
“Selamat pagi!” Kalini membuka lebar-lebar pintu kamar Chand yang masih tertidur pulas. Wajar jika Chand masih nyaman bergelung di bawah selimut, sebab jam digital di atas nakas masih menunjukkan pukul empat pagi.
Merasa sang putra tak bereaksi terhadap sapaannya, Kalini langsung menyalakan lampu kamar, kemudian membuka tirai dan daun jendela lebar-lebar. “Selamat pagi!” Kalini berteriak lebih kencang.
Chand yang merasa terganggu dengan cahaya terang benderang lampu kamar dan dinginnya semilir angin dari luar, segera terbangun sambil memicingkan mata. “Astaga, Ma. Ada apa lagi, sih?”
“Ayo, bangun! Kita harus belanja untuk lamaran.” Kalini langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Chand, kemudian menarik putranya yang masih bertelanjang dada.
“Belanja untuk lamaran?” ulang chand sambil melirik jam digital. “Jam empat pagi? Mama sedang mengigau atau bagaimana?”
“Kamu tuh yang nyawanya masih belum terkumpul,” ujar Kalini sengit.
“Ma, mana ada toko yang buka jam empat pagi, kecuali yang punya toko tembus pandang.” Chand menggaruk-garuk keningnya yang tak gatal. Dia berniat untuk berbaring lagi. Namun, tangan Kalini lebih dulu mencengkeram lengannya.
“Siapa bilang kita mau belanja di sekitar sini? Si Agus sudah berhasil mencarikan kita berdua tiket penerbangan paling pagi ke Jakarta. Kita belanja di sana!” tegas Kalini. Nada bicaranya terdengar begitu yakin, membuat Chand yang masih mengantuk seketika terbelalak.
“Ma, aku bukan pengangguran. Aku punya tanggung jawab di kantor. Tolonglah pengertiannya,” pinta Chand seraya menangkupkan kedua tangan di dada sambil memasang wajah memohon.
“Ah, masa libur sehari saja tidak bisa. Apa gunanya si Agus yang kamu bayar sebagai asisten?” cibir Kalini.
“Ya, ampun. Namanya Bagus, Ma. Bukan Agus,” ralat Chand.
“Demi apa coba. Hanya gara-gara ide perjodohan dadakan begini Mama sampai bela-belain belanja ke Jakarta.” Chand mengembuskan napasnya pelan. Rasa kantuk pun menguap seketika.
“Harus! Mama ingin memberikan hamparan yang terbaik untuk Gendhis! Kalau kamu tetep ngeyel, Mama mau pindah saja ke Vrindavan!” tegas Kalini sambil beranjak keluar kamar. Dia tak ingin lagi menerima alasan apapun dari putra sulungnya.
“Astaga. Apa lagi ini?” keluh Chand. “Baiklah, Ma. Tidak usah beli yang mahal-mahal. Takutnya nanti gagal lagi. Sayang uangnya,” celoteh Chand yang membuat sang ibu segera berbalik sambil melotot tajam.
“Kamu, ya! Kalau ngomong itu dijaga. Ingat, Chand. Ucapan bisa menjadi doa,” geram Kalini. “Pokoknya mama tidak mau tahu! Cepat siap-siap kurang dari setengah jam. Mama tunggu di bawah!”
Jika sang ibu sudah bersikap demikian, Chand tidak bisa menolak, apalagi melarikan diri. Satu-satunya pilihan yang dia punya hanyalah menurut.
__ADS_1
“Oh, ya, kosongkan lagi jadwalmu untuk besok lusa,” ujar Kalini.
“Sekarang libur, lusa libur. Bisa bangkrut aku, Ma,” protes Chand.
“Jangan banyak alasan! Pokoknya besok lusa, kita berangkat ke rumah Gendhis sambil menyerahkan seserahan! Kita ajak juga tante-tante dan om-om kamu! Mama sudah membuat janji dengan Susena untuk datang ke rumahnya!” putus Kalini sembari berbalik dan meninggalkan Chand yang tak mampu berkata-kata.
***
Sikap Kalini yang penuh semangat, jauh berbeda dengan Susena. Pria itu menjadi semakin murung sejak cinta pertamanya semasa SMA tersebut mengirim pesan, yang memberitahukan bahwa Kalini dan putranya akan datang melamar Gendhis.
Berkali-kali pria paruh baya yang masih tampak gagah dan tampan itu membuka dan membaca pesan dari Kalini. “Tanggal empat dia mau datang ke rumah,” gumamnya pada diri sendiri. “Tanggal empat … tanggal empat?” Susena terbelalak ketika memperhatikan angka yang menunjukkan tanggal hari ini di pojok kanan atas layar telepon genggamnya.
“Waduh!” Susena menepuk keningnya kencang-kencang. Namun, setelahnya dia kesakitan sendiri. Akan tetapi, hal itu tak menghentikannya untuk buru-buru mendatangi kamar Gendhis. “Dhis! Dhis!” Ayah tiga anak tersebut menggedor pintu kamar putrinya dengan kencang.
“Ada apa sih, Pa!” Terdengar suara Gendhis dari dalam kamar. Sambil menguap dengan rambut acak-acakan seperti singa, dia membuka pintunya lebar-lebar. “Harus ya, bikin gaduh pagi buta begini?” keluh gadis dua puluh tujuh tahun itu.
“Ini jam enam, Dhis! Bukan pagi buta!” sahut Susena. “Ayo, mandi! Ganti baju! Dandan yang cantik!” suruhnya tiba-tiba.
“Hah, kenapa? Aku libur hari ini, Pa!” tolak Gendhis dengan segera. Baginya, mandi adalah suatu pekerjaan yang terlalu berat, apalagi di hari libur. Dia harus melalui proses semedi hingga mendapatkan pencerahan dan niat yang kuat untuk menyentuh air. Gendhis bahkan seringkali berpikir jika mungkin di kehidupan sebelumnya, dia adalah seekor kucing.
“Yang benar saja, Pa! Kenapa baru bilang sekarang!” Gendhis melotot tak percaya.
“Papa lupa memberitahumu, Dhis!” ucap Susena penuh sesal. Dia terlalu larut dalam kesedihan akan patah hati, sampai-sampai lupa membaca tanggal yang sudah ditetapkan oleh Kalini.
“Bagaimana ini, Pa! Aku sama sekali belum bersiap-siap!” Gendhis mondar-mandir di depan pintu, berputar kesana-kemari sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan. Gadis itu terlihat semakin berantakan. “Aduh, bagaimana ini? Aduh, aku bisa stress kalau begini ….” Gendhis meracau tak karuan.
“Sudah, yang penting sekarang, kamu mandi dan rapikan diri. Urusan lain biar Papa yang mengurus!” ujar Susena. Dia sudah tak mempedulikan lagi cedera kakinya. Yang penting dia harus cepat-cepat menuju ke kamar Hanum dan meminta anak sulungnya tersebut untuk membantu menyiapkan segala sesuatunya demi menyambut kedatangan Kalini.
Hanum pun sama paniknya. Meskipun demikian, dia langsung bergerak mengkoordinasi beberapa asisten rumah tangga untuk menyiapkan hidangan dan membersihkan rumah. Hanum juga menelepon Utari agar datang dan membantu.
Tepat tengah hari, segala persiapan telah selesai dilakukan. Berbagai macam hidangan juga sudah tersaji rapi di atas meja prasmanan yang sudah didekorasi dengan apik oleh Utari. Kini, tinggal menunggu kedatangan para tamu.
__ADS_1
“Papa sudah menyuruh Mbak Gendhis untuk mandi, ‘kan?” celetuk Utari.
“Sudah,” jawab Susena.
“Berdandan?” tanya Utari lagi.
“Sepertinya juga sudah.” Kali ini nada bicara Susena terdengar ragu.
“Memangnya Gendhis bisa berdandan?” sela Hanum, yang membuat Susena dan Utari saling pandang.
“Aduh, gawat! Biar aku saja yang membantunya,” tanpa diminta, Utari segera bergegas ke kamar sang kakak. Seperti yang dirinya duga, Gendhis tengah kesulitan menyisir rambutnya yang panjang.
“Rambut sialan! Seharusnya aku potong cepak saja, seperti tentara. Papa sih, pakai acara melarang aku potong rambut. Padahal ini kan rambut aku sendiri, bukan rambut papa,” omel Gendhis tanpa henti.
“Sini, biar aku saja.” Utari langsung merebut sisir dari tangan Gendhis lalu menyisir rambut itu dengan telaten dan penuh kesabaran. Dia bernapas lega ketika dapat menaklukkan rambut itu, lalu menyanggulnya dengan model sederhana. Tak lupa, Utari memasangkan beberapa jepit rambut berbentuk sama ke sekeliling sanggulan untuk mempercantik tampilan sang kakak.
“Nah, sudah selesai,” Utari tersenyum lebar, lalu memperhatikan wajah sang kakak dari pantulan cermin meja rias. Senyuman itu seketika memudar saat dia mengamati secara lekat alis Gendhis yang tidak terlihat sinkron. “Wah, Mbak. Siapa itu yang menggambar alis?” tanyanya ragu.
“Siapa lagi di kamar ini selain aku,” jawab Gendhis.
“Ya, ampun, Mbak. Mbak gendhis ini apa tidak lihat kalau alisnya tebal sebelah!” Utari berdecak pelan.
“Waduh, terus gimana, dong!” Gendhis kembali panik.
“Tenang, tenang. Biar aku permak ulang,” Utari membalikkan tubuh Gendhis yang masih dalam posisi duduk sehingga menghadap ke arahnya. Baru saja dia akan menunjukkan kemampuannya dalam hal berdandan, ketika terdengar suara riuh rendah dari lantai bawah. “Wah, gawat, tamunya sudah datang!” desisnya pelan.
.
.
.
__ADS_1
hai, hai, sambil nungguin Utari menggambar alis, mampir dulu yuk, di karya keren yang satu ini