
Selesai berbelanja pakaian dalam untuk Chand, Kalini mengajak Gendhis dan putra sulungnya itu bersantai sejenak di sebuah café, yang berada tak jauh dari butik. Baru saja ketiga orang itu duduk di salah satu sudut café, Kalini sudah dipanggil oleh seorang wanita berusia sebaya dengannya.
Wanita yang sepertinya adalah salah satu teman Kalini itu memanggil ibunda Chand untuk mengobrol di mejanya. “Kalian tunggu sebentar, ya,” ucap Kalini seraya beranjak mendekat ke meja teman sosialitanya. Tak membutuhkan waktu lama bagi wanita paruh baya itu untuk berbincang seru.
“Aku heran deh, sama kamu,” celetuk Gendhis setelah beberapa saat terdiam.
“Heran kenapa?” Chand mengernyitkan dahinya sambil memandang lekat ke arah Gendhis.
“Mau-maunya kamu dikerjain sama Tante Kalini, diajak ke butik, terus dipermalukan di depanku,” Gendhis terkikik geli mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
“Mama sepertinya kurang puas kalau nggak mempermalukan aku setiap harinya,” Chand ikut tertawa membayangkan keisengan ibunya.
“Kamu juga nurut banget sama Tante Kalini. Padahal kan bisa menolak. Kamu pasti anak mama, ya,” terka Gendhis.
“Bagi orang-orang yang menilai secara sekilas, mungkin aku kelihatan seperti anak mama. Memang aku tidak pernah menolak apapun keinginan Mama. Sebisa mungkin aku harus membuat mama bahagia dan tidak merasa kecewa,” tutur Chand. Saat itu wajahnya berubah menjadi sedikit murung.
Chand sempat menjeda sejenak penjelasannya ketika seorang pelayan café datang membawakan buku menu untuk mereka. Setelah mereka menulis pesanan dan memberikannya kembali pada pelayan tadi, Chand pun melanjutkan kembali ceritanya.
“Setelah papa pergi secara mendadak, Mama seperti kehilangan semangat hidup. Separuh jiwanya pergi bersama papa. Mama yang biasanya ceria, berubah menjadi pemurung dan lebih banyak mengurung diri di kamar,” terang Chand. “Apalagi setelah mengetahui bahwa pernikahanku bersama Ghea tidak bisa dipertahankan, Mama semakin menutup diri,” imbuhnya.
“Rasanya berat melihat mama kehilangan senyumnya. Aku merasa sangat bersalah dan turut bertanggung jawab atas semua perubahan sikapnya. Gara-gara aku salah dalam menentukan pilihan yang berakhir pada perceraian, hidup mama jadi penuh kesedihan,” ujar Chand dengan mata menerawang. Sesekali dia menoleh pada Kalini yang tengah asyik bergosip bersama teman-temannya.
“Sejak saat itu, aku bertekad untuk melakukan apapun agar mama bisa kembali ceria dan bahagia. Termasuk salah satunya adalah dengan menuruti semua keinginannya, walaupun tak jarang keinginannya itu malah mempermalukan aku, seperti tadi,” Chand yang awalnya mengarahkan pandangan pada sang ibu, kini menoleh pada Gendhis sambil tersenyum samar.
“Chand ….” Gendhis menatap iba pada duda tampan yang dulu membuatnya tergila-gila itu.
__ADS_1
“Kehilangan seseorang itu menyakitkan, Dhis. Terlebih jika kamu nggak akan pernah bisa bertemu dengan orang itu lagi. Kematian adalah perpisahan yang paling buruk,” lirih suara Chand. Matanya kembali menerawang ke arah permukaan meja café.
“Cinta mama pada papa sedemikian besar sampai-sampai mama tidak pernah tertarik untuk menikah lagi, atau sekadar dekat dengan pria lain. Bahkan sampai detik ini, mama masih kedapatan memandangi foto papa dalam waktu yang lama,” sambung Chand.
“Aku ingin tahu rasanya dicintai sedemikian dalam oleh seorang wanita,” Chand terkekeh pelan, lalu menunduk.
“Ah, masa, sih?” sahut Gendhis tak percaya sambil meraih segelas orange juice yang masih berada di atas nampan pelayan café. Padahal pelayan itu baru saja hendak meletakkan pesanan-pesanan tadi ke atas meja.
Gendhis menyeruput orange juice menggunakan sedotan sampai suaranya nyaring menusuk telinga Chand. Gendhis juga memainkan es batu berbentuk balok yang mengapung di permukaan minuman berwarna kuning itu.
“Kamu dulu nggak memberi kesempatan padaku untuk membuktikan,” celetuk Gendhis. “Malah belum apa-apa, kamu udah nolak aku duluan. Kamu juga menjatuhkan harga diriku dan papa. Tidak hanya itu, kamu bahkan menjatuhkan martabat keluarga Bapak Susena Suwardana. Beruntung waktu itu papaku agak oleng karena tergila-gila sama Tante Kalini. Coba seandainya dia berada pada posisi normal, pasti habis kamu digampar sama dia,” lanjut Gendhis sambil menyeruput jusnya hingga tersisa separuh gelas.
“Percaya atau tidak. Itu juga salah satu hal yang kusesali,” timpal Chand. “Setelah kamu mengetahui bahwa akulah yang merusak hubungan Manggala bersama Ghea, aku jadi sepenuhnya sadar bahwa setiap orang tak akan pernah luput dari ketidaksempurnaan.”
Chand mengembuskan napas perlahan sebelum meraih kopi pesanannya. “Aku selalu memandang rendah kekurangan orang lain. Sedangkan tanpa kusadari, ternyata aku juga memiliki kekurangan dan kesalahan yang jauh lebih besar.”
“Ah, sudahlah. Nggak perlu minta maaf. Semua sudah berlalu. Aku juga sudah lupa tentang peristiwa itu. Selama ini … Manggala … di-dia ….” Gendhis terbata. Bayangan Manggala hadir kembali dan memenuhi ruang benaknya. “Manggala yang mengembalikan kebahagiaan dan rasa percaya diriku,” lanjutnya beberapa saat kemudian.
“Manggala adalah orang yang sangat baik, tapi aku menyia-nyiakannya. Aku menolak hanya karena dia mempunyai satu kesalahan di masa lalu. Sekarang aku sadar, tidak ada manusia yang tidak memiliki kesalahan. Namun semua terlambat, Chand. Manggala sudah pergi. Aku nggak bisa ketemu dengan dia lagi,” tanpa sadar, Gendhis mengungkapkan seluruh perasaannya.
Tanpa sadar pula, Gendhis menangis sedikit kencang seraya merengkuh tubuh tegap pria di hadapannya itu, lalu memeluknya erat-erat. Air matanya deras mengalir membasahi kemeja putih Chand.
Chand tampak kaku dan salah tingkah saat kedua tangan Gendhis melingkar erat di pinggangnya. “Dhis, sa-sabar, Dhis,” Chand terbata. Ragu-ragu tangannya hendak mengusap pucuk kepala Gendhis. Sementara gadis itu nyaman membenamkan wajah di dada bidang Chand sambil menangis sesenggukan.
“Aku cinta sama Manggala, Chand. Aku sayang banget sama dia. Sayangnya, aku terlambat menyadari,” sesal Gendhis. Kalimat singkat yang ternyata mampu menorehkan setitik rasa perih di hati Chand.
__ADS_1
“Penyesalan itu percuma, Dhis. Hal itu nggak bisa membuat kamu ke mana-mana,” Chand akhirnya memberanikan diri untuk membelai pucuk kepala Gendhis.
“Untuk kembali ke masa lalu pun tidak mungkin. Satu-satunya jalan hanyalah menghadapi semuanya dengan dagu terangkat. Jadikan penyesalan sebagai pengalaman hidup yang akan mencegah kita melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari,” tutur Chand lembut.
Gendhis dan Chand tak menyadari, bahwasanya Kalini beserta teman-temannya yang duduk tak jauh dari meja mereka berdua, mengawasi adegan manis tersebut. “Oh, jadi itu ya, calon menantumu?” tanya salah seorang teman Kalini.
“Iya, doakan, ya,” senyum Kalini mengembang. Parasnya semakin terlihat cantik dan berseri. "Aku kembali ke mejaku dulu,” pamitnya sembari menepuk lembut lengan teman sosialitanya.
“Wah, wah, ada apa ini? Kok tiba-tiba udah pelukan aja?” goda Kalini sambil menyeret satu kursi yang berada di meja Chand dan Gendhis.
Gendhis segera tersadar. Dia buru-buru mengurai pelukannya dari Chand. “Astaga, maafkan saya, Tante. Tiba-tiba saja saya baper. Nggak tahu kenapa,” ucap Gendhis sambil sibuk mengelap kemeja Chand yang sudah ternoda oleh air mata bercampur ingusnya.
“Harusnya kamu minta maaf sama aku, Dhis,” protes Chand. “Kan baju aku yang kamu kotori.”
“Nak,” Kalini membelai lembut punggung tangan Gendhis. “Mulai saat ini, jangan panggil Tante, ya,” pintanya.
“Lalu, panggil apa dong?” tanya Gendhis polos.
“Panggil mama saja,” jawab Kalini diiringi senyum lebar.
.
.
.
__ADS_1
Mampir di karya keren yg satu ini, yuk.