, Ngga? Kok aku nggak pernah lihat dia di komunitas ini?” tanya Ghea penuh selidik, membuat Manggala dan Gendhis yang sudah menjauh, kembali berbalik dan berjalan mendekat. Mata indah Ghea memindai Gendhis dari ujung kepala hingga kaki.


“Dia pacarku,” jawab Manggala semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di bahu Gendhis.


“Wah, cantik juga, ya,” balas Ghea tersenyum. Namun, senyum itu seakan dipaksakan. “Eh, sebentar. Kayaknya aku pernah lihat pacar kamu, deh. Di mana, ya?” Ghea mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di dagunya yang lancip. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu.


“Kalau kamu sering ke Jogja, ya ada kemungkinan kamu pernah ketemu dia,” sahut Manggala kalem. Sementara Gendhis hanya meringis saja. Dia sama sekali tak tahu harus menanggapi apa.


“Oh, dia domisili di Jogja?” tanya Ghea lagi.


“Iya. Aku tinggal di sana sebelum memutuskan pindah ke Bandung,” jawab Gendhis sambil berusaha bersikap seluwes mungkin.


“Oh, kenapa pindah?” Ghea terus-menerus mencecar Gendhis dengan pertanyaan. Seandainya dia jadi wartawan, Ghea pasti akan menyingkirkan posisi Sinta.


“Dhis, tadi kamu bilang sudah lapar, kan?” sela Manggala mengalihkan pembicaraan. “Makan, yuk. Sekalian kukenalin sama teman-temanku,” ajaknya sambil berlalu meninggalkan Ghea begitu saja.


“Eh, ta-tapi ….” Gendhis merasa serba salah.


“Udah, cuekin saja dia,” ujar Manggala sedikit memaksa.


“Nanti kalau dia tersinggung gimana?” bisik Gendhis sambil berniat menoleh ke arah Ghea.


“Eh, jangan dilihat,” cegah Manggala yang dengan segera memegangi kepala Gendhis agar tak menoleh ke belakang. “Ngapain kamu peduli, Dhis? Bukan urusan kita kalau dia tersinggung. Dulu dia pernah berbuat yang jauh lebih menyakitkan.”


“Iya juga, ya,” gumam Gendhis, “Tapi ….” Gadis berambut panjang itu hampir mengucapkan sesuatu, ketika beberapa orang pria seusia Manggala datang mendekat secara bersamaan.


“Bro! Tumben datang?” sapa salah seorang pria berambut cepak seraya menyalami dan menepuk hangat bahu Manggala.


“Mumpung lagi nggak sibuk,” balas Manggala ramah. Senyumnya yang menawan tak jua hilang dari paras tampan pria berambut gondrong tersebut.


“Wah! Siapa, nih?” tanya pria lain yang bertubuh lebih tinggi dari pria cepak tadi.


“Pacarku,” jawab Manggala seraya menatap lembut pada Gendhis.


“Serius, lo?” Pria tinggi itu setengah tak percaya mendengar jawaban Manggala.

__ADS_1


“Lo udah bisa move on?” sela rekan-rekan si pria.


Gendhis makin bingung, ketika Manggala menjadi pusat perhatian. Apalagi, semua teman-temannya datang mengerubungi. Beruntung, Manggala tak melepaskan sedikit pun genggamannya dari tangan Gendhis. Pemimpin redaksi Nirwana Media itu malah menariknya agar semakin merapat. “Perhatian semua!” seru Manggala untuk meredakan kehebohan yang diakibatkan oleh teman-teman satu komunitasnya. “Maaf kalau aku baru bisa datang di ulang tahun komunitas yang bertepatan dengan ulang tahun Dion hari ini.”


“Ah, nggak usah dijelasin. Aku sudah tahu alasanmu,” celetuk salah seorang teman Manggala. “Kamu baru muncul sekarang karena udah menggandeng pacar. Sedangkan tahun-tahun lalu, kamu masih jomblo. Jadi, nggak ada yang dipamerin. Ya, ‘kan?” kelakarnya seraya terbahak.


“Teman-teman, kenalkan. Ini Gendhis. Gendhis, kenalkan. Ini Dion,” tunjuk Manggala pada seorang pria berkulit putih bersih bertampang oriental.


“Ini Andra dan Zidan,” telunjuk Manggala beralih pada pria berambut cepak dan pria jangkung di sebelahnya.


“Ini, Dedy, Bian, Santo, Alvin, Juna, Fery dan Putra,” tunjuk Manggala tanpa henti.


Sementara Gendhis hanya meringis salah tingkah. Otak berprosesor lemot seperti dirinya harus menghafal begitu banyak wajah dan nama baru. Entah Gendhis sanggup mengingatnya atau tidak. Yang penting dia memperlihatkan sikap ramah dan senyum tiada henti.


“Halo, semua!” Gendhis melambaikan tangan malu-malu. “Senang berkenalan dengan Anda sekalian. Sewaktu kuliah dulu, aku juga pernah ikut komunitas motor, lho,” ujarnya tanpa ditanya.


“Oh, ya? Komunitas motor apa?” tanya Dion.


“Motor vespa. Aku juga pernah ikut touring sampai ke Bali,” jawab Gendhis bangga.


“Oh, ya? Seru, tuh!” sahut Andra.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Manggala melirik pada jam tangannya, lalu menyentuh bahu Gendhis pelan. “Pulang, yuk,” bisiknya tepat di telinga Gendhis.


“Tapi, acaranya belum selesai,” balas Gendhis lirih dengan nada keberatan.


“Aku sudah janji sama nenek kamu, untuk membawa kamu pulang jam sebelum jam sepuluh malam. Lihat jam berapa sekarang.” Manggala mengarahkan jam tangannya tepat ke depan wajah Gendhis.


“Yah, padahal lagi seru-serunya,” gerutu Gendhis.


“Kapan-kapan aku ajak kumpul-kumpul lagi,” bujuk Manggala sambil menahan rasa gemas. Ingin rasanya dia melu.mat bibir kekasihnya saat itu juga. Namun, Gendhis pasti menolak. Gadis itu ternyata terlalu polos dan lugu, berbeda jauh dengan sikap dan gayanya yang tomboy.


“Janji, ya!” ucap Gendhis yang segera disambut oleh tawa renyah Manggala.


“Janji!” balas Manggala.

__ADS_1


Sesaat kemudian, Manggala mengajak Gendhis untuk berpamitan pada semua yang ada di sana, termasuk Ghea.


“Nggak nyangka, ya. Mantan kamu anggota klub motor juga. Padahal, kalau dilihat dari gayanya, bukan tipe-tipe cewek yang suka naik motor,” ujar Gendhis saat mereka sudah berada di dalam mobil Manggala.


“Memang. Dia malah nggak bisa bawa motor,” sahut Manggala sambil tertawa.


“Lah, kok bisa dia ada di sana?” Gendhis menautkan alis tak mengerti.


“Ya, dulu ‘kan aku gabung di klub motor itu waktu masih pacaran dengan Ghea. Otomatis dia juga sering ikut acara-acara kami. Lama-lama, Ghea menjadi donatur tetap di komunitas, sehingga kami merasa punya kewajiban untuk mengundang dia setiap ada acara klub,” jelas Manggala.


“Oh, begitu rupanya.” Gendhis manggut-manggut. Dia tak bicara lagi, hingga Manggala sudah melajukan kendaraan roda empat yang mereka tumpangi kembali ke jalan raya. Sesekali, Gendhis melirik pria di balik kemudi. Wajah Manggala terlihat sangat maskulin, saat terkena pantulan cahaya lampu jalan. Manggala juga tak banyak bicara. Dia fokus pada lalu lintas yang mereka lalui.


Gendhis pun sepertinya merasa sungkan untuk mengajak pria itu bicara. Walaupun selama ini Gendhis belum tahu rasanya punya mantan (karena pacaran saja tidak pernah), tapi dia bisa memahami apa yang Manggala rasakan setelah bertemu dengan Ghea.


Tak ada percakapan yang terlalu berarti, bahkan hingga mereka tiba di depan kediaman Nenek Sri. Sebelum melepas sabuk pengaman, Gendhis yang merasa tak nyaman dengan keadaan tadi sempat menatap Manggala untuk beberapa saat. “Kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya.


Manggala yang sudah bermaksud untuk keluar dari mobil, mengurungkan niatnya. Dia menoleh kepada Gendhis, lalu tersenyum. “Kamu pikir aku kenapa?” Pria dengan gaya rambut man bun itu balik bertanya.


“Habisnya, kamu diem aja dari tadi,” sahut Gendhis.


“Astaga,” Manggala tertawa renyah. Dia membelai lembut pipi Gendhis. Keinginannya untuk kembali mencium gadis itu, segera dia tuntaskan sebelum mengembalikan sang kekasih kepada Nenek Sri. Beberapa saat lamanya, dua sejoli itu asyik memadu kasih di dalam mobil. Manggala bahkan sempat membuat Gendhis begitu terbuai dengan segala perlakuan yang diberikan pria itu. Bagaimanapun juga, Manggala adalah pria yang sudah memiliki jam terbang tinggi.


“Sudah,” cegah Gendhis pelan. “Jangan kelewatan,” tegurnya.


Manggala tertawa pelan sembari menjauhkan diri dari Gendhis yang segera merapikan pakaiannya serta rambutnya. “Tenang saja, Dhis. Rem-ku masih pakem,” candanya. Dia tahu bahwa Gendhis sangat jauh berbeda dengan Ghea. Gadis itu membutuhkan proses panjang, untuk melakukan hal yang lebih dari sekadar berciuman.


“Jangan minta macem-macem, ya,” pesan Gendhis dengan diiringi senyum manis.


“Nggak akan macem-macem. Satu macem aja,” jawab Manggala seraya membuka pintu. Dia berjalan memutari mobil, untuk membukakan pintu bagi Gendhis. Setelah itu, Manggala menggenggam pergelangan Gendhis dan menuntunnya masuk ke halaman hingga ke depan pintu.


“Sampai jumpa besok di kantor.” Dia mencium kening Gendhis dengan penuh perasaan. “Ingat ya. Meskipun kita sudah pacaran, tapi saat di kantor harus tetap mendahulukan profesionalisme kerja.”


“Siap, Bos,” balas Gendhis kembali tersenyum manis.


“Astaga.” Merasa tak tahan melihat senyuman manis sang kekasih, Manggala kembali berniat untuk mencium gadis itu. Namun, Manggala harus mengurungkan niat tersebut, ketika tiba-tiba ada yang memukul pundaknya menggunakan benda tumpul. “Aw!” Pria itu memekik tertahan sambil menoleh. Seketika, dia dan Gendhis membelalakan mata.

__ADS_1


Di belakang Manggala, sudah berdiri Nenek Sri yang ditemani Ceu Imas. Nenek Sri membawa gagang sapu, sedangkan Ceu Imas memegangi gayung yang terbuat dari batok kelapa.


“Enak saja mau cium-cium cucu saya. Mana pulang telat lagi!” Nenek Sri terlihat sangat marah.


__ADS_2