
“Ada apa, Dhis?” tanya Manggala. Pria berambut gondrong itu bukanlah orang bodoh yang tak mengerti bahasa tubuh dari lawan bicaranya.
“Nggak apa-apa. Gimana kalau kamu temani aku belanja? Jadi, kamu yang pegang kartu kredit ini. Cowok kan biasanya tahu batasan. Nggak kayak cewek yang sering kalap,” ujar Gendhis.
“Ah, kata siapa? Aku juga masih suka kalap. Apalagi, kalau sudah lihat cewek cantik ….” Manggala tak sempat melanjutkan kata-katanya, setelah melihat ekspresi wajah Gendhis yang tak biasa. “Kayak kamu.” Pria itu melanjutkan kata-katanya, dengan nada bicara yang terdengar sangat hati-hati.
“Kayak aku?” ulang Gendhis. Dia mendekat ke hadapan Manggala. “Sebenarnya, tipe cewek idaman kamu tuh seperti apa sih?”
“Kamu kenapa, Dhis? Apa ada sesuatu yang memengaruhi pikiranmu?” terka Manggala. Instingnya bergerak cepat, menangkap sikap berbeda yang ditunjukkan sang kekasih.
“Nggak ada,” jawab Gendhis enteng. “Aku hanya merasa heran, karena biasanya kan seorang pria memilih tipe wanita yang nggak terlalu jauh dari mantannya. Ah, maksudku … ya kita tahu sendiri seperti apa mantan kamu yang bernama Ghea. Sudah jelas bahwa dia sangat berbeda denganku,” ujar Gendhis. Membuat Manggala semakin tak mengerti dengan maksud ucapannya.
“Ya, Ghea sangat berbeda denganku,” ulang Gendhis. “Pertama, kami memiliki ukuran dada yang jauh berbeda. Kedua, pinggulku juga tidak sebesar pinggulnya. Ketiga ….”
“Dhis, hentikan,” sela Manggala. “Kenapa tiba-tiba kamu membahas hal-hal nggak penting seperti itu?” tanya Manggala penuh selidik. “Kita sudah tahu dan telah membuat komitmen serius. Kamu harus catat ini, jika aku sudah memutuskan untuk serius terhadap seorang wanita, maka seburuk apapun penampilan fisiknya tak akan menjadi masalah berarti. Beda halnya jika aku hanya ingin bersenang-senang. Secantik dan seseksi apapun wanita itu, tak akan kupertahankan. Jika memang kami harus selesai, ya sudah. Selesai,” tutur Manggala kalem.
Gendhis tak segera menanggapi. Dia menatap lekat pria tampan di hadapannya. “Kamu sedang ngomongin siapa?” tanya Gendhis dengan tatapan kosong.
Manggala yang tadi masih terlihat tenang, mulai menunjukkan raut tak biasa. “Memangnya siapa? Siapa yang kamu maksud?” Dia balik bertanya. Manggala terdiam beberapa saat. Dia mencoba menerka arah ucapan serta sikap Gendhis yang dirasa begitu aneh. “Tidak. Jangan bilang kalau kamu sedang mencurigaiku.” Raut wajah Manggala menegang.
“Aku nggak ngomong apa-apa,” Gendhis tertawa lirih, Namun raut kecewa jelas terlihat di wajahnya. “Apa kamu yakin mau menikahi aku yang biasa-biasa dan tak seksi ini?” tanya Gendhis tiba-tiba.
“Dhis!” nada bicara Manggala mulai meninggi. “Aku nggak suka arah bicaramu,” tegurnya pelan.
“Terserah kamu, Ngga. Aku pulang dulu. Mau mandi dan mendinginkan kepala,” Gendhis tak menunggu hingga Manggala menanggapi perkataannya. Dia langsung berbalik dan meninggalkan ruangan calon suaminya. Dalam hati, Gendhis berharap agar Manggala mengikutinya. Namun ternyata harapan itu tak terwujud.
Gendhis pulang ke rumah sambil memikul beban galaunya, dia sampatti yang begitu menyiksa. Saking galaunya, sampai-sampai dia tak menghiraukan sapaan ceu Imas.
__ADS_1
Gadis tomboy yang berubah menjadi sedikit feminin itu melangkah dengan tatapan menerawang menuju kamar. Setelah mengunci pintu rapat-rapat, dia meletakkan tas ransel berisi kamera kesayangan ke atas meja dengan hati-hati.
Gendhis sempat berdiri di depan meja sambil melamun untuk beberapa saat lamanya sampai kakinya kesemutan. Dia pun berpindah posisi dengan merebahkan diri di ranjang sampai lewat jam makan malam.
Ceu Imas yang tak biasa melihat tingkah aneh Gendhis, merasa khawatir. Cucu Nenek Sri itu tak pernah kehilangan nafsu makan, walaupun dalam kondisi sakit sekalipun. Bahkan tak jarang Ceu Imas merasa ngeri melihat porsi Gendhis yang di luar nalar. Namun, malam ini, gadis itu seakan lupa dengan jadwal makan malamnya.
“Mbak, hidangan istimewa sudah siap! Tadi mbak pesan nasi padang, kan? Udah datang tuh pesanannya, tiga porsi,” seru Ceu Imas seraya mengetuk pelan pintu kamar Gendhis.
“Yang satu, makan aja, Ceu. Sisanya masukin kulkas buat diangetin lagi besok pagi,” sahut Gendhis sedikit nyaring.
“Mbak, nggak makan?” pertanyaan Ceu Imas bernada takjub dan tak percaya.
“Kenyang, Ceu.” Jawaban Gendhis membuat bulu kuduk Ceu Imas meremang. Pikiran liarnya sudah membayangkan bahwa gadis itu hanyalah penampakan yang menyerupai Gendhis.
Ceu Imas bergidik ngeri. Buru-buru dia berlari ke dapur untuk menyimpan nasi padang pesanan Gendhis ke dalam kulkas. Dia lalu bergegas masuk kamar dan menguncinya. Ceu Imas berniat untuk bersembunyi di sana sampai pagi.
“Astaga, udah mau subuh aja,” Gendhis terbelalak tak percaya. Ini adalah rekor terbesar dalam hidup Gendhis, mengingat bahwa dirinya tak pernah melewatkan satu malam pun tanpa tidur nyenyak berkualitas, minimal delapan jam.
Gendhis memutuskan untuk turun dari ranjang, sebab jika dia memaksakan untuk tidur sebentar, bisa dipastikan bahwa dirinya akan kebablasan sampai sore hari. Bisa-bisa Gendhis tidak akan dapat bekerja dan rencananya pasti akan gagal.
“Aku harus kuat! Nggak boleh ngantuk!” Gendhis mengepalkan tangan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Tak berapa lama, perutnya berbunyi kencang seolah menjawab semangat Gendhis. “Duh, lapar,” gumamnya.
Tanpa menunggu lama, Gendhis bergegas ke dapur dan menghangatkan dua porsi nasi padang ke dalam microwave. Setelah hangat, dia menyantapnya dengan lahap sampai habis tak tersisa. Ceu Imas yang sejak tadi sudah keluar dari kamar, akhirnya bernapas lega. Gendhis yang asli sudah kembali, begitu pikirnya.
Dua jam berlalu, Gendhis mulai bersiap untuk berangkat ke kantor. Pukul setengah delapan tepat, dirinya sudah tampil rapi dan duduk nyaman di jok motor ojek online yang sudah dipesan. Perasaannya sedikit berbeda saat membayangkan akan bertemu dengan Manggala di kantor nanti.
Namun, Gendhis menepiskan segala yang membuat dirinya tak nyaman. Dia berfokus sepenuhnya dalam menjalani hari dan bekerja seprofesional mungkin sampai jam kerja berakhir. Hingga saat itu tiba, nyatanya Manggala tak menjenguk dirinya sama sekali ataupun sekadar mengirim pesan.
__ADS_1
Gendhis memilih untuk tidak peduli. Lagipula, ada rencana besar yang harus dilaksanakan sepulang kerja, yaitu berbelanja bersama Sinta sekaligus mengorek informasi penting darinya.
Sejauh ini, langkah awal sudah berhasil Gendhis lalui. Dia berbelanja bersama Sinta di butik mewah pada salah satu mall di Bandung. Gendhis juga berhasil membujuk Sinta untuk membayar dengan menggunakan kartu kredit milik Manggala.
Selesai berjalan-jalan, Gendhis mengajak Sinta berkeliling dan mengunjungi setiap gerai makanan kekinian. Penjelajahannya berakhir di sebuah café. “Pesan apa, Mbak?” tanya Gendhis ketika Sinta serius membaca menu.
“Es kopi aja, deh,” jawab Sinta.
“Makannya?” tawar Gendhis.
“Nggak usah, masih kenyang,” tolak Sinta halus.
“Oke,” Gendhis mengangguk, lalu menuliskan pesanan dan menyerahkannya pada pegawai café yang setia menunggu di sebelahnya. Sambil menunggu, Gendhis berniat untuk bertanya tentang segala hal pada Sinta.
Sayang, sebelum rencananya terlaksana, telepon genggamnya lebih dulu berdering. Gendhis mengempaskan napas kasar saat membaca nama Manggala di layarnya. “Halo,” sapa Gendhis malas.
“Share lokasi kamu sekarang, aku jemput,” ujar Manggala tanpa basa-basi. Gendhis hampir saja menolak, ketika tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul dalam benaknya.
Tanpa banyak bicara, Gendhis mengakhiri panggilan. Dia mengirimkan lokasi pada Manggala sambil sesekali melirik Sinta yang juga sedang serius dengan ponselnya. Gendhis menambahi pesan dengan tulisan berhuruf kapital, “Aku tunggu sekarang juga!”
.
.
.
sambil menunggu, mampir dulu ya di karya keren yg satu ini
__ADS_1